Chapter 41
Kecuali sekelompok orang berbaju serba hitam dengan ikat kepala berwarna-warni.
Gardapati dan Astadewi tahu lawan memperhatikan mereka, tetapi keduanya tidak peduli.
"Kisanak, di manakah letak warung yang menjual bumbung atau guci?" tanya Gardapati kepada seorang kakek yang sedang asyik membetulkan pagarnya.
"Oh, Kisanak dan Nisanak baru pertama kali kemari?"
"Benar, Kisanak. Saya mendengar di sini ada sebuah pasar yang menjual barang-barang antik berkualitas tinggi. Maka dari itu, kami berdua kemari."
"Hahaha! Kisanak dan Nisanak datang ke tempat yang benar. Berjalanlah ke arah barat sana. Di ujung desa ini ada sebuah pasar yang menjual segala macam makanan dan benda, bahkan budak. Bila Kisanak dan Nisanak berminat, bolehlah saya hantar. Mari!" ajak kakek itu sambil meletakkan golok yang dipegangnya.
Gardapati tersenyum ramah, tangannya terulur menyalami, lalu berkata, "Terima kasih, Kisanak, tetapi kami ingin berpelesir dahulu. Tidak usahlah Kisanak melelahkan diri. Sampurasun."
Mata kakek itu berbinar, sebab selain menyalaminya, Gardapati menyisipkan benda yang dikira kakek itu adalah uang jasa.
"Rampes..." jawabnya kemudian.
Gardapati menggandeng lagi tangan Astadewi dan berlalu dari tempat itu.
"Kakang, rasanya kita diikuti," Astadewi berkata sambil meraba tengkuknya.
"Biarkan saja. Tunjukkan bahwa kita hanyalah anak bangsawan yang sedang berpelesir. Kakang yakin wajah kita ini hanya diketahui oleh golongan tua."
"Baik, Kakang."
"Ku berjalan di antara hamparan surga bumi, bunga, pohon, dan rumput di sekelilingku. Tentunya sang pangeran pelipur hati senantiasa bersama. Lupakan masalah, lupakan duka, mari kita berpesta." Astadewi bernyanyi kecil di samping Gardapati. Gardapati tertawa dan menyambung, "Mentari hangatkan cinta kita berdua, eratkan dengan seutas akar pohon beringin. Kugandeng tangan halusmu bersama nyanyian syahdu. Wahai angin, sampaikan pada dunia bahwa kami akan terus bersama. Wahai bumi yang menjadi alasku, biarkan aku bergumul di antara belaianmu. Wahai langit, naungilah cinta ini. Biarkan terus bersama, biarkan tetap terjaga. Buang merana, buang gelisah, ingatlah kita berdua."
"Hahaha!" Keduanya tertawa setelah tiba di tempat tujuan.
"Apakah Anda berdua memerlukan pemandu?" tanya seorang anak lelaki berusia sepuluh tahun di depan gerbang pasar.
"Bawa kami mencari sebuah guci yang bagus," Gardapati berkata tegas dengan gaya sombong seolah orang kaya.
Anak itu tertegun gembira. Dari suara dan lagaknya, ia bisa menyimpulkan bahwa dua orang yang hendak dibantunya adalah orang kaya. Sudah tentu uang jasanya juga akan besar. Ia segera menjawab, "Baik, mari!"
Ketiganya segera berjalan. Bocah itu menerangkan setiap sudut pasar tersebut dengan lancar tanpa cela, seperti sudah menghafalnya.
"Inilah!" tunjuk bocah itu pada sebuah warung emperan yang saat itu kebetulan tidak ada pembeli. Berbagai macam barang seperti guci, lukisan, bumbung, patung, dan sebagainya berserakan.
Gardapati memilih berbagai macam guci, dipandangi, dan ditelaah satu per satu. Penjual yang melihatnya merasa kesal, lalu bertanya kepada Gardapati, "Tuan, apakah Anda hendak membeli?"
"Tentu saja. Hanya saja, guci-guci ini sama sekali tidak ada yang menarik perhatianku!"
"Hehe, Anda memang orang yang berselera tinggi," kata penjual itu seraya mengeluarkan sebuah peti kayu yang ukurannya cukup besar. "Ini adalah guci peninggalan Pangeran Pemabuk, seorang pendekar tingkat tinggi yang mati terbunuh di Gunung Himalaya. Aku mendapatkan ini dari sahabatku di Himalaya."
Gardapati tertegun. Wajahnya memerah karena girang. Bak mencari jarum, malah menemukan bersama benangnya.
"Coba kulihat," ucapnya.
Penjual itu ragu, apakah lawan bicaranya akan membayar. Matanya terus menatap Gardapati.
"Bruk!" Astadewi melemparkan sebungkus benda dengan kain pembungkus berwarna hitam. Penjual itu sigap mengambil serta membuka pengikat kainnya. Dilihatnya setumpuk emas bercampur berlian di dalamnya. Wajahnya girang bukan kepalang. Peti itu segera diberikan kepada Gardapati tanpa kata.
Gardapati membuka peti. Ia melihat guci emas seperti kukuk berukiran abstrak dari perak yang menghiasinya. Di dalam guci terdapat ukiran seorang wanita cantik yang tidak lain adalah ibunya.
"Dapatkah aku membeli informasi darimu?" tanya Gardapati lagi.
"Haha! Jika aku tahu, tak akan kulewatkan kesempatan ini, Tuan. Sekiranya apa yang ingin Tuan ketahui?"
"Bagaimanakah kematian Pangeran Pemabuk yang sebenarnya?"
Penjual itu tertegun, lalu tertawa terbahak-bahak.
"Jika Tuan bertanya pada orang lain, maka Tuan akan mendapat jawaban seperti halnya kabar yang beredar saat ini. Untunglah Tuan bertanya pada orang yang tepat." Ia menyambung, "Pada sembilan belas tahun yang lalu, Pangeran Pemabuk beserta Pendekar Kelana Lima Pedang Dewa pergi ke Gunung Himalaya untuk mengadakan pertarungan memperebutkan gengsi pendekar sejagat. Saudara Pangeran Pemabuk sama sekali tidak menyetujui hal itu. Dasar keras kepala, ia nekat kabur dan berangkat ke sana. Tak ada kejadian apa-apa sewaktu perjalanan. Suatu ketika, pertarungan akan dimulai. Kebetulan aku memiliki seorang sahabat yang ikut ke sana."
Sembilan belas tahun yang lalu, Gunung Himalaya adalah gunung yang terkenal di seluruh jagat. Oleh karenanya, puncak itu dijadikan panggung pertarungan adu gengsi antara pendekar sejagat. Pihak penyelenggaranya adalah negeri yang dikenal dengan nama Jambu Dwipa (India), negeri yang dikenal sebagai asal mula ilmu silat. Sudah dua hari dua malam pertarungan itu diadakan. Berbagai macam jurus dan senjata telah dikeluarkan. Entah berapa banyak darah yang tumpah membasahi panggung, entah berapa banyak mayat yang bertumpuk. Namun, pertarungan itu tidak tampak akan berhenti. Sekitar seratusan orang masih menunggu gilirannya, termasuk Pangeran Pemabuk.
Saat itu, yang bertarung adalah seorang lelaki bertubuh tinggi besar bermata biru, berkulit putih kemerahan berbintik-bintik. Rambut pirangnya yang panjang diikat dengan kain warna putih. Di lehernya menggantung sebuah topi aneh. Sedangkan lawannya adalah pemuda bertelanjang dada berkulit hitam legam. Rambutnya botak, hanya giginya yang kuning terlihat berkilauan tersorot sinar mentari.
Terlihat si hitam legam mengubah posisi menjadi agak condong ke belakang dengan tangan mengepal bersilang di depan dada, sedangkan tangan kiri terkipas ke arah samping. Si pirang melakukan tendangan dengan kaki kanan. Si hitam menghindar ke dalam sambil melakukan sapuan ke arah luar terhadap kaki yang menyerang tersebut. Dengan cepat bagaikan angin berembus, kaki kanan dimajukan diikuti kaki lainnya sehingga membentuk tekukan di bawah, sementara tangan kiri melakukan gerakan cengkeraman mendorong dan tangan lainnya memutar dari arah luar dalam bentuk cengkeraman.
"Bruk!" Si pirang jatuh berdebum. Mengapa bisa demikian? Ternyata tubuh yang bergerak cepat untuk maju ke depan bawah itu bertujuan melakukan sambaran melalui cengkeraman tangan kanan pada sisi lutut kiri lawan yang saat itu menyangga seluruh berat tubuh, sementara tangan lainnya melakukan dorongan. Inilah yang membuat si pirang jatuh berdebum. Tidak berhenti di situ, si hitam melompat dan menekuk siku.
"Buk! Brusss!" Darah tersembur bersamaan dengan melayangnya nyawa si pirang.
Pertarungan terus berlanjut. Hari demi hari terus bergulir hingga menyisakan sepuluh peserta. Di tengah panggung, Dewa Lengan Delapan dari Negeri Dewata berdiri dengan gagahnya. Semua lawan sudah dihabisinya. Darah segar mengalir di keningnya, bukan darah miliknya, melainkan darah lawan.
Pangeran Pemabuk melompat ke tengah gelanggang. Sikapnya ugal-ugalan. Posisi Pangeran Pemabuk saat ini sangat aneh, menghormat sambil menenggak guci. Salah satu kakinya, yaitu kaki kanan, berjinjit di depan, sementara kaki kiri menekuk. Tangan kanan memegang guci dan menempelkannya di mulut. Tangan kiri dibuka seperti menyembah. Pandangan matanya nanar, tubuh agak membungkuk dengan bidang dada ditarik ke belakang sehingga wajahnya menengadah. Itulah jurus andalannya: Mabuk Kera Sakti.
Betapa marah hati Dewa Lengan Delapan diremehkan seperti itu. Sigap sekali ia menggerakkan kedua kepalan tangan untuk berposisi di sisi tubuh yang merupakan sikap pertahanan sangat rapat. Setiap serangan akan dipatahkan melalui kuda-kuda itu, sesuai dengan namanya: Melipat Mega Menggulung Angin.
Pangeran Pemabuk mendekati Dewa Lengan Delapan dengan sempoyongan seperti orang mabuk. Tangannya membuka dan menekuk pada siku serta pergelangan tangan sehingga membentuk gerakan seperti ombak. Kedua tangan itu digerakkan melingkar-lingkar membingungkan lawan. Tak mau mengambil risiko kebingungan, Dewa Lengan Delapan menjinjitkan kaki kiri yang berada di depan, sementara kaki belakang menekuk. Kepalan tangannya terletak di depan pusar dan tangan lainnya tertekuk ke depan dengan jari-jari terbuka miring. Secepat kilat kaki kiri melangkah mundur dengan kedua tangan membelai ke samping melalui suatu tolakan bertenaga.
"Plak!" Serangan itu ditangkis dengan tangan kiri Pangeran Pemabuk yang kemudian melakukan serangan balasan dengan gerak pukulan mantap. Dewa Lengan Delapan menarik pukulan yang ditangkis dan balas menyerang dengan pukulan kilat. Tubuhnya sedikit dimiringkan untuk menghindari pukulan mematikan dari Pangeran Pemabuk. Pukulan itu disusul pula dengan pukulan kepalan tangan kanan sambil menarik kepalan lainnya ke sisi pinggang.