Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 45

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 45

"Bismillahirrahmanirrahim. Sun matek aji-ajiku Brajamusti. Terap-terap, awe-awe, kuru-kuru. Griya gunting drijiku, watu item ing tanganku. Sun tak antem, Laa ilaaha illallah Muhammadur Rasulullah." Jelas sudah bahwa Gardapati telah mengerahkan ajian Brajamusti.

Perlu diketahui bahwa Aji Brajamusti adalah ilmu andalan para pendekar, karena ajian ini merupakan perisai badan yang sangat ampuh. Orang yang memilikinya akan mempunyai kekuatan fisik dan gaib yang tak tertandingi. Oleh karena itu, pemiliknya tidak boleh menggunakan ajian ini jika tidak dalam keadaan terpaksa, sebab penggunaan yang sembarangan dapat membahayakan nyawa lawan. Selain untuk mengisi kekuatan tubuh dan tangan, Brajamusti juga berfungsi sebagai ilmu kekebalan terhadap berbagai macam senjata tajam. Senjata seampuh apa pun, jika terkena ajian ini, pasti akan tawar dan kehilangan tuahnya.

"Srenggg!" Pedang itu bergesekan di leher Gardapati. Semua orang menahan napas, namun mereka terkejut karena Gardapati tetap hidup tanpa luka sedikit pun di lehernya. Tak ada yang paham bagaimana hal itu bisa terjadi, kecuali Maharaja Dunia Persilatan sendiri. Padahal mereka tahu bahwa senjata Maharaja Dunia Persilatan yang bernama Ki Manon Nagapuspo sangat terkenal akan ketajamannya.

"Sayang sekali seranganmu itu gagal!" ejek Gardapati penuh kemenangan.

Gardapati memundurkan kaki kanan dengan kaki kiri ditekuk. Tangan kanannya mengepal di depan, sementara tangan kirinya menyilang di dada dengan jari terbuka. Maharaja Dunia Persilatan membalas dengan memajukan tangan kiri dengan jari menghadap ke atas, sementara pedangnya bersiap di sisi pinggang. Keduanya saling bertatapan. Detak jantung terdengar bersahut-sahutan; bagaimanapun, keduanya adalah tokoh besar di dunia persilatan.

"Heaaahhh!"

Sebuah sabetan memutar menimbulkan sinar perak yang menyerang Gardapati. Gardapati terkejut dan bersiap menghindar, namun serangan itu rupanya hanya tipuan. Sebuah tendangan kaki kanan memutar dari arah luar menyambar ke arahnya. Gardapati menghindar, lalu saat kaki lawan melewati tubuhnya, ia menangkap kaki tersebut. Bersamaan dengan itu, ia mengangkat kaki kiri dan menjejakkan ke bawah pada kaki kiri lawan, diiringi dorongan guci yang dipindahkan ke tangan kiri dengan bantuan tenaga dalam.

"Bukkk!"

"Hoekkk!"

Maharaja Dunia Persilatan memuntahkan darah segar. Ia menyeka darah di sudut bibirnya lalu menusukkan pedangnya lurus ke depan. Gardapati menghindar ke samping sambil menempelkan telapak tangannya pada pergelangan tangan lawan, lalu menariknya ke arah kiri atas. Putaran ini membuat pergelangan tangan Maharaja Dunia Persilatan terkilir hingga pedangnya lepas dari genggaman.

Tarikan itu tidak berhenti di sana, melainkan diteruskan dengan jejakan pada dada lawan. "Bukkk!" Gardapati menyapu dengan gerakan memutar sehingga pedang yang baru menyentuh tanah itu mencelat ke udara, lalu dengan sigap ia menangkapnya.

"Tukkk!" Maharaja Dunia Persilatan menyarangkan sebuah totokan jarak jauh pada Gardapati. Namun, Gardapati sadar posisinya masih dekat, sehingga pedang yang baru ditangkapnya itu segera ditusukkan ke perut samping lawan. Tusukan itu tidak fatal, namun cukup membuat darah memercik deras.

"Masih banyak orang yang akan membalas dendam untukmu. Tidak adil bila aku bertindak serakah padamu!" ucap Gardapati lirih sambil menahan sesak di dadanya. Tanpa kata lagi, ia melarikan diri dari sana sambil berteriak, "Gunung masih hijau, sungai masih mengalir, angin masih berembus. Selama itu, jangan harap hidupmu bisa tenang. Hukum karma akan berlaku untukmu!"

"Kakang!" Dewa Pedang Kelana mendekat. Gajah Sora melangkah hendak mengejar, namun dicegah.

"Tak usah dikejar. Saat ini ia sedang terluka, keadaannya tak jauh berbeda dariku." Sore telah datang. Dewan Dunia Persilatan menatap kepergian orang yang dikira Pangeran Pemabuk itu dengan hati gelisah.

***

Tiga sosok tubuh ramping berlari sambil berpegangan tangan di atas pepohonan. Dua gadis yang dituntun tampak pucat karena ketakutan.

"Dewi, hendak kemanakah kita?" tanya seorang gadis cantik bertubuh mungil yang mengenakan pakaian serba merah marun sambil gemetar.

"Di mana langkahku berhenti, di sanalah tujuan kita," jawab Astradewi asal.

"Jangan terlalu cepat, Dewi. Antari merasa mual, lihatlah Nimas Anudhari juga sudah merem-melek," wajah gadis berpakaian merah hati itu memelas.

Astradewi berpaling dan melihat keduanya hampir mabuk karena kecepatan mereka. Ia menjejakkan kaki pada dahan pohon lalu mendarat di tanah.

"Kalian payah. Apakah kalian tidak bisa olah kanuragan?" tanya Astradewi cemberut.

"Tidak, Dewi. Tak ada yang mengajarkannya kepada kami. Apa jadinya bila budak memiliki kepandaian?" jawab Antari sambil menunduk, sementara Anudhari tampak muntah-muntah.

"Akan kuberikan kalian jurus Bangau Sakti dan Ngambang Angin, beserta tenaga sakti Bangau Putih."

"Terima kasih, Dewi!" Keduanya bersujud. Meski dunia masih terasa berputar di mata Anudhari, ia tetap bersujud. Astradewi merasa senang diperlakukan seperti tuan putri, dan bibirnya menyunggingkan senyum.

"Ayo duduk di depanku."

Tanpa diperintah lagi, mereka segera duduk membelakangi Astradewi. Dengan penuh semangat, Astradewi melaksanakan niatnya. Kedua tangannya digosok-gosokkan lalu dirangkapkan di dada, kemudian dibuka membentuk posisi sayap dengan ibu jari dan jari telunjuk beradu. Seketika itu juga, kedua telapak tangannya hingga batas siku berubah menjadi putih berkilauan. Ia menarik tangannya ke depan dada, lalu secepat kilat menempelkannya ke punggung mereka.

"Pejamkan mata kalian. Jika merasa dingin, harap ditahan. Bila kalian tak sanggup menahannya, akibatnya bisa fatal," peringat Astradewi.

Keduanya memejamkan mata rapat-rapat. Samar-samar sekujur tubuh mereka mulai dipenuhi asap putih tipis, pertanda penyaluran tenaga sedang dimulai.

"Bersiap-siaplah, awas!" Astradewi mengerahkan seluruh konsentrasi pada ilmu yang akan diberikannya. Tubuh Antari dan Anudhari bergetar hebat saat merasakan hawa dingin luar biasa yang seolah mengaduk-aduk isi perut mereka. Berkali-kali mereka merintih tertahan. Sekujur tubuh mereka menggigil dan gigi mereka beradu gemeletukan. Namun, karena keinginan kuat untuk bertahan hidup, mereka memaksakan diri.

Paras Astradewi mulai dibasahi keringat, bibirnya pucat, dan dari ubun-ubunnya mengepul asap putih. Meski demikian, ia tetap terlihat tegar dan tidak menunjukkan rasa letih meskipun telah mengeluarkan banyak tenaga dalam.

"Sekarang, kendalikanlah hawa dingin yang bersemayam dalam tubuh kalian!" Perlahan-lahan Astradewi menarik tangannya dengan gerakan terbalik dari sebelumnya. Tanpa kata, ia segera bersemedi untuk memulihkan kondisinya. Sementara itu, Antari dan Anudhari tetap terlelap dalam semadi guna menjinakkan hawa dingin yang mengalir di tubuh mereka.

Sepeminum teh kemudian, mereka berdua mulai dapat mengendalikan hawa tersebut. Tubuh mereka tidak lagi gemetar. Astradewi pun sudah sadar dari semadinya, wajahnya kembali segar.

"Bagus, kalian memang berbakat. Sekarang coba kerahkan ilmu Ngambang Angin dan meloncat ke atas sana!" Astradewi menunjuk pohon terbesar di tempat itu. Keduanya menatap pohon itu dengan ragu.

"Apakah kami dapat melakukannya?"

"Coba saja!"

"Hea!" Dengan teriakan nyaring, keduanya meloncat ke atas. Namun di udara, mereka kehilangan konsentrasi karena terkejut. Tanpa ampun, mereka jatuh terjerembap.

"Brukkk!" Seperti nangka jatuh, mereka menghantam tanah dengan posisi duduk. Astradewi tertawa geli melihatnya.

"Kalian bodoh! Untuk apa aku mengajari jurus Bangau Sakti jika pantat kalian yang dijadikan tumpuan?" tegur Astradewi masih sambil tertawa. Kedua gadis itu menunduk malu.

"Sudahlah, kalian belum terbiasa. Berlatihlah lebih giat agar kesalahan tidak terulang. Anudhari dan Antari sangat gembira karena cita-cita mereka belajar kanuragan akhirnya tercapai."

"Kalian jangan senang dulu. Jangan sampai kegembiraan membuat kalian lengah," Astradewi memperingatkan agar mereka tidak besar kepala sebelum benar-benar menguasai ilmu tersebut.

"Baik, Dewi!"

"Ayo kita berangkat lagi sekalian membiasakan diri." Astradewi mengajak mereka. Anudhari dan Antari melompat melesat. Meski sering terperosok karena salah perhitungan, mereka tidak menyerah. Astradewi mengikuti mereka sambil tertawa. Matahari di ufuk barat menjadi saksi perjalanan mereka. Canda dan tawa menjadi pengikat keakraban di antara ketiganya.

***

"Apakah ini markas Ratan Wasana itu?" tanya Sagara Angkara heran.

"Mungkin," jawab Harsanto.

"Kok mungkin?"

"Ratan Wasana dulunya adalah organisasi rahasia, jadi markas sesungguhnya tidak menentu. Tapi, ini adalah tempat terbesar yang mereka miliki."

"Emmhh! Bagaimana, apa kita akan melabraknya?"

"Tentu saja!" Gita Jayasri mencabut pedangnya. Ia menimpali, "Bagaimana denganmu, Nimas Meswari?"

"Bila gendewa sudah terpentang, masakah anak panahnya akan berdiam diri?" jawab Meswari.

"Hah, kalian gadis-gadis yang tak mengenal rasa takut. Bagaimana bila kalian ditangkap dan dijadikan tawanan?" gumam Sagara Angkara sambil mengintip ke arah rumah besar dari balik benteng pagar.

"Ger!" Gita Jayasri marah, namun Harsanto segera bertindak cepat untuk menenangkan situasi.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment