Chapter 49
Astadewi bertatapan manis dengan Adi Praja, mata sudah bertemu mata, tubuh bertemu tubuh, apalagi yang harus ditunggu.
Berbarengan dengan saling memejamkan mata, keduanya saling mendekatkan bibir, hangat terasa menyentuh relung jiwa.
Bibir membuka mengantarkan pedang paling tajam di dunia.
Tak ada yang lebih tajam dari lidah.
Orang mengatakan lebih baik mati di bawah pedang daripada mati di bawah lidah.
Tapi itu kata orang.
Adalah suatu kebahagiaan juga jika mati di bawah lidah yang asli, bukan kiasan.
Setidaknya bisa merasakan kenikmatan dahulu sebelum mati.
Apalah jadinya bila semua itu sudah terjadi.
Tangan bergerak lincah dan cekatan.
Satu per satu kain berjatuhan.
Bertumpuk indah di atas karang.
Danenra, Anudhari, dan Antari melotot dalam sebuah gairah tersendiri ketika melihat semua itu.
Astadewi sedikit tersadar dari bayangan kenikmatannya.
"Anudhari, Antari mengapa berdiam saja. Bukankah kalian merindukan hal seperti ini? Kakang Danenra, tolong temani mereka dahulu. Baru nanti aku! Salahmu sendiri tadi menyerangku, wee!" Astadewi menjulurkan lidah sambil mengerling.
Adi Praja tertawa dan mulai menyerang lagi.
Danenra tersenyum geli.
Diraihnya Antari dan Anudhari untuk diajak mengarungi lautan asmara.
Desahan napas memburu bersatu dengan suara aneh lain bergema tak begitu nyaring, bahkan mungkin tak terdengar di sisi pantai.
Padahal di atas pantai sana beberapa orang celingukan dengan wajah gusar. Siapakah mereka? Tak lain mereka adalah orang-orang yang menculik Danenra dan Adi Praja. Siapakah mereka? Dunia Persilatan gempar, "badai dalam badai!" Kabar tentang hidup kembalinya tujuh utusan Dunia Persilatan menyeruak hingga pelosok-pelosok negeri.
Belum mereka bernapas atas kedatangan Perkumpulan sesat yang berseteru.
Dara Sesat Air Terjun Balumbang dan Ratan Wasana.
Kini hadir pula tujuh utusan Dunia Persilatan yang muncul dalam wajah-wajah kembali muda.
Ada apakah sebenarnya ini? Tak ada lagi pesta, tak ada lagi kegembiraan di kala malam.
Begitu kegelapan datang, penduduk segera menutup pintu dan jendela rapat-rapat.
Hening dan sepi bagai kuburan.
Malam itu adalah malam matahari, malam yang paling mengerikan saat ini.
Dari sekitar daerah Hutan Seribu Jalan yang paling ditakuti oleh para penduduk sana, berdatangan berbagai macam orang.
Di sekelilingnya tampak ribuan orang berpakaian prajurit mengepung hutan yang hanya sekitar seratus hektar itu membentuk lingkaran yang rapi.
Prajurit kerajaan siap dengan tameng di kiri dan tombak di kanan. Kuda perkasa di belakang mereka ditumpangi para perwira gagah perkasa.
Pedang panjang di tangan kanan, keris di tangan kiri. Sementara di belakang para prajurit, di setiap sudut tampak para gadis berpakaian ketat warna putih bercadar berdiri gagah di ranting pohon dan atap bangunan siap menyerang bila komando diturunkan.
Masuk ke dalam rimba di pusat hutan, Gardapati yang memakai topeng wajah semasa ia keluar jurang, dan dilapisi dengan topeng ketua Ratan Wasana yang biasa memimpin, sebagaimana yang telah dituturkan oleh Kakek Bermulut Racun.
Arya memakai topeng wajah aslinya.
Sungguh aneh, topeng wajah asli di atas wajah asli.
Aneh, bagi yang tak tahu perkara, tidak bagi yang mengetahuinya. Saat ini Arya memakai wajah Iblis Dunia Persilatan.
Maka dari itu ia memakai topeng wajah aslinya.
Di hadapan mereka tampak ratusan, bahkan mungkin ribuan orang berseragam serba hitam dengan ikat kepala warna-warni berdiri dengan senyuman di wajah.
Para gadis tampak cekikikan di pangkuan mereka.
Tuak dihidangkan. Makanan disuguhkan. Pesta siap dimulai.
"Hadirin sekalian!"
"Telah tiba bagi kita untuk berbahagia. Setelah kita berjuang untuk yang kesekian tahun, akhirnya kita dapat memetik hasilnya pada hari ini. Mari bersulang?" Gardapati mengangkat gelasnya.
"Heeaa...! Hidup Ratan Wasana! Hidup!" teriak mereka serentak.
Gardapati meneguk tuaknya dari gelas bambu dan mundur ke belakang.
Gardapati menepuk pundak Arya dan masuk ke dalam sebuah ruangan. Kedatangan mereka rupanya disambut oleh Kakek Bermulut Racun.
Ia menyeringai dalam sebuah senyuman licik.
"Selamat... selamat," katanya sambil menyalami keduanya.
Gardapati sama sekali tak mengeluarkan ekspresi.
Dingin laksana es saja ia duduk di meja bersama Arya.
Sosok-sosok hitam berjubah sampai kepala mengelilingi keduanya.
Entah menjaga atau apa, tak ada yang tahu.
Kakek Bermulut Racun tersinggung dengan sikap dingin Gardapati.
Tapi, ia adalah sosok orang yang licik. Tak lama ia akan menunjukkan kemarahannya itu.
Kakek Bermulut Racun melihat Gardapati membisiki Arya, lalu keduanya membuka tutup guci tempat penyimpanan tuak.
Bau harum semerbak seketika tersebar luas menyambar hidung.
Gardapati mengulurkan gelas bambunya kepada Kakek Bermulut Racun, katanya, "Mari bersulang bersama kami?" Kakek Bermulut Racun menerima gelas bambu itu, lalu mengendusnya ke depan hidung, serunya dengan tertawa besar, "Boleh, boleh. Terima kasih atas perhatian pemimpin. Lalu apalagi yang akan dilakukan pemimpin selanjutnya sampai-sampai mengumpulkan segenap anggota kita di markas besar?"
Gardapati tertawa ringan, katanya, "Rahasia langit mengapa harus dibocorkan, mengapakah kau ingin tahu sekarang? Bukankah tahu nanti dan sekarang itu sama saja?" Kakek Bermulut Racun tersenyum kecut, "Memanglah hamba hanya seorang budak yang berada di bawah pemimpin, tak semestinya hamba menanyakan itu kepada pemimpin."
"Jika memang tahu, mengapa kau bertanya?" sindir Gardapati tajam.
Perlahan-lahan ia dorong telapak tangannya ke depan, maka gelas bambu di atas telapak tangannya itu tahu-tahu terbang lurus ke depan, seolah-olah disangga dari bawah, pelan-pelan maju ke depan Arya.
Sementara cangkir itu tiba di depan Arya kira-kira terpaut satu setengah kaki, mendadak berhenti sendiri terus berputar-putar seperti gangsingan di tengah udara.
Dari jauh sekonyong-konyong Arya sedikit mengibas dan mengayunkan kedua tangannya sambil berkata, "Biarlah orang tua dahulu yang minum, tidak baik yang muda mendahului yang tua." Karuan gelas bambu yang berputar berhenti di tengah udara itu sedikit bergetar, maka terlihatlah sepercik tuak keluar dari dalam gelas terus melesat ke arah Kakek Bermulut Racun.
Kakek Bermulut Racun duduk tenang tak bergerak, tiba-tiba ia mengayunkan sebelah tangan memapak ke depan, kontan tuak itu kena ditampar berpercik menjadi titik-titik kecil berterbangan balik menungkup ke arah Gardapati.
"Aku orang tua hanyalah seorang rendah saja, tidak berani mendahului ketua." Daya terbang titik kecil tuak itu mengeluarkan desir angin yang keras berpencar lebar, maka dapatlah diperkirakan berapa besar tenaga yang dikerahkan oleh Kakek Bermulut Racun.
Gardapati bergelak tawa, sikapnya yang sudah dingin tadi bertambah dingin. Jari tengah dan telunjuknya menyanggah pantat gelas bambu miliknya sambil duduk tenang tak bergerak. Tiba-tiba percikan tuak itu semua tersedot masuk ke dalam cangkir, suaranya berbunyi tak-tik pelan-pelan sangat menusuk pendengaran.
Di saat lain, sekali menenggak ia habiskan tuak di dalam gelas bambu itu, serunya dengan tertawa dingin, "Huahaha kau benar, kau yang berkedudukan rendah tidaklah pantas meneguk tuak penghormatanku." Berubah rona wajah Kakek Bermulut Racun, sambil menyeringai ia berkata, "Bagus sekali, cuma kau pun jangan dapat bersimaharaja selamanya. Tak dapatkah kau merasakan sesuatu dalam tubuhmu?" Gardapati mengangguk, "Benar, aku merasakan sesuatu." Arya mengernyitkan keningnya.
Kakek Bermulut Racun tertawa sadis, ejeknya, "Tidak apa-apa, cuma sedikit kutambahi sesuatu." Jawaban Kakek Bermulut Racun seketika membuat Arya semakin mengernyitkan kening, wajahnya terlihat cemas memperhatikan Gardapati.
"Mengapa kau melakukan itu?" Geram Arya marah.
"Haha! Kalian terlalu bodoh menuruti permintaanku. Peran kalian sudah cukup. Pergilah ke neraka!" Arya mengedarkan pandangan. Dilihatnya sosok-sosok hitam berkerudung mencabut senjatanya masing-masing.
Gardapati tenang saja, malah ia mendengus dingin, "Bodoh!" Ejeknya.
"Heh!" Kakek Bermulut Racun tercengang atas ejekan Gardapati.
"Kau pikir aku tak tahu bahwa kau sudah menggunakan telapak beracun bunga surga? Kau terlalu bodoh sampai tak melihatku juga melakukan sesuatu dengan gelas bambu itu."
"Apa-apa maksudmu?"
"Ketika kau menampar tuak, diam-diam kau kerahkan ilmu telapak beracun bunga surga. Jadi dengan sendirinya tuak itu berubah menjadi tuak yang beracun. Maka diam-diam aku memanaskan gelas bambuku. Itulah sebabnya ketika tuak itu masuk ke dalam gelas berbunyi nyaring. Dan ketika aku hendak meminumnya, aku mendidihkannya hingga menjadi uap tipis. Tuak Kabut Salju ini memang mengeluarkan asap tipis, jadi kau sama sekali tak curiga bahwa aku hanya pura-pura minum saja."
"Kau... kau!" Kakek Bermulut Racun menuding Gardapati, Gardapati tersenyum mengejek.
"Dan satu hal lagi. Alasanku mengumpulkan seluruh anggota di sini, aku hendak membasmi mereka. Sebenarnya aku tahu siasat licikmu. Diam-diam aku membuat rencana, dengan mengikuti kehendakmu dan memupuk kekuatan baru bisa membuatmu mati kutu. Adalah hal yang sulit bagiku untuk membunuh setiap anggotamu di setiap perguruan yang sudah kau tanam. Tapi tidak bila semua itu sudah tampak di muka bumi. Huahahahaha!" Air muka Kakek Bermulut Racun berubah pucat pias, salah langkahnya telah membuat ia kehabisan napas. Itu belum seberapa ketika mendadak sesuatu yang mengguncang jiwanya datang lagi.
"Brak!" Pintu terbuka. Yang membuka itu adalah lelaki berjenggot tipis tanpa kumis, rambutnya diikat dengan seutas tali berwarna emas.
"Pasukan kerajaan datang menyerang!" Teriaknya.
"Apaaa!" Pekik Kakek Bermulut Racun, lalu menatap Gardapati dengan buas.
"Cincin Dewa melingkar menembus rimba," kata Gardapati dingin.
Maksud dari Cincin Dewa adalah para prajurit pilihan kerajaan, melingkar menembus rimba maksudnya adalah mengepung sambil datang menyerang ke dalam rimba.