Chapter 48
Tiada dendam baginya. Yang ada sekarang hanya kasihan mengingat orang yang berperan dalam membentuk mentalnya sedang berada dalam kegelapan persepsi dalam benaknya.
Meski tak mampu mengubah tingkah polah, setidaknya bisa membantu mengarahkan pada jalan yang bertentangan dengan tiga golongan saat ini.
Harsanto menatap langit yang sedang berduka, jingga menatap kosong pada air mata langit yang menerpa wajahnya. "Semua diam, semua bisu." Pantai selatan, sebuah pantai yang terkenal dengan keangkeran dan kemistikannya.
Pasir putih permadani kerajaan alam terbentang, dengan pohon tembakau dan kelapa melambai dipermainkan angin yang berembus beraroma garam.
Debur ombak bersatu dalam nada, berlatarkan hamparan bunga air.
Samudra nan luas menjadi mata pencarian para pelayan.
Indah dipandang mata, indah dirasakan hati, keresahan sirna musnah.
Tak ada kerisauan dalam hati.
Hanya sebuah perasaan nyaman yang menyeruak ke dalam dada.
Malam terasa dingin menusuk tulang, membangkitkan bulu roma di kuduk.
Gemerlap air dipermainkan cahaya bulan tampak begitu mempesona mata seorang gadis cantik berbaju nila.
Astadewi berdiri termenung menatap samudra luas, baju nilanya berkibar-kibar dipermainkan angin.
Di belakangnya, Antari dan Anudhari berlatih silat bangau sakti.
Peluh sudah membasahi pakaian mereka.
Tak lama kemudian, keduanya berhenti dan duduk memeluk lutut di samping Astadewi.
"Dewi, sudah saatnya kita kembali. Dewi menatap samudra luas tanpa bergeming, adakah yang mengganjal hatimu?" tanya Antari.
Astadewi tak menjawab. Ia malah bergumam, "Kala kupandang bulan di awang-awang, bersinar indah di atas mega mengambang.
Kucoba lebur dalam indahnya.
Menepis semua galau di dada.
Desir angin pantai menghalau mimpi.
Membawa pergi janji tak pasti.
Cinta dan cintaku terbawa pergi, menjauh dari jangkauan hati, di mana sumpah mati.
Bersama cinta meraih asa, menyulam rasa tak terbatas masa, indahnya hari berujung lara.
Kasih, mengapa kau tinggalkan rindu, rindu yang tak pasti.
Rindu yang membuat sebuah penantian?" Anudhari diam, begitu pula Antari.
Ketiganya diam dalam lamunan masing-masing.
"Ayo, kita pergi!" ajak Astadewi.
"Baik, Dewi!" Keduanya menjawab serentak.
Astadewi berjalan di depan, matanya begitu lara. Sudah berapa purnama ia mencari dua orang yang masih melekat dalam benaknya? Dicari, namun yang dicari tetap tak pasti.
Ketiganya melangkah ke dalam hutan bakau, disambut oleh binatang liar penghuni hutan itu.
Tak begitu lama kemudian.
"Set!" Astadewi mengangkat tangan kanannya.
Kedua pelayannya berhenti.
Segera Astadewi menyelinap ke balik pohon. Meski tak berkata, kedua pelayannya tahu bahaya.
Mereka segera menyelinap ke dalam semak.
Tak lama kemudian, muncul dua orang perempuan setengah baya berbaju serba merah dan serba hitam.
"Mbakyu Siska, apakah kau sudah memprediksikan di manakah harta rampasan yang mereka simpan?" tanya perempuan berbaju serba hitam.
"Belum. Dua maling macan itu benar-benar keras kepala. Meski kita sudah menawan dan menyiksanya, tak sedikit pun mereka menyerah."
"Ehm, apa sebaiknya kita tidak pergi dari tempat ini, Mbakyu? Bukankah akan berbahaya bila kita meninggalkan mereka di gua pohon bakau itu?"
"Jangan khawatir, hutan bakau ini adalah hutan yang sangat ditakuti masyarakat sekitar. Tak akan ada yang berani masuk kemari."
"Baik, jika itu memang keputusan Mbakyu, mari pergi."
Kedua perempuan itu segera pergi meninggalkan hutan itu.
Dada Astadewi bergemuruh hebat ketika mendengar nama "dua maling macan".
Masih terekam jelas dalam benaknya percakapan kedua orang yang dicarinya sewaktu di hutan larangan.
Tanpa menunggu kedua pelayannya, ia segera melompat lari menuju ke tempat kedua perempuan itu datang. Seperempat mil kemudian, ditemukannya sebuah mulut lorong yang terbuat dari akar pohon bakau yang melingkar.
"Apakah ini tempatnya?" gumam Astadewi sambil melangkah masuk.
Tak ada rasa takut dalam pikirannya. Ia masuk dengan langkah lebar. Berkat tenaga dalamnya yang tinggi, ia bisa melihat dalam kegelapan itu.
Setelah berkelok-kelok, sampailah ia di sebuah ruangan yang membuatnya miris dan sedih.
Dilihatnya seorang lelaki dengan berewok yang memenuhi wajahnya, dada yang bidang, kekar, dan berbulu lebat. Penuh dengan luka cambukan, tergantung di dinding gua.
Sedangkan yang satunya lagi, seorang lelaki berambut pelontos dengan perut buncit penuh garis merah bekas cambukan.
Kedua orang itu sama-sama tergantung, wajah mereka kusut masai.
Astadewi berkaca-kaca. Pedang beronce merahnya dicabut dan disabetkan pada rantai itu hingga putus.
Kedua lelaki itu tak bergeming. Sekujur tubuhnya yang terluka memiliki berbagai macam luka.
Lukanya yang baru tampak masih mengucurkan darah, itulah sebabnya yang membuat mereka pingsan.
"Oh, Kakang Adi, Kakang Danenra!" gumam Astadewi sedih.
Astadewi memanggul keduanya dengan susah payah. Untunglah tenaga dalamnya yang tinggi bisa membantunya, meski terlihat seperti anak-anak menyeret ibunya.
"Dewi... Dewi..." Terdengar dari luar gua teriakan Antari dan Anudhari.
"Kalian diam di tempat!" Astadewi berteriak dari dalam gua.
Mendengar teriakan dari dalam gua, Antari dan Anudhari beranjak mendekati mulut gua dan menunggu Astadewi.
Begitu sinar bulan menyoroti Astadewi, mata keduanya melotot melihat sosok yang penuh luka di pundak kanan dan kiri Astadewi.
"Bantu aku membawa mereka!" perintah Astadewi.
Gemuruh ombak di kejauhan masih terdengar, gemerisik pohon dan hantu malam masih terdengar, malam semakin pekat.
"Byuuurrss!" Debur ombak menabrak karang.
Di atas karang di tengah laut itu mengepul asap putih tipis.
Jika diperhatikan lebih jelas, kepulan asap itu keluar dari tiga ubun-ubun manusia.
Antari dan Anudhari duduk manis memeluk lutut, memperhatikan Astadewi yang sedang mengobati Danenra dan Adi Praja.
Astadewi menarik kedua tangan dan membuka matanya.
Wajahnya pucat pasi, matanya lesu.
Ia bangkit sempoyongan dan duduk di antara Anudhari dan Antari.
Kedua tangan disimpan di paha dengan posisi jari telunjuk dan ibu jari membentuk huruf O.
Helaan napasnya mulai teratur, bibirnya bergetar, entah apa yang terjadi. Adi Praja dan Danenra masih belum juga sadarkan diri.
Luka-lukanya mulai kering, wajahnya tak lagi pasi seperti tadi.
Tak tahan lagi, Antari berkata, "Nimas Anudhari, masih ingatkah ketika kita menjadi budak di Keluarga Maheswara?"
"Ehm, bukankah dulu kita juga sering mendapat perlakuan yang sama seperti kedua lelaki itu, Mbakyu? Belum lagi kita dijadikan budak seks mereka?"
"Benar, kita harus bersyukur mendapat majikan seperti yang sekarang. Bukan hanya menganggap kita seperti sahabat, dia juga memberikan apa yang seharusnya diberikan kepada sesama derajatnya."
"Tapi, Mbakyu?"
"Tapi apa?!"
"Gara-gara kita pernah dijadikan budak seks, rasanya sekarang pun akan sulit menghilangkan kebiasaan itu, tubuhku sudah gatal," keluh Anudhari.
"Membicarakan itu, aku pun sama!" keluh Antari.
"Mengapa harus bersedih bila itu sudah terjadi? Mengapa harus mengeluh bila masih bisa dilakukan? Dulu ataupun sama, waktu tak pernah dan tak akan pernah menjadi alasan, semuanya tergantung manusia itu sendiri." Astadewi yang entah sadar sedari kapan, menyela.
Antari dan Anudhari terkejut, wajah mereka sungguh merona merah karena malu.
Burung camar menyaksikan itu dengan acuh. Ikan-ikan masih terhanyut dalam belaian samudra.
Tak ada yang memperhatikan, hanya Tuhan yang tahu akan percakapan itu.
"Ugh?" Danenra dan Adi Praja terbangun.
Dari raut wajahnya terlihat kekagetan melihat samudra membentang di depannya.
Keduanya berpaling, dilihatnya tiga gadis cantik duduk berjajar di samping mereka.
"Perempuan jahanam!" pekik Danenra.
Dengan perputaran yang tidak seberapa cepat, ia membalikkan badan menghadapi ketiga gadis itu.
Kaki kiri mengikuti langsung pada perputaran itu, sehingga yang tadi bersila kini setengah berjongkok.
Kepalan kiri disimpan di pinggang, sedangkan tangan kanan dengan tenaga penuh melakukan suatu dorongan ke depan.
Ini merupakan sikap "Harimau Menggeliatkan Tubuh".
"Pattss! Wusss!" Dari telapak tangannya mengeluarkan seberkas sinar perak menyilaukan, diiringi sebuah kesiuran angin yang maha dahsyat.
"Hiaaa... hupp... hup!" Astadewi, Anudhari, dan Antari melompat bersalto di udara.
"Bleggar!" Sinar dan angin itu menghantam karang hingga sebagian hancur berantakan.
Danenra pasang sikap lagi hendak menyerang, namun Adi Praja menahan.
"Kakang, tunggu sebentar!" Danenra membatalkan serangan.
Benaknya mulai berpikir, apakah ketiga gadis itu memang sekomplotan dengan dua orang perempuan yang menyiksanya.
"Kakang Danenra, tega sekali kau menyerangku!" Astadewi yang sudah berdiri di atas karang berteriak.
Keyakinan Danenra semakin goyah. Ya, suara itu masih ia kenal, namun entah di mana.
"Nona, siapakah engkau ini? Rasanya aku mengenal suaramu, namun wajahmu sama sekali aku tak mengenal." Adi Praja mewakili.
"Hah?" Astadewi menghela napas maklum lalu menimpali.
"Masih ingatkah, Kakang, dengan seorang gadis yang Kakang permainkan tubuhnya di hutan dekat jurang Mulut Dewa Neraka? Dan ingatkah Kakang pernah memberinya sebuah gelar "Dewi Asmara Berwajah Lugu"?"
"Astadewi..." gumam keduanya berbarengan.
"Kakang!" Astadewi melompat memeluk Danenra sambil berpekik spontan.
"Aku merindukan kalian," katanya.
"Masak hanya dia yang kau peluk, Nimas!" Adi Praja nyengir.
Astadewi tersenyum manis, semanis madu yang baru diperas dari sarangnya, lembut selembut sutra yang baru dipintal.
Indah seindah bunga yang sedang mekar.
Tanpa kata lagi, ia melepaskan pelukannya dan pindah ke pelukan Adi Praja yang sudah mengembangkan tangan.
Fajar menyingsing dengan syahdu dan mesra, hawa dingin semakin terasa.
Langit biru tetap menjadi harapan, bintang-bintang mulai menyelimutkan diri.
Mereka ketakutan.
Ketakutan dengan Sang Maha Perkasa, Raka Siang.