Chapter 43
Duk! Sagara Angkara memanfaatkan sepenuhnya tenaga serangan lawan sendiri, sehingga merusak kuda-kuda pihak lawan.
Ketidakseimbangan itu begitu parah, membuat pihak lawan terjatuh. Bruk! Sagara Angkara tidak menyia-nyiakan kesempatan ini; kaki kanannya segera melancarkan tendangan memutar yang menghantam muka lawan.
Sosok serba cokelat itu enggan dijadikan bulan-bulanan; kedua tangannya dirapatkan sejajar di depan wajah.
Duk! Kaki Sagara Angkara telak menghantam tangan yang menghadang itu.
Berkat tenaga tendangan itu, tubuh sosok serba cokelat itu mencelat. Di udara, ia melakukan dua kali jumpalitan dan akhirnya berdiri dengan kuda-kuda penuh.
"Hebat!" Puji Sagara Angkara atas kecerdikan lawan.
Sosok serba cokelat itu maju ke hadapan Sagara Angkara hingga berjarak satu tombak. Sagara Angkara tetap tenang menanti perubahan sikap lawan.
Itu memang sudah menjadi ciri khas barunya dalam pertarungan: MENANTI. Sosok serba cokelat itu tidaklah sesabar Sagara Angkara; kedua tangannya terkepal, tinju kanannya melesat maju hendak menghajar muka lawan, sedangkan tangan kirinya terkepal di samping pinggang.
Pukulan dari lawan dihindari ke samping oleh Sagara Angkara, sambil menempelkan telapak tangan kiri pada pergelangan tangannya.
Tak sekejap mata, sebuah pukulan dari kepalan tangan kanan dipergunakan untuk menyerang balik lawan.
Sosok serba cokelat itu mendengus dingin. Ia menangkis dengan tangan kanan, sekaligus melakukan tangkapan pada pergelangan tangannya.
Tangan kirinya yang masih bebas melakukan pukulan dari arah samping pada bagian rusuk. Bersamaan dengan itu, ia juga menubrukkan lututnya pada sisi lutut lawan.
Sagara Angkara terdesak hebat, tapi ia tetap tenang. Kaki lainnya yang masih bebas bergerak berpindah posisi; pukulan lawan ia tangkis dengan memukulkan sisi tangan ke pergelangannya. Seiring dengan itu, ia menempelkan lututnya pada lutut lawan. Itu bisa dilakukan sebab kedudukan kaki yang satunya lagi sudah berubah. Penempelan lutut itu dilakukan sebagai ancang-ancang bagi kaki yang lain untuk melancarkan tendangan melayang ke muka lawan.
Sret! Tendangan itu mengenai tempat kosong. Namun, Sagara Angkara tak menyerah.
Menyambung serangannya tadi, tangan kiri langsung melakukan dorongan kuat ke dada lawan.
Ekh! Sagara Angkara terkejut sebab yang ia pegang adalah benda kenyal berisi.
Wajahnya merah seketika.
Dorongannya yang kuat dikurangi sehingga sosok berwarna cokelat itu hanya sempoyongan saja.
"Dasar lelaki brengsek, tidak berperasaan! Beraninya memegang dadaku! Terima ini...!" Sagara Angkara terperanjat mendengar suara itu. Ya, ia mendengar suara merdu itu. Meskipun lawan memasang serangan pada wajahnya, Sagara Angkara tetap terperanjat.
Plak! Sebuah tamparan manis mendarat di pipinya.
Ia meringis kesakitan.
"Maafkan aku, Nimas Gita, aku tak tahu bahwa itu kau!" Kata Sagara Angkara memelas. Dari sudut bibirnya, terlihat garis merah darah yang mengalir.
Sosok serba cokelat yang ternyata adalah Gita Jayasri itu juga terpana melihat darah di sudut bibir Sagara Angkara.
"Ada apa ini? Siapa kau?!" Mendadak Meswari dan kedua orang lainnya datang. Meswari mencabut pedangnya sambil menatap Gita Jayasri dengan buas.
"Jangan, Nimas Meswari, beliau adalah Nimas Gita!" Sagara Angkara mencegah. Ekh! Meswari kaget dan menatap Gita Jayasri yang berbalut kain cokelat dengan saksama.
Gita Jayasri membuka kain yang menutup wajahnya dengan tangan kiri, bersamaan dengan hembusan napas yang dalam.
"Sebenarnya, apa yang kau lakukan, Mbak Yu?" Jingga ikut bicara.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sebal karena orang satu ini jarang bertarung, maka dari itu aku ingin menjajalnya. Tapi sesuatu hal yang tak terduga terjadi!" Jawab Gita Jayasri.
"Sesuatu hal yang tak terduga?" Meswari bertanya heran.
Wajah Gita Jayasri memerah.
Ia tak menjawab, malah lari ke balik semak. Meswari menatap Sagara Angkara, tapi yang ditatap hanya menyengir saja.
"Sudahlah, mari kita lanjutkan perjalanan, hari sudah siang?" Kata Harsanto.
Jalan masih lengang.
Daun bergoyang.
Ranting meradang.
Batu-batu berserakan.
Pasir putih tetap jadi impian.
Laut masih biru,
Menghapus semua resah dan pilu.
"Benar engkau berani bepergian dengan dua pengawalmu itu, Nimas?" Tanya Gardapati dengan kening berkerut.
"Haha! Tentu saja, apa yang engkau khawatirkan dariku, Kakang?!"
Grepp... Cupp!
Gardapati memeluk dan menciumi Astadewi dengan gemas. Kedua pengawal sekaligus pelayan Astadewi yang baru saja dibelinya tersenyum melihat ulah keduanya.
"Sampai jumpa, Kakang!" Astadewi berkata sambil melesat terbang membawa dua pelayannya.
Gardapati tersenyum dan berjalan seperti orang normal sambil bersiul-siul.
Ia berjalan seolah-olah tidak menyadari bahwa ada empat orang yang secara nyata telah mengikuti dari arah belakang untuk bersiap-siap melakukan serangan gelap terlebih dahulu.
Keempat orang itu menyebar, dua ke samping dan dua di belakang. Keacuhan Gardapati ternyata malah membulatkan tekad pihak lawan untuk mengadakan serangan, serta menghilangkan sikap mawas diri karena kesombongannya.
Terlihat salah satu dari mereka yang dari belakang mengangkat tangan untuk menyerang Gardapati.
Begitu dekat, secepat kilat Gardapati berbalik dan menjejakkan kaki kanan di atas lutut lawan.
Itu membuat lawan tertembus titik pertahanannya serta kehilangan posisi untuk mewujudkan niatnya menyerang.
Duk! Bruk! Karena tak menyangka, orang itu jatuh berdebum. Tak sekejap mata, Gardapati menurunkan kaki kanan dan memperkecil jarak dengan pihak lawan.
Sebuah tendangan dengan kaki kiri diarahkan secara cepat dan tepat pada selangkangannya.
Duk! Uahhh! Lelaki itu menjerit histeris. Bagaimanapun, selangkangan adalah titik lemah yang sangat vital untuk diserang.
Orang yang di sebelah kanannya menatap Gardapati dengan beringas. Ia berjalan ke arah Gardapati seraya berkata, "Kau sungguh lancang! Bersiaplah menemui nenekmu di alam baka!" Selesai ucapannya, kaki kanannya diangkat hendak melakukan sebuah tendangan dahsyat. Gardapati tertawa terbahak-bahak. Tanpa memberikan kesempatan menendang, ia menjejakkan kakinya di sisi lutut lawan. Tenaga dalam Gardapati memang lebih tinggi dari orang itu.
Tanpa ampun, orang itu jatuh berdebum di tanah. Begitu jatuh, bukannya diberi kesempatan, malah kaki kanan Gardapati melancarkan tendangan memutar ke arah wajah lawan.
Duk! Bruttss! Wajahnya hancur berantakan.
Mata tajam Gardapati berkilat ketika orang yang berada di samping kiri juga hendak melakukan tendangan padanya.
Tak mau dirugikan, Gardapati mendahului lawan dengan menjejakkan kakinya pada sisi lutut untuk menghancurkan keseimbangannya. Sebagai akibatnya, orang itu tidak jadi menyerang, malah tubuhnya sempoyongan.
Kaki kiri yang melakukan tendangan tersebut dimajukan sedemikian rupa untuk mendekati posisi lawan yang sedang hilang kontrolnya. Diiringi dengan pukulan menyamping, menggunakan punggung kepalan tangan pada bagian wajahnya yang lemah.
Ini membuat lawan benar-benar lumpuh keadaannya.
Gardapati berdiri meluruskan ototnya yang kaku.
Apalagi lawan sudah menggeletak tanpa nyawa.
Rupanya Gardapati menyertakan pukulan beracun pada pukulannya.
Tak salah bila orang yang dihajarnya langsung membiru.
Pada saat Gardapati berdiri itu, secara mendadak orang yang tersisa bergerak ke samping kiri untuk melakukan serangan dari belakang. Hiat! Ia melakukan serangan dengan menggunakan kakinya.
Dengan gerakan yang sigap, Gardapati menghindar sehingga serangan itu mengenai tempat kosong. Tanpa menyia-nyiakan waktu lagi, Gardapati mengambil posisi serangan balik sambil memperhatikan kelemahan lawan saat itu. Setelah pengamatan terarah pada belakang lutut lawan, kaki kanan diangkat untuk melakukan penyerangan. Dess! Sebuah tendangan memutar dari Gardapati mengenai belakang lututnya.
Tendangan itu membuat lawan jatuh.
Tanpa membuang kesempatan lagi, dengan segera ia bergerak mendekat untuk melakukan kuncian dengan menyusupkan tangan kanan di depan lehernya dan tangan lainnya memegang bahu sebelah kiri.
Setelah kedua tangan bertemu, Gardapati menariknya ke belakang. Hoeek! Laki-laki itu membelalak, mati dengan lidah menjulur. "Kaum keroco hendak bermain api denganku? Sungguh tak sepadan, sungguh tak sepadan!" Kata Gardapati sambil meninggalkan tempat itu. Ia mengerahkan tenaga anginnya; laksana belut yang disentil ekornya, ia melesat menembus rimba dan terus berlari.
Menjelang tengah hari, ia tiba di sebuah kedai tuak yang cukup ramai.
Keramaian itu aneh. Mengapa aneh? Sebab tak ada seorang pun yang berasal dari golongan muda.
Begitu Gardapati masuk, semua orang memandangnya dengan wajah terkejut.
Tanpa sadar, semua orang mencabut pedang siaga.
Gardapati acuh saja. Dengan gaya sempoyongan, ia duduk di salah satu meja dekat kasir.
Guci emasnya yang berbentuk labu air diletakkan di meja.
"Siapkan tuak paling bagus sepuluh guci untukku!" Teriak Gardapati lantang.
Penjaga kasir itu terperanjat.
Masakan ada seorang yang segila itu pada tuak.
Ia berdiri terdiam kaget.
Melihat penjaga kasir itu terdiam kaget, Gardapati jengkel.
Secepat kilat ia merogoh saku dan melemparkan seuntai mutiara di meja kasir seraya membentak, "Kau kira aku si Pangeran Pemabuk tak sanggup membayar?" Penjaga kasir itu tambah terperanjat. Dua kerlipan mata kemudian, ia baru sadar dan lari ke belakang.
Tak seperminum teh kemudian, pesanan Gardapati datang.
Gardapati mengisi gucinya dari salah satu guci yang lain.
Tuaknya meluber ke mana-mana.
Ia tak peduli.
Tapi semua mata memandangnya dengan pikiran kacau, siapakah lagi yang akan bertindak demikian selain Pangeran Pemabuk.
Hanya yang membuat mereka bingung, masakan Pangeran Pemabuk semuda ini, lagi pula ia sudah mati di Gunung Himalaya ketika adu kepandaian bersama pendekar sejagat.