Chapter 50
"Inilah saatnya. Dalam rimba muncul pusaran air," kata Gardapati lagi kepada Arya. Ia bersuit nyaring, "Fyuuiiiiiiiiittsssss!"
"Heaaa! Trangg! Tring! Arghh!" Dentingan pedang dan jeritan dari kalangan pesta terdengar, membuat wajah Kakek Bermulut Racun semakin kelam.
"Kau memasukkan pengkhianat pada perkumpulan ini," desis Kakek Bermulut Racun.
"Itulah yang dinamakan 'dalam rimba muncul pusaran air'," ejek Gardapati dingin.
"Kau! Bunuh mereka!" teriaknya sambil mundur merapat ke dinding.
"Arya, pantau keadaan di luar, biar aku yang mengurus di sini," kata Gardapati sambil melepas topengnya.
Muncul seraut wajah yang membuat Kakek Bermulut Racun ternganga. "Pangeran Pemabuk?" desisnya.
Gardapati tersenyum mengejek. Pedang di pinggangnya dipegang. "Aku pikir Pangeran Pemabuk tak pandai menggunakan pedang!" ejek Kakek Bermulut Racun.
Gardapati diam saja, ia menatap Arya yang masih berdiam di sisinya. Arya melepaskan topengnya, membuat Kakek Bermulut Racun bertambah kaget.
"Duaaaarr!" Arya melesat menjebol dinding dan meninggalkan tempat itu, menyisakan Gardapati dengan seratus sosok hitam berkerudung dan Kakek Bermulut Racun.
"Menyerahlah!" teriaknya lagi memanasi. "Sratttt! Aahk! Brukk!" Gardapati mencabut pedangnya yang dialiri tenaga dalam. Jadi, ketika pedang dicabut, hawa pedang bermuncratan ke mana-mana. Tanpa ampun, empat orang musuh terjungkal mati.
"Siapapun yang berani memainkan aku, tak akan kubiarkan ia bernapas sehembus pun," kata Gardapati takabur. Pedangnya dilintangkan di samping pinggang. Matanya tajam menatap pergerakan lawan.
"Bunuh dia!" komando Kakek Bermulut Racun. Serempak, seratus sosok hitam itu datang mengepung Gardapati.
"Heaaa!" Dengan teriakan nyaring, Gardapati menyabetkan pedang beronce kelabunya. "Sraattt!" Satu musuh terbelah tubuhnya. Gerakan pedangnya cepat bagai halilintar dan ganas bagai seribu harimau. "Brukk! Gubrakk!" Satu per satu musuhnya bergelimpangan mandi darah.
"Tapp!" Gardapati melompat dan menjejak pundak lawan, membuatnya terbang di udara. Begitu mencapai tanah, "Srattttt!" Leher musuhnya putus. Belum ia membalikkan tubuhnya, "Seet!" tiga buah pedang menyerang punggungnya. Gardapati melompat dengan posisi punggung ditempelkan satu buku jari di pedang lawan. "Buuukkk!" Sikut Gardapati mampir di wajah salah seorang lawannya.
"Hiyaaaa! Sratt, sratt, sratttt!" Berbareng teriakan melengkingnya, tubuhnya diputar dan pedangnya disabetkan. Tiga buah sabetan membuat tujuh orang mati dengan usus berhamburan. Gardapati mencekal kerah baju orang yang terdekat dengannya dan dibantingkan hingga tulangnya remuk.
"Bruaakkk! Ukhh, bruukkk!" "Jangan panik, lawannya hanya satu orang!" teriak Kakek Bermulut Racun menyemangati, sementara dalam batinnya ia menggumam, "Apaan ini? Seratus orang prajurit pilihanku tak berdaya menghadapi satu orang saja. Kemampuannya benar-benar mengerikan."
Gardapati mengertakkan giginya. Wajahnya benar-benar terlihat seperti seekor harimau kelaparan, menatap tujuh orang yang bergerak di depannya.
"Maju!" teriak mereka sambil menyongsongkan tombak.
"Tapp!" Gardapati melompat menginjak tombak itu. Pedangnya datang menyabet, "Sraatttt!" Sekali sabet, enam orang di depan mati dengan perut dan dada sobek. Pedang dipulangkan, "Sratttt!" Empat orang tersisa tanpa mampu melakukan serangan balasan mati dengan leher hampir putus.
"Hosshh! Hosshh!" Setangguh-tangguhnya Gardapati, tenaga satu orang tak dapat dibandingkan dengan seratus orang. Nafasnya memburu, keringatnya bercucuran.
"Dia lelah, manfaatkan kesempatan langka ini! Syutt! Syuttt!" Pisau terbang melesat ke arahnya. "Trang! Trang!" Gardapati menangkis setiap pisau yang mengarah padanya.
Mendadak terdengar bentakan, "Mati kau!" Gardapati berpaling, dilihatnya empat sosok hitam berjubah melemparkan tombak dan hendak mencabut pedang. "Eaakkkhhhh!" Gardapati memekik nyaring, sekali memutar tubuh dan memutar pedang, empat orang itu mati mengenaskan.
"Jika dibiarkan seperti ini, bisa-bisa nafasku habis sebelum membunuh pak tua itu." Gardapati menyimpan pedang di pinggangnya. Kedua tangannya mengepal. Kaki kanan dimundurkan, tubuh sedikit jongkok. Tangan kiri menjuntai di dekat lutut, sementara tangan kanan berada di sisi pinggang.
"Hiaa!" Dari sekelilingnya, sisa dari mereka menyerang serempak.
"Tapak Dewa Persilatan!" Seketika Gardapati memukulkan tinjunya ke tanah. Begitu dekat telapak tangannya dibuka, hawa putih membentuk telapak tangan mengembang. "Bleeegarrrr! Drukkk, drakk, byurr, drakk, arghhaaa!" Begitu hawa itu menyentuh tanah, bumi bergetar gempa. Tempat itu meledak tanpa ampun. Bangunan megah itu hancur berantakan, debu mengepul tinggi.
Begitu debu menghilang, tampak Gardapati berdiri gagah. Seratus sosok hitam berkerudung bergelimpangan mati. Ada yang mati tertembus kayu, ada yang tertindih, ada juga yang mati terserempet hawa.
Kakek Bermulut Racun menatap Gardapati dengan buas. Matanya berubah merah menyala. Perlahan namun pasti, ia berjalan mendekat. Keduanya berhadapan. Mata mereka beradu, hawa kematian menyeruak ganas. Siapapun yang ada di sana pasti akan merasakan dadanya sesak.
"Heaaa!" Berbareng teriakan nyaring, Kakek Bermulut Racun memukulkan kepalan kiri yang sudah berubah menjadi hitam. Gardapati tertawa mengejek, pukulan tangan kiri lawan dihindarkan ke samping sambil menangkis dengan telapak kanan.
"Plakkkk!" Benturan nyaring terdengar. Gardapati mengangkat kaki kanan dan tangan kiri menjuntai terkepal. Tangan kanan Gardapati dihentakkan membuat tangan lawan kehilangan keseimbangan, lalu berputar cepat sekaligus melakukan tamparan dengan punggung tangan kanan. Itu disusul dengan pukulan memutar pada tangan kanan yang ditujukan pada daerah perut lawan.
"Bukkk!" Meski tangan kiri Kakek Bermulut Racun melakukan tamparan, itu ditangkis dengan penguncian tangan kanan Gardapati.
"Ukhh!" Kakek Bermulut Racun kehilangan keseimbangan.
"Mereka datang!" teriak para penjaga yang tak mengetahui kericuhan di dalam. Meski terdengar benturan, mereka menyangka itu adalah pertarungan pertandingan karena di tempat itu memang disediakan panggung adu kepandaian. Siasat Gardapati memang jitu.
"Tuan Anggabaya, tampaknya mereka jauh lebih kuat dan banyak dari dugaan kita."
"Ukhh, tak apa-apa, pikirkan saja, pasti kita akan menang," kata Perwira Anggabaya bernada ragu.
"Lihat pasukan kerajaan itu, lihat langkah mereka yang ragu-ragu. Sepertinya mereka tak yakin akan menang," bisik salah satu anggota Ratan Wasana berikat kepala perak.
"Serang! Bunuh mereka!" teriak mereka serempak. Pedang dicabut dan serempak menyongsong para prajurit yang menyerang. Ratusan penjaga Ratan Wasana datang menyerang.
"Mereka datang!" teriak orang yang bertanya kepada Bhayangkara Anggabaya tadi.
"Mu... mundur!" teriak Bhayangkara Anggabaya.
"Eh?" Pasukannya bingung.
"Ayo cepat lari mundur, kita kan dibunuh!" teriak Bhayangkara Anggabaya.
"Uwaaaaa!" teriak pasukan prajurit sambil mundur.
"Mereka malah lari, ayo kejar! Kejar, jangan biarkan seorang pun lolos!" teriak lelaki berikat kepala emas.
Begitu mereka lari, tiba-tiba Bhayangkara Anggabaya bersuit nyaring. "Swuiiiitt! Ng!" Lelaki berikat kepala emas tadi tertegun.
Mendadak, "Creppp!" sebatang anak panah mampir di leher anak buahnya. "A... apa? Hah?" Ketika menatap langit, tampak ribuan titik hitam meluruk ke arah mereka.
"Jrebb! Jrebb! Jreb! Jrebbb! Ugh! Aaghh! Huegghh! Oahggg!" Satu per satu anggota Ratan Wasana bergelimpangan. "Draukkk! Drukk!" Suara derap langkah beserta kuda yang berbaris rapi bergema.
"Pasukan Sayap Kanan Bhayangkara Bhadrika!"
"Ini... ini jebakan!" teriak lelaki berikat kepala emas. Belum selesai keterkejutannya, tiba-tiba terdengar bentakan, "Pasukan sayap kiri Mahasura!"
"Semua pasukan putar arah!" teriak Bhayangkara Anggabaya.
"Bagian kepala Bhayangkara Anggabaya!"
"Angga... Anggabaya!" pekik lelaki berikat kepala emas itu. Siapakah yang tak mengenal Bhayangkara Anggabaya? Seorang Bhayangkara muda yang gagah berani, melanglang ke barat, menyongsong ke timur. Kini anggota Ratan Wasana dikepung dari ketiga sisi. Bisa ditebak ketakutan mereka.
"Pentang panah!" teriak Perwira Mahasura.
"Bidik!" teriak Perwira Bhadrika.
"Tembaakk!" komando Bhayangkara Anggabaya.
"Wussss! Srett!" Ribuan anak panah seperti jarum yang ditabur dari ketiga sisi berhamburan, menusuk dan membunuh setiap orang yang mencoba menangkisnya.
"Barisan perisai tombak maju, pasukan pemanah mundur!"
"Srett!" Pasukan pemanah mundur. Prajurit yang memakai tombak di kanan dan perisai di kiri maju.
"Serbu! Heeaaaa!" Laksana air bah yang tumpah dari ketiga sisi, mereka datang menyerbu. Anggota Ratan Wasana seperti semut dalam kubangan. Hanya satu jalan mundur yang bisa dilakukan.
"Mun... mundur!" teriak lelaki berikat kepala emas.
"Pasukan berkuda, serbu!" Bhayangkara Anggabaya mengomando. Pasukan prajurit adalah sebuah senjata perang yang disiplin. Begitu dikomando, para prajurit yang memegang tombak mundur. Pasukan berkuda maju dengan pedang dan senjata masing-masing. Begitu pasukan berkuda lewat, pasukan tombak mengiringi dari belakang, diikuti pasukan pemanah.
"Heeaaa!" Bhayangkara Anggabaya berteriak lantang. Keris luk sembilan belasnya dicabut dari sarung. Cahaya merah berkelebat.
"Sreett! Urrghh! Arghhh!" Empat jiwa melayang. "Seettt!" Sebuah pedang menusuk belakang Bhayangkara Anggabaya. Bhayangkara Anggabaya berkelit mepet dengan punggung kuda. Keris diputar dan ditusukkan tepat di tenggorokan lawan.
"Jraaassshhhh! Bruukk!" Tanpa ampun, orang yang menyerang itu ambruk dan terinjak-injak kuda yang lewat. Itulah ganasnya peperangan. Kedua belah pihak berguguran. Pertarungan itu begitu hebat; siapa yang lebih cepat membunuh, dialah yang masih hidup—berburu dan diburu.