Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 36

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 36

"Haha" sudah lama aku tak berkelana hingga cecunguk macamu tak bisa mengenaliku!" Iblis Kembar Bumi tertawa.

"Cecunguk-cecunguk!" Si Gila dari Neraka Hitam berjingkrakan sambil berteriak cecunguk.

Wajahnya menyiratkan ketakutan.

Tangannya menggapai ke sana kemari dengan berlandaskan tenaga dalam.

Dari tangannya keluar angin hitam berhawa panas menyengat.

Tanpa ampun, murid perguruan Kali Brantas berterbangan dan terdorong angin hitam itu.

"Akhhh!" Bruk..bruk..brukk!

Tubuh mereka terhempas, ada yang menabrak dinding, menabrak pohon, tercebur ke kali, dan sebagainya.

Pemuda berusia tiga puluhan itu marah.

"Srengg!" Ia mencabut pedangnya.

"Hiaaaaa?" Lelaki itu melesat maju dengan pedang di punggung dan disabetkan begitu dekat dengan Iblis Kembar Bumi.

Iblis Kembar Bumi tertawa dingin.

Kakinya menghentak, tanah merekah menyambar lelaki itu.

Lelaki itu terperanjat.

Sabetannya dibatalkan dan meloncat bersalto dua tiga kali di udara.

Begitu kakinya di udara, ia menjejak dan melompat, kedua tangannya terkembang, pedangnya ditudingkan ke samping, secepat kilat diputar, dan ditusukkan tujuh delapan tusukan.

Setiap tusukan pedang menerbitkan selarik sinar kuning air sungai kala hujan.

Iblis Kembar Bumi berkelit ke samping menghindari setiap larik sinar itu.

Ia tak balas menyerang hingga lelaki itu berada satu tombak di atas tanah.

Iblis Kembar Bumi yang pada waktu itu sedang berdiri dengan kaki dirapatkan memundurkan kaki kanan.

Tangan kanannya bergerak menampar ke muka, sementara tangan kirinya melakukan suatu pukulan dahsyat.

Itu dilakukan dengan gaya yang serentak, sehingga kecepatannya seperti belut yang disentil ekornya.

Hawa dingin bercampur sinar hitam yang bergulung-gulung membentuk tambang menyerbu tubuh lelaki itu.

"Bukk.. Hoekkk!" Lelaki itu muntah darah di udara saking dahsyatnya serangan itu.

Tubuhnya terlempar cepat dengan kepala terlebih dahulu.

Satu inci lagi kepalanya membentur dinding batu.

Tapi, sebuah tangan kuat menahan kepalanya itu.

"Brussshh!" Angin kuat meledak begitu kepala itu ditahan.

Dinding hancur, tiang runtuh, atap hancur berantakan.

Begitu atap dan dinding itu hancur, muncullah seorang lelaki paruh baya dengan baju ungu.

Bajunya berkibar-kibar, wajah lelaki itu terlihat begitu gusar dengan tamu tak diundangnya.

Wajahnya yang lonjong mengeretak hingga giginya beradu.

Alisnya menjungkit ke atas.

Tubuhnya gemetar.

"Pukulan Tambang Bumi," desis lelaki paruh baya itu ketika melihat muridnya menghitam sehitam arang.

Rambutnya rontok, bajunya melapuk hingga tak tersisa sama sekali.

Di dadanya tercetak sebuah kepalan tangan yang menekuk ke dalam hingga dua inci.

"Iblis Kembar Bumi!" Gumamnya ketika melihat sesosok hitam yang memiliki kepala dua. Rupanya Iblis Kembar Bumi telah melepas capingnya dan menggantungnya di leher.

Matanya melotot ketika melihat murid-muridnya yang berjumlah puluhan orang telah menggeletak hangus di bawah kaki seorang yang tak jelas wajah dan perawakannya sebab kemesumannya.

"Akhirnya keluar juga kau, Pandu! Aku pikir kau tak akan keluar saking ketakutannya." "Kalian dua makhluk sesat mau apa kemari?" Bentak Pandu Pratama.

Padahal dalam hatinya ia berpikir, sudah lama dua orang ini tak menampakkan diri dalam kancah dunia persilatan. Mengapa hari ini bisa datang bersamaan di sini?

"Serahkanlah Sabuk Intan Merah Saga, maka kau akan terbebas dari siksa yang maha dahsyat," Iblis Kembar Bumi membentak lagi. Sementara itu, Si Gila dari Neraka Hitam masih tetap berjingkrakan sambil bernyanyi-nyanyi kecil.

"Oh, Kecoak, mengapa kau mati? Tadi aku ketakutan padamu, tapi kini kau menggeletak begitu saja. Aku belum puas. Puaskan aku!"

Hanya itu nyanyiannya, itu terus diulang-ulang hingga membuat bosan siapa pun yang mendengarnya. Wajah Pandu Pratama semakin merah, semerah saga.

Arya yang melihat itu menepuk pundak Ratih. Keduanya meloncat dengan mengerahkan ilmu peringan tubuh ke arah sebuah bangunan dan pergi menyusup.

"Nimas, Sabuk Intan Merah Saga itu tidak ada di sini!" Kata Arya setelah membongkar setiap bangunan yang ada di perguruan itu.

Entah berapa jiwa yang melayang dalam perguruan itu dalam penyelundupan itu.

"Mungkin dipakai oleh orang tadi, Kakang?" "Tidak! Aji Mata Kucingku tak melihatnya selain burung aneh yang bertengger," sahut Arya sewot.

Ratih tertawa cekikikan.

"Mungkin anak istrinya, Kakang!" "Kau benar, Nimas, mengapa itu tak terpikir olehku, ya!" "Tapi di manakah mereka, Kakang!" "Sebentar..!" Arya menyimpan tangannya di kedua matanya, mulutnya bergumam-gemam membaca mantra. "Mata aing mata ucing, mata aing nu bisa nempo jagat, jagat malik dina mata aing. Breh..breh..brai."

Arya melepaskan tangannya, matanya bersinar tajam. Dengan liar ia menatap ke kiri kanan. Mendadak ia melihat dua orang perempuan yang sedang dilarikan oleh beberapa murid yang memakai pakaian hitam. Mungkin ia adalah murid inti dari perguruan itu.

"Ayo!" Arya melesat terbang mengerahkan ilmu peringan tubuhnya.

Ratih mengejar dari belakang. Laksana anak panah, keduanya melesat membentuk sebuah garis yang menembus rimba.

Arya yang mengejar dari belakang tersenyum puas ketika melihat murid perguruan Kali Brantas semakin cemas. Tangannya menjentik mengerahkan ilmu totokan jarak jauh. "Ctikkk!"

"Aaakh...!" Salah seorang dari mereka menjerit menyayat hati ketika terkena totokan jarak jauh itu. Tubuhnya ambruk mencium bumi.

Arya tak berhenti begitu saja, ia terus melakukan totokan jarak jauh. Maka suara jeritan itu belum lagi hilang, terdengar lagi jeritan melengking dari seorang murid yang lain.

"Cepat lari terus, Nyai, Tuan Putri," kata pemimpin rombongan itu melihat lari keduanya semakin melemah.

"Aku sudah tidak kuat lagi, Ngger," perempuan setengah baya yang dipanggil Nyai mengeluh.

"Ctikkk!" Pemimpin rombongan itu mengibaskan pedangnya untuk menghalau sebatang ranting yang diluncurkan Ratih. Tangan kirinya segera mendorong gadis yang satunya agar terus berlari. Mau tidak mau dua orang perempuan itu berlari meski mereka sudah kehabisan napas.

Dua orang murid inti Perguruan Kali Brantas yang hanya tersisa itu segera menghentikan larinya. Mereka mencoba menghadang Arya dan Ratih. Namun dua orang dengan tenaga sudah terkuras, tentu bukanlah tandingan Arya dan Ratih. Tanpa banyak kata, keduanya mengerahkan ilmu andalan guna mempersingkat waktu.

Arya merapatkan kedua tangan di dada, tangan kanan dihentakan ke depan, sementara tangan kiri diayun ke bawah belakang, sedang Ratih melentikan tubuh bagian atasnya dengan sebuah putaran tubuh diikuti dengan kedua tangan.

Tanpa dapat berbuat banyak, kedua orang itu tewas dalam sebuah lubang berbentuk telapak tangan dalam keadaan tubuh terbungkus es.

"Ngger, aku tidak kuat lagi..." keluh Nyai itu dengan napas tersengal.

"Bertahanlah, Mbok," gadis yang satunya coba mendorong semangat perempuan itu.

Nyai itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Sinar matanya sudah menyiratkan kepasrahan. Sementara Ratih dan Arya sudah semakin dekat saja.

Ratih menjejakkan kaki melompat di atas kepala dua orang yang tersisa itu. "Jlegg?" Ia berdiri di depan mereka. Perlu diketahui, saat ini mereka sedang berada di antara himpitan batu cadas di kedua sisi. Otomatis depan belakang mereka sudah terhadang.

Arya sigap menotok keduanya dengan kecepatan yang tak bisa diikuti dengan mata. Padahal gadis yang dikejar itu sudah mencabut pedangnya setengah dari serangkanya.

"Nimas, ambil kalung permata di leher wanita tua itu!" "Baik, Kakang!" Ratih berjalan dan berusaha membuka kalung permata itu.

"Tidak bisa, Kakang! Kalung ini menempel di lehernya dengan satu arah, bisa dipasang tidak bisa dibuka lagi. Kecuali memenggal kepalanya, tidak ada cara lagi." "Penggal saja!" Arya menyerahkan pedang di pinggang gadis yang dipegangnya.

Ratih menerimanya dengan ragu. Perlahan wanita itu didudukkan, pedang terangkat di atas lehernya. Arya membuka totokan gadis itu untuk menyadarkannya, tapi tidak dengan totokan kakunya. Wajahnya diarahkan Arya ke hadapan eksekusi itu. Mata gadis itu melotot, marah, takut, dan ngeri.

Ratih menghela napas panjang, pedangnya disabetkan. "Crassshh!" Darah memancar, kepala menggelinding. Gadis itu pingsan seketika.

Arya tersenyum lembut kepada Ratih yang waktu itu berdiri menjulang memegangi kalung permata yang bersinar berlumuran darah.

"Tak kusangka, selain mendapatkan Sabuk Intan Permata Merah Saga, kita juga mendapatkan Kalung Permata Nyi Laraspati. Kalung yang terbuat dari batu alam terlangka di dunia yang ditempa langsung oleh Pendekar Seribu Diri Aram Widiawan." "Benarkah ini kalung itu, Kakang?" "Ya, lihatlah, permatanya bersinar ketika terkena darah, berarti itu memang benar kalung itu." "Ayo kembali!" Ajak Arya sambil mengapit gadis yang ditangkapnya sambil menggandeng tangan Ratih.

Di tengah jalan, Arya sibuk menotok beberapa jalan darah di perut dan di leher gadis itu. Entah apa yang dilakukannya, tak ada yang tahu. Ketika mereka sampai di lapangan, mereka melihat Iblis Kembar Bumi sedang bertarung dengan Pandu Pratama.

Diliriknya arah sebelah selatan, asap mengepul. Diliriknya arah timur dan utara, sama saja.

"Asap apa itu, Kakang?" "Pembantaian!" Jawab Arya santai dan mulai memperhatikan pertarungan.

Tampak Iblis Kembar Bumi mengangkat kaki kanannya dengan suatu keseimbangan yang sangat baik. Tangan kanannya berada di samping atas dan tangan lainnya menyilang berada di depan dada kiri.

Pandu Pratama membuka tangan kanan ke samping atas untuk diiringi dengan gerakan menendang pada kaki kanan. Kedua tangan Iblis Kembar Bumi melakukan putaran secara bersamaan untuk menangkis serangan lawan. Itu dilakukan dengan seni gerakan berputar yang indah dan mantap. Tangan kanan bergerak ke arah muka lawan dengan akhir gerakan telapak tangan menghadap ke atas dan tangan lainnya memutar turun. Dalam keadaan jatuh dan diserang, ia menurunkan tubuhnya ke bawah dan menekuk begitu kaki kanan diturunkan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment