Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 30

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 30

"Siapa yang berani memalsukan aku, si Gila dari Neraka Hitam!" tuding orang tua itu kepada Arya.

"Baik-baik, kami percaya bahwa kau orang tua yang ada," kata Arya menenangkan.

"Apa kau tidak mempercayaiku? Sungguh takabur!" kakek itu mencak-mencak tak keruan.

"Maafkan kami, orang tua. Kami datang kemari adalah untuk meminta."

"Apa meminta? Huahaha! Dunia sudah gila! Masak kalian mau meminta padaku, si orang tua gila? Kalian tahu, hanya pakaian raja ini saja yang kupunya, masak aku harus memberikannya kepada kalian." Sungguh dongkol hati kedua anak muda itu, sekaligus geli.

Ratih tak sanggup lagi menahan perasaannya. Ia berteriak nyaring sambil memanggil nama asli si Gila dari Neraka Hitam. "Bantu aku membalaskan dendamku kepada Maharaja Dunia Persilatan, Paman Raden Putra Danurwenda!"

Orang tua itu diam mematung ketika nama aslinya dipanggil. Sifat ugal-ugalannya lenyap, berganti dengan seorang lelaki yang tampak begitu lelah dan kesepian.

"Jangankan kalian, aku pun, seorang dedengkot yang dipanggil si Gila dari Neraka Hitam, tak sanggup melakukannya. Lihatlah, gara-gara dia, aku tak sanggup lagi keluar dari tempat ini. Hanya tempat ini yang aman dari jangkauannya," si Gila dari Neraka Hitam berkata pilu.

"Hanya kau, orang tua, dan Iblis Kembar Bumi yang masih menapak di bumi. Orang tuaku dan yang lain sudah meninggalkan dunia ini," Ratih juga berkata pilu.

Tubuh si Gila dari Neraka Hitam bergetar hebat. "Ukh, saudaraku! Haruskah aku mati sekarang? Tidak! Tidak! Sebelum aku menghisap darah pembunuh kalian, aku takkan mati!" heaaaaa! "Anakku! Tinggallah di sini barang sebentar, barang satu atau empat hari, baru kita berkelana mencari si muka dua itu?"

"Baik, Paman." Keduanya mengiakan.

Dua hari telah berlalu. Arya, Ratih, dan si Gila dari Neraka Hitam berdiri di ujung hutan, menatap pesawahan yang sudah menguning. Burung-burung terbang berebut padi. Orang-orangan sawah berkibar-kibar tertiup angin. Suara suling pengembala mendayu-dayu menggoda tubuh untuk bergoyang. Benar-benar suasana yang amat menawan hati.

"Apa itu!" Arya menunjuk sebuah bayangan hitam di sebelah utara yang sedang menuju ke arah mereka.

"Jaga diri kalian!" bentak si Gila dari Neraka Hitam seraya berjongkok memainkan tanah.

Dari bayangan hitam itu, melesatlah sebuah cahaya hitam berbau busuk menyergap datang. Si Gila dari Neraka Hitam berdiri, meloncat, dan menaburkan tanah yang tadi dipermainkannya.

"Cesss... cesss..." terdengar desisan nyaring ketika tanah dan cahaya itu beradu.

"Huahaha! Kepala dua! Sudah lama kita tak bersua. Jurus pelintir bumimu masih saja cetek seperti dahulu."

"Huh, Tua Gila, kau masih saja suka mengoceh tak keruan. Apa kau sudah bosan tinggal di tempat gelapmu sampai-sampai kau berminat untuk bermain-main di pesawahan seperti ini?" Terdengar sosok hitam bercaping lebar yang saat ini berdiri di muka mereka berkata aneh. Aneh bukan perkataannya, melainkan suaranya, sebab suara itu suara laki-laki dan perempuan yang berbarengan.

"Berbicara tentang tempat tinggal, mengapa kau sendiri datang kemari? Apa kau sudah bosan tinggal di pekuburan, hah?"

"Huh... aku kemari hendak memberi kabar bahwa saudara-saudara kita sudah meninggalkan kita. Apa kau berminat untuk ikut bersamaku membalas dendam? Aku hendak berkelana lagi membereskan urusan itu. Apalagi aku mendengar selinting kabar bahwa aku dituduh membunuh adimas Candra dan Nimas Rani."

"Mengapa bisa begitu?"

"Tua Gila, apa kau lupa Maharaja keparat itu memiliki ilmu Sadap Sepapat."

"Akh, jadi Maharaja itu menyadap ilmumu dan digunakan untuk membunuh Kangmas Candra dan Nimas Rani?"

"Dasar tua gila lemot. Apa kau lupa kelemahan ilmu mereka itu adalah Bumi, yang merupakan sumber ilmuku. Sungguh aku merasa terhina, dicuri ilmu sekaligus digunakan mencelakai saudaraku?"

"Kami adik dan kakak tidak menyalahkanmu, Paman Agung Darani," Ratih menyela.

"Heh?" Sosok hitam bercaping itu terkejut. Capingnya dibuka, ternyata memang Iblis Kembar Bumi memiliki dua buah kepala dan satu tubuh. Satunya perempuan dan satunya lagi laki-laki. Maka dari itu nama asli mereka perpaduan dari keduanya.

"Siapa kau, Cah Ayu!"

"Dia adalah keturunan dua orang yang kau maksudkan tadi," si Gila dari Neraka Hitam memberikan keterangan.

"Akh, jadi kau pun keluar karena panggilan mereka?"

"Bukan hanya kami, melainkan keturunan dan murid yang lainnya," Arya membenarkan, matanya bersinar kehijau-hijauan.

"Akh, jadi engkau pemimpin dari pergerakan balas dendam ini, hai murid Iblis Bermata Hijau?" Iblis Kembar Bumi menatap Arya.

"Bukan, melainkan murid asli Iblis Bermata Hijau sekaligus keturunan Pangeran Pemabuk," Arya membocorkan sedikit keterangan.

"Sepertinya Dunia persilatan sekali lagi akan banjir darah," gumam si Gila dari Neraka Hitam.

Jauh dari tempat itu, di sebuah kaki gunung Merbabu, terdapatlah sebuah desa yang amat ramai dengan penduduknya. Pedagang yang berdatangan, tukang-tukang, bangsawan, hartawan, dan rakyat awam terdapat di desa itu. Di tengah-tengah keramaian desa itu terjadi kegemparan yang sangat, yaitu kedatangan para gadis bunga dari desa luar. Para penduduk bergerombol di sepanjang jalan seperti menonton pertunjukan. Gendang dan alat musik lainnya berbunyi syahdu mengiringi kereta yang ditumpangi empat puluh sembilan gadis jelita. Mereka melambai-lambaikan tangan sebagai balasan atas sambutan mereka.

"Suit... suit..." Para penduduk sana bersuit-suit, bahkan ada yang berteriak-teriak histeris. Wajar saja, sebab di tempat itu belum ada sebuah rumah bunga. Jadi kedatangan mereka disambut dengan semeriah mungkin.

Adapun rumah bunga itu awalnya adalah gedung pemerintah yang lalu dan terbengkalai. Tapi saat ini bangunan itu disulap oleh dua gadis cantik yang tak lain adalah Astradewi dan Dyah Krusina dengan memberikan tip sejumlah harta plus tubuh mereka.

Tak lama kemudian, para gadis itu sudah masuk ke dalam dan memasuki ruangan mereka masing-masing. Hari itu juga, tamu berdatangan baik dari kelas bawah maupun kelas atas. Tak ada satupun yang menyangka bahwa para gadis bunga yang mereka sangka adalah gadis biasa adalah kaum persilatan yang berbahaya. Bagaikan mawar yang berduri.

"Sepertinya rencana kita berlangsung dengan lancar sekali, Mbakyu!" bisik Astradewi.

"Engkau benar, Nimas. Tak ada usaha yang sia-sia bila kita melakukannya dengan kesungguhan hati," jawab Dyah Krusina.

"Benar sekali orang bijak yang mengatakan, 'Jenius adalah 1% inspirasi dan 99% keringat.' Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras."

"Haha," keduanya tertawa gembira.

"Kau mau ambil bagian mengenai tamu itu, Nimas?"

"Aku ambil lelaki hitam yang berkeringat itu, Mbakyu!"

"Selera bagus, aku ambil yang bercelana kuning itu."

"Barang bagus, kantong bagus, senjata bagus. Mudah-mudahan tenaganya bukan ayam," komentar Astradewi.

Satu tahun kemudian. Lembah Semut tetap tak berubah, tetap indah dan sedap dipandang mata. Matahari masih matahari yang dahulu, pepohonan masih yang dulu, tebing masih yang dulu. Hanya Sagara Angkara yang bukan Sagara Angkara yang dulu. Tubuhnya bertambah kekar, pancaran matanya semakin dewasa, sikapnya semakin tenang.

"Eyang, terimakasih atas budi kalian," Sagara Angkara berlutut di atas tebing. Tubuhnya berbalik dan mulai mengerahkan aji Saipi Anginnya. Sagara Angkara terus berlari, berlari, dan berlari hingga ia sampai di sebuah tempat yang bernama Gunung Sampora. Di sana ia hentikan langkah, matanya celingukan ke sana kemari.

"Aneh, padahal barusan aku mendengar detak jantung di mari. Mungkin perasaanku saja," katanya sambil kembali berlari mengerahkan Ajian Saipi Anginnya.

Mendadak, telinganya yang tajam mendengar suara pertarungan yang aneh. "Emhh... siapa sih yang adu jiwa di hutan ini!" Sagara Angkara berlari menuju ke arah tenggara. Sekali sentak, tubuhnya melompat dan diam di atas pohon jambu monyet. Dilihatnya seorang gadis berpakaian terusan warna kuning tampak compang-camping. Rambut gadis itu sudah acak-acakan, menimbulkan kesan yang kalut. Pedang di tangannya tampak sudah gumpil di mana-mana. Sepatu yang dia pakai satunya sudah terlepas sehingga menampakkan kulitnya yang putih. Tentu saja lawannya menjadi semakin garang.

Jika ditilik, memang keterlaluan. Seorang gadis melawan lelaki saja sudah merupakan suatu hal yang tabu, apalagi seorang gadis melawan empat lelaki. Keempat lelaki tersebut semuanya memakai baju hitam sehitam hati mereka. Ikat kepala mereka serasi dengan ikat pinggangnya yang berbeda warna, ada yang merah, kuning, hijau, dan biru.

Lelaki berikat kepala biru memiliki berewok yang cukup tebal sehingga wajah tampannya sedikit mirip kera. Matanya besar, sebesar gundu, yang asyik melihat lekuk tubuh kulit mulus gadis dihadapannya.

"Brandon, bagaimana menurutmu gadis ini? Apa kita bawa kepada ketua, apa kita nikmati saja? Hahaha!"

"Kakang Bejo, lebih baik kita ganyang saja. Adalah hal yang langka kita bisa menemukan gadis seperti ini," jawab lelaki yang dipanggil Brandon, ikat kepala warna kuningnya berkibar-kibar seiring dengan gelak tawanya.

"Benar, Kakang...!" membenarkan seorang lelaki yang berikat kepala hijau.

"Sapto, ringkus gadis itu!" lelaki berikat kepala biru memerintah.

"Baik, Kakang!" lelaki berikat kepala merah sambil menyerang gadis itu. Tentu saja gadis itu kelimpungan.

"Kalian lelaki-lelaki bejat! Sekali kalian berani menyentuh tubuhku, berarti saat itulah kalian kehilangan nyawa! Hiaaarttttttt!"

"Trang...!"

"Arghhh...!" Gadis itu terpekik ketika tangan mungilnya ditendang lelaki berikat kepala merah. Tak berhenti begitu saja, dengan sekali tutukan, gadis itu jatuh tak berdaya, menggelosoh di tanah. Matanya nanar, wajahnya menyiratkan ketakutan yang dalam.

"Hem,... dasar pemuda bejat, bukannya menolong kau malah asyik menonton!" Sebuah bisikan merdu menerpa telinga Sagara Angkara. Sagara Angkara tersenyum, sementara hatinya berkata. "Akh..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment