Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 60

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 60

Darah pendekar yang menempel di pedangnya seketika memercik, mengotori para penjaga yang berdiri di kejauhan.

"Kurang ajar!" desis salah satu dari penjaga itu.

Gardapati melangkah meninggalkan ruangan, hendak pergi dari tempat itu.

"Tunggu, kau tidak bisa pergi begitu saja!" Gadis itu membentak dan melompat menerjang Gardapati.

Gardapati mendengus dan mencabut pedangnya kembali. Melihat gadis tuan rumah menyerang, para penjaga dan orang-orang yang sedari tadi menonton timbul keberaniannya, lalu mengeroyok Gardapati.

"Sett... Sett..." Mereka bergerak serempak. "Hiaaaaa!" Gardapati menerjang, menghadapi keroyokan itu.

"Hosh... hosh!" Gardapati berlutut, tubuhnya disanggah oleh pedangnya. Wajah dan bajunya penuh dengan darah. Napasnya terengah-engah, keringatnya mengucur deras bercampur darah.

Sekelilingnya mayat bergelimpangan, darah mengalir di lantai. Merah semerah darah, karena itu memang darah. Tak seorang pun hidup; Gardapati membantai semuanya. Perempuan dan laki-laki tidak ada bedanya. Menentangnya berarti mati; potongan tangan, kaki, dan kepala berserakan. Jeroan tubuh dan isi kepala berhamburan, menciptakan pemandangan yang begitu menyeramkan.

Gardapati mengambil caping bambu lebarnya dan memakainya. Seolah tak terjadi apa-apa, ia keluar dari bangunan megah yang berisi ratusan mayat itu. Ia tak peduli, yang penting dendamnya sudah terlampiaskan.

Kata orang, dendam adalah sifat marah yang tidak terlampiaskan sehingga di dalam hatinya selalu berkeinginan untuk membalas perbuatan orang lain. Namun, ada juga yang mengatakan dendam berarti keinginan keras untuk membalas kesalahan atau kejahatan. Manakah di antara keduanya yang benar? Apakah dendam itu salah? Ataukah dendam itu benar?

Entahlah. Padahal orang bijak mengatakan, "Jika kejahatan dibalas kejahatan, maka itu adalah dendam. Jika kebaikan dibalas kebaikan, itu adalah perkara biasa. Jika kebaikan dibalas kejahatan, itu adalah zalim. Tapi jika kejahatan dibalas kebaikan, itu adalah mulia dan terpuji." Karena sesungguhnya dendam tidak membawa kebaikan apa pun bagi manusia. Kebencian tidak menyakiti orang yang dibenci, tetapi setiap hari dan setiap malam perasaan itu menggerogoti diri sendiri. Apakah ini yang disebut dengan kebaikan demi ego?

Padepokan Rajawali Emas adalah padepokan termewah di Tanah Jawa, terkenal dengan keangkeran murid-muridnya. Namun saat ini, padepokan itu tak lebih dari emas yang belum digosok. Gerbang yang indah hanyalah hiasan. Bahkan seorang pemuda tampan berpenampilan serba biru menghela napas melihatnya.

Pemuda itu memantapkan langkah untuk memasuki gerbang, berjalan bersama seorang murid Perguruan Rajawali Emas bernama Asyuro. Ia merupakan murid tertua dari angkatan termuda di padepokan itu. Wajahnya tampan, janggut dan kumisnya dikerok tipis, alisnya tegak menampilkan kekerasan hatinya. Baru satu tahun ia berkelana di dunia persilatan, namun dalam keadaan yang bergolak seperti itu, jangankan nama didapat, bernapas pun terasa sesak.

"Huh, benar-benar membuat dada terasa sesak. Dunia persilatan benar-benar berubah menjadi neraka," kata Asyuro.

"Kau benar, Adimas Suro. Tapi kita harus bersyukur. Setidaknya kaum awam tidak lagi mengalami derita semasa kekacauan yang dipicu oleh Maharaja Sembilan Dewa."

"Ah, kau benar, Kang. Mungkin karena alasan inilah Iblis Dunia Persilatan tidak melakukan kekerasan pada orang awam?"

"Maksudmu?"

"Kakang ingat dengan amukan para penduduk di masa itu? Menjadikan semua makhluk hidup di dunia sebagai sasaran adalah kesalahan besar Maharaja Sembilan Dewa, maka dari itu ia mengalami kekalahan. Mungkin Iblis Dunia Persilatan memetik hikmah dari kejadian itu."

"Bisa jadi. Sungguh licik, sungguh pintar. Musuh dunia persilatan ini benar-benar membuat siapa pun meradang."

"Kang Gara, menurutmu bagaimana akhir dari kisah ini?"

"Mungkin... ah, tidak, tidak. Itu terlalu ngeri untuk dibayangkan."

Tak terasa mereka sudah sampai di aula. Murid perguruan Rajawali Emas berjaga dengan ketat di sana. Berbeda dengan di luar, penjagaan di dalam begitu kentara. Entah kejadian apa yang sedang berlangsung. Sagara Angkara dan Asyuro mengerutkan kening heran.

"Kakang!"

"Berhentilah memanggilku Kakang, usiamu lebih tua dariku," Sagara Angkara menyela.

"Tapi kemampuanmu lebih dariku."

"Panggil namaku saja secara langsung."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi!"

"Huh, baiklah. Gara, menurutmu apa yang sedang terjadi di sini?"

Sagara Angkara mengangkat bahu, menandakan bahwa ia juga tidak mengerti. "Mari kita masuk, mungkin setelah masuk ke sana kita akan menemukan jawabannya."

"Baiklah!"

"Beri kami jalan!" perintah Asyuro kepada penjaga pintu.

Tampak penjaga itu ragu-ragu, namun Asyuro adalah murid dari ketua mereka. Dengan perasaan serba salah, mereka memberikan jalan. Keduanya terus berjalan melewati lorong ruangan. Setelah tiba, penjaga pintu membukakan pintu untuk mereka. Sagara Angkara dan Asyuro masuk, namun begitu masuk, wajah mereka tampak berubah.

Ternyata di sana sedang terjadi sebuah pertemuan kaum persilatan. Tampak Maharaja Dunia Persilatan sedang memimpin pertemuan di markas besar Perguruan Rajawali Emas yang dihadiri oleh semua tokoh dari lima perguruan dan kaum kelana. Yakni Ketua Perguruan Rajawali Emas, Pendekar Rajawali Berhati Emas, yang juga merangkap sebagai tuan rumah.

Ki Aswa, Ketua Perguruan Teratai Putih atau Pendekar Pedang Teratai, juga duduk di sampingnya. Dia merupakan pengganti dari Dewa Batang Pedang yang telah tewas. Di sampingnya, Dihyanti duduk berjaga.

Ketua Perguruan Bintang Kemukus, Gajahsora, yang juga merupakan wakil dari Maharaja Dunia Persilatan, duduk di sana. Di sampingnya, Jiwatrisna terlihat menatap dengan tajam. Ketua Perguruan Pedang Bumi, Dewa Pedang Sambar Nyawa, Niwada Prasetia, bersama Graha Sewatama. Ketua Perguruan Golok Harimau, Harimau Pencari Mangsa, Luwar Mada, bersama Rangga murid utamanya, hadir sebagai pengganti Dewa Warangka Pedang yang telah tewas. Dewa Gagang Pedang dan Dewa Pedang Kelana juga hadir bersama para tetua dunia persilatan lainnya.

Di sekeliling tempat itu, para murid utama Perguruan Rajawali Emas berjaga dengan pedang di tangan. Mereka menatap kedua orang yang masuk dengan heran.

"Maaf!" Asyuro membungkuk memberi hormat dan ikut bergabung bersama kawan-kawannya.

Tinggal Gardapati yang kebingungan. Untunglah, Pendekar Rajawali Berhati Emas bangkit berdiri dan mendekatinya. "Kau sudah datang, silakan duduk, Gara!"

Anak itu tersipu malu. Ia berkata merendah, "Maafkan saya, saya bersama Asyuro tidak mengetahui bahwa di sini sedang ada pertemuan Dewan Persilatan."

"Tidak masalah, mari bergabung!" ajaknya.

Melihat betapa Pendekar Rajawali Berhati Emas begitu menghormatinya, tak urung membuat semua orang memperlihatkan rasa heran dan penasaran, termasuk Maharaja Dunia Persilatan sendiri.

"Siapakah kisanak ini?" tanya Maharaja Dunia Persilatan.

"Saya yang lemah ini Sagara Angkara adanya."

Semua orang mengerutkan kening karena mereka belum mengenal nama itu. Lalu mengapakah Pendekar Rajawali Emas tampak begitu menghormatinya?

"Bagaimana kabar keempat eyang gurumu itu, anakku?"

"Mereka dalam keadaan baik-baik saja, Ketua. Namun sungguh sayang, mereka enggan mencampuri lagi urusan keduniawian. Malah menyuruh aku yang lemah ini menghentikan sagara tunggara ini," kata Sagara Angkara.

"Sungguh sayang, seandainya mereka datang mungkin kekacauan ini bisa dihentikan. Tapi tidak apa. Aku yakin mereka telah menitahkan kamu dengan landasan yang cukup. Mungkin ke depannya kami akan bergantung padamu," kata Pendekar Rajawali Berhati Emas.

Sagara Angkara tersipu malu. Ia sadar telah kelepasan bicara. Tapi apakah kata bisa ditarik kembali? Yang lain semakin keheranan dengan semuanya, namun tak seorang pun yang berani bertanya.

Maharaja Dunia Persilatan melirik Pendekar Rajawali Berhati Emas penuh arti. Rupanya Pendekar Rajawali Berhati Emas paham dengan lirikan itu. Ia mengambil pena dan daun lontar di sampingnya, lalu menggambar sebuah petir yang menyambar bumi. Ia menyerahkannya kepada Maharaja Dunia Persilatan.

Maharaja Dunia Persilatan berubah wajahnya ketika melihat gambar itu. Sebagai kalangan tua, ia tahu simbol apa itu. Lalu dia menatap Sagara Angkara dengan tajam. Disadarinya bahwa wajah Sagara Angkara meski terlihat seperti pemuda berusia dua puluhan, kulitnya tidak menunjukkan usia itu.

Segera ia bertanya, "Berapa usiamu?"

Sagara Angkara terkejut ditanya demikian. Ragu-ragu ia menjawab, "Mungkin empat belas tahun?"

Semua hadirin terperanjat mendengar jawaban itu. Mereka menatap Sagara Angkara dengan wajah keheranan, ragu, dan berbagai perasaan berkecamuk dalam benak. Maharaja Dunia Persilatan bangkit berdiri dan membungkukkan tubuh pada Sagara Angkara. Sagara Angkara terkejut, hampir saja ia melompat dari tempatnya jika tangan Pendekar Rajawali Berhati Emas tak menahannya.

Semua orang bengong sampai Maharaja mengatakan beberapa patah kata, "Maafkan ketidakhormatanku, Yang Mulia Pangeran Langit dan Bumi!"

Mulut menganga dari setiap bibir yang ada di sana, kecuali Pendekar Rajawali Emas dan beberapa orang yang mengetahui hal itu. Berebutan mereka berdiri dan memberi hormat. Sagara Angkara semakin salah tingkah.

"Suruh mereka duduk!" bisik Pendekar Rajawali Berhati Emas.

"Silakan... duduk!" Sagara Angkara tergagap. Ia menghela napas panjang dan menghembuskannya, berusaha untuk menenangkan hatinya. "Silakan pimpin kembali, Yang Mulia Maharaja Dunia Persilatan," kata Sagara Angkara cepat.

Sebab bila dibiarkan terus, niscaya semuanya akan menunjuk dirinya untuk memimpin jalannya rapat. Maharaja Dunia Persilatan dan Pendekar Rajawali Berhati Emas tersenyum. Mereka tahu maksud ucapan Sagara Angkara. Tanpa basa-basi lagi, Maharaja Dunia Persilatan memimpin pertemuan itu.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment