Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 32

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 32

Ataukah Dhara Sesat Air Terjun Balumbang yang hanya meminta hawa perjaka di mana-mana karena terdesak Ratan Wasana? Mengapa keduanya berseteru? Bukankah yang memimpin Ratan Wasana adalah Gardapati dan Arya? Mengapa, padahal Dhara Sesat Air Terjun Balumbang adalah pasukan yang didirikan oleh Gardapati? Sakitkah Gardapati?

Tidak, tapi ia terlalu jenius dan licik untuk ukuran seorang manusia. Untuk mencapai suatu tujuan, mengorbankan apa saja adalah hal yang wajar. Tak ada tempat yang aman bagi para pemuda, tak ada tempat yang aman bagi para pemudi. Gadis dan perjaka dijadikan senjata mutakhir dalam perebutan kekuasaan ini.

Dunia persilatan banjir darah, dunia persilatan kehilangan arah, dunia persilatan porak-poranda. Tak diketahui mana kawan mana lawan, semua gelap. Ribuan nyawa melayang karena berseterunya dua kubu ini.

Nyawa-nyawa melayang di setiap perguruan golongan putih tanpa diketahui titik masalahnya maupun jejaknya. Mengapa demikian? Entahlah. Ketua perguruan golongan putih galau. Golongan hitam berpesta dalam ketakutan; memihak salah satu mereka diburu, tak memihak mereka diburu pula. Dedengkot hitam yang menyembunyikan diri dan mengasingkan diri muncul kembali di dunia persilatan, memukul di barat membunuh di timur. Di puncak Gunung Burangrang, berdirilah dua sosok tubuh berwarna nila dan putih keperakan.

Keduanya menatap awan yang berarak di sisi tubuh mereka. Hamparan permadani hijau di bawahnya begitu sedap dipandang. Langit cerah, dengan sang maharaja siang tetap dengan jubahnya yang berwarna jingga menyinari jagat raya. Beliau berdiri dengan gagahnya menatap makhluk kecil berakal yang sedang berkutat otot; darah mengalir bagai sungai, mayat bertumpuk bagai bukit.

"Kakang Garda, kapankah kita akan mulai membedah badan Ratan Wasana?"

"Tunggulah sampai Malam Matahari tiba. Malam yang dikeramatkan oleh para kaum persilatan Tanah Jawa."

"Malam Matahari?"

"Malam Ra, atau Ro, atau Suro, atau Sura!"

"Oh! Empat hari lagi, ya?"

"Benar, Nimas Dewi!"

"Apa rencana Kakang?"

"Apanya?"

"Rencana yang akan dipakai untuk membedah!" Astradewi memonyongkan bibir dengan jengkel.

"Cincin Dewa melingkar menembus rimba. Dalam rimba muncul pusaran air, gelombang rembulan menyapu rimba. Cincin Dewa menyapu bersih. Itulah rencana yang dipakai untuk menghancurkan Ratan Wasana. Selanjutnya?"

"Cukup, cukup!" Astradewi menghentikan penuturan Gardapati.

"Oh, kau sudah paham, Nimas?"

"Sedikit pun aku tidak paham!" jawab Astradewi kesal.

"Lalu mengapa kau menghentikan penuturanku?"

"Aku tidak paham dengan bahasa kiasanmu itu, Kakang."

"Hah, baiklah Kakang jelaskan secara rinci. Pertama, berhubung gunung memiliki telinga, jadi lain kali Kakang jelaskan padamu."

Gardapati berpaling ke arah langit. Mulutnya bersiul-siul nyaring. Tanpa komando lagi, ia menjerit lengking menggetarkan jantung. Astradewi yang kesal karena Gardapati membatalkan penuturannya terkejut ketika Gardapati bersiul-siul. Segera ia melepaskan fungsi telinganya sehingga ia tidak bisa mendengar apa pun.

Jadi, ketika Gardapati menjerit, ia hanya merasakan gunung yang ia pijak bergetar tanpa tergetar tenaga dalam dari suara jeritan itu.

*Grusrak! Grusrak!*

"Argh!" Suara jeritan dibarengi suara jatuhnya sebuah benda terdengar bersahut-sahutan dari segala penjuru.

Gardapati tersenyum ketika melihat sosok-sosok yang dikenalnya bangkit dari tanah dengan sempoyongan.

"Kakang, tega benar engkau!" Suara merdu nan lembut terdengar syahdu di telinga Gardapati. Dialah Dyah Krusina.

"Bokongku sakit nih, Saudara Garda!" pemuda lain menimpali. Dia adalah Arya, sang duplikat Iblis Dunia Persilatan.

"Kakang, telingaku serasa berdenging!" sahut perempuan di samping Arya yang tak lain adalah Ratih.

"Hebat, hebat!" Sosok hitam bercaping alias Iblis Kembar Bumi ikut memuji.

"Sungguh bahagia melihat keturunan dan murid sahabatku telah berubah menjadi sesosok naga yang siap mencakar langit dan merobek bumi." Sosok lelaki paruh baya yang berpenampilan mesum dan acak-acakan bersorak berjingkrakan. Dialah Si Gila dari Neraka Hitam.

"Haha! Sudah lama aku menunggu kalian. Salah sendiri merencanakan hal nakal, maka tak setimpal bila aku membalas kenakalan kalian. Silakan, silakan duduk wahai saudaraku, dan ceritakan apa yang terjadi dan yang kalian lakukan. Mudah-mudahan kabar baik selalu menyertai kalian."

"Kabar baik dan buruk sama saja, tergantung dari sisi mana kita memandangnya. Hanya saja, aku sudah tak sabar memotes kepala manusia," Iblis Kembar Bumi berkata sambil melepaskan capingnya.

Gardapati tersenyum kepadanya, sementara Astradewi cekikikan geli.

"Cah ayu, mengapa kau tertawa?" Iblis Kembar Bumi bertanya heran.

"Emh, hihi... kepala kalian ada dua. Kepala yang 'itu' ada berapa ya? Hihi!"

"Huahahaha!" Semua orang yang ada di sana tertawa terbahak-bahak. Iblis Kembar Bumi tidak marah, ia ikut tertawa bersama-sama membuat suasana penuh dengan keakraban.

***

Malam telah berlalu tanpa halangan. Guratan warna biru dan kuning bersatu padu di ufuk timur. Sebuah benda jingga menerangi jagat raya di balik gunung yang menjulang tinggi. Tiga sosok manusia tampak keluar dari hutan. Mereka bertiga merupakan seorang pemuda dan dua pemudi. Bila ada orang yang melihat mereka berjalan berdampingan, barangkali mereka akan menganggap bahwa mereka adalah penjelmaan dari dewa dan dewi.

Mereka tak lain dan tak bukan adalah Sagara Angkara dan kawan barunya. Sebenarnya Sagara Angkara hendak kabur dari dua gadis itu, namun sebuah kenyataan baru terpaksa menahan kepergiannya. Apakah itu? Jangankan kita, Sagara Angkara pun tak paham ada apa sebenarnya, namun itulah yang terjadi. Sebuah firasat batin mengatakan bahwa ia tak boleh meninggalkan mereka.

"Kakang Sagara, ada apakah? Mengapa kau melamun saja?" tanya gadis berpakaian putih.

"Mungkin dia rindu kekasihnya, Meswari!" jawab gadis berpakaian hijau muda alias Gita Jayasri.

"Bukan. Sedari tadi aku mencium bau kematian, dan sepertinya di desa ini tak ada seorang pun yang hidup. Lacak Geter Kahuripanku tak dapat menemukan seorang pun yang hidup."

"Mungkin ilmu Lacak Geter Kahuripanmu belum sempurna! Buktinya kau pun tak mengetahui keberadaanku yang mengintilmu kemarin," ucap Gita Jayasri, padahal hatinya tercekat. Bukan orang sembarangan yang dapat menguasai ilmu itu; jarak seribu tombak pun dapat diketahui detak jantungnya. Tak heran bila gadis itu terkejut.

"Haha... siapa bilang? Sejak di Batu Bentang pun aku sudah tahu kau mengikutiku, manis!" goda Sagara Angkara hingga membuat wajah gadis itu memerah; satu kedoknya telah dibuka.

Di tengah asyiknya mengobrol, tiba-tiba gadis yang dipanggil Meswari memekik kaget dan ngeri.

"Ih...!"

"Ada ap...!" Gita Jayasri menghentikan ucapannya ketika melihat apa yang disaksikan Meswari.

"Sungguh sadis..." Sagara Angkara bergumam. Ia mengedarkan pandangannya. Dilihatnya tua, muda, laki-laki, dan perempuan tampak bergelimpangan. Darah tampak mengucur dari tubuh mereka. Wajah pias dan kaku membuktikan bahwa mereka sudah kehilangan nyawa dalam waktu yang cukup lama.

Sagara Angkara mengangkat alis kanannya. Ia merasakan sesuatu yang ganjil, seganjil-ganjilnya. Diedarkan pandangannya agar analisis yang ia pakai tidak keliru. Berapa kali pun ia mengamati, hasilnya tetap sama, tetap ganjil.

"Aneh, sungguh aneh..." gumamnya sambil melangkahkan kakinya ke sebuah sumur di pinggir pondok kayu.

Kepalanya melongok ke dalam sumur. Tanpa kata, ia mengerahkan aji Anyeng Sekati. Tangannya dijulurkan ke bawah. Sekali sentak, sesuatu di bawah itu terlempar ke atas.

"Hup!" Sagara menangkap sesuatu itu. Sesuatu yang ternyata adalah sesosok manusia. Sagara Angkara bukanlah orang yang berpengalaman, ia melemparkan gadis berbaju basah itu pada Gita Jayasri dan Meswari.

Kaget keduanya bukan kepalang. Segera mereka menangkap sosok itu. Ketika dibalik, ternyata sosok itu adalah seorang gadis cilik berusia lima belas tahunan. Segera saja gadis cilik itu dibaringkan dan Gita Jayasri menotok beberapa bagian tubuhnya hingga ia siuman.

"Uhuk... uhuk!" Gadis itu batuk-batuk memuntahkan air.

"Ini!" Sagara Angkara melemparkan sebuah gelas bambu kepada Meswari yang ditangkap dengan sejuta perasaan. Dongkolkah ia? Gemaskah, atau cinta? Ia sendiri tidak tahu. Seumur hidupnya, baru kali ini ia menemukan pemuda setampan itu. Namun meski tampan, setiap ucapan dan pola langkahnya sama sekali tidak masuk akal; liar, elegan, aneh, mata keranjang, dan baik hati.

Poloskah pemuda itu, atau terlalu pintar hingga terlihat bodoh? Entahlah. Mungkin hanya Sagara Angkara yang paham, tapi benarkah ia paham? Sebab ia merasa setiap tindakannya adalah normal.

"Apa kalian merasa pembunuhan ini wajar?" Sagara Angkara bertanya sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding sumur. Tangannya mengelus jenggot yang belum tumbuh sehingga ia tampak lucu.

"Memang kau pikir pembunuhan itu wajar? Di mana-mana pembunuhan itu di luar kewajaran!" dengus Meswari dongkol.

"Bukan itu maksudku. Apa kalian tak merasa aneh bila melihat sebuah kampung yang dibantai namun tak ada seorang pun dari kaum pemuda? Itu merupakan sebuah hal yang terbalik. Lihatlah, sementara para gadis mereka bunuh, namun pemudanya tak ada seorang pun. Bukankah itu sesuatu yang aneh?"

Ketiga gadis itu mengedarkan pandangan, dan benar saja bahwa di antara tumpukan mayat itu tidak ada seorang pun sosok pemuda. Lalu Gita dan Meswari menatap gadis cilik yang baru saja siuman itu.

Mendadak...

"Sungguh keji kalian! Terima ini!"

*Wung! Tring!*

Gita Jayasri membalikkan badan. Dilihatnya seorang pemuda bersenjata kujang berkilat dengan gagang harimau menatap mereka dengan mata berapi-api. Pemuda itu kira-kira berusia dua puluh delapan tahun. Bajunya yang terbuat dari kain belacu tampak kusam, bahkan warnanya sudah pudar membuktikan bahwa pemuda itu baru melakukan perjalanan jauh. Rambutnya pendek dengan ikat kepala putih.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment