Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 31

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 31

"Detak jantung ini, rupanya ia masih mengikutiku!" "Mengapa kau tak menjawab, heh!" Bentak suara itu dingin. Meski membentak, orang yang di bawah sama sekali tak mendengar suara itu, sebab bentakan itu digetarkan dengan getaran batin. Sagara Angkara terhenyak ketika merasakan benda dingin di lehernya, sementara bau harum semakin merebak di hidungnya.

"Mengapa kau sendiri malah menodongku, Nona? Mengapa kau tak menolong gadis itu saja? Bukankah pertolonganmu dan pertolonganku sama saja di mata gadis itu?" Mendengar jawaban itu, gadis itu menghentakkan kaki di dahan karena dongkol.

Sungguh tak diduganya ada pemuda seaneh ini.

Orang di belakang Sagara Angkara terdiam ketika Sagara Angkara bergumam lirih.

"Bismillahirrohman nirrohim, Kancing Kunci golong Allah, Dikancing karo nabi, Dikunci karo Allah, Sakabehing hawa nafsu lan kasektene si Sapto, Brandon, Bejo, Fulan Saka berkahing nabi Muhammad SAW, Laa Haula wa lla quwata illa billahil 'aliyil 'adhim." "Ctikkk....!" Tangan Sagara Angkara menjentik, menembakkan beberapa jentikan angin kepada empat orang itu.

Mengapa yang satu dipanggil Fulan? Sebab Sagara Angkara tidak mengetahui namanya.

Oleh karena itu, dipanggillah Fulan.

"Bruk.....!" Empat orang itu ambruk secara bersamaan.

Dan sekali lagi Sagara Angkara menjentikkan tangannya untuk membebaskan gadis itu.

"Aji Kancing Konci," desis orang yang di belakang Sagara Angkara.

Sagara Angkara berpaling melihat siapakah orang yang berdiri di belakangnya.

Wajahnya memerah, matanya melotot, tubuhnya kaku. Tanpa ampun lagi, tubuhnya jatuh terpeleset ke bumi.

"Brukkk!" Tubuhnya menghantam tanah, sementara kepalanya terkena akar pohon yang menonjol. Maka pingsanlah dia.

Orang yang di belakang Sagara Angkara ternyata adalah seorang gadis, gadis yang cantik seperti bidadari. Kulitnya putih mulus kontras dengan bajunya yang hijau muda. Bajunya itu merupakan baju berbentuk kebaya, sementara bawahnya merupakan celana pangsi khas seorang pendekar wanita. Hidungnya bangir, dipadu bibir yang tipis merah merekah bak bunga mawar yang sedang tersenyum. Matanya kecil dihiasi bulu mata yang lentik. Lesung pipit menambah kecantikannya yang sayu.

Rambutnya terurai panjang, dihiasi bunga kenanga yang dibentuk mahkota.

Pedang panjangnya telah kembali disarungkan di pinggangnya yang ramping menggiurkan.

Wajahnya yang setengah kaget membuat siapa pun yang melihat pasti tak akan sungkan untuk melumat bibir sensual gadis yang setengah terbuka itu.

Sementara itu, gadis yang tadi hendak diperkosa sudah membenahi pakaiannya dan menatap ke arah Sagara Angkara berada. Dia juga melihat seorang gadis lainnya yang berdiri di atas pohon. Ia kebingungan melihat keduanya, entah siapa yang menolong, ia sendiri tak tahu.

Ia juga melihat gadis yang berdiri di atas pohon meloncat turun dan menolong pemuda berbaju biru yang telentang di tanah.

Ia kemudian mendekati keduanya dan menjura kepada gadis yang sedang menotok bagian dada pemuda berbaju biru itu.

"Terima kasih, Nisanak, engkau telah menolongku!" Gadis yang menolong Sagara Angkara tertegun, segera ia menggeleng dan berkata, "Maaf, Nisanak, dialah yang telah menolongmu!"

"Akh, lalu mengapa dia pingsan? Apakah dia kecapaian?" "Mengenai itu, aku sendiri tak paham!" sahutnya rendah.

"Ugh...!" Sagara Angkara terbangun dari pingsannya, wajahnya merah jengah.

"Mengapa kau bisa jatuh, hah?" bentak gadis yang memangkunya itu.

"Karena..." "Karena apa? Bicara yang benar!" Meski membentak, kelembutan dan kemerduannya tidaklah bisa dihilangkan, membuat telinga Sagara Angkara yang baru turun kembali ke dunia ramai menjadi panas dingin.

"Karena kau cantik sekali...!" lirih dan jujur ucapan Sagara Angkara.

Mulut gadis itu menganga, tak sadar pegangan tangan yang sedang memangku Sagara Angkara terlepas.

"Brukkk....!" "Augghhh!" Tubuhnya terlepas dan kembali menghantam tanah. Tanpa berkata apa-apa, Sagara Angkara bangkit duduk sambil mengelus-elus kepalanya. Setelah kepalanya agak mendingan, ia bangkit dan melangkah pergi meninggalkan kedua gadis itu. Adakah lelaki seaneh Sagara Angkara? Tentu ada, namun jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Datang seperti angin, pergi seperti kabut.

"Heh, tunggu!" Gadis berbaju hijau muda itu mencegah.

"Ada apa?" Sagara Angkara berbalik.

"Seperti itukah sikapmu? Dasar lelaki tak bertanggung jawab!" "Tak bertanggung jawab?" Sagara Angkara mengangkat alis, pertanda ia tak mengerti.

"Apa kau akan membiarkan gadis ini seperti ini?" Gadis berbaju hijau muda itu menunjuk seorang gadis di sampingnya. Mata Sagara Angkara segera melotot. Mengapa? Sebab ia melihat segundukan benda putih mulus yang menyembul. Seumur hidupnya, ia pertama kalinya melihat benda aneh seperti itu. "Ikhhh....!" Gadis itu menutup dadanya dengan tangan. Meski ditutup, tetap saja benda itu menyembul, membuat Sagara Angkara tak bisa berkutik sekaligus tak bisa berkata apa-apa.

Namun, "Plak.....!" "Laki-laki mata keranjang, lihat apa kau! Buka bajumu, berikan padanya!" teriak gadis berbaju hijau muda marah sambil menampar pipi Sagara Angkara.

"Enak saja. Bajuku yang cuma satu ini masa kuberikan, aku pakai apa!" Sagara Angkara bersungut-sungut sambil menuju ke arah empat orang yang berbaju hitam tadi.

Lekas ia mengambil baju beserta celananya dan dibawa ke hadapan gadis tadi.

"Ini, pakailah!" Gadis itu menggeleng ketakutan. Sagara Angkara tak mengerti kesulitan orang itu dan terus memaksa hingga membuat gadis berbaju hijau muda memberinya keterangan.

"Baju itu merupakan baju kaum golongan sesat. Apa kau menyuruh gadis ini menjadi kaum golongan sesat? Lagipula, baju itu baunya seperti setan, mana mau gadis ini memakainya." "Oh, terpaksa...." Sagara Angkara melepaskan jubah birunya, dan diberikan kepada gadis yang bajunya compang-camping berwarna kuning itu. Tapi, yang menerimanya bukan gadis itu, melainkan gadis yang memakai baju hijau muda.

"Mari!" Sagara Angkara pergi meninggalkan tempat itu. Dengan telinga dan hidungnya yang tajam, ia bisa mendengar bunyi gemericik dan bau air.

Dan dia melangkahkan kakinya menuju tempat itu.

"Engkau mandilah, aku akan menyulap baju ini." Sagara Angkara berkata mengambang sambil berjalan lenggang-kangkung menuju sungai.

Gadis berbaju hijau muda dan gadis berjubah biru saling pandang, menatap punggung Sagara Angkara yang berjalan meninggalkan mereka.

Sagara Angkara memukulkan tangannya pada batu cadas yang keras. Diambilnya air dengan tangannya, lalu tangannya merogoh saku.

Dan ketika diangkat, pakaian hitam tadi berubah warnanya menjadi putih.

Lalu ia kerahkan tenaga dalamnya untuk mengeringkan pakaian itu. Pakaian itu segera ia robek-robek, dan dijahit kembali dengan kain yang ia sengaja pisahkan. Segera saja kain itu berubah menjadi pakaian jubah yang direkatkan dengan tali.

Sedangkan celananya ia potong hingga menjadi celana gantung. Sisanya ia sulamkan menjadi sebuah selendang.

Di punggungnya ia lukis dengan air hasil fermentasi dari kulit manggis.

Lukisan itu sangat indah, yakni seekor burung cendrawasih yang sedang terbang.

Dibawanya kain itu ke tempat gadis berbaju hijau muda duduk memperhatikan gadis lainnya yang sedang mandi.

"Tubuhnya bagus juga ya! Punyamu juga begitu tidak?" sapa Sagara Angkara kepada gadis berbaju hijau muda itu.

Wajahnya merah seketika itu. Ia tak menjawab, malah menunduk.

"Namaku Sagara Angkara. Siapa namamu?" Tak ada kekikukan di mata Sagara Angkara, malah Sagara Angkara merasa bahwa gadis itu sudah ia kenal sedari dulu. "Gita Jayasri," sahut gadis itu pendek.

"Nama yang indah, seindah orangnya," puji Sagara Angkara tulus.

"Hei, ini bajumu!" Sagara Angkara melemparkan baju itu. Dengan sigap, gadis yang sedang mandi itu mengambilnya dan pergi ke balik batu.

Sagara Angkara terus saja mengobrol, hingga gadis tadi keluar dari balik batu.

Rambut sepundak yang terkibar oleh angin, mata yang sayu, alis mata yang lentik dan melengkung, hidung yang mancung, kulit yang putih seputih salju seakan menjadi sebuah perpaduan yang khas dan indah yang diciptakan untuk gadis itu.

Bajunya berwarna putih, baju yang berupa jubah setengah badan.

Dua utas tali tampak melingkar di perutnya. Celana gantungnya tampak memperlihatkan betisnya yang mulus tanpa cela.

"Hebat, aku tak pernah berpikir bila baju jelek seperti tadi dapat kau sulap menjadi seperti ini!" Gadis itu bergaya membolak-balikkan tubuhnya.

Bukan hanya gadis itu yang takjub, Gita Jayasri pun tak pernah habis pikir akan hal itu. Jika kedua gadis itu sibuk mengagumi pakaian, maka Sagara Angkara sibuk mengagumi keindahan wajah keduanya. Jika tadi wajahnya dipenuhi debu, maka kini wajahnya sangat bersih dan indah.

Segurat senyummu memabukkan duniaku.

Duniaku berputar, berputar indah.

Oh, gadis, kau memang pantas mendapat julukan.

Julukan "Racun Dunia" pantas kau sandang.

Indah tubuhmu, harum wangimu, syahdu suaramu.

Satu suaramu cukup alihkan duniaku.

Kau balikkan dunia, kau goncang dunia.

Oh, gadis, aku terlena.

Begitulah, Sagara Angkara menyanyi, menyanyi dengan riangnya tanpa memedulikan dua gadis yang menatapnya. Guratan lembayung kuning semakin tampak, menampakkan kisah-kasih antara kenangan dan waktu yang lalu.

Selamat datang malam dan selamat tinggal siang. Sampai jumpa esok di keremangan fajar.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment