Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 37

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 37

Kedua tangan menyilang ke dalam lalu dibuka bersamaan menghadapi pukulan lawan. "Plaaakkk!" Pandu Pratama menangkis dengan punggung tangan. Tak berhenti begitu saja, ia juga mengayunkan diri berputar sambil menegakkan tubuh kembali dengan tusukan-tusukan berturut-turut yang dilakukan oleh kedua tangan dengan ujung-ujung jarinya yang berwarna kuning kecoklatan.

Iblis Kembar Bumi menangkis setiap tusukan sambil mundur ke belakang. Dirinya terdesak.

"Pandu, lihatlah apa yang kubawa!" Arya berkata sinis, ucapannya tidak keras namun cukup terdengar di telinga Ketua Perguruan Kali Brantas itu.

Ia meloncat dan menendangkan kaki kanannya. Iblis Kembar Bumi terkecoh siasat lawan, kedua tangannya disilangkan di dada. "Tap!" Iblis Kembar Bumi mencelos. Lawan rupanya hanya menjejakkan kaki di tangannya yang digunakan untuk mundur. Pandu Pratama melengong, ia melihat putri satu-satunya berada di pangkuan lawan, matanya terpejam.

"Brukkk!" Ia jatuh bersujud.

"Tolong lepaskan anakku, maka aku akan memberikan apa yang kalian mau!" katanya.

"Hah! Pandu Pratama si Pendekar Sungai Kematian harus bersujud di hadapanku, huahaha!" Si Gila Dari Neraka berdiri di hadapan Pandu Pratama tanpa sepengetahuan empunya.

Pandu Pratama terkejut, ia bangkit dari sujudnya, wajahnya merah. Ia sungguh malu tak kepalang, apa daya itu semua sudah terjadi. "Jika sudah bersujud, tak sopan bila tak membalasnya! Tangkap ini!" Arya melemparkan tubuh anak Pandu Pratama.

Pandu Pratama melompat menangkap gadis satu-satunya, ia melepaskan anaknya dari totokan.

"Mengapa kau melepaskannya, Kakang?" Ratih bertanya heran.

"Lihat saja!" Jawab Arya singkat.

Lepas dari totokannya, gadis itu menggeliat-geliat seperti kegerahan. "Anakku, kenapa engkau?" Pandu Pratama terkejut.

Gadis itu menggeliat liar, bajunya ia buka dengan paksa hingga terdengar suara sobekan kain yang bersahut-sahutan. "Ssshhh!" Desisan laksana ular keluar dari bibir mungilnya.

"Breet, breet!" Wajahnya berubah merah. Matanya terpejam, giginya digigit sendiri. Tanpa melihat keadaan sekitar, gadis itu memeluk ayahnya dan melumat bibirnya. Pandu Pratama terkejut, ia menotok anak gadisnya dan melepaskan jubah miliknya untuk dipakaikan.

"Kau apakan anakku!" Teriaknya nyaring kepada Arya.

"Kau pernah mendengar totokan yang bernama Totokan Asmara Tak Sudahlah?" Wajah Pandu Pratama gusar bukan kepalang, ilmu itu memang bukanlah ilmu luar biasa, namun dalam dunia persilatan ilmu itu cukup terkenal, sebab ilmu itu adalah ilmu yang biasa digunakan oleh para Pemetik Bunga.

Tak ada obat untuk menyembuhkannya.

Satu-satunya adalah dengan melampiaskan hasrat yang menggelegak itu dalam waktu dua puluh menit saja.

Dan yang satunya adalah mati? Kesalahan terbesar sudah dilakukan oleh Pandu Pratama.

MENOTOKNYA! Ia tahu bahwa ia malah menambahkan sebuah penderitaan terbaru untuknya, untuk anak tercintanya. Barang siapa yang terkena totokan itu maka berpantang untuk terkena totokan lain ataupun saluran tenaga dalam. Jika itu dilakukan, si penderita akan meningkat gairahnya dan waktunya pun akan berkurang.

Ratih yang tak tahu akan totokan itu diam saja, ia melompat dan mendekati gadis yang berada di pangkuan Pandu Pratama.

Jarinya menjentik mengirimkan desiran angin untuk melepaskan totokan gadis itu.

Gadis itu terbebas dari totokan, sigap saja, ia memeluk ayahnya. Pandu Pratama terkejut, tapi ia tak dapat melakukan apa-apa.

Wajahnya terpejam, matanya bercucuran. Gadis itu terus saja melakukan aksinya, bahkan celana Pandu Pratama sudah robek ditarik anaknya itu.

Gadis itu mendesis seperti ular yang bersiaga, tubuhnya meliuk-liuk gatal.

"Prakkk!" Kepala gadis itu hancur berantakan, otaknya berhamburan. Rupanya Pandu Pratama tidak tahan lagi melihat anaknya seperti itu.

Ia segera mengambil langkah pendek: MEMBUNUH ANAKNYA DENGAN TANGAN SENDIRI. "Maafkan aku, Nimas, aku membunuh anak kita, Dewi!" "Prakkk!"

Pandu Pratama membunuh dirinya sendiri.

Ratih tercengang, ia tak tahu bahwa melepaskan totokan gadis itu akan berakhir seperti itu.

Arya menenangkannya dan mendekati Si Gila Dari Neraka yang memainkan rambutnya sendiri di pojok lapangan.

"Orang Tua, sebaiknya kita segera pergi dari sini, sebentar lagi akan datang tamu yang lain," ucap Arya sambil melemparkan sebuah lencana Ratan Wasana.

"Bagaimana dengan sabuknya? Tak kusangka si Pandu sudah menguasai ilmu Dewa Tusukan warisan Pendekar Kelana?" kata Iblis Kembar Bumi.

"Haha... ini lihatlah!"

"Kau, Orang Tua, juga hebat, jurus Dewa Tusukan bukanlah ilmu yang bisa dianggap ringan," hibur Arya. "Begitulah... Dari Perguruan Kali Brantas kami beralih ke perguruan lainnya, membantai, merampok, mempermainkan, juga merekrut dan mengadu domba. Menyenangkan rasanya melihat kaum golongan putih ketakutan. Di tengah perjalanan kami juga bertemu dengan beberapa sahabat segolongan, mudah-mudahan itu bisa digunakan sebagai tombak penggempur," tutur Arya mengakhiri ceritanya.

"Haha... berapa barang mustika yang sudah kau dapatkan?" Tanya Gardapati.

"Tidak banyak, hanya sekitar sepuluh peti mayat."

Jawab Arya enteng.

"Tidak bisa dikatakan lumayan, itu sudah sangat banyak," sela Astradewi.

"Baguslah, Nimas Dyah... Bagaimana denganmu?"

Sementara itu, di tempat lain, terik matahari bersinar laksana bola raksasa yang menggantung, mengantarkan lima bayangan yang melesat cepat bagai angin, bagaikan dewa dan dewi yang sedang hijrah. Sekelebatan cahaya berwarna-warni melesat dengan cepatnya, satu mil mereka lewati hanya dengan hitungan kedip mata. Mereka berlari membentuk huruf V terbalik. Sagara Angkara berada di depan mereka, memimpin rombongan kecil yang terdiri dari tiga gadis dan dua laki-laki.

"Kita hampir sampai," Sagara Angkara menatap sebentang samudra di depannya, semilir angin berbau garam menerpa wajahnya, mengibarkan rambutnya yang gondrong. Matanya bersinar akan kerinduan, daun kelapa melambai-lambai, mengibarkan daunnya yang berwarna hijau. Para nelayan sibuk dengan tangkapannya, sebaris senyuman menggurat di wajah lugu mereka.

"Biarlah aku mencari perahu yang bisa kita sewa!" Harsanto berpamitan.

"Tidak, tidak usah, silakan kalian pegang lagi tanganku, aku akan menggunakan Napak Sancang." Tak terlihat Sagara Angkara membaca mantra, namun tubuhnya melesat menarik keempat orang yang ada di sisi kanan dan kirinya, berlari menyeberangi samudra luas dengan berlari. Itulah kehebatan dari ilmu Napak Sancang.

"Dewa... Dewi, berkahi kami!" Para nelayan yang melihat itu tampak bersujud di pasir putih, jelas sekali mereka salah menyangka bahwa orang-orang tadi adalah dewa dan dewi.

Sesampainya di sebuah pulau kecil, Sagara Angkara berjalan mendekat ke tanah tempat tanah itu terdapat dua buah bunga puspanyidra.

Sagara Angkara bersujud, kawannya melengong. Mata Sagara Angkara berkaca-kaca. Mata kawannya berbinar aneh. Sagara Angkara bangkit dan mematahkan pohon puspa, pohon itu ia guratkan hingga membentuk sebuah tulisan.

"Rangga dan Dewi," baca kawan-kawannya dalam hati.

Sagara Angkara berbalik, lalu bersandar di pohon puspa di belakangnya. Terdengar ia bertanya lirih, "Kawan-kawan, sebenarnya siapakah Dhara Sesat Air Terjun Balumbang itu?"

"Perkumpulan sesat... tapi?" ujar Harsanto. "Menurut kalian?" Sagara Angkara berkata sambil menatap dedaunan yang bergoyang ditiup angin.

"Musuh besarku!" Gita Jayasri berkata dengan mengepalkan tinjunya. Sedangkan Meswari mengatakan bahwa mereka adalah calon mayat dalam pedangnya.

Sagara Angkara mengangguk-angguk, lalu berkata, "Permusuhan apakah yang terjalin antara engkau dengan mereka?"

"Mereka menjadikan ayahku sebagai sapi perah... sampai... sampai ayahku menemui ajal," Gita Jayasri berkata, matanya berkaca-kaca, setetes cairan bening mengucur dari matanya itu.

"Dan engkau?"

"Kekasih dan kakakku mereka rebut dan dijadikan sapi perah," Meswari menyabetkan pedangnya pada batu cadas hingga terbelah menjadi dua.

"Dan mereka membantai desaku!" Jingga turut berbicara.

"Tapi, apa, Kakang Harsanto?" tanya Sagara Angkara berbalik lagi kepada Harsanto.

Sagara Angkara sekarang bukanlah yang dulu. Ia sudah menemukan pencerahan hidup melalui tiga guru barunya. Meski tak sepenuhnya telah berubah, sekarang ia lebih tenang dalam melakukan tindakan, setiap tindakan ia simpulkan dari kedua sisi.

"Dhara Sesat Air Terjun Balumbang tidaklah seburuk Ratan Wasana. Mereka tidak membunuh lelaki yang mereka tangkap jika korbannya itu tidak melawan dan berusaha kabur. Awalnya mereka tidak berbahaya, meski menyedot hawa lelaki untuk ilmu mereka. Tapi tidak pernah melakukan pembunuhan, hingga salah satu dari mereka tewas di tangan anggota Ratan Wasana. Ketua Dhara Sesat Air Terjun Balumbang marah, ia menyuruh anak buahnya untuk menyedot hawa lelaki lebih dari biasanya, guna membalas dendam. Itu terus berlanjut, dan pada akhirnya mereka terdesak dan mulai menebarkan wabah di setiap desa untuk menjadi ayam mereka. Desa mana saja yang menolak, mereka tak segan untuk membantai. Kedatangan Dhara Sesat Air Terjun Balumbang juga menjadi tameng agar Ratan Wasana tidak menjadi penguasa dunia persilatan. Mereka berseteru tapi itu sangat menguntungkan juga. Para murid perguruan putih mati secara mendadak akibat perseteruan itu, padahal sebenarnya murid yang mati itu adalah para pengkhianat. Belakangan aku mengetahui salah satu dari para murid perguruan putih itu ada yang merupakan anggota Ratan Wasana. Bisa disimpulkan bahwa Dhara Sesat mengetahui itu dan membunuh mereka. Meski menguntungkan, tindakan menyedot hawa itu juga merupakan pelanggaran adat yang berlaku di kaum kita. Oleh karenanya, kita tetap memusuhi mereka. Pepatah mengatakan, "Adat diisi lembaga dituang." Maksudnya adalah segala sesuatu harus dilakukan menurut kebiasaannya."

"Jadi, pangkal masalahnya adalah Ratan Wasana, ya?" "Hmm,"

Seekor kerbau membawa lumpur, semuanya habis terpalit. "Fiuhhh..."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment