Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 53

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 53

Mereka melongok keluar. Hal pertama yang terlihat adalah sebuah coretan tak jelas di tanah. Terdengar helaan napas panjang dari hidung Maharaja Dunia Persilatan beserta para kawannya.

"Apa kesimpulanmu, Yang Mulia?" tanya Gajahsora. Maharaja Dunia Persilatan tidak menjawab, ia membisu seribu bahasa. Hanya raut wajahnya saja yang berubah.

Di pilar lain, Sagara Angkara bersama kawan-kawannya berdiri menatap tulisan itu. "Menurut pandangan kalian, apa yang akan terjadi dan apa yang sedang dilakukan pembuat tulisan ini?" tanya Harsanto tiba-tiba kepada keempat kawannya.

"Aku rasa, ini merupakan sebuah siasat untuk membuat golongan putih merasa waswas," jelas Meswari ragu.

Sagara Angkara menyambung, "Kutambahkan lagi, ini bukan hanya siasat untuk menciptakan kewaswasan pada setiap orang, namun juga awal dari kekacauan yang akan terjadi." Keterangan itu membuat Gita Jayasri terkesiap.

"Jadi, kesimpulan dalam benakku benar adanya!" gumamnya.

"Memang apa yang kau simpulkan, Nimas?" tanya Harsanto.

"Mengapa tulisan itu harus ditulis di atas tanah hingga melesak sampai dua tombak? Padahal bisa ditulis di media lain dan ditempelkan. Aku sungguh tak tahu maksudnya. Mungkin untuk menantang Maharaja Dunia Persilatan bahwa yang menantangnya bukan orang sembarangan, atau mungkin sedang merencanakan siasat lain. Terus terang, aku tidak bisa mengambil kesimpulan apa pun. Maharaja Dunia Persilatan bukanlah orang yang boleh dipandang remeh oleh siapa pun! Namun kini, ia menjadi sasaran utama," ujarnya tegas.

"Sepertinya kita harus menunggu di sini untuk beberapa waktu," ujar Sagara Angkara dengan suara lirih.

"Mengapa?" tanya Jingga heran.

"Sebab aku ingin melihat siapakah yang paling diuntungkan dalam kericuhan ini. Pasti setidaknya ia akan menengok kemari barang sekejap. Lihatlah mayat yang digantung itu. Sudah dua hari dua malam ia tergantung di sana namun belum juga berubah. Aku menduga mayat itu telah dibalsem dengan racun Mayat Abadi."

"Racun Mayat Abadi?" Harsanto heran.

"Itu adalah racun yang dapat membuat tubuh mayat tidak membusuk selama seratus hari. Alasan mengapa tak seorang pun menurunkannya bukan karena tak kasihan, namun tak bisa. Setelah aku bertanya pada penduduk sekitar, kabarnya ada seseorang yang meninggal kaku setelah memegang tambang itu."

"Luar biasa, apakah pohonnya juga beracun?" bisik Gita Jayasri.

"Batang dan rantingnya ya, namun daunnya tidak."

"Mengapa tidak dipanah atau dipotong dengan pedang terbang saja, Kakang? Kakang bilang jika sudah memiliki kemampuan tenaga dalam yang mumpuni, dapat melempar dan mengendalikan pedang sesuka hati di udara," Jingga memberi usul.

"Usul yang bagus," kata Sagara Angkara. Jingga tersenyum senang karena idenya dipuji.

"Namun, apakah pedangnya sanggup memotong tambang itu?" kata Sagara Angkara lagi. Jingga cemberut.

"Apakah pedangku ini tak sanggup memotong tambang butut itu?" Meswari mencabut pedangnya.

"Jika bicara memang mudah. Meski terlihat rapuh, sesungguhnya itu adalah tambang kain mayat," Sagara Angkara tertawa.

Harsanto terperanjat. "Mustahil! Apakah memang tambang itu ada? Bukankah itu hanya mitos?"

"Tak ada nama jika tak ada barangnya, tambang itu memang benar adanya!"

"Apa keistimewaan tambang itu sebenarnya?" tanya Gita Jayasri.

"Tambang itu terbuat dari serat kulit mayat orang yang mempelajari ilmu kebal. Tak mempan dengan senjata, tak mempan oleh tenaga dalam," jelas Harsanto.

"Salah! Bukan mayat, tapi tubuh yang masih hidup. Sebab jika sudah menjadi mayat, maka tambang itu tidak akan sempurna. Mendiang Iblis Penenun Kulit memang orang yang sangat kejam. Ia menotok korbannya hingga sulit mati. Semakin takut korbannya, semakin kuat serat kulit itu," tambah Sagara Angkara.

Keempatnya bergidik ngeri, tak menyangka akan mendengar dan melihat barang hasil pencucian darah.

"Apakah kita akan menunggu di sini seperti ini? Sungguh membosankan," Jingga memberengut.

"Tidak. Kakang akan mengajarkan jurus baru untuk mempertahankan dirimu," Sagara Angkara membujuk. Jingga sumringah; ini memang yang ia tunggu-tunggu.

***

"Sudahlah, Yang Mulia. Kita kembali ke Padepokan Gandring. Di sana kita rundingkan langkah selanjutnya." Wajah suram kakek berjanggut sedagu itu tampak melembut mendengar suara barusan.

"Ya, tapi sebaiknya kita tidak jauh dari tempat ini. Kita harus melihat situasi sejenak," katanya seraya melangkah menuruni undakan bambu. Ketiga pengiring Maharaja Dunia Persilatan langsung mengikuti dari belakang.

Desah angin sepoi menerpa dedaunan hijau, membuat suara gemerisik yang bisa membuat orang terlena dalam kelembutannya. Maharaja Dunia Persilatan dan komplotannya naik ke punggung kuda, lalu berlalu mencari penginapan. Di perjalanan tak ada kejadian istimewa selain merenung diam. Namun, begitu tiba di penginapan satu-satunya di desa itu, keempatnya terkejut melihat seorang lelaki mengenakan baju kelabu menghadang di hadapan mereka.

"Hieee!" Kuda keempatnya meringkik bersamaan sambil mengangkat kaki depan.

Lelaki itu berwajah biasa saja, tidak membuat orang berpikir macam-macam kepadanya. Kedatangannya tidak diiringi wibawa, juga tidak dengan kegarangan atau kebengisan. Semuanya berjalan normal, tak ada yang aneh dari perawakannya. Hanya tubuh kurus layaknya seorang petani.

"Kedatangan kalian sudah kutunggu. Ramalan tentang kalian datang kemarin oleh Nyonya, benar-benar tepat." Suara itu datar dan tanpa tekanan nada, membuat orang bergidik.

"Siapa kau, Kisanak? Mengapa kau menghadang kami?" tanya Maharaja Dunia Persilatan mencoba bersikap ramah.

"Aku bukan siapa-siapa, hanya pembawa pesan saja," jawab penghadang itu dengan nada yang tak sedap didengar.

"Katakan apa pesanmu." Dari balik bajunya, ia mengeluarkan sebuah bungkusan kecil lalu diserahkan kepada Maharaja Dunia Persilatan.

Tanpa ragu, Maharaja Dunia Persilatan menerima bungkusan itu lalu memeriksanya dengan hati-hati. Hal pertama yang dilihatnya adalah tulisan indah berbau harum, berikutnya kalimat yang menyatakan sebuah kata sandi.

"Sebuah bunga bangkai telah tumbuh, lalat-lalat datang mengerubungi, namun tak ada yang sadar bahwa bahaya sebenarnya sedang mengintip. Ini bukanlah tentang asmara, namun tentang rasa benci dalam hati. Salah tindak mengakibatkan rentetan karma. Nasib... nasib..."

Wajah Maharaja Dunia Persilatan benar-benar berubah. Ketiga orang pengiringnya, yakni Gajahsora, Dewa Pedang Kelana, dan Dewa Batang Pedang mengerutkan kening.

"Siapa sebenarnya majikanmu?"

"Nyonya Kabar Langit!"

"Ah, apakah beliau adalah keturunan mendiang Si Pengabar Langit?"

"Benar!" jawab penghadang itu dengan nada semu. Sekejap kemudian, bayangannya sudah menghilang entah ke mana. Keempatnya saling pandang. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan ke penginapan dengan wajah yang semakin keruh.

***

Sementara itu, sebelum Maharaja meninggalkan tempat itu, di atas bukit tampak tujuh orang berdiri berjajar rapi.

"Mengapa kita harus menunggu waktu yang begitu lama, Kakang? Bukankah sekarang pun kita bisa membunuh setan tua itu?" bangsawan berhati emas alias Dyah Krusina berkata sengit.

"Mengapa harus buru-buru, Nimas? Tindakan terburu-buru akan melewatkan hal yang terkecil. Padahal, hal terkecil itulah yang akan menjadi tonggak keberhasilan kita. Pepatah mengatakan, 'cepat tangan terjembakan, cepat kaki terlangkahkan, cepat mulut terkatakan'. Artinya, jika melakukan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu dapat mendatangkan kesusahan. Akibatnya, yang diinginkan kandas, sesuatu yang ada malah habis."

Bangsawan berhati emas alias Dyah Krusina diam. Bagaimanapun, meski Pangeran Pemabuk alias Gardapati adalah orang yang licik, ia patut disandingkan dengan peribahasa 'cincin di jari nan suasa karena pandai melenggangkan', yang berarti seseorang yang mulutnya kurang baik akan tampak berharga jika dimanfaatkan dengan baik.

"Kakang, meski kau condong ke mana rebah, namun kau bukanlah orang yang 'hidung dicium pipi digigit'. Aku cinta padamu," Astadewi berkata tanpa basa-basi.

Gardapati tertawa ringan. "Dasar, itu tidak masuk ke dalam pembahasan kita saat ini, Nimas."

Astadewi tidak menjawab, ia hanya menyilangkan tangannya dengan senyuman manis—semanis madu bercampur racun.

"Memang perlu peralatan yang memadai untuk mendebik mata parang. Jangan sampai kita salah langkah. Apa rencana kita?" Arya alias Iblis Bermata Hijau mengusulkan pendapat.

"Kita lakukan sedikit demi sedikit saja. Lagipula lama-lama akan menjadi bukit," Si Gila dari Neraka Hitam berkata sambil berdendang. Wajahnya yang laksana dendang gonggong telur begitu geli untuk dipandang.

"Lebih baik kau diam saja," Iblis Kembar Bumi berkata seram. Suaranya yang bersamaan dari dua mulut begitu tak sedap didengar, apalagi tanpa intonasi. Benar-benar membuat kuduk berdiri.

"Benar, kau benar. Kita lakukan sedikit demi sedikit," Gardapati tersenyum cerah.

"Wah, wah, sepertinya kau mendapat ide gila lagi?" sindir Si Gila dari Neraka Hitam.

Gardapati tidak menghiraukan sindiran itu. Ia segera menitahkan sebuah rencana yang membuat bulu kuduk berdiri, "Arya, ini adalah daftar orang yang membunuh suhu almarhum. Bantai semuanya kecuali yang termasuk ke dalam Dewan Dunia Persilatan." Arya menerima selembar kulit kambing, lalu membacanya.

"Nimas Dyah, kau ingat siapa saja yang ikut membunuh kedua orang tuamu?" Dyah Krusina mengangguk. "Bantai semuanya kecuali yang termasuk ke dalam Dewan Dunia Persilatan."

"Nimas Astadewi, kau urus orang-orang di pantai selatan sana."

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment