Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 52

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 52

Kakek Bermulut Racun menjerit setinggi langit hingga menggelosor di tanah. "Suatu saat nanti, Maharaja Dunia Persilatanlah yang akan berakhir seperti ini," kata Gardapati dengan seram.

"Huahahaha!" Si Gila dari Neraka Hitam tertawa latah. Akhirnya, keenam orang lainnya ikut tertawa. Pagi yang berbau hawa kematian kini ramai dengan tawa yang menggelegar.

"Dewi, semua musuh telah dihabisi," Antari dan Anudari menghentikan tawa itu. Bukannya kepada yang lain, kedua pelayan Astadewi itu malah melapor kepada tuannya. Astadewi tertawa gembira; ia berjingkrakan seperti anak kecil.

Gardapati melangkah mendekati Bhayangkara Anggabaya yang berdiri gagah berdampingan dengan Bhayangkara Sadajiwa. "Terima kasih, Paman berdua! Jika tak ada Paman berdua, mungkin penyerbuan ini tidak akan berjalan semulus ini. Paman berdua memang hebat. Saya merasa kagum dengan kemampuan memimpin pasukan Paman," Gardapati merangkapkan kedua tangan.

"Pangeran Gardapati, seharusnya kamilah yang memujimu. Kau mirip sekali dengan ayahmu, Pangeran Gardasakti. Memang Pangeran Gardasakti terkenal dengan siasat-siasat perangnya yang luar biasa. Sudah tugas kami membantumu. Lagipula, mendiang Gardasakti adalah sahabat kami bermain silat semasa kami kanak-kanak karena kami adalah pengawal pribadinya," kata Bhayangkara Anggabaya.

"Berapakah jumlah korban pasukan kita, Paman?"

"Hemm, hanya seratus orang saja. Seratus delapan puluh luka-luka. Rupanya persiapan lawan sangat lemah," kata Bhayangkara Sadajiwa.

"Itulah, karena merasa dirinya sudah hebat dan tak ada yang bisa mengalahkan, rasa mawas dirinya hilang. Oleh karena itu, hal tersebut harus kita jadikan pelajaran. Nasihat saya, jangan pernah mencampuri urusan persilatan bila itu tak menyusahkan rakyat. Bila tidak, kerajaan pun bisa jadi sasaran." Kedua Bhayangkara itu tersenyum maklum, sebab keduanya sudah mendengar rencana hebat yang dipersiapkan anak bekas majikan mereka. Sudah tentu mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk menghindari bentrokan dengan Pangeran yang satu ini. Jika bentrokan dilakukan, bahaya mahabesar akan terjadi. Tak akan ada tempat lagi bagi mereka, tak ada lagi pangkat, dan tak ada lagi harta yang menjadikan mereka begitu dihormati.

"Tentu!" jawab keduanya serempak.

***

Di sebuah rumah makan yang paling terkenal di Tanah Jawa, baik itu karena masakan atau pelayanannya, terdapat sebuah rumah makan bernama "Widati Kusuma". Di dalamnya, berbagai macam pendekar, baik kelas atas maupun kelas bawah, berkumpul. Di sudut selatan, Sagara Angkara dan kawan-kawannya duduk berhadap-hadapan. Makanan yang lezat terhidang di meja mereka, tetapi mereka makan dengan kebisuan yang mencekam. Sejak Sagara Angkara mengatakan bahwa ia masih berumur belia, semuanya menjadi bisu.

Empat orang lelaki bertampang lesu masuk ke rumah makan itu. Wajah mereka terlihat suram, menandakan bahwa keempat lelaki itu sedang berada dalam kegalauan. Dilihat dari golok yang tergantung di pinggang, jelas keempat lelaki itu dari kalangan rimba persilatan.

"Sediakan tuak empat guci, cepat!" seru seorang dari mereka. Tangannya dengan keras menggebrak meja di depannya. *Brak!* Setelah itu, ia menelungkupkan kepalanya di meja. Kepalan tangannya erat, seakan ingin menghancurkan jari-jarinya sendiri.

Pemilik kedai, dengan wajah heran, tergopoh-gopoh menghampiri mereka. "Maaf, Tuan sekalian, minta tuak apa?" tanyanya.

"Apa saja! Jangan usik kami lagi, kami sedang galau dengan keadaan dunia persilatan saat ini!" bentak orang yang tadi menggebrak meja.

"Ba... baik," jawab pemilik kedai. Lalu, tanpa banyak tanya lagi, dia tergopoh-gopoh berlalu. Tidak lama kemudian, bersama seorang pelayan lain, ia membawa empat guci tuak pesanan keempat orang itu. Setelah kedua pelayan berlalu, lelaki tadi membuka percakapan. Dengan cekatan layaknya pelayan profesional, ditaruhnya empat guci tuak itu di meja.

"Kakang Argono, sebenarnya apakah maksud Kakang memanggil kami bertiga kemari? Kami sudah tahu itu merupakan sebuah berita yang menyedihkan, tapi kami tak mengetahui seperti apakah jelasnya," tanya seorang lelaki berbaju kuning kemerahan.

"Benar," kedua lelaki lain yang berbaju hijau dan biru dongker membenarkan.

"Tadi pagi, aku mendapatkan kabar bahwa Ratan Wasana sudah hancur di tangan Dhara Sesat Air Terjun Balumbang dan Pasukan Kerajaan yang dipimpin oleh Bhayangkara Sadajiwa dan Bhayangkara Anggabaya."

"Apa?" "Hah?" "Kakang bilang Ratan Wasana sudah hancur?" pekik ketiganya berbarengan. Tentu saja pekikan itu mengagetkan seluruh pengunjung yang ada. Tak ada yang bersuara; semua memasang telinga dengan konsentrasi tinggi, termasuk Sagara Angkara dan kawan-kawan. Meski gaya mereka acuh, diam-diam mereka menajamkan pendengaran.

"Benar. Bahkan aku menyaksikan sendiri markas mereka di Hutan Seribu Jalan telah hangus dibakar para prajurit."

"Hah, jika Ratan Wasana hancur, bukankah itu adalah hal yang membahagiakan? Mengapa Kakang mengatakan berita sedih?"

"Apa kau tak merasa bahwa sudah lama Iblis Dunia Persilatan menghilang dari dunia persilatan?"

"Mungkin sudah mati," jawab lelaki berbaju hijau.

"Salah! Bahkan kini Iblis Dunia Persilatan dengan ilmunya telah membangkitkan tujuh utusan dunia persilatan dari kubur."

"Apa? Bagaimanakah bisa? Apakah Kakang sudah melihatnya sendiri?" tanya lelaki berbaju biru dongker.

"Tidak, tapi itulah yang dikatakan para prajurit kerajaan. Kabarnya, Pangeran Pemabuklah yang memimpin pasukan itu. Selain itu, Ketua Dhara Sesat Air Terjun Balumbang juga memiliki hubungan yang erat dengan Iblis Dunia Persilatan. Dan yang paling membuat sedih..."

"Hah, apa? Tak kusangka semuanya masih berselubung dalam satu wadah," gumam lelaki berbaju kuning kemerah-merahan.

"Lanjutkan, Kakang," kata lelaki berbaju hijau.

"Ketua Ratan Wasana digantung di Desa Kranjiseto. Sekujur tubuhnya terdapat luka tujuh jurus: Guci Peremuk Jantung, Asmara Kematian Puncak Birahi, Telapak Neraka Hitam, Purnama Serigala Melolong, Hati Emas Telapak Beracun, Jeratan Akar Bumi, dan Api Hijau Membakar Langit."

"Aihh..." Ketiga orang yang lain terperanjat. "Di bawahnya terdapat tulisan dengan cara melesakkan tanah sedalam dua tombak. Untuk sekilas, orang tak tahu lesakan itu adalah tulisan, namun ketika seseorang melihat dari atas, kontan yang di bawah semuanya gempar."

"Luar biasa! Dari cara pembuatan tulisannya saja, orang bisa tahu seperti apakah kekuatan si pembuat tulisan itu. Lalu, apa isi tulisan itu?"

"PADA SUATU HARI, MAHARAJA DUNIA PERSILATAN AKAN MENDAPATKAN GANJARAN YANG SAMA, BAHKAN MUNGKIN LEBIH DARI INI."

"Apa!"

"Oleh karenanya, aku berkesimpulan bahwa ini adalah awal kerusuhan dunia persilatan," keluh si lelaki baju hitam yang sedari tadi membawa kabar buruk itu.

Rumah makan itu gempar. Berbagai macam tanggapan dari orang keluar begitu saja dan tidak dapat disaring. Satu per satu pengunjung rumah makan itu keluar untuk menuju desa tempat kejadian perkara. Sagara Angkara dan yang lain tak luput; mereka segera membayar dan berlalu.

Kabar burung memang selalu berlebihan; yang satu menambahkan satu, yang satunya lagi menambahkan satu lagi. Akhirnya, cerita tentang hancurnya Ratan Wasana dan pesan peringatan tantangan sudah jauh melebihi aslinya. Jika diibaratkan makanan, maka kabar itu sudah menjadi tak jelas rasanya karena kelebihan garam, merica, lada, dan rempah lainnya. Di setiap pelosok desa, pasar, pos ronda, dan sawah terjadi pembicaraan hangat mengenai kabar burung ini. Mereka tak mempedulikan keaslian cerita itu; yang penting mereka senang karena mendapatkan kabar yang begitu luar biasa. Atas kejadian ini, Maharaja Dunia Persilatan dibuat galau karena gusar, marah, dan sedih yang bercampur aduk. Usia tuanya kini berubah menjadi begitu banyak urusan. Kaum golongan putih merasa diejek dan dicoreng mukanya. Sedih perasaan mereka, namun apalah daya? Mereka berada di tempat terang, sedang musuh berada di tempat gelap.

***

Matahari sudah sepenggalah tingginya, jalanan di Desa Kranjiseto tampak begitu padat akan lalu lintas manusia yang berdesakan. Dari raut wajah mereka, terdapat tiga raut muka yang dapat diklasifikasikan menjadi dua: orang yang penasaran dan orang yang memiliki raut wajah gembira atau muram.

Dalam keadaan seperti ini, selalu ada keuntungan yang dimanfaatkan oleh orang lain, contohnya pedagang. Di sekitar jalanan sampai desa, pedagang makanan hingga kain tampak memadati setiap tempat. Dari kejauhan, terdengar derap suara kuda memecah kerumunan. Tingkah penunggang itu tepat sekali dengan peribahasa "gajah masuk kampung".

Seperti yang terjadi sebelumnya, rombongan berkuda ini pun berhenti di depan pagar, di mana di tengah pagar itu terdapat seorang lelaki berpenampilan mesum, telanjang bulat, dan penuh dengan luka, digantung di pohon *Araucaria*. Sagara Angkara yang sudah tiba di sana memperhatikan dengan saksama, lalu wajahnya berubah.

"Maharaja Dunia Persilatan?" gumamnya.

Seorang kakek berpenampilan serba putih turun dari kudanya. "Dari manakah kami dapat melihat tulisan itu?" suaranya lirih, tapi memiliki wibawa yang sangat kuat.

Seorang lelaki yang berdandan ala pedagang menyahut dengan hormat, "Silakan Tuan-tuan, ikut saya."

Maharaja Dunia Persilatan, Wakil Maharaja, dan dua kakek tua lainnya turun dari kuda. Mereka segera mengikuti lelaki yang berdandan ala pedagang itu. Semuanya naik ke atas undak-undakan yang terbuat dari bambu. Sepertinya, peristiwa itu memang dijadikan lahan pengeruk keuntungan, terbukti dengan berdirinya berbagai pilar segitiga dari bambu khusus bagi para pendatang yang ingin melihat tulisan tersebut.

"Itulah!" tunjuk lelaki itu ke bawah.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment