Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 58

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 58

"Sengketa apa?"

"Masih ingatkah engkau dengan seorang anak kecil yang kau hina di Padepokan Rajawali Emas karena ayahnya?"

"Kau... kau!" Pendekar Bayangan Naga menuding Gardapati. Bibirnya bergerak-gerak hendak berbicara, namun tak sepatah kata pun suaranya keluar.

"Huahaha, ternyata iblis semacammu pun pernah dihina kakakku, eh?" Gardapati memandang orang yang berkata itu. Kiranya dia adalah seorang kakek beruban jarang yang mengenakan jubah khas pertapa berwarna putih. Matanya mencorong tajam menatap wajah tampan Gardapati.

"Sebaiknya engkau jangan ikut campur, Pertapa Goa Siluman, karena aku enggan membunuh kaum keroco macammu."

"Kurang ajar!" bentak Pertapa Goa Siluman gusar. Ia membentak sambil meloncat ke udara. Di udara, ia memutar tubuh hingga tiga-empat putaran sambil melakukan tendangan memutar.

Kalem saja Gardapati memutar tubuh menghadapi Pertapa Goa Siluman ini. Sedikit ia menekuk lutut lalu menggeser mundur; ringan sekali tubuhnya ikut berputar menghindar. Berbarengan dengan itu, sebelah tangannya tahu-tahu menyelonong menjotos ke dada Pertapa Goa Siluman yang berada di udara. Tendangan lawan dengan mudah sekali dapat dihindarkan, sekaligus melancarkan serangan balasan. Tangan kiri berputar menyusul dan terus menepuk punggung Pertapa Goa Siluman.

Pertapa Goa Siluman menghentakkan napas. Tubuh yang hendak jatuh kini berbaring di udara, kedua tangannya melakukan tamparan menyilang menangkis serangan Gardapati. "Plak! Plak!"

Gardapati tidak melanjutkan serangan. Ia melompat mundur hingga setombak lalu memasang kuda-kuda menyamping dengan kedua tangan bersiaga penuh menekuk di depan tubuh. Senyum sinis Gardapati tidak menghilang, malah semakin menjadi-jadi. Kemarahan Pertapa Goa Siluman bukan olah-olah lagi. Dia berdiri sejajar dengan kedua kepalan yang diletakkan pada sisi pinggang, lalu membuka tangan ke atas dengan jari-jari terbuka. Tangan kirinya ditarik ke depan dada, disusul dengan sebuah pukulan kilat dari tangan kanan.

Tak kalah sigap, Gardapati melakukan tangkisan keluar dengan tangan kanan. Kemarahan rupanya membakar Pertapa Goa Siluman; kaki kirinya melesat menerjang hendak menghajar Gardapati. Namun, Gardapati seolah bisa menebak semua itu. Ia menghindar dengan cara merendahkan tubuh ke kiri sekaligus menangkap kaki lawan. Setelah berhasil menangkap kaki pertapa itu, Gardapati menyentil alat vitalnya dan melepaskan kaki tersebut.

Pertapa Goa Siluman terhuyung-huyung mundur sambil meringis memegang kemaluannya yang disentil. Bukannya menyerah kalah, pertapa itu malah menarik kedua tangan ke depan dada dan mengayunkan kedua tangannya ke bawah.

"Nanti dulu!" tiba-tiba Gardapati berseru menghentikan pertempuran.

Pertapa Goa Siluman segera menghentikan aksinya. "Apalagi yang ingin kau katakan?" dengus pertapa sakti namun ceroboh itu.

"Sekali lagi kau menyerang, jangan salahkan aku bila membunuhmu. Ingat, ini adalah peringatan terakhirku."

"Bocah keparat, jangan kau terlalu sombong. Biarlah aku mempertaruhkan jiwa tuaku untuk tindak kesewenang-wenanganmu itu," kata Pertapa Goa Siluman dengan gusar.

Gardapati tertawa lebar. Sekilas ia menyapu pandang ke sekelilingnya lalu berkata kepada Pendekar Bayangan Naga, "Hari ini aku sudah datang kemari. Jangan harap kau dapat melarikan diri, ingat. Tak seorang pun yang dapat dariku, si Iblis Dunia Persilatan!"

Belum lagi Pendekar Bayangan Naga membuka suara, Pertapa Goa Siluman telah menyelak, "Gelar busukmu itu tak akan membuat kami takut," jengek Pertapa Goa Siluman.

"Benarkah? Lalu mengapa kau berdiam di sana dengan lutut gemetar?" tanya Gardapati dingin.

"Brengsek! Terima pukulan siluman ini!" pekik Pertapa Goa Siluman.

Gardapati cukup terkejut melihat kepalan lawan berubah menjadi puluhan dan semuanya mengarah pada dirinya. Kedua tangan Gardapati direntangkan seperti terbang. Kaki kiri maju ke depan satu langkah. Tangan kiri bergerak menyikut sementara tangan kanan melindungi kepalan di depan dada. Selanjutnya, dengan posisi kedua kaki tetap terbuka lebar, tangan kiri lurus ke samping kiri dan tangan kanan didorong ke depan diiringi bayangan hawa telapak tangan berwarna hitam, berbau busuk dan amis.

"Kita lihat, apakah pukulanmu dapat menahan Telapak Iblis Dunia Persilatan milikku?"

Kepalan tangan Pertapa Goa Siluman yang tadinya hanya berjumlah puluhan mendadak menjadi ratusan. Namun, semua itu seperti bukit yang berubah menjadi gunung lalu diceburkan ke dalam lautan.

"Duaaaarrr!"

Kedua hawa sakti itu beradu. Kepalan tangan Pertapa Goa Siluman lenyap ditelan telapak hitam itu; sebagai gantinya, telapak itu terus menerjang tubuh Pertapa Goa Siluman hingga mencelat dan menabrak dinding. Dinding hancur berantakan, semua penjaga terkejut dan berdatangan masuk. Dinding itu bolong dengan gambar telapak tangan raksasa. Hancuran dinding dan perabotan tampak berserakan seperti di tempat pembuangan sampah.

Tampak Pertapa Goa Siluman menggeletak mati dengan tubuh menghitam. Tubuhnya menyiarkan bau busuk yang sangat menyengat. Benar-benar sebuah jurus yang sangat mengerikan.

"Kau... kau membunuh adikku!" tergagap ucapan Pendekar Bayangan Naga.

Gardapati tak menjawab, ia edarkan matanya melihat sekeliling. Tampak delapan orang lainnya sedang sibuk saling membantu membangunkan sekaligus mengangkat benda-benda yang menindihnya. Rumah yang indah megah hancur berantakan dalam satu pukulan. Jelaslah pukulan ini adalah pukulan yang diandalkan oleh Gardapati.

"Kau harus mati, laknat!" bentak Pendekar Bayangan Naga.

Gardapati tak menghiraukan orang itu. Ia tatap para penjaga yang mulai berdatangan. Hidungnya menjengek dingin. Saking marahnya, Pendekar Bayangan Naga lantas mengulur tangan kanan, jari tengahnya menjentik, "Ctik!"

"Wusshh!" Terdengarlah suara mendengung nyaring, sebuah hawa bergulung melesat ke arah Gardapati.

"Sentilan Sisik Kembar?" Gardapati mendengus, alisnya bertaut dalam. Tiba-tiba tubuhnya bergerak laksana lesatan anak panah, terus menerjang ke arah Pendekar Bayangan Naga.

"Cari mati," bentaknya.

Tenang saja Gardapati menangkis hawa itu dengan punggungnya sehingga, "Trakk, brall!" Hawa itu menabrak dinding hingga hancur berantakan.

Begitu badan Gardapati meluncur cepat, kedua tangannya lantas diayunkan ke depan. "Plak!"

Empat buah tangan beradu di udara. Gardapati berbareng di udara. Ilmu Ngambang Anginnya menopang tubuh kekar Gardapati di udara hingga terlihat seperti berbaring di tanah. Dalam keadaan beradu kekuatan, Pendekar Bayangan Naga memundurkan kaki kirinya. Maka tubuhnya dapat bertahan dengan kuat.

"Pernahkah kau membayangkan akan mengalami hal ini?" tanya Gardapati sinis.

Suatu pantangan bila dalam keadaan beradu tenaga dalam seperti itu memecah konsentrasi. Maka Pendekar Bayangan Naga diam saja. Gardapati tak mau tahu kesusahan lawan, kembali ia memancing.

"Lihatlah istrimu itu, wajahnya begitu pucat pias mengkhawatirkan kau."

Mau tak mau Pendekar Bayangan Naga meliriknya sekilas; itu adalah kesalahan fatalnya yang pertama. Sebab begitu konsentrasinya terbagi dua, Gardapati meningkatkan tenaga dalamnya hingga membuat Pendekar Bayangan Naga mundur empat langkah. Kedudukannya kritis.

"Setan licik!" maki pendekar yang sudah uzur itu.

"Haha, pada zaman ini, selain kemampuan olah kanuragan, otak pun harus berjalan seencer air yang disaring," jengek Gardapati.

"Kau pernah merasakan bumi terbalik, langit berputar?" tanya Gardapati.

"Aku tak akan tertipu lagi!" bentak Pendekar Bayangan Naga.

"Salah, aku tak menipumu!" Tak kalah garang, Gardapati membentak. Belum hilang gema suaranya, kaki kanannya terayun ke bawah. "Bukk!"

"Hoek!" Pendekar Bayangan Naga mundur empat langkah ke belakang. Dari sudut bibirnya meleleh darah segar. Tangannya membalik melolos pedang panjangnya, terus meluncur menyerang ke arah Gardapati dengan bara api kemarahan yang sudah sampai di ubun-ubun.

Gardapati juga membalikkan tangan meloloskan pedang beronce kelabu. Segera Pendekar Bayangan Naga kembangkan ilmu pedangnya yang lihai. Tubuhnya dimiringkan, kaki kanan menyelinap maju, seketika ia lancarkan serangan berantai lima-enam jurus; maksudnya hendak mendesak Gardapati jika bisa membunuhnya sekalian.

Gardapati pun tidak mau kalah wibawa. Pedang di tangannya ditarikan secepat kitiran, serempak tangan kanannya dibolang-balingkan. Selarik sinar putih berkilau meluncur bergantian saling susul; itulah Jurus Pedang Gelombang Badai yang hebat dari perpustakaan di bawah Jurang Mulut Dewa Neraka.

Untuk menyelamatkan diri, terpaksa Pendekar Bayangan Naga memutar dan menggerakkan pedangnya sedemikian cepat untuk menahan hawa pedang yang bergulung menyerangnya.

"Trang, tring, trang!" Terdengar Gardapati tertawa dingin berulang-ulang bersamaan dengan bunyi dentangan nyaring dari beradunya hawa pedang dengan pedang panjang Pendekar Bayangan Naga.

Melihat Pendekar Bayangan Naga terdesak hingga sedemikian rupa, para penjaga menjadi sengit. Segera pemimpin rumah tangga berseru memberi aba-aba, "Hayo maju semua!"

Sedari tadi, para penjaga itu sudah gatal tangan hendak turun tangan, namun mereka tak berani gegabah. Kini, mendengar aba-aba yang memberikan kesempatan untuk menghapus rasa gatal itu, segera mereka serabutan menerjang maju secara membabi buta.

"Jangan salahkan aku melakukan pembantaian besar-besaran. Kalian sendiri yang memintanya." Gardapati menggembor keras dan panjang. Tangan kanannya menarik pedangnya hingga sejajar dengan tubuhnya, mengacung ke atas langit-langit rumah itu. Sekuat tenaga, berbarengan dengan bunyi gemuruh laksana ribuan ekor tawon pindah sarang, bagai debur ombak menembus karang, sebuah hawa pedang melingkar dan berputar di sekeliling tubuhnya.

"Bret, cras! Arrrgh, ugh!"

"Pedang Gelombang Badai tingkat sepuluh! Mundur semua!" pekik Pendekar Bayangan Naga yang mengenali jurus itu seraya melompat hingga sepuluh tombak jauhnya. Tak mengecewakan ia mendapat gelar Bayangan Naga.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment