Chapter 55
"Memangnya kamu pikir untuk menjadi pendekar itu semudah membalikkan telapak tangan?" Harsanto, Gita Jayasri, dan Meswari tersenyum mendengar obrolan kecil mengenai tenaga dalam dari keduanya.
Kenangan lama semasa mereka belajar terbesit di pelupuk mata mereka. Tak sadar, seulas senyum menyungging indah di bibir mereka.
"Dan yang ketiga!" "Kata Kakang hanya dibagi dua?" Jingga menyerobot.
Sagara Angkara tertawa. "Sengaja Kakang mengatakan dua. Sebab yang ketiga ini tidak dapat dimasukkan ke dalam kelompok yang kedua itu."
"Oh, begitu. Kalau begitu yang ketiga itu apa?"
"Ingin tahu, apa ingin tahu banget?" Sagara Angkara menggoda.
Jingga cemberut. Tanpa diminta untuk kedua kalinya, Sagara Angkara segera menjelaskan apa itu yang ketiga.
"Yang ketiga adalah hawa murni."
"Tunggu, bukankah hawa murni itu sama saja dengan tenaga dalam?" Meswari menyela dari kejauhan. Sagara Angkara memonyongkan bibirnya. "Sebenarnya aku ini mengajar siapa? Jangan menyerobot ucapan orang, dong!"
Meswari cemberut, sementara Gita Jayasri dan Harsanto tertawa kecil.
"Kakang, ayo lanjutkan!" perintah Jingga.
"Baik, Tuan Putri!" Jingga memerah.
Lalu Sagara melanjutkan penjelasannya, "Sering kali orang tidak dapat membedakan istilah tenaga dalam murni dengan hawa murni, sehingga sering dianggap sama, padahal berbeda. Termasuk Nimas Mbak Meswari."
Sagara menghentikan ucapannya sebab Meswari melemparkan buntalan kain ke arahnya. Melihat Meswari tidak melanjutkan tingkahnya, Sagara Angkara melanjutkan, "Cakra energi sebagai sumber tenaganya pun berbeda. Tenaga dalam murni dihasilkan oleh cakra-cakra tubuh di antara pusar dan tulang ekor. Itulah yang dihasilkan dalam olah napas tenaga dalam yang penekanannya pada pernapasan perut bagian bawah. Sedangkan hawa murni dihasilkan oleh tulang belakang (sumsum tulang belakang) dan mengalir keluar melalui ujung tulang belakang (tulang ekor) atau melalui saluran di pangkal tengkorak (tulang leher bagian atas) menuju ke otak."
"Biasanya hawa murni dikembangkan dengan cara meditasi, seperti dalam meditasi pembangkitan energi kundalini. Khusus untuk cakra energi tubuh yang berada di ujung tulang belakang (tulang ekor), secara alami energi yang dihasilkannya adalah apa yang disebut hawa murni. Hawa murni adalah pemicu munculnya tenaga dalam murni dan tenaga dalam kanuragan. Hawa murni terkait erat dengan aktivitas sukma manusia, menjadi penunjang energi kehidupan tubuh manusia."
"Secara alami energi hawa murni ini mengalir keluar ketika seseorang menguap. Energi hawa murni keluar dari tulang punggung mengalir ke atas, melewati tulang leher dan pangkal tengkorak menuju ke otak. Kemudian energi ini merangsang saraf-saraf atau cakra-cakra di leher dan kepala, otot-otot dan urat saraf mengejang, lalu manusia menguap. Jika hawa murni mengalir keluar melalui ujung tulang ekor dan merangsang cakra-cakra di sekitar bawah perut, maka yang mengejang adalah otot-otot di bagian kaki dan perut. Atau bila yang mengejang adalah otot-otot di perut, tangan, dan dada, maka hawa murni itu mengalir keluar dan merangsang cakra-cakra di sekitar dada."
"Bila seseorang kehabisan tenaga dalam murni atau tenaga dalam kanuragan, maka hawa murni ini akan bergerak untuk mengisi kekosongan energi. Atau bila seseorang kehabisan daya tenaga untuk bertahan hidup, misalnya dalam kondisi kedinginan yang parah, energi ini akan mengalir dengan sendirinya untuk memberikan kehangatan. Kecuali bila orang tersebut berusaha melawan hawa dingin tersebut, maka aliran energi ini akan terhambat dan akibatnya orang tersebut akan menggigil kedinginan. Begitu juga yang terjadi pada orang-orang yang kelelahan, energi ini akan mengalir dengan sendirinya untuk memulihkan tenaga."
"Bagaimana caranya supaya kita tidak menghambat energi itu kala kita kedinginan?" tanya Jingga.
"Bila kamu menggigil kedinginan, berarti energi dan kekuatan tubuhmu dalam kondisi tidak mampu melawan hawa dingin yang kau alami itu. Cobalah untuk menenangkan batinmu. Sambil menahan dan menekan napas di perut bagian bawah, cobalah untuk mengikhlaskan bahwa kau memang harus mengalami kedinginan. Mudah-mudahan kemudian akan ada aliran energi (hawa murni) yang membuatmu tidak menggigil lagi. Kau masih tetap kedinginan, tetapi kau tidak menggigil lagi."
"Setelah tidak menggigil lagi, teruskan menahan napas dan tekan di perut bagian bawah, cobalah dengan beberapa gerakan tangan sambil tetap menekan napas, kau alirkan energi ke seluruh tubuh supaya tubuhmu tidak kedinginan lagi. Tujuannya adalah untuk membangkitkan dan menyalurkan hawa hangat yang berasal dari energi cakra di ujung tulang belakang, pusar, dan dada. Hawa murni menjadi penunjang energi kehidupan tubuh manusia. Energinya mengisi energi kehidupan organ, pembuluh darah, urat saraf, dan semua sel tubuh manusia, serta menunjang proses metabolisme tubuh."
"Aktivitas energi hawa murni terkait erat dengan roh atau sukma manusia. Karena itu, orang yang sedang merogoh sukma tidak boleh terlalu lama sukmanya berada di luar tubuh. Jangan sampai kemudian ketika sukmanya kembali, tubuhnya telah mati. Begitu juga yang terjadi pada orang yang pingsan, tak sadarkan diri, atau sedang koma; aktivitas energi hawa murni ini akan melemah. Aktivitas energi hawa murni ini akan kuat pada orang-orang yang hidupnya bersemangat, sehingga tubuhnya lebih segar, berenergi, tidak cepat lelah, dan lebih tahan terhadap penyakit."
"Seperti aku yang ceria dan bersemangat ini, Kakang. Sekarang pun aku sama sekali tak merasa capai!"
"Bagaimana kau merasa capai bila hanya diam mendengarkan! Coba jika kau yang bicara terus, mungkin sekarang kau akan merasakan tenggorokan kering."
Jingga mengkeret dibentak seperti itu. Tanpa kata, ia berlari mengambil air dan menyerahkannya kepada Sagara Angkara.
"Kau memang murid yang baik," puji Sagara Angkara sambil meminum airnya.
"Bagaimana bila dengan seseorang yang berniat untuk datang berobat kepada seorang tabib atau 'orang pintar' dan merasa yakin oleh orang tersebut sakitnya pasti sembuh, maka sebelum bertemu dengan tabib atau 'orang pintar' tersebut, orang tersebut sudah merasa tubuhnya telah sehat, sudah merasa ringan, rasa sakitnya sudah hilang atau berkurang? Bagaimanakah itu terjadi? Apakah itu juga karena hawa murni?"
"Benar. Itu terjadi demikian karena sukmanya mengsugesti kesembuhan, menyingkirkan energi negatif penyakit dalam dirinya. Sekalipun kemudian orang tersebut tidak jadi bertemu dengan tabib atau 'orang pintar' tersebut, tetapi sakitnya akan berangsur-angsur sembuh dengan sendirinya, atau sekalipun masih sakit, tetapi sakitnya tidak bertambah parah. Itulah pentingnya menumbuhkan sugesti positif kesembuhan pada orang yang sedang sakit, supaya tubuhnya tetap menghasilkan energi positif untuk menunjang kesembuhannya."
Perlu diketahui bahwa manusia memiliki unsur kimia tubuh (body chemistry) yang bernama ATP (Adenosine Triphosphate). ATP ini dapat berubah menjadi energi melalui proses metabolisme tubuh. Secara sederhana dapat ditulis sebagai berikut: O2 + ATP + energi glikogen. Energi yang dihasilkan oleh ATP tersebut sangat berlimpah-ruah, bahkan dapat dijadikan sebagai kekuatan yang luar biasa apabila manusia dalam kondisi kejiwaan tertentu, seperti terhipnotis, panik, tidur berjalan, atau trance. Selain itu, ATP juga berfungsi sebagai energi cadangan. Misalnya, setelah kita berolahraga dan kelelahan, kemudian bila diistirahatkan sejenak, tubuh kita akan pulih kembali.
Energi yang dihasilkan oleh ATP dalam keadaan sehari-hari berupa panas tubuh, membantu lancarnya penyaluran adrenalin, menghidupkan kimia tubuh untuk membentuk kekebalan tubuh (zat antibodi), menghidupkan aktivitas pencernaan, dan menghidupkan semua aktivitas organ dalam tubuh manusia. Berdasarkan penelitian, manusia dalam kehidupan sehari-hari hanya menggunakan sekitar 2,5% dari seluruh fasilitas energi tubuhnya, sedangkan yang 97,5% lainnya tersembunyi sebagai cadangan di ulu hati.
Permasalahannya adalah bagaimana cara mengoptimalkan dan membangkitkan energi yang tersimpan itu agar dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila kita mampu membangkitkan energi itu sekitar 20%, kita akan memiliki kemampuan super, misalnya IQ akan meningkat hebat, tenaga akan menjadi sangat dahsyat, lompatan menjadi semakin tinggi, kekebalan tubuh meningkat, proses penyembuhan luka terjadi sangat cepat, dapat mengobati berbagai penyakit, ketangkasan dan kecepatan gerak menjadi semakin hebat, dan masih banyak kemampuan lainnya. Bayangkan bila kita dapat membangkitkan seluruh energi cadangan tersebut, manusia dapat mengubah tubuhnya menjadi energi dan dapat melakukan apa pun yang dikhayalkan dan dipikirkannya.
Tenaga dalam atau energi cadangan adalah suatu energi yang berpusat pada saraf-saraf di sekitar ulu hati dan setelah dibangkitkan akan berkumpul pada salah satu bagian tubuh yang disebut dengan solar plexus atau plexus solaris, atau ada juga yang menyebutnya kundalini. Menurut berbagai sumber, kundalini merupakan bagian dari tubuh manusia yang berbentuk lingkaran, terdapat di antara tulang ekor dan kemaluan di bawah pusar. Bentuknya seperti ular yang sedang bergulung atau melingkar.
Sebagai catatan, solar plexus bukan merupakan organ tubuh manusia. Kundalini ini berfungsi sebagai tempat berkumpulnya energi yang dalam berbagai macam istilah disebut chi, khi, kesah, Lwee-Kang, Sin-Kang, Iwe-Kang, atau yang lazim disebut dengan tenaga dalam. Dalam hal ini perlu dijelaskan bahwa sumber tenaga dalam adalah ulu hati, bukan solar plexus seperti anggapan orang selama ini. Padahal, solar plexus adalah tempat berkumpulnya energi cadangan tersebut setelah dibangkitkan. Karena kesalahpahaman itu, orang lain memerlukan waktu yang sangat lama dalam mempelajari tenaga dalam.