Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 46

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 46

Bagaimanapun, sesama teman masakan harus saling bergontok-gontokan.

"Silakan kalian pergi, aku akan di sini menjaga Jingga!" Sagara Angkara berkata lagi.

Sungguh dongkol ketiga orang itu. Masakan seorang yang mereka andalkan harus berdiam menjaga seorang anak, sementara mereka menyongsong badai.

"Jingga, ayo kita pergi!" Sagara Angkara bertindak cepat sebelum orang mencegahnya. Ketiak Jingga dipegang, dan bagaikan bayangan berpindah tempat, ia melesat ke atap genting rumah itu tanpa seorang pun mengetahui dan memergokinya.

Gita Jayasri dan Meswari menghentakkan kaki jengkel. Harsanto menggelengkan kepala.

"Bagaimana rencana kita selanjutnya?"

"Kita bertindak terang-terangan saja, jangan sampai merusak citra aliran kita. Bukankah ada orang yang suka mencela setiap tindakan kaum kita yang tidak lagi mengikuti benang hitam?" Gita Jayasri memberi usul.

"Bukan tidak mengikuti benang hitam, tapi mereka merasa diri benar, maka setiap tindakannya dianggap benar pula. Padahal, itu adalah hal yang diam-diam merusak moral kita karena kita sudah terbiasa dengan tindakan itu," Meswari mengomentari.

"Sama saja!" jawab Gita Jayasri.

"Adat dan Laku itu berbeda!"

"Sudahlah, berhenti berdebat. Kita ke sini bukan untuk berdebat. Ayo bergerak!" Harsanto mulai tidak sabar.

"Huppp!" Gita Jayasri menjejak, melompat ke udara, dan bersalto dua tiga kali di udara. Begitu menginjak tanah, ia sudah memasang wajah garang.

"Siapa kau?!" Di belakangnya, seseorang membentak. Gita Jayasri membalik, dilihatnya seorang lelaki berikat kepala hijau mendatanginya sambil menenteng pedang.

"Calon pencabut nyawamu!" Gita Jayasri berkata seram.

Lelaki itu tertegun melihat kemolekan wajah dan tubuh gadis di depannya. Ucapan Gita Jayasri tidak membuatnya takut. Malah membangkitkan sesuatu dalam dirinya.

"Akh, kau lebih mirip calon gulingku, 'cah ayu'. Sungguh sayang bila aku melewatkan tubuh seindah milikmu itu." Sebal Gita Jayasri mendengar ocehannya, ia berkata, "Terima ini!" Tanpa ba-bi-bu, Gita Jayasri menyerang dengan dahsyat. Pedangnya diangkat dari bawah ke atas. Sedikit mundur, lelaki itu menghindari serangan Gita Jayasri.

"Huahaha! Tidak kena, tidak kena... ekh!" Lalu ia berujar, "Serangan sebenarnya dari atas! Lihat pedang!" Terdengar suara "Breettss! Crash! Uaaakhh! Bruk!" Lelaki itu terbelah dua dari ubun-ubun sampai pangkal pahanya. Jeroan berhamburan, darah menyembur, dan jatuh berdebum bersamaan dalam satu suara.

"Sebuah tipuan pedang yang dahsyat, namun ia ceroboh," komentar Sagara Angkara yang pada waktu itu ongkang-ongkang kaki bersama Jingga di pangkuannya.

Komentar itu tidak terdengar oleh Gita Jayasri. Seandainya ia tahu, pasti akan terjadi sebuah pertarungan bergontok-gontokan lagi.

"Ceroboh?" gumam Jingga heran.

"Lihatlah!" Sagara Angkara menunjuk ke arah bawah. Memang benar, saat itu berbagai macam lelaki berbaju hitam dari berbagai usia datang ke tempat itu. Ikat rambut mereka yang berbeda-beda tertiup angin, melambai-lambai.

"Siapa yang berani membuat keributan di sini?" bentak seorang lelaki berbaju hitam dengan ikat kepala perak. Sepertinya ia pemimpin di tempat itu.

"Siapa lagi jikalau bukan aku!" Gita Jayasri menjawab tak kalah garang.

"Oh, kau, Nisanak. Ada sengketa apakah sampai engkau membunuh anak buahku? Bukankah lebih baik engkau masuk ke mari dan bersenang-senang bersama kami, haha?" Ucapan pemimpin itu mendapat sambutan riuh rendah dari anak buahnya, tentu saja membuat Gita Jayasri semakin garang.

"Hiaaaaa!" Pedangnya diputar di atas kepala dan menyerbu ke arah lawan. Kembali teriakan dan jeritan bergema. Gita Jayasri mengamuk laksana banteng terluka. Pedangnya berkilauan berwarna perak, menangkis, menyabet, bahkan menusuk tanpa kenal ampun.

"Bunuh, bunuh gadis liar ini!" teriak si Ikat Kepala Perak.

"Heaaaa!"

"Hiaaa!" Dari udara muncul dua sosok lain. Bayangan kuning keemasan membelah udara, menyerang siapa pun yang berani menghalanginya. Bayangan putih keperakan bergerak memutar, menimbulkan angin prahara yang memporak-porandakan lawan. Terdengar suara "Drettt!"

Suara "Trang! Treng!" dan teriakan "Hiaaa!" disusul suara "Blegarrr!" Harsanto memukulkan tangan kirinya, menimbulkan sinar merah membara yang secara langsung dipukulkan menggunakan jurus tangan kosong. Meswari tak mau kalah. Pedangnya dipegang dengan kedua tangan. Kaki kanan ditarik ke depan, sementara kaki lainnya berada di belakang. Pedangnya diputar hingga berada di sisi pinggang kanan, menghadap ke bumi.

"Hiaaa!" Berbareng dengan teriakan yang nyaring, ia mengerahkan ilmu peringan tubuhnya dan maju ke muka. Begitu pedangnya disejajarkan dengan tangan terbuka, berbagai kepala lepas dari pemiliknya.

Gita Jayasri yang merasa sebal melayani kaum keroco, melompat ke udara dan berteriak nyaring.

"Kau yang di sana!" Ia menunjuk kepada si Ikat Kepala Perak. Lalu melanjutkan, "Apa kau hanya bisa membiarkan anak buahmu yang mati? Tidakkah kau terlalu pengecut hingga tidak berani melawan seorang gadis saja?" Bola mata lelaki berbaju hitam berikat kepala perak mendadak mencorong seperti mata kucing di malam gelap. Diam-diam dia sudah mengerahkan ilmu saktinya.

"Gerrr!" Ia hanya menggeram menanggapi ucapan pedas dari Gita Jayasri. Gita Jayasri tidak mau tahu kesulitan orang. Kembali ia mengejek.

"Huh, tidak pemimpinnya tidak anak buahnya, semua hanya pengecut saja. Tidakkah di sini ada yang berani melawanku satu lawan satu?" Tidak tahan lagi, lelaki itu memasang kuda-kuda bersudut dengan kaki kanan di depan dan tangan kanan melakukan penangkapan.

"Wirrr...!" Segulung angin kelabu membentuk gendewa. Kaki kanan dimundurkan sambil melakukan tangkapan dengan menarik menggunakan tangan kanan yang kuat. Kaki kiri memegang gulungan angin yang berbentuk gendewa hingga membentuk panahan.

"Wussss!" Angin kelabu berbentuk anak panah terlontar ke muka, menyerang Gita Jayasri. Di udara, Gita Jayasri tersenyum manis saja. Ketika anak panah itu berada di pertengahan jarak, mendadak ia mengangkat pedang dengan kedua tangannya. Secepat kilat, pedang diputar menciptakan gelombang pelangi. Begitu warna pelangi sudah membentuk bulatan sempurna, pedang ditarik ke atas kepala dengan tubuh lurus miring ke bawah. Laksana gasing, tubuhnya berputar dan mengebor di tengah sinar pelangi. Tubuh Gita Jayasri yang berujung pedang melesat menyongsong gulungan angin membentuk anak panah itu.

Begitu kedua pihak beradu, terdengar suara "Duarrr! Cesss! Wirrr!" yang menimbulkan ledakan hebat. Hawa bergolak dalam arena dua tombak, mengeluarkan desir keras seperti balon kempis. Meswari dan Harsanto yang sedang bertarung bersama anggota Ratan Wasana terdesak mundur setindak. Pakaian mereka berkibar seperti diterjang angin badai. Lelaki berikat kepala perak terdesak doyong ke belakang, namun sekuatnya ia bertahan sehingga kakinya melesak amblas ke dalam bumi.

Sementara itu, Gita Jayasri berdiri santai di hadapan lelaki itu dengan muka berseri dan tersenyum.

"Bagaimana? Enak?" tanya Gita Jayasri meledek.

Lelaki itu marah bukan main. Tapi, keadaan membuatnya harus mengatur napas dan menghimpun tenaga kembali. Bagaimanapun, tidak mungkin ia bertarung dengan keadaan yang mengenaskan.

Lagi-lagi Gita Jayasri tertawa hina, katanya, "Huh, tenaga lelakimu ternyata tidak sekuku hitamnya tenagaku!" Pernyataan itu benar-benar pongah dan takabur. Karuan lelaki itu berjingkrak gusar.

"Akan kukenalkan kau dengan jurus andalanku ini, gadis sundal!" maki lelaki berikat kepala perak itu sambil berputar cepat mengelilingi tubuh Gita Jayasri.

Sagara Angkara yang melihat dari atas berbisik pada Jingga, "Jurus yang akan digunakan lelaki itu biasa dikenal dengan ilmu Pusaran Badai Samudera. Jurus itu mengandalkan kegesitan dan tenaga dalam yang tinggi. Sekali serang bisa menimbulkan gelombang pukulan sebanyak sepuluh kali. Jurus itu terkenal pada sepuluh tahun lalu."

"Oh, apa Mbakyu Gita bisa mengatasinya?"

"Kita lihat saja."

Gelombang pukulan yang bertenaga dahsyat bertubi-tubi melanda ke arah Gita Jayasri dari berbagai penjuru. Hawa udara menjadi kalut dan bergolak, saking kuat dan kerasnya sambaran angin pukulan yang saling menghantam. Di sekeliling Gita Jayasri menjadi pusaran angin puyuh yang dahsyat, membumbung tinggi ke angkasa. Jurus ini memang mengambil inspirasi dari pusaran air yang berputar di tengah samudra di kala badai. Jadi, tidak heran bila orang-orang yang bertarung di sekelilingnya banyak tertarik pusaran dan terlempar ke udara, entah berapa yang sudah tewas. Tapi semua tidak pernah ada habisnya.

Dalam pusaran angin, Gita Jayasri memejamkan mata. Dalam segala hal, ketenangan selalu memberikan peluang kemenangan yang tinggi. Sebaliknya, sikap terburu-buru hanya akan membuat konsentrasi buyar dan sudah jelas tidak jarang akan mengalami kekalahan. Kedua kakinya diturunkan hingga menempel di tanah. Pedang di tangan kanannya diletakkan di samping atas dan tangan lainnya diturunkan ke bawah. Ini merupakan sebuah jurus langka dalam dunia persilatan, jurus yang dinamakan dengan Tameng Pelangi Perkasa. Jurus ini, sesuai namanya, merupakan sebuah jurus pertahanan yang rapat, mengandalkan kegesitan untuk menghindar sekaligus memasukkan serangan.

Pedangnya ditudingkan ke muka, secara mendadak berputar bak gasing yang berlawanan dengan putaran angin lawan. Dalam pusaran muncul pusaran, itulah yang terjadi. Dua pusaran itu beradu bergesekan hingga mengeluarkan letupan-letupan kecil beruntun seperti petasan renteng. Gabungan sekaligus bentrokan dua buah pusaran itu sedemikian dahsyatnya. Bukan lagi debu yang tersedot membumbung ke udara, tapi pasir, kerikil, dan beberapa manusia pun mulai terangkat ke udara dan berputar kencang, membumbung makin tinggi ke udara membentuk sebuah pilar yang menyangga langit.

Tidak kelihatan lagi wujud keduanya. Genting-genting berterbangan. Sampai Sagara Angkara harus membentuk sebuah hawa pelindung di sekitar tubuhnya dan Jingga. Harsanto dan Meswari yang sedang bertarung merasakan semakin lama sedotan angin puyuh yang berada di sekelilingnya makin kuat. Lambat laun, bernapas pun terasa berat dan sukar. Tidak mau mengambil risiko, keduanya menjauhi pusaran dan keluar dari halaman rumah itu. Di luar pagar halaman, kembali mereka bertarung.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment