Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 61

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 61

"Silakan Ketua Perguruan Teratai Putih menuturkan kejadian di perguruan dan di luar akhir-akhir ini."

"Yang Mulia Maharaja, para ketua, dan para tetua, saya bersama segenap murid sudah mencermati persoalan-persoalan di sekitar daerah perguruan kami. Sebanyak sembilan puluh enam murid kami tewas saat keributan antara Ratan Wasana dan Dhara Sesat Air Terjun Balumbang. Sepuluh tetua kami yang telah kembali ke daerahnya masing-masing juga ditemukan tewas mengenaskan. Dari lukanya, kami memprediksi bahwa mereka dibunuh oleh Setan Purnama dan putri ketua lama perguruan kami, Asmara Dewi Surga. Selain anggota perguruan kami, diketahui bahwa beberapa kaum kelana dan tetua Bangau Putih—sebuah perguruan kecil—telah mati di tangan mereka. Mestika mereka telah hilang sebagaimana yang terjadi dengan perguruan kecil lainnya," demikian laporan dari Ketua Perguruan Teratai Putih.

"Bagaimana dengan pengamatan Ketua Luwar Mada?" tanya Maharaja Dunia Persilatan.

"Sedih. Kami menemukan setidaknya beberapa tokoh perguruan kami mengalami bencana dan mati terbunuh di tempat berbeda. Nampaknya, kasus-kasus tersebut terkait dengan memanasnya situasi di dunia persilatan saat ini, karena dilihat dari luka dan mengingat bahwa mereka pernah berselisih dengan ketujuh utusan dunia persilatan," Ki Luwar Mada menghela napas sedih.

"Bagaimana menurutmu, Ketua?" Maharaja Dunia Persilatan berpaling dan bertanya kepada Pendekar Rajawali Emas.

"Semua ini ada kaitannya dengan murid yang melarikan diri dari perguruan ini dan membawa kabur Kitab Dewa Dunia Persilatan, putra dari mendiang Pangeran Pemabuk!" Pendekar Rajawali Emas berhenti sebentar karena melihat wajah Maharaja Dunia Persilatan menegang, lalu melanjutkan setelah Maharaja kembali tenang. "Hal itu terjadi bersamaan dengan kematian Iblis Bermata Hijau. Seperti yang para ketua ketahui, semasa ia masuk ke sini, banyak tokoh persilatan mencibirnya. Rupanya itu menjadi bibit dendam. Sesuai permintaan Yang Mulia, kami memperlambat pemberian pengajaran kepadanya. Itu juga menjadi masalah bagi kami, sebab karenanya dia membenci kami. Bahkan, kedua murid penjaga kitab perguruan ini mati terkena Racun Seribu Hawa Kematian!"

"Apa? Racun keji itu?" Ketua Perguruan Teratai Putih menyela.

"Benar!"

"Ah, bukan hanya Perguruan Rajawali Emas. Sebenarnya saya pun malu untuk mengatakannya, tapi jika Perguruan Rajawali Emas membeberkannya, rasanya saya merasa tidak enak. Beberapa murid kami dijadikan pelampiasan dendam oleh anak dari Asmara Dewi Surga. Mereka mati dengan mengenaskan. Ada yang dikubur hidup-hidup hingga..." Ketua Perguruan Teratai Emas pun menceritakan semuanya.

Semua orang yang mendengar merasa merinding. Sagara Angkara terhenyak hingga tidak sanggup berbicara sepatah kata pun.

"Bagaimana dengan Ketua?"

Ketua Perguruan Pedang Bumi, Dewa Pedang Sambar Nyawa, Niwada Prasetia, menghela napas panjang. Bibirnya tertutup rapat dan gerahamnya bergemeretak. "Istri, kedua anak, dan beberapa murid utama perguruan kami tewas. Memang dulu istriku pernah menjadi kekasih dari Setan Purnama semasa ia belum pindah ke golongan hitam. Setelah kepindahannya itu, istriku meninggalkannya. Dua tahun kemudian ia bertemu denganku dan kami menikah. Tak disangka ia memendam dendam, dan hari ini karma dari kejadian itu datang."

Semua orang ikut sedih atas berita duka itu. Mereka baru tahu sejarah asmara Ketua Perguruan Pedang Bumi yang terkenal akan sikap kebijaksanaannya.

"Tak hanya itu, adik seperguruanku yang membuka cabang perguruan di daerahnya mati serempak. Sampai ayam dan nyamuk pun ikut mati dalam pembantaian itu. Desa Padajaya yang dipimpin oleh pendekar kelana dari Ujung Kulon musnah sampai daerah itu menjadi daerah mati. Rumput pun tak dibiarkan hidup. Bisa dibayangkan betapa kisruhnya keadaan dunia persilatan saat ini."

Setelah itu, kelima orang yang pernah menjadi utusan untuk mencari Iblis Dunia Persilatan menceritakan pengalaman mereka yang dipimpin oleh Ki Aswa. Setelah mendengarkan laporan para ketua, yang kemudian dilanjutkan oleh utusan lima perguruan, wajah Gajahsora selaku wakil Maharaja Dunia Persilatan serta Maharaja sendiri sejak tadi mengernyit, tanda bahwa mereka sangat serius dan mengkhawatirkan keadaan dunia persilatan.

"Bagaimana pendapatmu tentang keadaan ini, Pangeran?" tanya Maharaja Dunia Persilatan.

Sagara Angkara menghela napas panjang sebelum memulai bicara. "Yang Mulia, nampaknya kita harus secepatnya menyelesaikan urusan di perguruan kita masing-masing terlebih dahulu. Saya merasa itu lebih penting saat ini. Di sini bukan berarti mengabaikan masalah rimba persilatan dewasa ini, tetapi sangat penting menyelesaikan persoalan dalam tubuh sendiri sebelum mengurusi hal-hal lain. Laksana sebuah rumah yang hampir roboh, bila kita membetulkan gentingnya dahulu sebelum memperkuat fondasi, saya merasa itu hal yang sia-sia. Lagi pula, di sini masih ada para sahabat persilatan yang tidak terikat dengan perguruan mana pun; ini bisa kita jadikan sebagai benteng pertahanan guna memantau keadaan di luar."

"Ya, saya sependapat dengan Pangeran Sagara. Kita perlu mengutamakan penyelesaian masalah dalam perguruan kita masing-masing, siapa tahu ada penyusup yang masuk. Tapi, saya merasa tidak terlalu sependapat mengenai urusan luar diserahkan sepenuhnya kepada kaum kelana. Alangkah baiknya kita pun mengirimkan minimal seorang utusan kita," Ki Luwar Mada menambahkan sekaligus mengoreksi.

Setelah mendengarkan laporan, analisis, dan pendapat semua tokoh dunia persilatan, semua orang yang hadir tampak menunjukkan gairah untuk hidup. Setidaknya mereka memiliki sebuah pegangan untuk rencana ke depan. Maharaja Dunia Persilatan manggut-manggut.

"Baiklah, jika demikian kesepakatan kita. Mengenai urusan perguruan dan wakil-wakilnya, aku menyerahkan kepada setiap ketua untuk kembali dimusyawarahkan dengan para muridnya. Mengenai kaum kelana, aku menugaskan Kelana Berkaki Panca untuk memimpin. Pada pertengahan bulan nanti, kita kembali berunding di sini, barangkali akan ada yang lebih penting untuk dibicarakan."

Rapat kecil itu berlangsung hingga malam hari. Setelah pertemuan berakhir, Maharaja Dunia Persilatan meninggalkan pesan-pesan penting bagi para hadirin. Tepat pada kentongan satu, semuanya beristirahat di Perguruan Rajawali Emas. Dari wajah kantuk mereka tampak segaris senyum melengkung indah. Nampaknya rencana ini sudah begitu matang. Hanya saja, apakah semuanya akan berjalan dengan lancar? Entahlah.

*

"Kukuruyuk!"

Suara ayam menyambut pagi. Hari masih temaram diselimuti kegelapan. Sang Hyang Manon masih belum juga membuka matanya. Hawa dingin yang mencekam membuat para penghuni Padepokan Rajawali Emas gelisah tak keruan. Sungguh heran hati mereka, karena baru kali pertamanya mereka merasakan hawa sedingin itu. Bukan hanya hawa dingin, tapi juga hawa panas dan hawa membunuh bergulung menjadi satu.

Sagara Angkara tak sanggup lagi menahan diri. Kakinya menjejak, melompat menerobos jendela. Ia berlari ke arah gerbang sebab hawa itu berasal dari sana. Dua puluh tombak dari gerbang, Sagara Angkara menghentikan laju tubuhnya. Wajahnya mencorong tajam laksana elang yang haus darah. Tangannya terkepal, kakinya menancap di bumi seperti akar pohon kelapa.

Mengapa bisa demikian? Di bawah gerbang keemasan yang berkilau, sesosok tubuh serba kelabu bercaping lebar dari bambu berdiri dengan tenang dan gagah. Rupanya hawa itu terpancar dari tubuhnya. Dialah yang dikenal dengan panggilan Iblis Dunia Persilatan, orang yang mempermalukannya ketika sayembara berlangsung.

Sungguh pemandangan yang luar biasa; Sagara Angkara dan Gardapati berdiri diam mematung. Hawa dingin bertambah dingin, hawa panas semakin panas, serta hawa sejuk dan hawa kematian bergelut menjadi satu. Inilah pertarungan mental dan hawa. Rupanya bukan hanya Sagara Angkara yang bangun dan menuju gerbang; Maharaja Dunia Persilatan dan semua tokoh putih yang kemarin melaksanakan pertemuan berkumpul di sana. Hanya kedatangan Sagara Angkara yang lebih cepat.

Bulu kuduk para tokoh meremang. Maharaja Dunia Persilatan maju setindak, namun Sagara Angkara mengacungkan tangan kanannya, pertanda sebuah larangan.

"Senang bertemu denganmu, Dewa Dunia Persilatan!" Gardapati berkata menggunakan suara perut. Suaranya serak dan basah.

"Dewa Dunia Persilatan?" Sagara Angkara bergumam heran.

"Haha! Bila ada iblis, maka dewa pun harus selalu mengiringi. Itulah yang dinamakan dengan keseimbangan," jawab Gardapati masih menggunakan suara perut.

"Kau terlalu menyanjungku!" Sagara Angkara menjawab dengan dengusan yang cukup dingin.

"Haha! Jika bukan kau, siapa lagi di tanah Jawa ini yang pantas menyandang gelar itu? Siapakah yang mampu membendung hawa Iblis Selimut Jagat selain dirimu? Tahukah kau, seandainya kau tidak membendung hawa itu, seperminum teh kemudian orang yang ada di sana akan menjadi gila seutuhnya," Gardapati tertawa besar.

Sagara Angkara tercengang, kemudian manggut-manggut. "Pantas Selimut Senja Dewa Khayanganku yang dilambari ajian Acitya dari Sastrajendra Hayuningrat harus kukerahkan hingga tingkat pamungkas," batinnya berkata, sementara mulutnya menjawab, "Masakah harus seperti itu?"

Gardapati tertawa latah lalu berkata, "Mendustai mulut adalah mudah, namun mendustai hati dan tubuh adalah sulit. Jangan membohongi dirimu, Saudara, itu bukan tipemu."

Sagara Angkara terhenyak, wajahnya memerah malu. Tapi ia tak gusar, justru ia berterima kasih kepada lawan yang memperingatinya. Lalu ia tersenyum.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment