Chapter 51
Perwira Mahasura menggunakan formasi sisik ikan untuk menyerang dengan dahsyat. Senjata pedangnya laksana ribuan ekor ular yang mengamuk, menyabet ke sana kemari. Perwira Bhadrika menyusun anggotanya dengan teknik tiga lapis kematian. Pasukan pemanah berada di belakang, membentuk formasi bertingkat yang memungkinkan mereka menghabisi lawan yang mencoba kabur. Busur panah dengan tembakan beruntun menyergap bagaikan butiran pasir yang ditebarkan; tertangkis satu, tidak dengan yang lain.
Pasukan di tengah membentuk barisan badai tombak. Mereka maju dan mundur secara bersamaan; maju untuk menusuk, lalu mundur untuk digantikan oleh kawan lainnya. Formasi ini membuat anggota Ratan Wasana kebingungan. Seperti ombak yang menggulung, barisan itu tidak pernah kosong karena yang mati segera digantikan. Sementara itu, di barisan paling depan, terdapat pasukan pemecah yang mengandalkan kemampuan diri untuk menembus gelanggang kumpulan anggota Ratan Wasana.
Di tempat lain, perwira-perwira gagah dari kerajaan memimpin penyerbuan menjelang fajar. Karena menang jumlah, pasukan kerajaan tiba di markas pusat yang sedang kacau balau. Pertarungan massal yang hebat pun terjadi; ledakan tenaga dalam dan dentingan senjata beradu meriah, sementara teriakan membahana bersahutan.
Di sebelah selatan, Perwira Saktika yang bersenjatakan tongkat gada menyerbu dengan ganas. Ujung tongkatnya yang memiliki bendulan besar berduri membuat siapapun yang berada di dekatnya mati dengan mengenaskan—ada yang kepalanya pecah, leher putus, tangan terputus, atau tubuh yang remuk. Mengingat tombak adalah rajanya senjata karena lebih panjang dari jangkauan tangan, lawan sudah kehilangan nyawa bahkan sebelum sempat menyerang. Ia bagaikan banteng yang terluka.
Di sebelah utara, Perwira Tibra yang bertubuh kekar mengamuk dengan bandulan besi yang ukurannya dua kali lipat kepala manusia. Tak ada senjata yang mampu menahan hantaman senjata Perwira Tibra. Tubuhnya yang tinggi besar terlihat mencolok seperti seekor kerbau yang menggulung domba. Jika bandulannya mengenai tanah, bumi pun bergetar hebat.
Di sebelah barat, Perwira Wirasana menyabetkan pedang melengkung dari negeri padang pasir ke pundak lawan. Di sekelilingnya, mayat bertumpuk. Tak diketahui berapa banyak jiwa yang telah melayang di atas pedang berwarna merah darah itu. Di sampingnya, Perwira Pragata memutar pedang laksana kilat dengan lincah di atas punggung kudanya. Tak ada pedang yang sanggup menerobos kepungan serangannya. Kuda yang ditungganginya pun terlatih, menendang dan mengamuk layaknya sang tuan.
Di mulut Hutan Seribu Jalan, Astadewi, Dyah Krusina yang berwujud pemuda tampan, Aryani, Antari, dan Anudhari menunggu dengan gelisah.
"Mbakyu Dyah, kapankah kita akan menyerang?" tanya Astadewi.
"Tunggu komando dari Kakang Arya. Bersabarlah, Nimas," jawab Dyah Krusina.
Di sebelah selatan, Ratih yang memakai wujud ayahnya berdiri tenang di atas pohon yang dipermainkan angin dengan tatapan tajam. Di sampingnya, Danenra dan Adui Praja berdiri tenang, sementara di belakangnya, anggota Dhara Sesat Air Terjun Balumbang menunggu komando. Di sebelah barat, Iblis Kembar Bumi menunggu dengan gelisah hingga tanah yang dipijaknya amblas setinggi mata kaki. Di sebelah timur, Si Gila dari Neraka Hitam duduk tenang di pangkuan seorang gadis, seolah tak peduli langit akan runtuh karena baginya kesenangan diri adalah yang utama.
"Gelombang Rembulan Menyapu Rimba!" suara Arya terdengar lantang dari kejauhan.
Astadewi beserta rombongan segera menyerbu bagaikan kilat. Ratih berteriak, "Sapu bersih!" Si Gila dari Neraka Hitam melompat dari pelukan dan melesat maju menembus rimba, diikuti oleh gadis yang tadi memangkunya. Arya, yang melihat semua pasukan telah menyerbu, menatap awan hitam di langit. "Sebentar lagi pagi, jika dibiarkan terus, rencana awal bisa gagal," gumamnya.
Arya melenting pergi, berlari di atas dedaunan pohon menuju ke hadapan Bhayangkara Sadajiwa.
"Tuan, saya tangan kanan Pangeran Gardapati, memberi hormat," ucap Arya.
"Aku Sadajiwa. Tak perlu peradatan yang tidak perlu. Terangkan saja perintah Pangeran," jawab Sadajiwa.
"Cincin Dewa Menyapu Bersih," perintah Arya.
Bhayangkara Sadajiwa mengangkat tangan, dan perwira di sebelahnya segera membidikkan anak panah berapi ke langit. "Serbu! Bunuh habis mereka!" teriaknya. Prajurit dari segala penjuru datang menyerang, menghabisi setiap anggota Ratan Wasana yang masih hidup maupun sekarat.
"Keparat kau!" teriak Kakek Bermulut Racun sambil menyusut darah di bibirnya. Gardapati tersenyum mengejek dan meladeni serangan sang kakek dengan jurus-jurus cepat dan mematikan. Setelah pertempuran sengit, Gardapati mengeluarkan jurus pamungkas, "Telapak Iblis Dunia Persilatan!"
"Celaka, Telapak Iblis Dunia Persilatan!" pekik Kakek Bermulut Racun yang segera mengeluarkan "Perisai Yin dan Yang" untuk menahan serangan. Ledakan hebat terjadi hingga debu mengepul di mana-mana.
Saat debu menghilang, Arya berdiri di seberang Gardapati dengan mata hijau yang menyala dan hawa kematian yang menyelimuti tubuhnya. Astadewi, Iblis Kembar Bumi, Si Gila dari Neraka Hitam, dan Ratih segera mengepung sang kakek yang kini berdiri sempoyongan.
"Tujuh Utusan Dunia Persilatan, kalian hanyalah manusia yang hidup dari kematian karena dendam," ucap Gardapati. "Sekarang!"
Ketujuh orang itu mengerahkan ilmu masing-masing secara bersamaan. Gardapati menghantam dada Kakek Bermulut Racun dengan "Guci Peremuk Jantung", disusul Astadewi yang menotok tulang ekornya. Serangan beruntun seperti "Telapak Neraka Hitam", "Purnama Serigala Melolong", "Hati Emas Telapak Beracun", "Jeratan Akar Bumi", dan "Api Hijau Membakar Langit" menghantam sang kakek hingga ia tewas seketika.