Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 35

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 35

"Akhirnya keluar juga kau, Pandu! Aku pikir kau tak akan keluar saking ketakutannya."

"Kalian dua makhluk sesat, mau apa kemari?" bentak Pandu Pratama. Padahal, dalam hatinya ia berpikir, sudah lama dua orang ini tidak menampakkan diri dalam kancah dunia persilatan. Mengapa hari ini bisa datang bersamaan di sini?

"Serahkanlah Sabuk Intan Merah Saga, maka kau akan terbebas dari siksaan yang mahadahsyat!" Iblis Kembar Bumi membentak lagi. Sementara itu, Si Gila dari Neraka Hitam masih tetap berjingkrakan sambil bernyanyi-nyanyi kecil.

"Oh, kecoak, mengapa kau mati? Tadi aku ketakutan padamu, tapi kini kau menggeletak begitu saja. Aku belum puas! Puaskan aku!"

Hanya itu nyanyiannya, terus diulang-ulang hingga membuat bosan siapa pun yang mendengarnya. Wajah Pandu Pratama semakin merah, semerah saga. Arya yang melihat itu menepuk pundak Ratih. Keduanya meloncat dengan mengerahkan ilmu peringan tubuh ke arah sebuah bangunan dan menyusup pergi.

Sagara Angkara meletakkan tangan kirinya di dada dalam keadaan jari-jari terbuka, sementara telapak tangan kanannya mengacung di atas kepala. Matanya terpejam dan mulutnya berkomat-kamit.

"Ilmu Karang," desis Harsanto lirih.

Ya, Sagara Angkara memang sedang mengamalkan ilmu itu. "Bismillahirrahmanirrahim, ang pangah maya langgeng jati, ya Hu ya Hu ya Allah, laa ilaaha illallah, Muhammad Rasulullah, ana purba langgeng jati, sang ngekendhuri rasa Hu Allah, lebur dening Allah."

"Blegarrr!" Terdengar ledakan dahsyat ketika tangan itu dipukulkan ke tanah. Debu mengepul tinggi dan terlihatlah sebuah kubangan besar berbentuk bulat. Lalu mereka memasukkan mayat-mayat itu ke dalam kubangan tersebut.

Matahari seperti mata sapi kala itu, menggantung jatuh di ufuk barat. Sinar kekuningan tampak mengantar sang biru untuk bergantian dengan sang hitam. Awan kelabu tetap berarak iring-iringan menurunkan bebannya yang rintik. Hujan poyan—hujan yang terjadi saat cuaca panas atau matahari tidak tertutup awan—itulah yang terjadi saat itu.

"Hendak ke manakah sebenarnya kita, Kakang Gara?" Meswari bertanya ketika mereka beristirahat di salah satu gubuk ditemani teh hangat yang sudah tersedia.

"Aku hendak menyambangi ibu dan ayahku dahulu di Pasir Awi Koneng. Sudah beberapa tahun aku tidak menyambangi beliau."

Meswari manggut-manggut karena ia tidak tahu di mana Pasir Awi Koneng itu, tetapi Harsanto dan Gita Jayasri terperanjat bukan kepalang. Dari orang tua mereka, mereka tahu kejadian beberapa tahun lalu, di mana Angkara Langit dan Bumi sedang mengamuk hebat.

"Bukankah beberapa tahun lalu desa dan pasir itu ditenggelamkan oleh lautan hingga pulau itu terpecah menjadi ratusan pulau?" tanya Gita Jayasri tak tahan.

"Benar, dan ayah ibuku berada dalam salah satu pulau tersebut."

"Apakah masih hidup? Mustahil!" kali ini Harsanto ikut bicara.

"Tidak, ayah ibuku mati tersambar petir kesepuluh!" Keempatnya terperanjat. "Haha... aku tahu dari mimpi. Waktu itu aku baru dilahirkan, namun sepertinya ayah ibuku mengetahui bahwa mereka akan mati saat itu juga. Beliau menulis surat. Pada petir kesepuluh kami tersambar, secara ajaib ayah ibuku tertelan bumi. Nenek yang membantu melahirkan menghilang tak ketahuan rimbanya, sedangkan aku terselamatkan oleh seekor ikan gajah dan dibawa ke lautan lepas," Sagara Angkara menjelaskan.

Tak ada satu pun yang percaya hingga Sagara Angkara menunjukkan surat yang berada di kalungnya. Keempatnya melongo.

"Silakan kalian ceritakan apa yang kalian kerjakan selama ini," Gardapati memberikan kesempatan.

"Baiklah, biar aku yang memulai," kata Arya. "Kami berdua pergi ke Rawa Kelindingan mencari di mana Si Gila dari Neraka Hitam berada. Kemudian..."

Seperti diceritakan di awal, Arya, Ratih, Si Gila dari Neraka Hitam, dan Iblis Kembar Bumi berkumpul di pesawahan dekat hutan. Keempatnya segera berangkat ke desa terdekat untuk mencari makan. Arya berjalan di depan memimpin rombongan dengan memakai capingnya seperti biasa. Sampai di desa terdekat yang bernama Desa Wonodeso, keempatnya segera masuk ke dalam kedai makanan. Namun, ketika mereka hendak masuk, di pintu kedai Arya melihat sebaris sandi yang terbuat dari puisi.

"Rasakan setiap aroma tuakmu. Tanpa tuak hidup ini terasa hampa. Waktu terasa lama. Sakit kan kau rasa. Nantikan aku dalam tenggorokanmu."

Jika seandainya Arya tidak melihatnya secara jeli, niscaya ia akan menganggap sebaris tulisan itu hanyalah sebuah puisi biasa. Tapi bila hanya dibaca tulisan awalnya saja, bisa disimpulkan bahwa kedai itu menuliskan sebuah kata: "RA TAN WA SA NA". Semuanya duduk di kursi masing-masing hingga melingkar. Arya menunduk berusaha agar tidak seorang pun melihat wajahnya. Tangannya merogoh saku, ia menjongkok ke kolong meja dan kembali duduk. Itu semua dilakukan dengan penuh kewajaran sampai tidak seorang pun menyadari ketidakwajaran sikapnya.

"Tunggu aku di sini," kata Arya sambil beranjak ke meja kasir. "Tuan penjaga kasir, apakah uang ini cukup untuk membayar makanan di sini?" tanya Arya sambil mengeluarkan benda berwarna kuning keemasan.

Penjaga kasir itu terkejut melihat sebuah benda di tangan Arya. Ia berkata, "Bolehkah sekiranya Tuan memberikan benda itu pada hamba untuk hamba periksa?"

"Silakan." Arya menyerahkan benda yang ternyata adalah sebuah lencana bergambar hutan emas.

"Ini bukan uang daerah sini. Jika Tuan menginginkan makan di sini, silakan Tuan ikut hamba untuk menukarkannya di tempat lain."

"Mari." Arya mengikuti pelayan itu dari belakang. Mereka berjalan cukup jauh dan berkelok-kelok hingga sampai di sebuah warung antik. Berbagai macam bentuk uang dari penjuru dunia terdapat di sana, dipajang dengan berbagai macam cara. Kendi-kendi berserakan, lukisan dan berbagai macam benda lainnya menempati tempat masing-masing. Tempat itu sangat ramai; ada yang membeli barang, ada yang menukar uang, ada pula yang sekadar melihat-lihat.

"Apakah Anda ingin menukar uang?" sapa pelayan yang ada di sana kepada penjaga kasir.

"Benar, tapi bukan aku melainkan Tuan yang bersamaku ini," kata penjaga kasir itu.

"Oh, manakah yang ingin Anda tukar, Tuan?" Arya tidak banyak bicara, lencana emas yang ia simpan diberikan kepada pelayan itu. Raut wajah pelayan itu berubah sesaat.

"Mari, Tuan. Uang ini adalah uang yang sangat langka, biarlah majikan kami yang menentukan harganya," kata pelayan itu sambil mengajak Arya ke belakang kasir dan masuk ke dalam ruangan.

"Raja Singa menampakkan diri," pelayan itu berbisik kepada penjaga yang ada di sana.

Penjaga itu buru-buru menarik tuas obor. Membukalah sebuah ruangan lain di sana. Arya, penjaga kasir, beserta pelayan tadi masuk ke dalam. Di sana juga terdapat penjaga lainnya. Seperti di awal, pelayan itu segera berbisik untuk membuka jalan. Itu dilakukan hingga sepuluh kali hingga mereka tiba di sebuah aula pertemuan yang luas dan megah.

"Selamat datang, Pemimpin. Maaf kami tidak menyambutmu karena kedatangan Anda terlalu mendadak," kata seorang kakek tua berpakaian serba hitam. Dialah ketua cabang di tempat itu.

Dengan angkuh, Arya melambaikan tangan dan duduk di singgasana yang tersedia. "Aku minta kalian untuk pergi ke Perguruan Kali Brantas di tepi Sungai Brantas. Aku akan membantai perguruan itu, sementara kalian menjarah, memperkosa, dan membunuh setiap warga yang ada di sana. Sisakan beberapa orang sebagai peringatan bagi umat persilatan. Ada yang kalian tanyakan?"

"Tidak, Pemimpin."

"Bagus, jika tidak ada yang ditanyakan aku permisi."

Blaarrr! Sebuah bom asap meledak. Semua orang yang ada di sana terkejut. Ketika asap sirna, penjaga kasir dan Arya telah menghilang. Seperanakan nasi kemudian, di depan kedai berjalanlah dua orang lelaki yang ternyata adalah pelayan kasir tadi dan Arya. Arya segera menuju ke mejanya.

"Dari mana saja engkau, Kakang?" Ratih bertanya heran.

"Main-main," jawabnya singkat. Arya duduk di kursinya dan menyantap makanannya tanpa kata.

"Sekarang kita akan ke mana?" Iblis Kembar Bumi bertanya.

"Kali Brantas."

"Perguruan yang dipimpin Pandu Pratama, Si Pendekar Sungai Kematian?" tanya Iblis Kembar Bumi lagi. "Untuk apa kita ke sana?"

"Memotes kepalanya sekalian mengambil Sabuk Intan Merah Saga."

Selesai makan, keempatnya segera keluar dan mulai melakukan perjalanan. Mereka tidak melewati desa-desa, melainkan hutan-hutan yang lebat. Demit-demit penunggu hutan dan binatang buas enggan mendekati mereka sebab Arya mengerahkan Ajian Hawa Iblis. Dalam waktu tiga hari saja, mereka sampai di tempat tujuan. Keempatnya meloncat ke atas pagar memperhatikan murid-murid Perguruan Kali Brantas yang sedang berlatih di bawah komando seorang pemuda berusia tiga puluhan berpakaian hitam dengan sabuk merah.

"Paman berdua, bisakah mengurus makhluk yang di sini sementara aku dan Ratih akan masuk ke dalam?"

Tanpa menjawab, keduanya masuk ke arena dengan tawa yang menggelegar. "Haha! Pandu, keluarlah kau! Kami datang untuk mengambil mustikamu!"

"Siapa kalian? Beraninya memanggil guru kami dengan seenaknya!" bentak pemuda berpakaian hitam itu. Murid Perguruan Kali Brantas segera pasang sikap siaga. Pedang dicabut dan mulai mengelilingi keduanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment