Chapter 47
Jumlah anggota Ratan Wasana itu semakin bertambah, bukannya berkurang, membuat mereka kewalahan. Harsanto dan Meswari mandi keringat, hati mereka mulai gelisah. Jika pertempuran terus berlanjut, mereka sendiri akan roboh.
Sementara itu, Gita Jayasri merasakan serangan lawan semakin ganas, membuatnya gugup. Jika diteruskan, tenaga perempuan takkan mampu melawan tenaga lelaki. Diam-diam, Gita Jayasri mengalirkan tenaga inti halilintar ke telapak tangan kirinya. Ketika tenaga dirasa cukup, ia menempelkan telapaknya ke gagang pedang.
"Dreeetttt," "Uaaarrgghh." "Drakk, drak, brak!" Serentetan cahaya kebiruan menyambar dari pusaran tengah, menyengat pemilik pusaran luar. Jurusnya terhenti bersamaan dengan teriakan menyayatnya. Tubuhnya terlempar dan terbanting ke tanah. Ia terkapar dengan kening berkerut, wajahnya pucat pasi menahan derita luar biasa. Darah mengalir dari ujung bibirnya, ia merintih perlahan.
Begitu pusaran berhenti, kerikil dan segala sesuatu yang terangkat terlempar ke mana-mana, tak jarang mengenai anggota Ratan Wasana hingga cedera atau tewas.
"Aih!" Gita Jayasri terkejut karena berbagai macam senjata menghujaninya dari berbagai penjuru. Ia menancapkan pedang ke tanah, kedua tangan terangkat lurus, lalu membundar dan disendal. Segulung tenaga menderu bagai badai menggulung ke arah senjata-senjata itu hingga terbang tanpa mengenainya.
"Huaaarrrrr!" Laksana air bah berwarna hitam, Gita Jayasri diserang dari berbagai penjuru. Mata tajamnya menangkap pemandangan yang membuat hatinya panas dingin. Bagaimana tidak, seorang lelaki berikat kepala perak saja sudah membuatnya kewalahan, ini ada sepuluh. Sungguh hal yang tak disangka-sangka.
Gita Jayasri menarik tangan kanan di depan dada, sementara tangan lainnya melaksanakan cengkraman dari bawah. Laksana kilat, kepalan tangan yang sudah berwarna kebiruan dihantamkan ke muka. "Byaar, byaar." Pukulan Gita Jayasri dilawan dengan keras oleh lawan. Berhubung kalah tenaga, tenaga itu membalik, tubuh Gita Jayasri terlempar lima kaki ke udara. Dadanya terasa sesak, kepala sedikit pening, hampir saja kepalanya menghantam cadas jika tidak ada yang menangkap tubuhnya.
Sagara Angkara berdiri gagah dengan Jingga di punggungnya, mengapit Gita Jayasri yang berkerut menahan sakit. "Sungguh pengeroyokan yang tidak mengikuti aturan dunia persilatan," dengusnya marah. Saking marahnya, mendadak hawa panas laksana matahari di atas kepala menyeruak datang, membuat semua orang yang tadinya hendak mengeroyok mundur teratur. Anehnya, Gita Jayasri dan Jingga yang berada di punggung dan kempitannya tampak adem ayem.
Bola matanya berubah merah membara, rambutnya berubah memerah api. "Ctikk, ctikk, cesss." Rerumputan yang diinjaknya berubah layu, kemudian hangus terbakar. Nyala api membakar sekeliling tubuhnya. Semua mata memandang takjub dan ketakutan. Tak ada seorang pun yang mengetahui jurus apakah itu.
Kakinya menjejak tanah dan melompat ke udara melakukan salto. Begitu kepalanya di bawah menghadap bumi, kedua tangannya menggempur dengan kekuatan panas yang maha dahsyat. "Wess, UArrgghh." "Argghh, ctik, ctikk, cesss." Saking marahnya, serangan ini betul-betul dahsyat bukan kepalang. Empat puluh tombak di mana angin pukulannya menggempur, rerumputan hangus terbakar, tanah dan batu menghitam seperti kena bakar.
Manusia-manusia serabutan melarikan diri. Di antaranya ada yang mati hangus, ada juga yang berlarian dengan baju terbakar. Yang lebih parah, sebagian rumah terbakar, membuat keadaan semakin kalut. Jingga dan Gita Jayasri melihatnya dengan terkejut. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut mereka selain mulut ternganga, bengong.
"Akh, pantas Eyang mengatakan ajian ini ajian terlarang. Tidak mengherankan bila sejak abad-abad lalu jurus ini dilaknat, sampai-sampai hanya dengan sebuah jurus paling sederhana dan sedikit tenaga dalamku, aku dapat mengacaukan tempat ini seperti ini. Eyang, aku bersumpah jika tidak terlalu terpaksa dan keadaan sangat sulit, aku tidak akan menggunakan ilmu apa pun yang ada dalam Sastrajendrahayuningrat," gumam Sagara Angkara.
Memang ajian dari Ajaran "Sastra Jendra hayuningrat" mengandung unsur mistik, angker, dan gaib. Jika salah menggunakan ajaran ini, bisa mendapat malapetaka besar seperti yang dilakukan Sagara Angkara barusan. Selain itu, Sastra Jendra Hayuningrat adalah kunci untuk memahami isi Rasa Jati, di mana untuk mencapai sesuatu yang luhur diperlukan perbuatan yang sesuai. Rasajati melambangkan jiwa atau badan halus, serta nafsu sifat setiap manusia, yaitu keinginan, kecenderungan, dorongan hati yang kuat ke arah yang baik maupun buruk atau jahat. Nafsu sifat itu ialah: Lumamah (angkara murka), Amarah, Supiyah (nafsu birahi). Sedangkan sifat terakhir adalah Mutmainah (nafsu baik, dalam arti berbaik hati, berbahasa baik, jujur, dan lain sebagainya) yang selalu menghalangi tindakan tidak senonoh.
Mendadak? "Twang, twangg, sret, jrebb!" Sagara Angkara kaget, ia terbangun dari lamunannya. Sebatang anak panah menancap seinchi di depannya. Begitu ia melirik ke atas langit, tampak ribuan titik macam tawon hitam menghiasi langit. Hatinya mendadak teringat dua orang lain. Ia menjejak dan melesat meninggalkan tempat itu.
"Jreb, jreb!" Ribuan anak panah menancap di bumi. Seandainya Sagara Angkara terlambat lima kedipan mata saja, niscaya ia akan mati dihujani anak panah. "Te, tep!" Laksana kilat, Sagara Angkara menjinjing Harsanto dan Meswari yang kala itu sedang bertarung dengan punggung saling tempel. Lawan mereka terbengong heran melihat sosok yang diburu hilang.
Sore sudah datang. Di tengah hutan dekat pantai Sunda Kelapa, tampak lima orang bertelentang ria di atas rumput. Di wajah mereka tampak raut kelelahan. Baju masih basah, rambut kusut, darah masih menetes.
"Kakang Sagara, aku ingin belajar silat padamu!" Jingga membuka percakapan.
"Untuk apa?"
"Aku ingin seperti Kakang, sekali pukul membuat ratusan orang pontang-panting," jawab Jingga polos.
"Jika seandainya aku tahu silat itu begitu keras, sungguh ku tak ingin mempelajarinya. Manusia melayang seperti semut yang diinjak, tanah berbau darah, sungguh aku sedih melihatnya. Hitam dan putih apalah bedanya, begitu dihadapkan dengan pembunuhan, keduanya kadang tidak ada bedanya. Untuk apa sebenarnya ilmu silat itu?"
"Aku ingin balas dendamkan kampungku, Kakang!"
"Balas dendam terindah adalah memaafkan. Menyimpan dendam dalam dada hanya akan membuat hati kita rusak perlahan. Bila kita membunuh orang hanya karena balas dendam, itu hanya menyenangkan hawa nafsu belaka. Bila sudah membalas dendam, apakah kita akan tenang jika keturunannya membalas dendam kepada kita? Lalu sampai kapankah rantai karma akan putus?"
Jingga terdiam, tapi otak kecilnya belum mampu mencerna ucapan itu. Ia menjawab, "Kau sudah dewasa, Kakang, sementara aku hanya baru berusia lima belas tahunan."
"Hahaha. Memangnya aku terlihat dewasa? Usiaku malah di bawahmu. Aku paling banter sebelas tahunan, hanya tubuhku ini memang mendahului usiaku."
"Apa?" Jingga berteriak kaget.
Gita Jayasri, Harsanto, dan Meswari bangkit dari tidur mereka dengan menatap Sagara Angkara dengan tatapan tajam.
"Kau... kau bohongkan!" Gita Jayasri mewakili.
"Tidak, seharusnya memang aku memanggil kalian bertiga Mbakyu, bukan Nimas, sebab aku yang paling muda di antara kalian."
"Kakang Harsanto, mengapa engkau diam saja? Apa kau sudah mengetahui?" Meswari bertanya.
"Emmhh... kejadian di Pasir Awi Koneng memanglah kira-kira sebelas tahun yang lalu. Sejak ia bertemu, ia bilang bahwa itu adalah hari kelahirannya. Awalnya aku ragu dan mengira berbohong, jadi aku bisa menebak sebagian hal," Harsanto menerangkan.
Semua terdiam. Banyak hal mengejutkan terjadi. Sungguh aneh dunia ini. Diam-diam Gita Jayasri dan Meswari kecewa. Ada rasa getaran aneh dalam hati mereka. Mungkin itu yang dinamakan cinta, tapi masakkah mereka mencintai seorang pemuda yang jauh di bawah usia mereka? Cinta datang secara aneh dan tak terduga. Cinta itu buta, sebab bila cinta tidak buta, orang jelek tidak akan ada yang cinta. Cinta itu mahal, sebab jarang orang miskin dapat dicintai orang kaya. Cinta itu indah, itulah sebabnya ada istilah bercinta. Cinta itu senjata, sebab dengan cinta orang dapat menjarah makanan plus tubuh. Cinta itu modal, itulah awal dari istilah modal cinta.
Tiba-tiba gerimis turun mengusik mereka. Anehnya, mereka tak beranjak seakan menikmati deraian air hujan itu. Tanpa sadar, Gita Jayasri bersenandung dalam senja yang gerimis dengan air hujan.
"Derai hujan basahi bumi,
Rumput-rumput liar menyambut bahagia.
Namun hati yang layu kian membeku,
Membiru jadi batu.
Lamunanku lepas menembus batas,
Menabrak arah seruak culah.
Kilat menyambar hati nanar."
Entah mengapa Gita Jayasri berhenti dan menatap Meswari penuh arti. Meswari tertawa, ia menyambung.
"Dari hati yang terdalam,
Helai nafasku terhenti.
Bila ingat dirimu hati ini berdebar,
Seakan aku di dekatmu.
Darah ini membeku,
Saat aku menatap bayangmu.
Jiwaku runtuh hancur,
Seakan tiada lagi harapan
Untuk selalu bersamamu."
Meswari menghela napas, ia diam merenungi setiap patah kata yang keluar dari bibirnya. Semuanya begitu serba aneh dan ajaib. Kata-kata itu keluar dari bibirnya begitu saja.
Sagara Angkara diam saja. Bukan waktunya ia mengurus hal percintaan. Baginya saat ini adalah mencari Gardapati dan berusaha mengarahkannya ke jalan yang sudah disepakati bersama dalam dunia persilatan.