Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 33

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 33

"Apa maksud Kísanák datang-datang menyerang kami?" tanya Gita Jayasri.

Tiba-tiba matanya mengkilat. Wajahnya merah padam melihat sebuah jarum menancap di sampingnya, lalu ia pandangi Sagara Angkara yang selonjoran di tanah melihat pemuda tadi.

"Santai sekali pemuda sialan ini," pikir Gita Jayasri.

"Sringg...!" Meswari cabut pedang panjangnya.

Namun sebuah suara lembut tampak mengiang di kepalanya.

"Jangan bunuh dia, Dik Meswari. Dia tak sejahat yang kau kira. Aku sama sekali tak merasa hawa jahat yang terpancar dari tubuhnya, meski ada hawa pembunuhan, namun hawa itu sirat akan kasih sayang. Mungkin dia hanya salah paham. Biarlah Dik Gita yang mengurusnya!"

Meswari terperanjat. Dia kagum akan kemampuan analisis pemuda itu. Selain pandai menganalisis, ia juga kagum akan penguasaan tenaga dalamnya. Ia lihat pemuda itu sama sekali tak menggerakkan bibir, namun kenyataannya telinganya dapat mendengar sebuah bisikan.

"Kau keji!" teriak pemuda itu sambil menyerang Gita Jayasri. Yang diserang tentu saja tak mau jadi sasaran empuk. Sekali gerak, pedangnya tercabut dari sarung. Pedang disabetkan ke muka sejajar dengan dada, lalu disendalkan ke atas seiring dengan gerak kaki yang menendang.

Pemuda itu terkejut akan kecekatan lawan. Ia angkat kaki kanannya, dan lututnya sejajar dengan dada. Kujang yang terlanjur menusuk ditarik mundur dan dicuatkan ke bawah hingga membentur badan pedang.

"Trang...

Duk....

Sret..."

Tubuh pemuda itu terlempar ke belakang tanpa menyentuh tanah, dengan tangan terentang ke samping. Sementara posisi kakinya tak berubah. Dalam jarak tiga tombak, kaki itu diturunkan lalu berdiri tegak. Sebagai kelanjutannya, ia merunduk sambil memutar tubuh.

"Wir....

Sringgg....."

Seberkas sinar kemerahan tampak melesat menyerang lawan. Gita Jayasri tudingkan pedang menyongsong sinar itu. Dengan gaya indah pedang itu ditarik seiring sinar yang mengenai badan pedang tampak mengikuti tarikan itu. Kakinya yang membentuk kuda-kuda tampak kokoh menancap di bumi, sementara tubuhnya doyong ke belakang, melenting indah sambil memutar pedang dan menyabetkan kepada pemuda berbaju kain belacu tadi.

"Srettt..."

Sinar kemerahan itu menjadi lebih dahsyat. Kesiuran anginnya saja bisa dipastikan dapat membelah tubuh manusia. Pemuda kain belacu tadi terkejut. Ia tak mau ambil risiko. Tubuhnya meloncat dan bersalto, sambil menerjang Gita Jayasri. Dengan posisi kaki di atas dan tangan di bawah, pemuda itu mencecar lawannya. Tapi lawannya juga bukan kelas teri. Dengan mudahnya ia juga melayani setiap serangannya.

Pertarungan terus berlanjut hingga mencapai ratusan jurus. Sungguh alot keduanya. Namun Sagara Angkara merasa pertarungan takkan ada habisnya. Ia bangkit hendak menghentikan pertarungan.

"Kujang macan angot!" teriak pemuda itu sambil memutar dan melemparkan kujang itu. Kujang itu melesat bagai sebuah busur panah. Gita Jayasri mendengus dingin. Ia tarik pedangnya sejajar dengan muka, lalu disabetkan hendak menguntungi kujang itu. Namun keajaiban telah muncul. Kujang itu melesat ke atas dan menikam Gita Jayasri dari belakang. Mata Gita Jayasri terpejam menunggu kematian, namun entah mengapa kematian tak datang juga. Mata indah Gita Jayasri membuka dan ia dapat membaui wangi yang khas, wangi lelaki yang akhir-akhir ini membuat ia tak dapat berkutik, bahkan nekat menguntitnya sejauh puluhan mil.

"Terima kasih...!" ucapnya lirih.

Sagara Angkara tersenyum lembut, lalu berjalan mendekati pemuda berbaju kain belacu yang entah kapan berdiri kaku. Belatinya ia putar-putar di jari telunjuk. Rupanya pemuda itu tertotok. Tertotok, ya. Bukan hanya tubuhnya yang tak bisa bergerak, mulutnya pun terkunci rapat. Pekerjaan siapa lagi kalau bukan Sagara Angkara. Dengan totokan khasnya ia totok pemuda itu hingga tak berkutik dari jauh.

Mata pemuda itu meliar. Matanya menatap belati yang dipegang pemuda di hadapannya. Ketika belati itu diangkat, pemuda itu tutup matanya sambil menghela napas panjang. Namun hatinya mencelos. Rupanya pemuda yang memegang belati miliknya hanya memasukkan belati itu ke dalam sarungnya.

Lalu tampak ia membebaskan totokannya. "Kita tak ada permusuhan, kisanak. Bukan kami yang melakukan pembantaian ini. Jikalau kau tak percaya, boleh kau tanya kepada gadis kecil itu. Gadis itu merupakan sisa dari penduduk yang terbantai ini."

"Kakang Harsanto!..." teriak gadis itu sambil berlari dan memeluknya. "Huhu... Kakang, ayah, ibu, dan semuanya... huhu!"

"Adik Jingga, siapakah yang melakukan pembantaian keji ini!"

"Mereka... mereka adalah para gadis dengan mahkota intan, Kakang. Mereka melemparkan aku ke dalam sumur. Kudengar teriakan... teriakan yang mengerikan, lalu aku pingsan. Ketika sadar, aku... aku ada di antara mereka, Kakang!"

"Dhara Sesat Air Terjun Belumbang!" geram Meswari dan Gita Jayasri serempak, lalu mereka saling berpandangan. Mata mereka menyalakan dendam, sebuah dendam yang membara.

"Kalian kenal?" tanya pemuda berbaju kain belacu alias Harsanto itu.

"Mereka musuhku!" jawab Gita Jayasri.

"Aku telah bersumpah tidak akan hidup berdampingan dengan mereka," gumam Meswari lagi.

Dari kata mereka, Harsanto dapat menyimpulkan bahwa kedua orang itu memiliki dendam terhadap mereka. Ia tatap wajah mereka berdua. Darahnya berdesir. Ia baru sadar bahwa dua gadis itu memiliki wajah yang begitu ayu.

"Untuk apa harus memendam dendam, jika itu tak membuatmu bahagia? Untuk apa harus membalas jika itu hanya akan membayar nafsu sesaat? Dia membelimu satu, kau beli empat, dan suatu saat dia akan menagih kembali delapan, dan begitu seterusnya. Lalu kapankah dendam itu akan berakhir? Adalah suatu kebodohan manusia dibutakan dendam. Kawan menjadi lawan, lawan menjadi teman. Tak sadar bahwa sang ajal sedang mengintip. Lalu untuk apa dendam itu? Untuk menyenangkan hati? Atau hanya melampiaskan nafsu? Oh... dunia hancur lebur."

Sagara Angkara bernyanyi-nyanyi kecil sambil mengumpulkan mayat yang bergelimpangan, satu persatu, hingga membentuk sebuah gunungan kecil. Keempat orang lainnya melengong mendengar nyanyian itu. Bukannya membantu, mereka malah melamun. Melihat itu, Sagara Angkara jengkel juga. Ia segera tumpahkan curahan hatinya itu dengan sebuah nyanyian.

"Oh, sang jasad yang terbuang,

Betapa pilu hatiku melihat kalian.

Di dunia kalian mati secara menggenaskan,

Ketika sudah mati pun kalian harus menderita.

Kudengar nyanyian pilu kalian,

Pilu karena tak ada seorang pun yang sudi mengurus mayat kalian.

Lihatlah mereka yang hanya menatap jasad kalian,

Apakah itu yang dinamakan bakti?

Mereka pikul sejuta dendam,

Tak sadar hati nurani telah hilang.

Hilang... kemanakah? Entahlah.

Jangan bertanya padaku,

Karena akupun tak tahu.

Coba bertanya pada rumput yang bergoyang,

Coba pada bumi yang tegar,

Coba tanya pada matahari yang terang,

Coba tanya pada langit yang gagah.

Semua menggeleng, menggeleng tak mengerti.

Lalu siapakah yang mengerti? Entahlah..."

Sagara Angkara hentikan nyanyian sebab kepalanya dilempari batu oleh Gita Jayasri. Mulutnya menyunggingkan senyum kecil sebab ia melihat keempat orang itu mulai bangkit dan mengumpulkan mayat.

"Wahai sang jasad terhormat, meski kalian lahir dari lobang dan waktu yang berbeda, namun kalian mati secara bersama-sama, maka aku akan buatkan kalian sebuah lobang agar kalian terus bersama!" pekik Sagara Angkara keras-keras. Suaranya memantul ke mana-mana. Bahkan Jingga harus dibantu oleh Harsanto sebab ia tak kuat mendengar suara itu. Tak salah, suara itu sudah dialiri dengan Aji Gelap Sayuta.

Ketika ia melihat keempatnya mengumpulkan mayat, ia diam-diam merapal hijib Aji Gelap Sayuta.

"Bismillahir rohmanir rohim, Robbii innii maghluubun fantashir, wajbur qolbil munkatsir, wajma` syamlil mundatsir, ikfinii ya kaafii, wa anal `abdul muftaqir. Wa kafaa billaahi waliyyan wa kafaa billahi nashiiroo. Innasy syirka ladhulmun `adhiim. Wa mallaahu yuriidu thulmal lil `ibaad, Fa quthi`a daabirul qowmilladziina dholamuu. Wal khamdu lillahi robbil aalamiin."

Dan seperti tadilah keadaannya. Sungguh dongkol bukan kepalang hati Meswari, namun ia tak dapat berkata apa-apa. Ia terkejut juga melihat Sagara Angkara meletakan tangan kirinya di dada dalam keadaan jari-jari terbuka, sementara telapak tangan kanannya mengacung di atas kepala. Matanya terpejam dan mulutnya berkomat-kamit.

"Ilmu Karang," desis Harsanto lirih.

Ya, Sagara Angkara memang sedang mengamalkan ilmu itu. "Bismillahirrahmannirrahiim, ang pangah maya langgeng jati, ya hu ya hu ya Allah, laa ilaaha illallao, muhammad rosululloh, ana purba langgeng jati, sang ngekendhuri rasa hu Allah, lebur dening Allah".

"Blegarrrr......." Terdengar ledakan dahsyat ketika tangan itu dipukulkan ke tanah. Debu mengepul tinggi, dan terlihatlah sebuah kubangan besar berbentuk bulat. Lalu mereka memasukkan mayat-mayat itu ke dalam kubangan itu.

Matahari seperti mata sapi kala itu menggantung jatuh di ufuk barat sana. Sinar kekuningan tampak mengantar sang biru untuk bergantian dengan sang hitam. Awan kelabu tetaplah bertua beriringan menurunkan bebannya yang rintik. Hujan poyan (hujan yang terjadi ketika dalam keadaan panas atau matahari tidak tertutup awan). Ya, itulah yang terjadi saat itu.

"Hendak kemanakah sebenarnya kita, Kakang Gara?" Meswari bertanya dikala mereka beristirahat di salah satu gubuk ditemani teh hangat yang sudah tersedia.

"Aku hendak sambangi ibu dan ayahku dahulu di Pasir Awi Koneng. Sudah beberapa tahun aku tak menyambangi beliau!"

Meswari mangut-mangut sebab ia tak tahu di mana Pasir Awi Koneng itu. Tapi Harsanto dan Gita Jayasri terperanjat bukan kepalang. Dari orang tua mereka, mereka tahu kejadian beberapa tahun yang lalu, di mana Angkara Langit dan Bumi sedang keras-kerasnya mengamuk.

"Bukankah beberapa tahun yang lalu desa dan pasir itu ditenggelamkan oleh lautan?" hingga pulau itu terpecah menjadi ratusan pulau?" tanya Gita Jayasri tak tahan.

"Benar, dan ayah ibuku berada dalam salah satu pulau tersebut."

"Apakah masih hidup? Mustahil.....!" kali ini Harsanto ikut bicara.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment