Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 57

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 57

Dunia rimba hijau yang tadinya sudah keruh akibat sepak terjang Iblis Dunia Persilatan yang menebar kekacauan, kini semakin kelam diliputi suasana kekejaman dan keganasan tujuh utusan dunia persilatan yang menuntut balas dendam.

Orang-orang dalam rimba persilatan merasa ketakutan dan pucat wajahnya setiap kali seseorang membicarakan utusan dunia persilatan. "Aneh, sungguh aneh," gumam mereka. Apa yang aneh? Dunia persilatan kacau, apa yang harus dianehkan? Tentu saja ada. Lalu, apa yang harus dianehkan? Sedari tadi orang bertanya mengapa hanya dunia persilatan, bagaimana dengan para penduduk awam? Tenang, masakah dalam gejolak dunia persilatan itu para penduduk berjalan dengan normal-normal saja?

Orang-orang yang menjadi korban mereka berurutan satu sama lain. Tak ada yang bisa berjaga-jaga. Semua sibuk menyelamatkan diri. Tak ada yang bisa menduga siapa korban selanjutnya. Belum selesai kabar di barat, di timur dan di utara juga digegerkan dengan kabar terbaru; belum selesai di timur dan di utara, di selatan juga terdapat kabar yang sama.

Semua kabar menggegerkan dunia rimba persilatan, menggetarkan orang-orang dari golongan putih, golongan merdeka, dan golongan hitam. Tak pandang bulu, siapa yang menjadi korban pasti binasa. Setahun yang lalu, jago-jago dari ketiga golongan mencoba mencegah tindakan abnormal tujuh utusan dunia persilatan, namun usaha mereka sia-sia belaka. Munculnya masing-masing anggota utusan tujuh dunia persilatan membingungkan; sebentar di selatan, sebentar lagi di utara. Mereka berganti tempat seolah tahu bahwa mereka sedang diburu. Anehnya lagi, sebelum hari kematian calon korban, tak seorang pun mengetahui bagaimana mereka muncul, sehingga membuat orang-orang yang memburu kehilangan jejak sama sekali.

Siapa orang yang membangkitkan ketujuh utusan dunia persilatan itu? Tidak ada seorang pun yang mengetahuinya. Selentingan kabar murahan mengatakan itu adalah ulah Iblis Dunia Persilatan, tapi semua orang meragukannya. Orang-orang yang sudah binasa di tangan tujuh utusan itu sudah mencapai ratusan jumlahnya, baik dari kelas rendahan maupun kelas papan atas, dari golongan hitam, merdeka, maupun putih. Hanya dalam waktu dua tahun saja, sudah ada ratusan orang yang mati. Korban-korban itu merupakan jago-jago dari tempat-tempat tertentu, atau orang-orang yang mungkin tak dikenal namanya, namun sudah cukup lama berkecimpung di dunia persilatan.

Korban pertama adalah salah satu jago terkenal dari golongan hitam yang bernama Andaka atau biasa dikenal dengan nama Banteng Gunung Krincing. Dia didapati mati dengan tubuh berubah menjadi kehijauan. Dagingnya menjadi lentur tanpa tulang. Jelas sekali ia mati di tangan Iblis Bermata Hijau.

Kedua adalah kematian Cayapata atau Pendekar Lentera Kuning. Dia mati di hulu Sungai Cimantiung dalam keadaan tubuh berubah menjadi keemasan mengkilap. Hanya wajahnya saja yang tak berubah meski tidak menghitam. Mata pendekar itu melotot mengerikan seakan ingin meloncat keluar. Dialah korban Bangsawan Berhati Emas.

Korban ketiga adalah Danu Gandon, si peramal tanpa landasan. Dia mati dengan tubuh remuk. Di dada dan punggungnya tergambar sebuah guci berbentuk kukuk. Siapa lagi yang bisa berbuat demikian jika bukan Pangeran Pemabuk?

Korban keempat adalah Kirna Kambala, si Pendekar Pedang Bulan. Dia merupakan ketua dari Padepokan Pedang Bulan di Sanau Pacai. Ia mati dengan tubuh membeku, dan di keningnya terdapat luka berbentuk bulan sabit. Ini membuktikan bahwa ia tewas di tangan Setan Purnama.

Korban kelima ialah seorang pemetik bunga yang dikenal dengan nama Bunga Salju Penyerap Darah Dara di daerah Cadas Manah. Dia mati dengan kemaluan hancur dan ditemukan warga di sebuah hutan di kaki Gunung Meja. Rupanya Astadewi, sembari menyelesaikan perkara perkumpulan di pantai selatan, juga mulai mencari musuh ibunya. Namun, orang-orang tidak mengetahui pelakunya adalah Astadewi; setahu mereka, itu adalah usaha Asmara Dewi Surga.

Korban keenam adalah seorang kakek pertapa sakti dari Karimunjawa. Dia kedapatan mati dengan tubuh membusuk dan mengenaskan, sebab dari anusnya menembus sebuah akar bumi hingga tembus ke mulutnya. Yang lebih menggenaskan adalah nasib pertapa bijak dari Pulau Nusa Kambangan. Sebelum kematiannya, ia menjadi gila. Ia yang terkenal bijak sebagai pemutus perkara telah membuat kekacauan di tempat tinggalnya. Ia yang pemalu berubah abnormal, memperkosa, tertawa sendiri, dan akhirnya mati dengan tubuh berubah menjadi hitam seperti dipanggang. Ulah siapa lagi jika bukan Si Gila dari Neraka Hitam?

Dunia persilatan ramai membicarakan peristiwa tersebut. Anehnya, yang mati adalah orang-orang yang pernah terlibat dalam peristiwa besar kematian tujuh orang terdahulu. Ini merupakan pembantaian ulang. Namun, yang membuat orang menghela napas lega adalah bahwa ketujuh orang itu tidak membunuh membabi buta. Mereka hanya membunuh orang yang dituju. Jika dalam sekeluarga terdapat sepuluh orang dan yang terlibat hanya satu, maka yang mati hanya satu. Jika dua, maka dua yang mati. Ini sebuah keuntungan atau kebuntungan, tak ada yang tahu.

Mungkin saja ini keuntungan, tapi mungkin juga kebuntungan. Siapakah yang dapat menerka hati manusia? Ini merupakan kilat di dalam kilau. Suasana hari terang benderang, panas menyengat tubuh dan hati. Gerah tubuh dan gerah hati sudah menjadi jamak. Kemilau cahaya menyilaukan dari sebuah bangunan gedung mentereng yang berdiri megah dan angker di tengah-tengah.

Seorang pemuda mengenakan pakaian serba kelabu dengan caping bambu lebar sedang beranjak cepat menuju gedung besar tersebut. Jubah kelabu pemuda itu menyapu tanah. Ia berpaling menengadah melihat cuaca; aneh, sungguh aneh sekali, dalam cuaca yang begitu panas pemuda itu tampak adem ayem saja. Seolah cuaca yang menyengat kulit itu hanyalah seekor semut yang menggigit. Ia memandang gedung besar di hadapannya, ujung mulutnya mengulum senyum sadis. Sedikit pundaknya bergoyang, tubuhnya sudah melesat terbang tinggi ke udara dan langsung melewati pagar tembok yang tinggi.

Tanpa permisi, ia masuk ke dalam rumah itu. Ilmu meringankan tubuhnya sungguh luar biasa. Tanpa disadari para penjaga di kedua samping pintu, tahu-tahu ia sudah berada di dalam rumah. Dengan memutar tubuh, pemuda berpenampilan serba kelabu itu menjelajahkan pandangannya ke seluruh ruang besar tersebut.

Sebuah meja tamu terbentang di hadapannya. Terdapat sepuluh orang keluarga—ayah, anak, istri, dan suami—yang duduk di sana. Yang duduk paling kanan adalah seorang tua berambut perak dengan pakaian merah ati yang tampak mentereng dan menyilaukan, tertimpa cahaya yang masuk melalui celah ventilasi. Semua mata memandang terkejut, takut, heran, dan takjub bercampur menjadi satu.

Setelah menatap dan memperhatikan sepuluh orang di hadapannya, si pemuda langsung menghadap ke arah orang tua berpakaian merah ati itu. "Pendekar Bayangan Naga, Anda sudah terlalu lama hidup di dunia ini. Sudah tiba waktunya untukmu beristirahat dengan tenang," serunya sambil tersenyum mengejek.

Orang tua itu melotot gusar. Bibirnya bergerak seperti hendak berkata sesuatu, namun urung. Air mukanya menunjukkan rasa terkejut dan marah. Sekilas kedua biji matanya berubah beringas. "Apa maksud ucapanmu itu!" bentaknya dengan mengerahkan tenaga dalam.

Meja tamu bergetar saking kerasnya suara itu. Piring dan perabotan lainnya berguncang seolah terjadi gempa. Pemuda itu tetap tenang menghadapi murka Pendekar Bayangan Naga, seakan tidak merasakan perubahan sikap pendekar tua yang sudah melanglang buana puluhan tahun di dunia persilatan ini.

"Anda terlalu merendah. Masakah Anda yang sudah merasakan asam dan garam kehidupan tak paham dengan apa yang saya ucapkan ini?"

"Siapa kau sebenarnya, anak muda!"

"Saya Gardapati!" ucapnya sambil membuka caping bambunya. Wajah nan tampan kini terpampang di hadapan para hadirin. Senyuman sinis yang kentara muncul di sudut bibirnya.

Pucat pias wajah beberapa orang yang mengenali nama itu, di antaranya adalah dua orang pemuda dan pemudi yang sepertinya baru menikah. Gardapati mengulum senyum tawar, katanya pelan, "Jangan takut! Aku tidak akan membunuh kalian semua. Hanya orang tua yang satu ini yang takkan bisa meloloskan diri dari sini."

Pendekar Bayangan Naga menuding Gardapati seraya membentak, "Kau terlalu pongah, bocah ingusan. Kau pikir kau dapat membunuh aku semudah membalikkan tanganmu? Setidaknya aku pasti akan melenyapkan ilmu silatmu dengan kemampuanku..."

Baru lenyap suara bentakan Pendekar Bayangan Naga, seseorang yang duduk di sebelah samping kirinya bergegas berdiri dan berkata, "Kakang, biar kuberi hajaran kepadanya!" kata seorang kakek yang memiliki uban jarang. Dilihat dari wajahnya, memang keduanya terlihat cukup mirip.

"Jangan terbawa emosi, Adimas. Kita tanya dulu apakah permasalahannya." Ia menoleh ke arah Gardapati, "Ada sengketa apakah yang membuatmu datang kemari dan membuat kekacauan, anak muda?" Pendekar Bayangan Naga mencoba bersikap ramah, meski kedua pipinya bersemu merah menahan kemarahan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment