Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 44

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 44

Dan kini ia datang dengan segala tingkahnya yang membuat orang meradang.

Gardapati menuangkan gucinya pada mulutnya, isinya meluber ke bajunya.

Ia tak peduli.

Setelah dua guci habis, Gardapati mulai mabuk kata-kata.

"Adimas Raden Pakuan Wijoyo... hik," aku datang dari alam kubur untuk menjengukmu." hik..

Aku dengar sekarang engkau bergelar Maharaja Dunia Persilatan." hik..

Mengapa kau menjadi kaum persilatan?" hik..

Padahal dulu kau menusukku karena aku dijadikan putra mahkota." hikk." Salah satu dari para tetua itu memerah.

Memang dia adalah Dewa Mata Pedang atau biasa dipanggil Maharaja Dunia Persilatan.

Saat ini mereka berkumpul untuk membicarakan tentang dunia persilatan saat ini.

Yang berkumpul di tempat itu adalah Para Dewan Dunia Persilatan.

Memang saat ini mereka sedang menyamar menjadi kaum awam.

Tapi Gardapati bermata awas.

Dia tak mungkin melupakan wajah musuhnya.

"hik" kejahatan merajalela" hik" kaum yang mengaku golongan putih telah memanjangkan rantai karma" hik" di selatan darah mengalir,.. hik" di timur mayat bertumpuk.. hik" di barat jeroan manusia mengampar," hik..

di utara cucuran air mata menggenang." manakah tanggung jawabmu Maharaja Dunia Persilatan?" Para Dewan Dunia Persilatan memerah malu.

Mereka tak bertindak. Jika mereka mulai menyerang, bisa dikatakan bahwa mereka membenarkan ucapan dari yang mereka sangka adalah Pangeran Pemabuk itu.

"Apakah salah bila kami berdamai?" Hik..

Bukankah itu tak merugikan kalian?

Memang kami melanggar benang hitam.

Tapi itu bukan urusan kalian." hik.. Bukankah kalian yang memusuhi kami sehingga terjadi pergolakan ini?" Siapakah yang salah? Kalian? Atau kami?" glek.. glekk." Gardapati minum lagi tuaknya.

"Kalian sudutkan kami." Jangankan manusia, semut pun akan meronta jika diinjak, apalagi kami manusia yang memiliki perasaan. Adalah wajar kami menentang seluruh kaum persilatan. glek.. glekk!" Mendengar penuturan Gardapati.

Penjaga kasir yang hanya seorang awam manggut-manggut paham.

Memang benar bila ia menempatkan posisi di orang pemabuk itu, ia akan melakukan hal yang sama dengannya.

Adalah wajar, itulah manusia.

"Kebenaran." Apakah itu kebenaran? Aku tak tahu," kata orang. Kebenaran itu ada yang relatif dan ada juga yang objektif. Benarkah demikian? Apakah seorang pemuka agama yang bertindak hanya dengan mengandalkan satu sumber? Ataukah seorang awam yang melakukan ibadah hanya menurut kewajibannya, ataukah seorang pencuri yang memberikan hasil curiannya kepada orang yang membutuhkan? Aku tak tahu?"

Gardapati teguk lagi tuaknya, lalu berceloteh lagi. "Kebaikan itu adalah obat.

Bila salah menempatkan atau takarannya, maka ia akan membunuh orang.

Jika benar maka ia akan menjadi obat yang mujarab pula.

Segala hal harus memiliki landasan.

Landasan yang bagaimanakah, entahlah?" glekk.. glekkk."

"Bagaimanakah contohnya?" Secara refleks sang kasir bertanya.

Ia tak sadar bahwa ia sudah terlarut dalam celotehan gila Gardapati. Memanglah Gardapati mengerahkan ilmu sabda dewanya untuk melandasi setiap kata yang keluar dari mulutnya.

"Seorang sakti yang memiliki kemampuan silat dan tak paham ilmu pertabiban mendapati anaknya sakit karena racun.

Ia minta bantuan orang. Malu, masakah seorang sakti sepertinya meminta bantuan orang lain? Itulah ego, merasa dirinya benar, ego merasa dirinya sakti, ego merasa dirinya tak ada yang mengalahkan.

Ia membuat obat dengan racun.

Kata orang racun melawan racun.

Tak sadar bahwa racun yang digunakannya adalah serumpun dengan racun yang mengeram dalam tubuh anaknya itu.

Bukannya sembuh, malah semakin parah bahkan tewas.

Ada lagi seorang awam yang merasa tak bisa apa-apa. Pada suatu waktu ia mendapati ayahnya sakit, ia rendah diri dan meminta seorang tabib.

Sungguh kebetulan...

sungguh kebetulan...

tabib itu adalah seorang yang sangat jahat.

Tapi orang awam itu merasa kesembuhan ayahnya itu adalah hal terpenting.

Ia tahu jika ia melakukan pengobatan tanpa dasar maka akan membunuh ayahnya saja.

Ia bertanya, "Wahai tabib, sudikah engkau menolong ayahku itu?" Tabib itu menjawab.

"Baik, tapi seluruh hartamu aku ambil." Tanpa berpikir, orang awam itu menyetujui.

Pada keesokan harinya ayahnya kedapatan sembuh, dan si tabib pun mendapatkan harta si orang awam.

Semua tetangganya menganggap tabib itu jahat.

Tapi dalam pikiran orang awam itu mengatakan, "Siapakah yang dirugikan?

Siapakah yang jahat? Aku mendapatkan ayahku sembuh, sudah sepantasnya seluruh hartaku itu sebagai imbalan."

Maharaja Dunia Persilatan memerah malu.

Ia tahu kakaknya itu sedang mempermainkannya.

Ia mendekati dan member hormat.

"Kakangmas Raden Gardasakti Wijoyo.

Maafkan atas kejadian di Himalaya itu, Dimas merasa sangat menyesal?"

"Huahahahaha?" "hik." Mengapa Dimas meminta maaf kepadaku? Mengapa Dimas tidak meminta maaf kepada anak dan istriku yang dibuat merana?"

"hik apakah Dimas terlalu pengecut sampai tidak menonjolkan diri di kerajaannya lagi?"

"Bukan begitu kangmas, hanya di kerajaan sudah ada kakang!"

"Cukup." Aku tahu kau hanya mengelak saja. Apakah kau pantas menjadi pemimpin dunia persilatan?

Tidak sadarkah bahwa banyak kaummu yang mulai berbalik dan memusuhi dirimu? Kau terlalu membabi buta." Tuding Gardapati dengan gucinya tepat di hidung Maharaja Dunia Persilatan itu.

"Sombong sekali kau Pangeran Pemabuk!" Tuding Dewa Pedang Kelana.

Gardapati diam saja dan mulai menenggak tuaknya kembali.

"Kakangmas, kau sudah terlalu mabuk!" Maharaja Dunia Persilatan menasihati.

"Aku dan saudara-saudaraku telah bangkit dari kubur. Seseorang membangkitkan kami, dan tahukah Dimas mengapa kami bangkit kembali?"

Maharaja Dunia Persilatan diam-diam merasa kaget. Adakah sebuah ilmu yang bisa membangkitkan orang yang sudah mati sesempurna ini?

"Tidak kakangmas." Jawab Maharaja Dunia Persilatan sabar. "Menguasai dunia persilatan dan menjadikannya seperti yang ada dalam benakku, di mana tiga golongan dapat menjalin suatu hubungan yang harmonis dan hidup berbahagia.

Seperti kami bertujuh."

"Sesat!" Benar-benar pikiran yang melawan benang hitam.

Masakah harimau disatukan dengan angsa?" Dewa Gagang Pedang marah benar.

"Apakah harimau dilahirkan buas maka dia dianggap jahat? Di manakah harimau yang memakan rumput?"

"Biarlah aku memberimu sedikit pelajaran agar kau keluar dari kesesatanmu." Dewa Gagang Pedang marah tak kepalang, pedangnya dicabut dan dilemparkan kepada Gardapati.

Pedang itu dikendalikan dengan tenaga dalam, sehingga bila diperlukan pedang itu bisa kembali ke tangannya.

Gardapati bangkit dan sempoyongan. Dengan gontai ia melakukan perputaran berlawanan arah jarum jam, kaki kirinya berjinjit dan kaki lainnya menekuk.

Tangannya kiri melakukan tarikan dan tangan kanan yang memegang guci menyampuk dengan penyaluran tenaga yang baik.

"Tranggg!" Dua buah senjata itu beradu, pedang melesat kembali kepada pemiliknya.

Sedang Gardapati tersenyum mengejek.

"Tenaga dalam yang hebat." Batin Dewa Gagang Pedang yang merasakan tangan kanannya kesemutan.

Dewan Dunia Persilatan terdiri dari sepuluh orang.

Posisi Dewa Warangka Pedang dan Dewa Batang Pedang digantikan oleh tetua perguruan lima besar.

Gajahsora yang merupakan ketua dari Perguruan Bintang Kemukus juga Wakil Maharaja Dunia Persilatan maju ke muka dan memasang kuda-kuda.

Tangan kanan menyilang di depan perut dan tangan lainnya tertekuk.

Kedua kakinya membuka mempersiapkan pertahanan sekaligus serangan.

Itulah kuda-kuda dari jurus menyongsong bintang di langit.

"Dimas sora, mundurlah." Biar aku sendiri yang menghadapinya." Maharaja Dunia Persilatan mencegah dan maju ke muka.

Gardapati santai saja, seteguk tuak lagi memenuhi perutnya. Ia memang hendak menggunakan jurus-jurus ayahnya saja.

Maka dari itu pembukaan jurus mabuk kera sakti dipersiapkan.

Posisi Gardapati saat ini sangat aneh, menghormat sambil menenggak guci.

Salah satu kaki, yaitu kaki kanan berjinjit di depan, kaki kiri menekuk, tangan kanan memegang guci dan menempelkannya di mulut.

Tangan kiri dibuka seperti menyembah.

Pandangan mata meleng, tubuh agak membungkuk, bidang dada ditarik ke belakang sehingga wajahnya mendongak.

Maharaja Dunia Persilatan memajukan kaki kiri hingga berjinjit sehingga berat tubuh ada pada kaki kanan sebagian besarnya. Kedua tangan ditarik, yaitu tangan kiri memutar pada sisi pinggang memegang serangka pedang.

Dan tangan lainnya di gagang pedang. Secepat kilat menyambar, Maharaja Dunia Persilatan melakukan sabetan pedang yang ditujukan pada pergelangan tangan, posisi badan direndahkan sebagai suatu hindaran dari serangan balasan Gardapati.

Tangan kiri memasukkan serangan yang menyerang dari arah bawah.

Gardapati yang menyerang angin kosong merendahkan tubuh menghindari tebasan pedang. Serangan tangan kiri lawan ditahan dengan tangan kiri disertai cengkraman sehingga membuat tenaga Maharaja Dunia Persilatan seakan-akan tersedot.

Sedang tangan kanan memukulkan guci.

"Bletakk!" Untung saja Maharaja Dunia Persilatan melindungi kepalanya dengan tenaga dalam. Jika tidak, maka dalam segebrakan saja ia akan keok.

"haha." Anggap saja itu sebagai peringatan seorang kakak kepada adiknya yang nakal." Gardapati tertawa terbahak-bahak. Betapa gusar hati Maharaja Dunia Persilatan.

Di tengah kepusingan kepalanya, ia menarik ke arah kanan belakang pada kaki kanan setengah menyamping dengan pedang yang berada pada sisi kepala dan lainnya pada dada kanan.

Setengah sempoyongan, Gardapati melakukan terjangan dengan pukulan gucinya dan ditangkis dari arah luar dengan telapak tangan kiri oleh Maharaja Dunia Persilatan.

Bukan itu saja, ia masuk ke daerah Gardapati dengan menyapukan kaki kanan ke belakang kaki depannya untuk sekaligus melakukan sebuah dorongan pada bagian dagu Gardapati.

Pedangnya menempel erat di leher Gardapati.

Bisa dibayangkan posisi Gardapati saat itu.

Bila seandainya ia sampai terjatuh, maka otomatis kepalanya akan terpenggal jua.

Maharaja Dunia Persilatan kaget tak kepalang ketika Gardapati membaca mantra mengerahkan sebuah ajian namun kasip.

Ajian sudah dibaca, apa dayanya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment