Chapter 38
"Baiklah, mari kita menengok keadaan di Air Terjun Balumbang itu. Barangkali kita bisa melihat penyokong mereka."
"Maksudmu, mereka memiliki penyokong?" tanya Harsanto.
Sagara Angkara mangut-mangut membenarkan. "Saat ini kita berada dekat Sunda Kelapa. Untuk pergi ke Air Terjun Balumbang tentunya memakan waktu. Bagaimana bila kita menengok Ratan Wasana terlebih dahulu? Bukankah mereka juga terkenal suka mengumpulkan para gadis?"
"Wah... wah... Dara Sesat Air Terjun Balumbang mengumpulkan jejaka, dan Ratan Wasana mengumpulkan dara. Kagum... kagum!"
"Apanya yang kagum!"
"Bletak!" Gita Jayasri menghantam kepala Sagara Angkara dengan ranting pohon puspa.
"Apakah Ratan Wasana itu orang yang kita temui ketika pertama kali kita berjumpa, Dik Meswari, Dik Gita?" tanya Sagara Angkara sambil mengelus-elus kepalanya yang sakit.
"Benar!"
Mendadak, "Wung!" Tubuh Sagara Angkara melesat mengejar sesosok bayangan hitam. Tentu saja keempatnya terkejut dan ikut melompat mengejar, hingga terjadilah kejar-kejaran yang menarik.
"Berhenti, Kisanak!" Sagara Angkara memerintah, namun bayangan itu terus melesat dan meloncat ke perahu. "Haha... mengapa kau tak menurut, Kisanak?"
Sagara Angkara tertawa dan meloncat menghadang perahu. Tubuhnya berdiri tegak di atas air laut; tampak ombak yang menggulung tersibak, enggan menyentuh tubuhnya. Lelaki berbaju hitam itu terkejut. Ia memundurkan perahunya sambil melompat ke daratan hendak kabur lagi.
"Jleg!" Tiga sosok menghadangnya. Mengapa tiga? Sebab Jingga tidak bisa olah kanuragan; ia hanya tampak ongkang-ongkang kaki di cadas dekat pohon kelapa.
"Mengapa kau begitu ketakutan, Kisanak? Apakah wajah tampanku ini sebegitu miripnya dengan setan sampai-sampai kau begitu takut?" Sagara Angkara bergurau sambil memainkan pasir dengan kakinya.
Gayanya selalu santai dalam segala hal, tingkah yang tentu saja membuat sebal siapa pun yang melihatnya. "Huh!" Lelaki itu mendengus dingin. Matanya berkeliaran hendak melarikan diri, namun setiap lubang telah tertutup. Jangankan manusia, tikus pun jangan harap dapat menembus kepungan itu. Tak ada kesempatan untuk melarikan diri. Seperti anjing yang tersudut, bila terinjak buntutnya tentu saja ia akan menggigit. Begitu pula dengan lelaki berbaju hitam itu.
Baju hitamnya berkibar-kibar seiring dengan tenaga dalam yang dikerahkan. Ikat kepalanya yang hitam juga tampak kaku. Rambutnya yang tertutup bendo tampak ingin menjungkit berdiri.
"Aji Landak Ireng!" desis Harsanto ngeri.
"Cek, cek, cek... kau keji sekali, Kisanak. Tampaknya kau sudah mendapatkan tujuh puluh delapan perawan. Dua purnama lagi, Aji Landak Ireng itu akan kau sempurnakan," Sagara Angkara menilai sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Rambut gondrongnya tampak berseliweran seperti ombak.
"Kau... dari mana kau tahu?" Mata lelaki berwajah berusia lima puluh tahunan itu melotot lebar. Wajahnya terbilang cukup buruk; hidungnya mencuat seperti hidung tikus, matanya juling, dan bibirnya tebal.
Sagara Angkara tertawa misterius, lalu berkata, "Jingga, kemarilah. Ayo, lawan paman tampan ini."
"Kakang Gara, masakan wajah seperti beruk itu dibilang tampan? Barangkali batu cadas ini lebih baik dari wajahnya. Hihi," Jingga tertawa cekikikan namun tak beranjak dari tempatnya.
"Ya, ya, jika begitu menurutmu. Ayo, mari ke sini, biar Kakang ajarkan cara memandikan beruk!"
"Jingga takut, Kakang. Jingga kan tidak bisa silat!"
"Hup!" "Jleg!" Karena Jingga tak menurut juga, akhirnya Sagara Angkara berinisiatif mengambilnya sendiri. Tak sampai sekejap mata, Sagara Angkara melesat mengambil tubuh Jingga dan kembali ke tempatnya semula. Benar-benar suatu pameran ilmu peringan tubuh yang dahsyat.
Jingga celingukan tak mengerti mengapa dirinya sudah berada di sana. Gita Jayasri, Harsanto, dan Meswari juga menganga. Terlebih lelaki berbaju hitam itu; saking kagetnya ia sampai lupa menyerang. Sagara Angkara tersenyum sambil berbisik di telinga Jingga. Setelah selesai, tampak Jingga maju ke depan menghadapi lelaki berbaju hitam dengan berkacak pinggang.
"Heh, Muka Beruk! Untuk menghadapimu tak usah Kakang Gara atau yang lain, cukup aku saja yang menghadapimu!" Jingga menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan mata bersinar nakal.
Merah wajah lelaki itu dihina seorang gadis cilik, apalagi ia tahu gadis itu sama sekali tidak paham ilmu silat. "Seumur hidup, aku, Atra Ireng, tidak pernah dihina serendah ini. Anak kecil, apa kau tak takut bila aku mematahkan tulang-tulangmu yang kecil itu?"
"Huh, barangkali akulah yang akan memandikanmu, Beruk!" Jingga mengacungkan jari tengahnya pada Atra Ireng.
"Kau tak bisa diampuni lagi, bocah!" Atra Ireng menerjang Jingga. Kesepuluh jarinya mekar dengan kuat hendak menangkap tubuh mungil itu. Namun, sebuah hal aneh terjadi. Tubuh Jingga menyeruduk ke bawah selangkangan Atra Ireng. Lengan mungilnya mencengkeram kerah baju lawan, lalu dengan sekali sentak, tubuh Atra Ireng ia banting.
"Bruk!" Tubuh Atra Ireng menghantam pasir yang berserakan karang laut. Wajahnya meringis menahan sakit. Tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa ia bakal dikalahkan seorang gadis cilik dalam satu gebrakan. Rasa malu membuatnya kalap. Ia kembali menyerang Jingga dengan ganas. Angin tajam dari Aji Landak Ireng menerpa.
Jingga tersenyum nakal. Tangan mungilnya yang basah dicelupkan ke pasir. Ketika tangan besar Atra Ireng menyerang, Jingga berkelit dan menangkap lengan itu. Dengan bantuan pundaknya, tangan lawan diselipkan di antara leher, lalu ia membungkuk. Atra Ireng terperanjat, namun tak sanggup menghindar. Tubuhnya terlempar ke pantai.
"Byur!"
"Hore!" teriak Jingga kegirangan sambil berlari memeluk Sagara Angkara. Gita Jayasri, Harsanto, dan Meswari melongo. Dalam benak mereka terselip perasaan ngeri membayangkan jika pemuda itu menjadi musuh; entah berapa jiwa yang akan melayang.
"Tenaga Sakti Mata Darah...!" desis Sagara Angkara terkejut. Dilihatnya mata Atra Ireng merah menyala. Meski belum sempurna, dayanya benar-benar hebat. Ilmu itu dahulu hanya dikuasai beberapa orang saja semasa Pendekar Seribu Diri.
"Kakang, aku akan menghajarnya lagi!" kata Jingga polos.
"Jangan, Sayang. Biarlah Kakang Harsanto yang melawannya. Kakang! Hindari tatapan matanya. Kelemahannya adalah selangkangannya. Bila Kakang dapat menghancurkan bagian itu, maka ilmunya akan musnah. Satu lagi, jangan hancurkan tiangnya, atau ia bakal mati," bisik Sagara Angkara melalui ilmu menyusupkan suara kepada Harsanto.
Harsanto terkejut mendapat bocoran itu. Lekas ia mencabut kujangnya.
Tiba-tiba, "Cah Ayu... kemarilah... biar aku lumatkan tubuh mungilmu itu." Suara Atra Ireng bergetar menimbulkan sensasi sihir. Namun, Jingga tetap di tempat karena telinganya telah disumbat oleh tangan Sagara Angkara.
"Hati-hati, dia pandai sihir," kata Sagara Angkara sambil mengerahkan tenaga batin untuk menindih pengaruh suara tadi.
"Apa kau masih ingat aku, Atra Ireng?" Harsanto maju beberapa tindak dengan belati siap di dada.
"Pendekar Kujang Geni, rupanya kau!" Atra Ireng menatap lawannya.
"Atra Ireng, cabut senjatamu atau aku akan memenggal kepalamu!"
"Huh!" Atra Ireng mencabut suling hitam dari gading di pinggangnya.
"Jaga serangan!" Harsanto menekuk lutut kanannya sementara tangan kanan menudingkan mata kujang ke arah lawan.
"Sesuai kehendakmu." Atra Ireng memasang kuda-kuda.
"Hiat!" Sabetan putih kemerahan menerjang. Atra Ireng pun sigap; serulingnya diputar setengah lingkaran untuk membentur serangan. "Trang! Trang! Trang!" Mata keduanya bertatapan tajam. "Sreng!" Tubuh Harsanto berbalik membelakangi lawan sementara kujangnya tetap beradu dengan seruling. Mendapat kesempatan, Atra Ireng memukulkan tangan kirinya ke punggung lawan.
Namun, itu adalah kesalahan fatal. Bersamaan dengan gerakan itu, laksana kecepatan cahaya, kujang terlepas dari seruling. Tubuh Harsanto melenting mepet dengan tanah, dan kujangnya menyabet tangan kiri Atra Ireng.
"Crasssh!"
"Argh!" Tubuh Atra Ireng mundur dengan wajah pucat. Tangannya telah putus sebatas siku.
"Kau... kau...!" keluh Atra Ireng meringis kesakitan.
"Setiap manusia selalu belajar dari kesalahan dan kekalahan. Itu merupakan jurus baruku."