Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 34

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 34

"Tidak, ayah dan ibuku mati tersambar petir kesepuluh!"

"Hah!" keempatnya terperanjat.

"Haha... aku mengetahuinya dari mimpi. Saat itu aku baru dilahirkan, namun sepertinya ayah dan ibuku sudah tahu bahwa mereka akan mati sehingga mereka menulis surat. Pada petir kesepuluh, kami tersambar. Secara ajaib, ayah dan ibuku tertelan bumi. Nenek yang membantu persalinanku menghilang entah ke mana, sedangkan aku diselamatkan oleh seekor ikan gajah dan dibawa ke lautan lepas!" Sagara Angkara menjelaskan.

"Mustahil." Tak ada satu pun yang percaya hingga Sagara Angkara menunjukkan surat yang ada di kalungnya. Keempatnya pun tercengang.

"Silakan kalian ceritakan apa yang kalian kerjakan selama ini," Gardapati memberikan kesempatan.

"Baiklah, biar aku yang memulai," ujar Arya. "Kami berdua pergi ke Rawa Kelindingan mencari keberadaan Si Gila dari Neraka Hitam."

Seperti diceritakan di awal, Arya, Ratih, Si Gila dari Neraka Hitam, dan Iblis Kembar Bumi berkumpul di persawahan dekat hutan tempat Si Gila berada. Keempatnya segera berangkat ke desa terdekat untuk mencari makan. Arya berjalan di depan memimpin rombongan dengan memakai caping, seperti yang biasa ia lakukan.

Sesampainya di desa terdekat yang bernama Desa Wonodeso, mereka segera masuk ke sebuah kedai makanan. Namun, ketika hendak masuk, Arya melihat sebaris sandi yang tersusun dari puisi di pintu kedai.

*Rasakan setiap aroma tuakmu*

*Tanpa tuak hidup ini terasa hampa*

*Waktu terasa lama*

*Sakit kan kau rasa*

*Nantikan aku dalam tenggorokanmu*

Jika Arya tidak jeli, niscaya ia akan menganggap tulisan itu hanyalah puisi biasa. Namun, jika hanya dibaca huruf awalnya saja, dapat disimpulkan bahwa kedai itu menuliskan sebuah kata: "RA TAN WA SA NA".

Mereka duduk melingkar di kursi masing-masing. Arya menunduk, berusaha agar tidak ada yang melihat wajahnya. Tangannya merogoh saku. Ia berjongkok ke kolong meja, lalu kembali duduk. Semuanya dilakukan dengan sangat wajar hingga tak ada yang menyadari kejanggalan sikapnya.

"Tunggu aku di sini," kata Arya sambil beranjak ke meja kasir.

"Tuan penjaga kasir, apakah uang ini cukup untuk membayar makanan di sini?" tanya Arya sambil mengeluarkan benda berwarna kuning keemasan.

Penjaga kasir terkejut melihat benda di tangan Arya. "Bolehkah hamba memeriksa benda itu, Tuan?"

"Silakan." Arya menyerahkan benda yang ternyata adalah sebuah lencana bergambar hutan emas.

"Ini bukan uang daerah sini. Jika Tuan ingin makan di sini, silakan ikut hamba untuk menukarkannya di tempat lain."

"Mari." Arya mengikuti pelayan itu. Mereka berjalan cukup jauh melewati jalan yang berkelok-kelok hingga sampai di sebuah warung antik.

Arya berjalan sambil melihat sekeliling. Berbagai bentuk mata uang dari seluruh dunia dipajang di sana. Kendi-kendi berserakan, lukisan, dan berbagai benda lainnya tertata di tempat masing-masing. Tempat itu sangat ramai; ada yang membeli barang, menukar uang, atau sekadar melihat-lihat.

"Apakah Anda ingin menukar uang?" sapa seorang pelayan kepada penjaga kasir.

"Benar, tapi bukan aku, melainkan tuan yang bersamaku ini," jawab penjaga kasir.

"Oh, benda mana yang ingin Anda tukar, Tuan?"

Arya tidak banyak bicara. Lencana emas itu segera diserahkan kepada pelayan tersebut. Raut wajah pelayan itu berubah sesaat. "Mari, Tuan. Ini adalah benda yang sangat langka, biarlah majikan kami yang menentukan harganya," kata pelayan itu sambil mengajak Arya ke ruangan di belakang kasir.

"Raja Singa menampakkan diri," bisik pelayan itu kepada penjaga di sana.

Penjaga tersebut segera menarik tuas obor, membuka sebuah ruangan rahasia. Arya, penjaga kasir, dan pelayan tadi masuk ke dalam. Di sana terdapat penjaga lain. Seperti sebelumnya, pelayan itu berbisik untuk membuka jalan. Hal itu dilakukan hingga sepuluh kali sampai mereka tiba di sebuah aula pertemuan yang luas dan megah.

"Selamat datang, Pemimpin. Maaf kami tidak menyambutmu, kedatangan Anda terlalu mendadak sehingga kami tidak melakukan persiapan," kata seorang kakek tua berpakaian serba hitam. Dialah ketua cabang di tempat itu.

Dengan angkuh, Arya mengibaskan tangan dan duduk di singgasana. "Aku minta kalian pergi ke Perguruan Kali Brantas di tepi Sungai Brantas. Aku akan membantai perguruan itu. Sementara itu, kalian menjarah, memperkosa, dan membunuh setiap warga di sana. Sisakan beberapa orang sebagai peringatan bagi dunia persilatan. Ada yang ingin kalian tanyakan?"

"Tidak, Pemimpin."

"Bagus, jika tidak ada, aku permisi."

*Blaarrrr!*

Sebuah bom asap meledak. Semua orang terkejut. Ketika asap sirna, penjaga kasir dan Arya telah menghilang. Kedatangannya mendadak, perginya pun mendadak. Jika bukan dia, siapa lagi yang akan datang jauh-jauh hanya untuk mengucapkan perintah seperti itu?

Sesaat kemudian, di depan kedai, muncul kembali dua orang lelaki yang ternyata adalah pelayan kasir dan Arya. Arya segera menuju ke mejanya.

"Dari mana saja engkau, Kakang?" tanya Ratih heran.

"Main-main," jawab Arya singkat. Ia duduk dan menyantap makanannya tanpa kata.

"Sekarang kita akan ke mana?" tanya Iblis Kembar Bumi.

"Kali Brantas."

"Perguruan yang dipimpin Pandu Pratama, Si Pendekar Sungai Kematian?" tanya Iblis Kembar Bumi lagi.

"Untuk apa kita ke sana?"

"Memenggal kepalanya sekalian mengambil Sabuk Intan Merah Saga."

"Bukan usaha yang sia-sia."

"Begitulah!"

Selesai makan, keempatnya segera keluar dan memulai perjalanan. Mereka tidak melewati desa-desa, melainkan hutan lebat. Makhluk halus penunggu hutan maupun binatang buas enggan mendekat karena Arya mengerahkan Ajian Hawa Iblis. Dalam waktu tiga hari, mereka sampai di tempat tujuan.

Keempatnya meloncat ke atas pagar, memperhatikan murid-murid Perguruan Kali Brantas yang sedang berlatih di bawah komando seorang pemuda berusia tiga puluhan. Pemuda itu berpakaian hitam dengan sabuk merah, berbeda dengan murid lain yang berbaju putih.

"Paman berdua, uruslah orang-orang di sini. Aku dan Ratih akan masuk ke dalam."

Tanpa menjawab, keduanya masuk ke arena dengan tawa menggelegar. "Haha! Pandu, keluarlah! Kami datang untuk mengambil mustikamu!"

"Siapa kalian? Beraninya memanggil guru kami dengan sembarangan!" bentak pemuda berpakaian hitam tadi.

Murid-murid Perguruan Kali Brantas segera bersiap. Pedang dicabut dan mereka mulai mengepung kedua orang itu.

"Haha! Sudah lama aku tidak berkelana hingga cecunguk sepertimu tidak bisa mengenaliku!" Iblis Kembar Bumi tertawa.

"Cecunguk! Cecunguk!" Si Gila dari Neraka Hitam berjingkrak sambil berteriak.

Wajahnya menyiratkan ketakutan, namun tangannya menggapai ke sana kemari dengan dorongan tenaga dalam. Dari tangannya keluar angin hitam berhawa panas menyengat. Tanpa ampun, murid-murid Perguruan Kali Brantas terpental oleh angin tersebut. Tubuh mereka terhempas; ada yang menabrak dinding, pohon, hingga tercebur ke sungai.

Pemuda berusia tiga puluhan itu marah. Ia mencabut pedangnya dan melesat maju, menyabetkan senjatanya ke arah Iblis Kembar Bumi.

Iblis Kembar Bumi tertawa dingin. Kakinya menghentak hingga tanah merekah dan menyambar lelaki itu. Sang pemuda terperanjat, membatalkan sabetannya, lalu bersalto di udara. Saat berada di posisi tinggi, ia menjejak dan melompat dengan tangan terkembang. Pedangnya diputar secepat kilat, melepaskan delapan tusukan yang memancarkan sinar kuning keruh.

Iblis Kembar Bumi berkelit menghindari serangan itu. Ia tidak membalas hingga lawan berada satu tombak di atas tanah. Iblis Kembar Bumi kemudian memundurkan kaki kanannya, tangan kanannya menampar ke depan sementara tangan kirinya melepaskan pukulan dahsyat. Gerakannya sangat serentak dan cepat. Hawa dingin bercampur sinar hitam bergulung-gulung menyerbu tubuh pemuda itu.

"Bukk! Hoekkk!" Pemuda itu muntah darah di udara akibat dahsyatnya serangan. Tubuhnya terlempar cepat dengan kepala menghadap ke depan, hampir membentur dinding batu. Namun, sebuah tangan kuat menahan kepalanya.

*Bruuush!*

Ledakan angin terjadi saat kepala itu tertahan. Dinding hancur, tiang runtuh, dan atap berantakan. Dari balik reruntuhan, muncul seorang lelaki paruh baya berbaju ungu. Wajahnya gusar, giginya bergeletuk, dan tubuhnya gemetar melihat tamunya.

"Pukulan Tambang Bumi," desis lelaki paruh baya itu saat melihat muridnya menghitam seperti arang. Rambut murid itu rontok dan pakaiannya melapuk. Di dadanya tercetak bekas kepalan tangan yang melesak sedalam dua inci.

"Iblis Kembar Bumi!" gumamnya saat melihat sosok hitam berkepala dua. Rupanya Iblis Kembar Bumi telah melepas capingnya. Matanya melotot menyaksikan puluhan muridnya telah tewas hangus di bawah kaki orang-orang asing tersebut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment