Chapter 40
Ratan Wasana adalah perkumpulan yang dipegang oleh Arya dan Gardapati. Di tengah kegalauannya, Dyah Krusina masuk ke dalam kamar. Ia duduk di ranjang, kedua kakinya merapat, tangannya diposisikan menyembah di dada. Matanya terpejam, ia berkonsentrasi pada kening di atas mata seolah-olah di sana ada sosok Gardapati.
Mulanya memang hitam, perlahan tapi pasti berubah warna menjadi kuning, dan samar-samar wajah Gardapati mulai nampak. "Ada apa, Nimas Dyah?" Suara batin Gardapati bergema dalam telinga batin Dyah Krusina.
Dyah Krusina pun menceritakan ihwal kejadian dan surat yang diberikan Aryani. Ia bertanya, "Apa yang harus aku lakukan, Kakang?"
Gardapati diam sebentar, ia merenung. "Terima kasih, Nimas, kau sudah memberiku kesempatan untuk menghancurkan kakek setan itu. Perintahkan anak buahmu untuk mengacaukan dunia persilatan dengan cara meningkatkan kemampuan kalian. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Musuhilah Ratan Wasana semampu yang kalian bisa. Kakang sudah memasukkan mata-mata dalam tubuh mereka. Bunuh setiap orang yang akan Kakang kirimkan melalui cara yang tak bisa engkau bayangkan."
"Baik, Kakang. Bagaimana dengan Kakang?"
"Setidaknya ada dua ribu pasukan kerajaan dalam tangan Kakang. Pada waktunya mereka akan bergerak."
"Apa!" Dyah Krusina kaget. Akibatnya konsentrasinya buyar, wajah Gardapati kini tak jelas dan semu.
"Selamat tinggal dan sampai jumpa, Nimas Dyah," Gardapati pamit. Bayangannya menghilang, membuat Dyah Krusina sedih karena rindu. Ia bangkit dan mulai menulis surat.
"Lakukan, suruh setiap anggota kita merampas hawa perjaka dengan tempo yang lebih kerap lagi. Bila perlu gunakan kekerasan. Bantai habis setiap anggota Ratan Wasana." Surat itu digulung kembali dan digantungkan di kaki merpati tadi. "Berikan kepada Nimas Aryani," bisiknya. Burung merpati itu dilepaskan ke udara dan terbang melesat pergi.
"Dan semenjak itulah, kami membantai sekaligus membuat sebuah hal baru dengan para calon korban utama kita."
"Siasat memukul ke kiri membunuh ke kanan yang hebat," sela Iblis Kembar Bumi yang rupanya dapat memahami siasat yang dilakukan Gardapati.
"Sungguh pintar, sungguh pintar!" puji Gardapati.
"Tak mungkin hanya itu yang engkau lakukan, heh! Jalan itu sangat sederhana, hanya belok kanan, belok kiri, naik dan turun, huahaha!" Si Gila dari Neraka tertawa terbahak-bahak.
Gardapati tersenyum, ia tahu maksudnya. Adapun maksudnya adalah bahwa siasat itu sangat sederhana dan dapat dibaca oleh siapa pun, tapi di mana pun pasti ada perubahannya, tidak semata itu-itu saja. Jika diibaratkan di kota A kita sudah hafal maka tidak akan tersesat, sementara di kota B kita akan kelimpungan dan tersesat. Mengapa? Padahal itu sama-sama jalan yang terdiri dari naik, turun, kanan, dan kiri. Jawabannya hanya satu: setiap jalan berbeda penempatan.
Penempatan... Ya, itulah modal utama sebuah siasat. Percuma siasat yang dahsyat bila salah penempatan, tapi jika penempatannya pas, siasat sederhana pun dapat menjungkirkan apa yang disiasatinya.
"Semuanya sudah menuturkan pengalaman masing-masing. Pasti kalian bertanya apa yang sudah aku lakukan selama ini. Sayang sekali rahasia langit tidak boleh bocor." Gardapati memberikan peluang dan menutupnya kembali. Benar-benar tindakan yang membuat pendengarnya menghela napas berat.
"Aku belum menuturkan, Kakang!" Astradewi cemberut.
"Aku bisa menebaknya. Kau terkenal dengan gelarmu Dewi Asmara berwajah lugu, jadi setiap tindakanmu sudah aku dengar dari mulut orang. Hmm, dua orang itu tak kau temukan, kan?" Astradewi mengangguk membenarkan, mulutnya cemberut tidak keruan. Kakinya menjejak-jejak jengkel.
Gardapati tertawa terbahak-bahak. "Arya, kemarilah!" Gardapati memerintah. Arya menurut, ia mendekat dan berbalik punggung karena itu memang hal yang diminta Gardapati. Gardapati menempelkan kedua telapak tangan di punggung Arya, mulutnya berkomat-kamit dan matanya terpejam.
"Arrrghhh... Kretek... kretek... trak... trok!" Arya menjerit kesakitan. Suara tulang dalam tubuhnya berkeretakan terdengar keluar. Susunan tulang tubuhnya berubah. Bukan hanya tubuh, bahkan wajah pun ikut berubah. Astradewi, Ratih, dan Dyah Krusina menutup mata karena ngeri melihatnya.
Seperanak nasi kemudian, suara itu berhenti. Gardapati melepaskan kedua tangannya. Iblis Kembar Bumi dan Si Gila dari Neraka Hitam terperangah melihat wajah Arya yang sekarang.
"Iblis Bermata Hijau, kau berubah menjadi muda kembali," desis mereka. Ya, memang saat itu Arya berubah menjadi Iblis Bermata Hijau sewaktu muda. Susunan tulangnya berubah, entah ilmu apa yang digunakan Gardapati.
"Nimas Dewi, Nimas Ratih, sekarang giliran kalian," Gardapati berkata lirih. Astradewi dan Ratih berpandangan. Keduanya duduk di tempat Arya tadi. Arya yang masih belum terbiasa dengan tubuh barunya berjalan-jalan sekadar melepas penat akibat perubahan itu.
"Siapa yang ingin menjadi lelaki?"
"Hmm?" Astradewi bergumam bingung.
"Biar saya saja!" Ratih mengajukan diri.
Seperti halnya Arya, Astradewi dan Ratih pun mengalami hal yang sama, demikian pula Dyah Krusina. Hal itu terus berlanjut hingga menjelang magrib.
"Sekarang giliran kalian, orang tua," Gardapati berkata kepada Iblis Kembar Bumi dan Si Gila dari Neraka.
"Kami akan berubah menjadi siapa?"
"Aku akan memudakan kalian," jawab Gardapati. Keduanya tidak percaya, namun menurut juga. Kali ini matahari sudah menghilang dari bumi pertiwi. Kegelapan dan kedinginan menyelimuti jagat.
"Ketahuilah, yang aku gunakan adalah Ilmu Perubah Tulang Pembentuk Daging. Bagi kalian yang perempuan, yang berubah menjadi laki-laki, jangan galau. Semua bagian tubuh kalian berubah seperti halnya laki-laki. Jadi kalian bisa menikmati percumbuan dengan gaya baru."
"Benarkah?" Astradewi terkejut dan melongok ke balik celana Ratih. "Ternyata benar!" pekik Astradewi lagi. Ratih tersenyum malu. Astradewi benar-benar agak keterlaluan, pikirnya dalam hati.
"Apakah ada efek sampingnya?" Iblis Kembar Bumi yang berubah menjadi muda lagi bertanya.
"Tidak, itu adalah ilmu kaum golongan putih, jadi tidak ada efek sampingnya. Ilmu itu bertahan hingga satu tahun. Bila sudah satu tahun semuanya akan berubah seperti biasa."
"Huaaaghhahahaha!" Si Gila dari Neraka Hitam tertawa terbahak-bahak.
Malam berlalu berganti pagi yang begitu menyejukkan jiwa. Pada pagi itu, setelah puas bercengkerama atas sebuah siasat yang akan berjalan, terdengar sebuah suara yang begitu berwibawa laksana panglima yang memimpin pasukan perang.
"Hati-hatilah!" Gardapati berpesan kepada dua rombongan lain yang dibentuknya. Perlu diterangkan bahwa saat ini semua wajah dari ketujuh orang itu telah berubah.
Gardapati menggunakan wajah ayahnya semasa muda, Pangeran Pemabuk. Astradewi menggunakan wajah ibunya semasa muda, Asmara Dewi Surga. Arya menggunakan wajah eyang gurunya semasa muda, Iblis Bermata Hijau. Ratih menggunakan wajah ayahnya semasa muda, Setan Purnama. Dyah Krusina menggunakan wajah ayahnya semasa muda, Bangsawan Berhati Emas.
Iblis Kembar Bumi berubah menjadi muda lagi sehingga wajahnya sejaman kembali bersama wajah-wajah Gardapati yang lain. Begitu pula dengan Si Gila dari Neraka. Dunia persilatan akan digemparkan kembali dengan kemunculan mereka, tujuh orang yang pernah melanglang buana di dunia persilatan yang biasa dikenal dengan nama Tujuh Utusan Dunia Persilatan.
Perlu diketahui bahwa ketujuh saudara angkat itu awalnya terdiri dari tiga golongan. Iblis Kembar Bumi, Setan Purnama, dan Iblis Bermata Hijau berada di golongan hitam. Pangeran Pemabuk, Bangsawan Berhati Emas, dan Asmara Dewi Surga dari golongan putih. Sementara Si Gila dari Neraka berada di tengah keduanya, atau biasa dikenal dengan nama Golongan Merdeka.
Dalam sebuah pertarungan, ketujuhnya bertemu dan akhirnya mengangkat saudara. Tentu saja mereka ditentang oleh segenap dunia persilatan sebab melawan arus. Tapi mereka sudah menjadi sesisir setangkai; siapa pun yang menentang akan mereka labrak. Oleh karenanya, mereka dipanggil Tujuh Utusan Dunia Persilatan.
"Kau juga hati-hatilah!" Iblis Kembar Bumi menghormat dan pergi berlalu bersama kawan karib sekaligus saingannya, Si Gila dari Neraka.
"Sampai jumpa!" Arya dan Ratih melambaikan tangan. Keduanya dengan langkah berani menuruni puncak.
Tinggal Gardapati dan Astradewi yang berdiri mematung memandangi awan yang berarak. "Ke manakah kita hendak menuju, Kakang?" Astradewi bertanya.
"Ke mana angin berembus, itulah tujuanku!" jawab Gardapati seraya menggandeng tangan Astradewi.
Keduanya menuruni puncak dengan sebuah ilmu peringan tubuh yang mahadahsyat, Ngambang Angin. Mereka berjalan tidak berjalan, lari tidak lari, terbang tidak terbang, tapi mereka melayang. Satu langkah kaki sama dengan sepuluh tombak, jadi bisa dibayangkan kecepatan lari mereka.
Dalam sekejap mereka sudah di bibir hutan. Persawahan terhampar bak permadani kuning. Jalanan persawahan berkelok-kelok dan bercabang membentang di hadapan mata. Sudah selazimnya bila kita berjalan mengikuti jalan persawahan yang berkelok-kelok itu.
Tapi hukum itu tidak berlaku bagi Gardapati dan Astradewi. Keduanya berjalan lurus tidak peduli jalan itu kali, padi, atau apa pun. Yang jelas mereka mengambil jalan lurus. Bukan berjalan seperti kita yang main terobos, tapi melangkah melayang di atasnya. Jika tidak memiliki kemampuan mengentengi tubuh yang dahsyat, mustahil dapat melakukan itu.
Para petani menatap hal itu dengan mata melotot dan bibir menganga. Mereka berdiri terpaku tidak dapat berbicara. Setelah Gardapati dan Astradewi menghilang ditelan jarak, barulah mereka sadar dari keterpakuannya.
Desa Padangwana adalah sebuah desa yang lain daripada yang lain. Disebut lain sebab desa itu berada di tengah hutan yang lebat. Setiap rumah di desa itu menyesuaikan dengan tempat rumah itu dibangun; tidak ada pohon yang ditebang. Jalanan begitu asri dengan rerumputan khas hutan, bunga-bunga tumbuh dengan indah tanpa ada yang mengganggu. Orang berlalu-lalang dengan tegur sapa yang ramah tamah.