Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 42

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 42

Mendapat serangan beruntun, Pangeran Pemabuk bergerak cepat menurunkan tubuh untuk menghindar. Tangan kirinya mengarah ke bawah dan tangan kanan yang memegang guci berada di samping atas. Salah satu tangannya menusuk perut, sementara tangan kanannya bersiap melancarkan serangan susulan. "Dewa Lengan Delapan menghentak dengan tangan kanan yang berputar hingga di atas kepala, dan tangan lainnya memutar lurus secara penuh ke bawah, menangkis tusukan dari Pangeran Pemabuk." Mendapati serangannya ditangkis, Pangeran Pemabuk batal menyelipkan serangan susulan. Ia malah maju dengan kedua tangan yang saling mengimbangi di bawah.

Dewa Lengan Delapan tertawa. "Cari mati kau?" bentaknya.

Ia mengangkat tangan kiri dengan telapak tangan berada di atas, dan tangan yang lain melakukan tebasan dengan sisi tangan. "Wesss," serangan itu mengenai serangan kosong, sebab Pangeran Pemabuk meloncat dengan kaki kiri, sementara kaki yang lain diangkat.

Kedua tangan melakukan suatu kuncian pertahanan. Kaki kanannya terayun menyamping dengan membentuk kuda-kuda yang miring, yaitu kaki kanan menekuk dan yang lain diluruskan. Tangan kanan ditekuk dengan jari-jari menunjuk ke atas dan tangan yang lain berada di sisi siku. Lalu, meloncat ke muka dengan gesit dan cekatan. Kaki kanan terangkat ke belakang, kedua tangannya melakukan cengkeraman kuat pada leher lawan. "Hiahh!" Dewa Lengan Delapan mengangkat kaki kanan dengan lututnya dan diikuti dengan putaran cepat yang terkombinasi pada kedua tangan.

Pangeran Pemabuk membatalkan serangan. Ia sungguh kaget sebab merasakan tubuh lawan licin seperti belut. Ia segera meloncat balik ke belakang dengan kaki kiri menyapu keluar dan tangan yang lain menyilang di depan dada. Pertarungan terus berlangsung. Entah berapa jurus telah berlalu. Pada jurus kesembilan ratus dua puluh, tampak keduanya berhadapan dalam sebuah tatapan meyakinkan, kedua telapak tangan mereka beradu. Dewa Lengan Delapan dengan telapak kanan, sedangkan Pangeran Pemabuk dengan telapak kiri. Tangan yang lain sama-sama terkepal di pinggang. Hawa kematian merebak di sekeliling panggung. Sinar keperakan keluar dari adu telapak tangan itu, keduanya berkutat mempertahankan posisi masing-masing.

Debu tersibak karena hawa sakti yang menggelora dalam tubuh mereka. Tanpa sepengetahuan Pangeran Pemabuk, lawan melakukan suatu taktik yang cukup mengejutkan.

Diam-diam, tenaga dalam yang tinggi dikerahkan pada tangan kiri. Secepat kilat, tangan kanan ditarik, sementara tangan kiri melakukan suatu dorongan telapak tangan.

Untunglah Pangeran Pemabuk bukan petarung sembarangan. Serangan itu ditangkis dengan tangan kiri pada pergelangannya menggunakan sisi tangan.

"Plakk!" Begitu serangan ditarik, tangan yang dipakai untuk menangkis langsung dipukulkan dengan kepalan yang sudah dialiri tenaga dalam.

"Dukk!" Dalam menghadapi balasan serangan itu, ternyata Dewa Lengan Delapan menarik mundur kakinya dan menangkis dengan tangan kanannya. Secepat kera yang mabuk, Pangeran Pemabuk menyelinap maju sempoyongan dengan kaki kanannya, tepat berada di depan lawan, sembari menarik tangan kanannya. Kedudukan Dewa Lengan Delapan goyah.

"Hepp! Desss! Prakk! Arrrhhggg!" Sebuah pukulan dari guci emas berbentuk kukuk milik Pangeran Pemabuk menghantam kepala Dewa Lengan Delapan hingga isi kepalanya berhamburan.

Pangeran Pemabuk menghela napas panjang.

Tanpa mempedulikan sekitarnya, Pangeran Pemabuk keluar panggung. Padahal, menurut peraturan, setelah mengalahkan lawan, peserta dilarang turun panggung.

Bila turun panggung, maka ia dinyatakan kalah. "Adimas, mengapa engkau keluar dari panggung?" tanya Dewa Mata Pedang heran.

"Aku kemari hanya ingin membunuhnya saja!" jawab Pangeran Pemabuk.

Pangeran Pemabuk menatap langit di Gunung Himalaya, ia bergumam.

"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang raja. Semua yang kucita-citakan bersama saudaraku pasti berhasil." "Cita-cita apa itu, Kangmas?" Dewa Mata Pedang waswas.

"Menyatukan kaum hitam, putih, dan merdeka. Dengan begitu, keadilan dunia persilatan akan terjaga, dan aku akan memerintah dengan tenang.

Tak akan ada yang bersitegang!" "Tapi, itu melanggar Benang Hitam, Kakang!" "Aturan manusia tidak terbukti kebenarannya. Manusia itu sama saja berasal dari anak Adam. Bila kita membeda-bedakan golongan dan tak mengakui persaudaraan, bukankah itu hanya membuat malu leluhur kita saja, Dimas?"

Mengubah adat yang dibuat manusia bisa dilakukan. Yang tak bisa kita ubah hanyalah aturan yang ditetapkan Tuhan.

Karena kebenarannya adalah relatif juga objektif." "Mana bisa kebaikan dan kejahatan disatukan, Kakang?" "Mengapa engkau bisa mengatakan bahwa si anu adalah jahat? Bukankah Tuhanmu lebih mengetahui daripadamu? Kita manusia hanya memandang kebaikan demi keuntungan ego saja. Tak ada kebenaran yang mutlak bila aturan itu kita buat sendiri." Dewa Mata Pedang terdiam. Dilihat dari satu sisi, pikiran Pangeran Pemabuk adalah pikiran yang sesat, namun sisi lain mengandung kebenaran yang tak bisa dibantah.

"Engkau paham, Adikku!" Pangeran Pemabuk memeluk Dewa Mata Pedang.

"Jrebbb?!" "Argghhhh!" "Adikku, mengapa engkau?" Pangeran Pemabuk mundur sempoyongan memegang dadanya yang berlumuran darah. Ia menatap Dewa Mata Pedang dengan hati yang berkecamuk.

Di tangan Dewa Mata Pedang tampak sebuah pedang pendek berlumuran darah. Jelas saja Dewa Mata Pedang membokongnya.

"Maafkan aku, Kangmas. Aku tak akan membiarkan engkau menjadi raja. Tak akan kubiarkan kau melaksanakan niat sesatmu itu. Demi kebaikan keluarga kita, lebih baik engkau mati saja!" Pangeran Pemabuk menatap adiknya dengan perasaan campur aduk.

Ia tak sadar bahwa di belakangnya adalah jurang yang dalam.

"Krossrakk! Arrrgghhhh!" Tubuhnya jatuh melayang ke dalam jurang. Semua orang terkejut dengan teriakan itu, seketika pertarungan berhenti dan semua orang menatap Dewa Mata Pedang dengan heran.

Tak ada yang tahu kejadian sebenarnya, kecuali seorang lelaki penjual pedang dari pihak tuan rumah. Diam-diam ia mengundurkan diri dan pergi.

"Begitulah kejadian sebenarnya dari kematian Pangeran Pemabuk!" Penjual barang antik itu mengakhiri cerita.

"Lalu, bagaimanakah guci ini bisa ada di tangannya?" "Itu akan berlanjut kepada kisah selanjutnya. Setelah mengundurkan diri, diam-diam penjual pedang itu menuruni tebing yang sudah dikenalnya. Setelah tiba di bawah, ia melihat tubuh Pangeran Pemabuk menggantung di sebuah pohon.

Temanku itu menurunkannya. Naas, nyawanya sudah melayang.

Teman itu berpikir, bila mayat Pangeran Pemabuk dibiarkan di sana, akan dimakan binatang dan tentunya akan ditemukan oleh pembunuhnya, sehingga menjadikan alibi baru. Segera ia membawa mayatnya ke lembah di tempat itu.

Lembah itu tak ada yang tahu selain dirinya dan penduduk lembah itu.

Mayat Pangeran Pemabuk disemayamkan di sana dengan batu kapur bertuliskan "Pangeran Sejagat".

Guci itu dibawa temanku dan diberikan padaku untuk dikembalikan kepada negara asalnya.

Siapa tahu takdir akan membawanya pada keturunannya.

Aku bertanya mengapa ia melakukan hal serumit itu, dan ia menjawab.

"Dulu, ayahku berpendapat seperti halnya Pangeran Pemabuk dan diganyang kaum persilatan hingga tewas. Oleh karena pendapat dan pikiran Pangeran Pemabuk mengingatkannya pada ayahnya, maka ia berempati." "Terima kasih atas informasinya. Aku Gardapati, anak dari Pangeran Pemabuk. Aku memberikan hormat untukmu." "Akh, benarkah?" Penjual barang antik itu terperanjat.

Wajah Gardapati tersenyum. Sebuah tabir persilatan terbuka, ia memberikan sebutir berlian sebesar ibu jari dan bangkit berdiri.

"Nimas, apa yang engkau kehendaki?" "Pengawal, Kakang!" "Hahahaha!"

"Nah, Bocah kecil, tunjukkan di mana aku bisa menemukan budak-budak gadis belia?" "Ke sini!" ajak bocah itu.

Sementara itu, di tempat lain. Pagi yang cerah indah ditemani dengan suasana riang dari sebagian makhluk di bumi.

Bunga-bunga tersenyum lembut, burung berkicau riuh-rendah, angin gemulai lembut menyentuh kulit, daun-daun gugur berterbangan tertiup angin.

"Lihatlah burung yang terbang di sana. Begitu bebas tanpa beban, andai aku menjadi seperti mereka, pasti aku akan...."

Hupp!

Sagara Angkara menghentikan nyanyiannya. Sebilah pedang menyambar seinci di atas kepalanya. Andai ia tak menghindar, barangkali kepalanya akan terpisah dari tubuhnya.

Sagara Angkara berbalik. Dilihatnya sesosok manusia berpakaian serbacokelat berdiri menenteng pedang di depannya.

Seluruh tubuhnya tertutup kain, kecuali dua matanya yang jeli.

Dari bentuk tubuhnya bisa disimpulkan bahwa penyerangnya adalah seorang perempuan.

Mata Sagara Angkara mengerut, pertanda ia tak mengerti mengapa lawan menyerang dirinya.

"Siapakah Kisanak?" "Siapa aku, tak perlu! Serahkan saja jiwamu!" teriak sosok itu sambil memajukan langkah. Pedangnya dihadapkan ke bawah, secepat kilat diputar dan ditusukkan berulang-ulang. Sagara Angkara mundur berulang kali sambil berkelit. Lama-kelamaan, ia jengkel juga.

Tangan kanan diayunkan ke arah samping setinggi garis bahu dan berganti kepalan tangan kiri yang menyilang di depan tubuh.

"Trakkk!" Pedang itu terpental.

Mata jeli itu melotot kaget. Bagaimanakah mungkin pedangnya tak mampu melukai lawan.

Merasa penasaran, ia melakukan serangan tusukan pedang dengan tangan kanan ke perut lawan.

Sagara Angkara secepatnya mengelak ke samping. Berbarengan menghindar, ia mendorongkan telapak kanannya di pergelangan tangan lawan yang memegang pedang.

Setelah Sagara Angkara menempelkan tangan kanan di pergelangan lawan, ia membalas serangan dengan tendangan kaki kanan ke tangan kanan lawan untuk menjatuhkan pedang lawan.

"Dukk!"

"Akh!" "Klontrang!" Pedang jatuh. Bukannya berhenti, sosok serbacokelat itu malah semakin garang. Tampak ia sedang mengangkat kaki kanannya untuk melakukan serangan berupa tendangan. Sagara Angkara bukan orang bodoh. Tanpa memberi kesempatan bagi pihak lawan untuk mewujudkan niatnya, dengan gerakan sigap Sagara Angkara menghentakkan kaki pada sisi lutut lawan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment