Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 59

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 59

Kendati jurus silatnya tidak terlalu hebat, ilmu peringan tubuhnya sudah disejajarkan dengan golongan kosen. Kedelapan orang yang sedari tadi menonton sudah mundur ketakutan. Meski mereka semua adalah kaum persilatan, gelar Iblis Dunia Persilatan membuat mereka terkencing-kencing hingga tak berani unjuk muka.

Lima tombak sekitar gelanggang pertempuran seketika terkurung dalam jangkauan serangan jurus yang lihai ini. Sinar perak berkelebat cepat laksana kilat hingga tiga kali, lalu lenyap tanpa bekas. Namun, akibatnya dahsyat dan mengerikan. Dalam gelanggang tampak mayat bergelimpangan; hanya mereka yang berada lebih dari enam tombak yang selamat dari amukan hawa pedang gelombang badai itu.

Pendekar Bayangan Naga terlongong-longong di tempatnya. Dengan muka pucat pias, Pendekar Bayangan Naga mendesis, "Kejam sekali! Apakah kau sama sekali tak merasa bersalah setelah membantai manusia seperti mencabut tauge ini?" Para penjaga yang berdiri agak jauh di luar gelanggang selamat dari bencana mengerikan ini. Namun, menyaksikan pemandangan yang mengenaskan tersebut, mereka tak urung berubah pucat dan ketakutan. Lama kemudian, mereka baru saling mundur keluar gelanggang.

Tinggal Gardapati yang berdiri santai dengan disangga pedangnya, seolah-olah ia tidak sadar dan tidak tahu apa yang telah terjadi barusan.

"Iblis kejam, mengapa kau membantai para penjaga yang tidak ada sangkut pautnya dengan urusan kita?" bentak Pendekar Bayangan Naga.

Berkilat mata Gardapati, desisnya dengan santai dan takabur, "Mereka sendiri yang mengeroyokku. Seandainya mereka berdiam diri di samping arena, tak mungkin aku membantai mereka."

Saking murka, Pendekar Bayangan Naga bergelak tawa menggelegar. Tiba-tiba tubuhnya mencelat mumbul laksana seekor naga terbang yang menyambar mangsanya, langsung menubruk ke arah Gardapati. Melihat terjangan yang sedemikian hebat, Gardapati dengan gesit melompat mundur. Kakinya direnggangkan menjadi kuda-kuda sejajar, tangan kanan terbuka seperti hendak mencakar, sementara tangan kirinya memegang pedang yang ditudingkan di depan lehernya sendiri.

Pendekar Bayangan Naga tiba-tiba jumpalitan dan berputar cepat di tengah udara; tahu-tahu kedua kakinya sudah menyapu ke arah Gardapati. Gardapati menggeser ke samping berbareng pedangnya menunjuk ke langit, sedang tangan kanannya mencakar mata kaki Pendekar Bayangan Naga.

"Bagus!" Pendekar Bayangan Naga berseru memuji, disusul tubuhnya yang bergerak lurus dan berhenti di tengah udara. Kedua tangannya membuka dari dalam ke luar dengan jari terbuka. Secepat kilat kedua telapak tangannya sudah menepuk ke dada Gardapati.

"Duarr!" Tempat yang dipijak Gardapati tadi hancur berantakan terkena ledakan hawa tenaga dalam dari pukulan Pendekar Bayangan Naga.

"Aku di sini," Gardapati berseru di udara.

Seperti Pendekar Bayangan Naga, Gardapati pun berdiri tegak di udara. Pertarungan darat berubah menjadi pertarungan udara. Tak begitu lama kemudian, Pendekar Bayangan Naga berkata lirih, "Kau benar-benar iblis?"

Hilang suaranya laksana geledek menyambar, mendadak ia menubruk maju lagi seraya menyerang dengan dahsyat. Gardapati bersuit nyaring, gerak tubuhnya pun tak kalah cepat menyongsong maju—indah dipandang, namun tak sedap dirasakan. Laksana dua kapas tertiup angin, mereka bergumul di udara. Benar-benar kemampuan yang patut diberi jempol.

Tangan kanan Gardapati membalingkan Pedang Beronce Kelabu, mengembangkan ilmu Pedang Gelombang Badai, merangsak dengan berani ke arah lawan. Tangan kanan ditarik ke depan dada, tangan kiri maju mendorong ke depan. Begitu tenaga dalam sudah tersalur dengan baik, gagang pedang diputar hingga menjadi seperti senjata bor.

"Wirrr!" Terdengar decitan nyaring ketika pedang dan angin bergesekan di udara.

Tak kalah garang, tangan kiri membentuk cakar, tangan kanan memegang pedang panjang dan diletakkan sejajar dengan dada. Pendekar Bayangan Naga menyerang. Kedua belah pihak tengah meluncur cepat, saling terjang di tengah udara. Dalam sedetik itu, mereka sudah saling serang dan bertukar hingga puluhan jurus. Tampak Pendekar Bayangan Naga menampilkan rasa kagum dan keheranan yang luar biasa atas kemampuan ilmu peringan tubuh lawan. Dirinya dikenal sebagai pendekar dengan ilmu peringan tubuh yang sudah menjagoi dunia persilatan; jurus andalannya, Bayangan Naga, benar-benar dahsyat hingga disejajarkan dengan tokoh kosen lainnya.

"Tak kusangka ilmu peringan tubuh bocah ini sudah mencapai kesempurnaannya," batinnya menggerutu.

Sebaliknya, Gardapati mematung di tempatnya dengan pedang terjepit di antara dua buah telapak tangan. Tubuhnya melayang di udara tanpa kelihatan sulit. Dalam kejap lain, rona wajah Pendekar Bayangan Naga berubah putus asa dan murung. Sekonyong-konyong tubuhnya mencelat lagi menerjang ke arah Gardapati. Gardapati diam menanti sampai lawan berada setombak di depannya. Telapak tangan yang menyembah diputar hingga pedang itu mengarah pada lawan. Sekali sentak, telapak tangannya disental, membuat pedang itu meluncur dahsyat dengan diiringi desingan nyaring.

Dalam keadaan yang sangat genting ini, Pendekar Bayangan Naga lantas bergerak memutar, siap menggunakan Pedang Naga Puspa Geni yang terkenal sebagai jurus pedang andalan hasil gubahan dari jurus Sembilan Naga Terbang dari perguruan Pedang Bumi. Laksana kitiran pedang diputar, pedang Gardapati tanpa kenal ampun menerjang membentur putaran itu.

"Tring!" Pedang Gardapati mencelat ke atas, sementara luncuran tubuh Pendekar Bayangan Naga terhenti di udara. Wajahnya menyeringai sakit, tanpa sadar tangannya terangkat ke depan muka. Wajahnya pucat pias, darah mengucur dari tangannya. Rupanya tenaga dirinya tidaklah lebih hebat dari luncuran pedang terbang Gardapati. Meski dia berhasil membuat pedang lawan mencelat, tak urung ia pun mengalami kerugian yang besar pula.

"Haha! Ternyata tidak semudah dugaanku," Gardapati tertawa terbahak-bahak sambil memegang kembali pedangnya.

"Kemampuanmu memang sudah bisa dikatakan sebagai jago nomor satu di dunia," puji Pendekar Bayangan Naga.

Gardapati tertawa besar, "Wah, kau terlalu mengagungkanku. Tapi tokoh-tokoh silat yang berkepandaian tinggi dalam dunia ini jumlahnya laksana bintang-bintang yang tersebar di cakrawala, siapa yang berani mengagungkan diri sebagai jago nomor satu? Hanya mungkin aku lebih baik di antara semuanya."

Kelam wajah Pendekar Bayangan Naga. Maksudnya adalah untuk memuji setulus hati, namun itu dijadikan alat untuk menyombongkan diri oleh lawan.

"Kau sungguh terlalu, sebenarnya aku tak berniat menggunakan pedang kiri, namun kau terlalu memaksa," geram Pendekar Bayangan Naga sambil memindahkan pedangnya ke tangan kiri.

Di udara, Pendekar Bayangan Naga menegakkan kuda-kuda. Tangan kanan dimajukan ke muka, tangan kiri dipersiapkan pada lekukan lengan sebagai suatu persiapan menyerang yang dahsyat. Pedang panjangnya disimpan di atas lengan kanan. Matanya mencorong tajam siap melancarkan serangan. Seketika tubuhnya diayun ke atas dengan tangan kiri melakukan serangan mengarah pada pundak, dan tangan lainnya berada di samping atas untuk persiapan.

Di saat ujung pedang lawan mengincar pundaknya, Gardapati berlagak seolah-olah kewalahan dan mundur melayang. Melihat peluang baik ini tentu saja tidak disia-siakan oleh Pendekar Bayangan Naga yang merasa dapat memundurkan lawan dengan jurus simpanan yang tak pernah ia gunakan di hadapan umum—ketika ia menggunakan jurus pedang itu, lawan selalu dibuat mati sehingga tidak ada yang tahu mengenai jurus tersebut—ia terus maju mencecar Gardapati.

Dengan pura-pura tergesa-gesa, Gardapati menangkis serangan lawan dengan pedangnya dan terlontar ke atas. Di saat yang bersamaan, setelah berhasil melepaskan pedang lawan, Pendekar Bayangan Naga semakin memperhebat serangannya. Ia tak tahu lawan sudah menjebaknya hingga sedemikian rupa; seandainya ia tahu, mustahil ia akan mengutamakan penyerangan daripada pertahanan.

Gardapati berteriak lantang, "Mati kau!" Belum sirap suaranya, tangan kirinya melancarkan pukulan Brajamusti menangkis serangan pedang lawan. Dengan ajian ini, Gardapati dapat menahan pedang itu tanpa terluka meski mengenai mata pedang. Di waktu yang sama, tangan kanannya mengendalikan pedang yang terlempar ke atas, meluncur dan hendak menusuk tubuh Pendekar Bayangan Naga dari atas.

"Suamiku, awas!" terdengar seruan histeris dari seorang wanita yang berkumpul bersama kedelapan orang yang waktu itu menjublak tanpa dapat berbicara.

Sebelum Pendekar Bayangan Naga mencerna arti dari teriakan itu, telah terlambat baginya untuk mengelakkan serangan pamungkas dari Gardapati ini. Dengan telak, ujung pedang yang sangat tajam menghujam pundaknya hingga tembus ke iga. Dengan mengeluarkan jeritan yang menyayat hati, Pendekar Bayangan Naga jatuh ke lantai; darah muncrat dan mengalir dengan deras dari mulut serta pundaknya.

Sekerdipan mata kemudian, Gardapati sudah berada di hadapan Pendekar Bayangan Naga.

"Jangan, jangan kau bunuh suamiku... kumohon, hanya dia yang kumiliki di dunia ini... kumohon," jerit wanita itu sambil berlari mendekati.

"Ugh... Ibu!" seorang gadis lain berlari mengejar.

"Ugh, apa-apaan kalian ini? Jangan mencemarkan nama Pendekar Bayangan Naga! Cepat habisi aku, tak sudi aku dihina seperti ini," Gardapati tersenyum dingin.

Tangannya bergerak mengambil gagang pedang. Perlahan Gardapati menarik pedangnya dari tubuh Pendekar, membuat pemiliknya merasakan sakit yang tak terkira. Gardapati memang terlalu kejam. Dingin saja ia mengangkat pedangnya dan secepat kilat ditebaskan ke leher Pendekar Bayangan Naga.

"Sraaat!"

"Tidak!" jerit wanita itu.

Gadis itu menangis dan menjublak di tempat, matanya bercucuran dengan dahsyat. Tanpa sadar pedang di pinggangnya dipegang dengan erat.

"Set!" Gardapati melintangkan pedangnya ke muka.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment