Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 39

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 39

"Kau terlalu bangga dengan ilmu sesatmu itu hingga kau lupa daratan," Harsanto memberikan nasihat kepada Astra Ireng, bermaksud untuk mengalihkan jalan pemikirannya yang salah.

"Cerewet kau, Harsanto! Sedari kecil kau selalu begitu. Lihatlah wajahku! Gara-gara kau, aku berubah menjadi seperti ini!"

"Kakang Harsa, apakah kau belum sadar juga setelah mendapatkan kemurahanku? Aku terpaksa melakukan itu sebab kau menodai adik-adik kita; Harsani, Harsika, dan Hasita. Juga kau bunuh Kakang Harsaya. Kakang Hassya pun kau potong kedua kakinya. Apakah wajahmu menjadi seperti itu juga tidak kau terima? Bukankah itu adalah suatu kemurahan? Ketahuilah, untuk ukuran orang sepertimu yang mendustai guru dan menodai adik seperguruan, hukumannya adalah kematian!" teriak Harsanto berapi-api.

"Apa kau masih belum sadar bahwa kita diberi nama dengan satu makna untuk menyatukan persaudaraan? Apakah nama Harsa (Kegembiraan), Harsani (Tajamnya kegembiraan), Harsanto (Kegembiraan yang dalam), Harsaya (Timbul dari kegembiraan), Harsika (Untuk kegembiraan), Hasita (Tertawa), dan Hassya (Kegembiraan) adalah kebetulan belaka? Kau ubah semua itu menjadi Uhkita (Kesedihan) dan Dwesa (Benci, Permusuhan)!"

"Cerewet! Jangan usik masa lalu!" pekik Astra Ireng yang ternyata bernama asli Harsa itu.

Tubuhnya melesat cepat menerjang Harsanto. Harsanto mengatupkan rahang. Ia berlari lalu menggelosor dengan bertumpu pada lutut. Astra Ireng yang menerjang dengan cara melompat pun terkejut.

"Aji Curnita Berlin!" pekik Astra Ireng keras-keras sambil menjerit setinggi langit. Barangkali itulah jeritan terakhir yang akan ia keluarkan.

*Crassshhh!*

Selangkangan Astra Ireng hancur dicengkeram tangan Harsanto yang keperakan. Rupanya bukan hanya "buahnya" saja yang hancur, pahanya juga tampak robek besar dan darah kental kehitaman bercucuran. Harsanto berdiri termenung, memperhatikan tangannya yang berlumuran darah.

"Aku kan sudah bilang, hancurkan buahnya saja, Kakang!" Sagara Angkara mengingatkan.

"Fyuh... Tidak, dia memang pantas mendapatkannya. Aku sudah memberikan kelonggaran kepadanya, namun ia tak sadar juga," Harsanto berkata lirih.

Hening. Suara angin pantai menggoyang dedaunan, menciptakan musik kesedihan atas kematian seorang manusia di tempat itu. Deburan ombak memecah karang bersahut-sahutan, sementara burung camar berebutan mangsa.

"Baik, Kakang. Untuk pendirian Rumah Bunga, pasti Kakang sudah tahu dari Nimas Dewi. Sepeninggal Nimas Dewi, kami menjalankan misi dan rumah itu seperti biasa. Mengingat pesan Kakang yang memintaku untuk menjadi orang ketiga, aku segera bertindak. Urusan di Rumah Bunga aku serahkan kepada Larasanti, orang kepercayaanku. Diam-diam aku menyelinap keluar dan pergi ke hutan di sebelah barat, lalu membuka semua penyamaran. Setelah itu..."

Aku keluar dari hutan desa di kaki Gunung Merbabu. Waktu itu wajahku kusut dan pakaian yang aku kenakan compang-camping. Aku berjalan dengan lesu. Tak ada yang memedulikanku. Seandainya wajah di balik rambut acak-acakanku itu terlihat, pasti tempat itu akan gempar. Semua pemuda mengejekku dengan hina. Bau badan seperti orang yang tidak pernah mandi tercium dari tubuhku. Orang semacam aku pada waktu itu tidak akan ada yang melirik. Di dunia ini, memang banyak orang terlalu memandang tinggi dirinya sendiri hingga memandang rendah orang lain. Orang mengatakan lelaki atau perempuan idaman adalah mereka yang berwajah rupawan, bertubuh tinggi kekar, atau indah gemulai. Jika bisa, anak raja, punya harta segudang, masa depan terjamin, dan tentunya baik hati.

Setelah lelah berjalan, aku berdiri di depan Rumah Bunga sambil menghela napas panjang. Kedua tanganku kugosok-gosokkan di depan dada.

*Pluk!*

Aku kaget ketika seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku berpaling. Seorang kakek tua berjenggot sedada yang sudah berwarna keperakan memandangku dengan lembut. Wajah kakek itu sudah berkeriput, rambut peraknya digelung dan diikat seutas tali berwarna putih. Ia mengenakan pakaian serba putih khas pertapa.

"Apa yang kau pandangi itu, Cah Ayu? Sampai-sampai engkau menghela napas panjang seperti itu?" tanyanya.

"Ah, Eyang siapakah?" aku menjawab heran, padahal dalam hatiku bersorak karena sudah mendapat mangsa.

"Haha... Tak usah takut. Orang memanggilku Eyang Gede. Kau pun boleh memanggilku demikian, Cah Ayu. Nah, sekarang jawab pertanyaan tadi."

"Saya sedang menatapi Rumah Bunga ini, Eyang. Saya berniat menjadi salah satu pegawainya sekadar mencari uang untuk membeli pakaian, tapi saya bingung apakah mereka akan menerima saya," jawabku pura-pura sedih.

"Ah, Cah Ayu, mengapa engkau memilih jalan pintas seperti ini? Bukankah masih ada pekerjaan lain yang halal?"

"Sebenarnya saya mau, Eyang. Apa daya kemampuan saya tidak mencukupi. Mana ada yang mau menerima saya? Saya rasa hanya di Rumah Bunga ini saya bisa bekerja."

Kuperhatikan Eyang Gede menatap susunan tulang dan bentuk tubuhku. Dari raut wajahnya muncul kekaguman. Tiba-tiba ia berkata sambil menghela napas pendek.

"Sudahlah, Anakku. Bila engkau berkenan, engkau bisa menjadi muridku. Jika hanya masalah pakaian, aku bisa membelikannya untukmu."

"Menjadi murid boleh, Eyang, tapi..."

"Tapi apa, Anakku?"

"Saya tidak mau menerima pemberian cuma-cuma!"

"Huahaha! Anak baik, anak baik. Kau boleh mengurus tubuh tuaku ini sebagai imbalannya."

Eyang Gede tersenyum gembira melihat kebaikan yang kutunjukkan itu. Aku memang dibesarkan di keluarga bangsawan, jadi mengenai hal bersandiwara seperti ini sudah terbiasa. Hidup yang terkekang dalam tata krama membuatku mahir bersandiwara.

"Baiklah, Eyang," jawabku sambil berlutut di kaki Eyang Gede. Tentu saja ulah kami mendapat perhatian dari orang sekitar. Eyang Gede membangunkanku dan mengajak pergi dari situ.

"Siapa namamu?" tanya Eyang Gede.

Aku melamun, tidak langsung menjawab pertanyaannya. Bingung juga apakah aku harus memberikan nama asli atau palsu. Tapi ia berkata untuk menenangkan kegelisahanku.

"Jangan takut, Anakku. Siapapun dirimu, Eyang tidak akan ikut campur. Kau sudah menjadi muridku, maka katakanlah."

"Dyah Krusina, Eyang."

"Nama yang bagus. Mengapa engkau begitu ketakutan?"

"Jika seandainya Maharaja Dunia Persilatan mengetahuiku, pasti saya akan dibunuh, Eyang!"

"Mengapa?"

Mulanya aku bingung harus menceritakan atau tidak. Entah dari mana datangnya keberanian, aku menceritakan dari awal sayembara hingga pembunuhan kedua orang tuaku.

"Memang cara yang digunakan oleh Maharaja adalah cara militer kerajaan. Maka dari itu, aku sendiri pun tidak menyetujuinya. Membabi buta membunuh lawan hingga orang tak bersalah juga terkena getahnya. Akibatnya pasti akan memunculkan gelombang badai di dunia persilatan. Takdir... takdir..."

Sejak saat itulah aku berguru padanya dan mengikutinya ke Gunung Gede. Tak lama setelah mengajarkan seluruh kepandaiannya, ia meninggal dunia. Maka, aku kembali berkelana untuk melampiaskan gairah yang terkekang sebelum aku menjadi orang ketiga. Pada waktu itu, malam purnama...

Malam purnama adalah malam yang indah dengan sang dewi malam yang bersinar terang menerangi jagat raya. Dedaunan bergoyang lembut, air gemericik melantunkan nada dalam irama syahdu yang membuat hati dan pikiran terlena dalam angan.

"Kau puas, Kakang?" tanya seorang gadis cantik dengan bentuk tubuh menggiurkan kepada lelaki di sampingnya. Mereka duduk bersandar di batu di bawah guyuran sinar rembulan. Tak sehelai benang pun melekat di tubuh mereka.

"Puas sekali, Nimas!" jawab lelaki itu. Tangan kanannya disembunyikan di belakang, sementara tangan kirinya merengkuh gadis itu.

*Jlebbb!*

Mata gadis itu melotot. Berbarengan dengan semburan darah, ia mati dalam pelukan.

"Hahaha!" Lelaki itu tertawa puas lalu mengenakan bajunya kembali. Sebuah lencana jatuh dari saku bajunya. Lelaki itu beranjak pergi meninggalkan tempat itu tanpa sadar ada benda yang terjatuh.

Malam semakin larut. Tak lama kemudian, mentari pagi menongolkan sinarnya di ufuk timur. Tampak Aryani melompat-lompat di antara bebatuan sungai. Matanya melotot begitu melihat seorang gadis yang dikenalnya terbujur kaku berlumuran darah.

"Lembayung! Kau!"

Aryani mendekati gadis itu dan memangkunya. Mata tajam Aryani tertuju pada sebuah lencana di samping gadis itu. Aryani melotot marah. Diambilnya lencana itu lalu ia melesat kembali ke air terjun sambil memanggul mayat tersebut.

"Lara! Kumpulkan saudara kita!" Aryani memerintah Lara yang terperanjat melihat mayat di tangan wakil ketuanya.

"Ba... baik." Lara melesat naik dan masuk ke dalam gua. Seperminum kopi kemudian, ia kembali membawa serombongan gadis lainnya. Mata mereka berkaca-kaca melihat mayat Lembayung.

"Dita, ambilkan aku alat tulis. Dina, ambilkan aku seekor merpati terbaik kita. Dan yang lain, siapkan penguburannya!"

"Baik, Nimas Dhara!"

Nimas Dhara adalah panggilan untuk wakil ketua, dan Dhara adalah panggilan untuk ketua perkumpulan itu. Semuanya tampak sibuk dengan tugas masing-masing. Aryani menggoreskan tinta di sehelai kain putih, lalu mengikatkannya di kaki burung dan menerbangkannya.

Di Rumah Bunga...

"Nyonya, ada merpati pos dari Nimas Dhara," bisik seorang gadis berpenampilan seronok dengan pakaian serbahijau muda.

"Kemarikan!" sahut yang dipanggil Nyonya. Nyonya itu tak lain adalah Dyah Krusina yang sedang menyamar.

Dyah Krusina membuka kain yang digulung itu dan mulai membaca:

"Dhara, saya kirimkan sebuah berita buruk untukmu. Lembayung, salah satu anggota kita, telah tewas. Beliau tewas sewaktu menjalankan misi. Di sampingnya terdapat sebuah lencana yang tidak saya kenal."

Dyah Krusina berhenti membaca sejenak, lalu mengambil lencana yang juga dibungkus kain itu.

"Ratan Wasana," desisnya. Ia melanjutkan bacaannya.

"Saya menemukannya di pagi hari setelah malam purnama. Beliau mati dengan sebuah tusukan tepat di jantung. Kami berencana untuk membalas dendam. Mohon doa restu dan petunjuk Dhara. Tertanda, Nimas Dhara Aryani."

"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Dyah Krusina bingung.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment