Chapter 62
"Terima kasih atas perhatian Kisanak, saya merasa terhormat," Maharaja Dunia Persilatan dan yang lain merasa kagum atas sikap positif dari Sagara Angkara.
Sungguh, dalam usia semuda itu, memiliki sikap yang bijaksana adalah hal yang sangat langka.
"Huahaha! Julukan Dewa Dunia Persilatan memang tidak terlalu berat untukmu," Gardapati lalu tertawa terbahak-bahak.
Sagara Angkara menghela napas berat, sedangkan Maharaja Dunia Persilatan dan yang lain manggut-manggut. Dalam benak mereka, julukan itu tertulis sebagai dewa penolong.
"Kisanak, seharusnya Engkaulah yang patut menyandang gelar itu. Meski tindakanmu sesat, kau memiliki hati yang seputih kertas. Seandainya kau mengubah dendam itu menjadi kata maaf, mungkin semua orang akan menghormatimu!" puji Sagara Angkara.
"Seandainya semua orang seperti dirimu, untuk apa aku melakukan hal ini? Sayangnya, mereka terlalu memandang diri mereka suci hingga melupakan dasar kebenaran!"
"Dasar kebenaran?"
"Benar. Itu adalah ilmu pengetahuan, rasa sabar, pengabdian, keadilan, dan keikhlasan. Untuk apa sebuah pengabdian kepada Tuhan jika tak memiliki keikhlasan? Untuk apa keadilan jika tak dibarengi ilmu pengetahuan? Bagaimana melakukan pengabdian jika tak memiliki rasa sabar? Untuk apa pengetahuan jika tak dibarengi dengan pengabdian? Untuk apa rasa sabar jika tak dibarengi keikhlasan? Jika keikhlasan tanpa dibarengi dengan ilmu pengetahuan, bagaimanakah jadinya? Seharusnya mereka mengingat itu dalam benak mereka. Sudah bertahun-tahun semua itu hilang dari muka bumi. Maka, aku bercita-cita untuk menyatukan semua itu dalam sebuah wadah."
"Apa yang akan kau lakukan untuk mewujudkannya?" tanya Sagara Angkara.
"Sebelum aku mengatakan tujuanku, aku ingin bertanya kepadamu sepatah dua patah kata!"
"Silakan."
"Apakah manusia dilahirkan untuk dibeda-bedakan? Dan apakah manusia dapat menentukan perbedaan itu?"
"Tidak!"
"Lalu menurutmu, sebaiknya bagaimana?"
"Semua makhluk ciptaan-Nya diciptakan untuk beribadah kepada Yang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia beribadah kepada-Nya dengan tujuan yang sama. Kita dilahirkan sama, yaitu dari liang sempit ibu, dan akan kembali pada liang sempit liang lahat. Meski kita terlahir dengan berbagai suku dan bangsa, kita tetaplah manusia."
"Apakah perbedaan itu harus ditindak dengan darah?"
"Tidak."
"Lalu bagaimana?"
"Perkataanku sama: memaafkan dan saling bertoleransi."
"Apakah manusia dilahirkan dengan pendapat dan keinginan yang sama?"
Tanpa berpikir, Sagara Angkara menjawab, "Tidak. Sebagai manusia, tak mungkin ada yang sama. Tuhan kita sangat luar biasa, Ia menciptakan kita dari satu sumber, namun tak satu pun yang sama, meski terlahir kembar. Tetap saja ada perbedaannya."
"Apakah wajar bila ada yang mewujudkan pendapatnya hingga menemui ajal?"
"Tidak, tak seharusnya itu terjadi. Semestinya kita sebagai manusia harus saling mengingatkan. Jika itu melanggar norma dan dipandang sebagai kejahatan, maka sebaiknya kita berusaha mengubah sudut pandangnya kembali ke benang hitam dan aturan yang berlaku. Jika itu demi kebaikan bersama, kita wajib untuk mewujudkannya."
"Apakah kau ingin menyaksikan kembali dunia di mana tidak ada pembunuhan lagi?"
"Tentu saja. Siapa yang ingin menyaksikan manusia saling bunuh hingga darahnya membasahi bumi?"
"Kalau begitu, bergabunglah denganku. Mewujudkan dunia itu, di mana tiga golongan: Hitam, Putih, dan Merdeka bersatu dalam satu wadah. Satu pihak tidak boleh mencampuri urusan pihak lain. Bukankah dengan begitu tak ada lagi yang membunuh dengan alasan demi kebenaran, tak ada lagi yang membunuh karena balas dendam?"
Sagara Angkara terhenyak. Tak disangkanya lawan memiliki cita-cita yang membayangkannya saja sungguh janggal di telinga; menyatukan dunia persilatan menjadi satu wadah. Mulutnya melongo dan tak habis pikir. Maharaja Dunia Persilatan dan tokoh-tokoh persilatan berkeringat dingin; dari awal percakapan saja keringatnya sudah mengucur, dan kini mendengar ucapan itu, tubuh mereka gemetar menahan marah.
"Sungguh pemikiran sesat!" Dewa Pedang Kelana membentak.
"Tutup mulut busukmu, jangan mengoceh tak keruan, karena aku tak menyukaimu, maka bualanmu pun tak sudi aku mendengarnya!" Gardapati membentak dengan suara perut.
Dewa Pedang Kelana mendengus dingin, namun gara-gara itu, suatu kejadian yang tak terkira terjadi. Gardapati marah.
"Settt!" Tangan kirinya menuding, sementara tangan kanannya ditarik menyamping di dada dengan jari membentuk cakar. Tenaga dikumpulkan di cakar hingga membentuk sebuah bola merah menyala. Itulah yang dinamakan dengan jurus "Bola Api Telapak Dewa". Dewa Pedang Kelana memajukan kaki kirinya, sementara tangannya siap mencabut pedang.
"Hiaaaaaaa!" Dengan sebuah teriakan nyaring, Gardapati mendorong cakarnya hingga bola api itu menerjang Dewa Pedang Kelana. Pedang belum tercabut, namun bola itu hampir menabrak tubuhnya. Jika sampai terkena, sudah dapat dipastikan bahwa selembar nyawanya akan hangus terbakar. Angannya melambung membayangkan kematian, sungguh tak kepalang kagetnya. Mungkin jika mati pun, kagetnya juga belum hilang.
Mendadak, "Hiaaattt! Blaaarrr!" Bola api itu hancur berantakan di tengah jalan. Sekitar satu tombak dari ledakan, rumput dan tanah berubah menghitam gosong. Rupanya dari samping, Sagara Angkara menangkis serangan itu. Berkat kecepatan geraknya yang tak sekerdipan mata saja, ia dapat menangkis serangan itu. Sagara Angkara tampak meringis, tangannya gemetar; rupanya serangan itu membuatnya kesemutan. Sungguh ia tak menyangka serangan lawan begitu ganas.
"Huh, Sagara, kau!" bentak Gardapati sambil mengatupkan geraham, tangan kanannya tampak menyilang di depan dada.
"Entah apa pun alasannya, tapi kau tak seharusnya melakukan serangan begitu. Apalagi serangan yang begitu ganas, aku tidak akan tinggal diam," jawab Sagara Angkara kalem.
"Menyerang sembarangan? Omong kosong! Aku memang menyerangnya, namun aku menyerang secara jantan. Muka dihadapan muka, tidak seperti para kaum yang mengaku dirinya putih hingga melakukan segala cara demi kebenaran itu!"
Wajah Maharaja Dunia Persilatan memerah, sungguh dirinya merasa geram, namun ia tak melakukan segalanya dengan sembarangan. Direndamnya amarah meski wajahnya berubah merah padam.
Gardapati memajukan langkah, tangannya disentakkan ke depan. "Wusss!" Sebuah bola api kembali menyerang, namun kali ini sasarannya adalah Sagara Angkara. Sagara Angkara yang diserang terkejut. Sikutnya dihantamkan ke muka.
"Blaaarrsshhh! Ctik... ctik..."
Bola api itu membakar tubuh Sagara Angkara. Suara benda terbakar hangus begitu nyaring, membuat siapa pun yang mendengarnya merasa dag-dig-dug tak keruan. Maharaja Dunia Persilatan dan Pendekar Rajawali Berhati Emas maju setindak, dari wajah mereka terlihat raut kecemasan. Sementara Gardapati tenang saja.
"Hei, mengapa menyerang tiba-tiba tanpa alasan?" Sagara Angkara membentak gusar dari dalam lautan asap api yang telah padam.
"Alasan? Apa itu perlu? Aku merasa kau setimpal denganku, maka aku menyerangmu. Apa itu belum cukup?" kata Gardapati sambil mengerahkan tenaga olah kanuragan dan tenaga murninya. Bajunya menggelembung berkibar-kibar, rambutnya gemeripan laksana jutaan ekor ular hidup, wajahnya begitu gelap dengan hawa pembunuhan. Tangan kanan membentuk cakar menghadap ke hadapan wajah tampannya dengan bola api yang berkobar-kobar.
"Sett!" Begitu asap sirna, tampak Sagara Angkara mencabut sebuah senjata yang aneh, senjata pemberian dari Eyang Brangaspati. Senjata itu berbentuk gendewa dan sebuah anak panah. Bentuk gendewa dan anak panahnya sungguh aneh dan tak lazim sebagai anak panah; bagaimana tidak, panah itu ujungnya tidak tajam namun berbentuk cakra. Selain itu, warna gendewa dan anak panah itu tampak beragam. Itulah yang dinamakan dengan Jamparing Panah Cakra.
"Aku peringatkan, jika kau terus menyerangku maka aku akan bertaruh jiwa denganmu!" Sagara Angkara menyekal gendewa dengan anak panah siap ditembakkan. Posisinya saat ini adalah setengah berjongkok hendak memanah bumi. Ujung panahnya bersinar keperakan, siap dilepaskan.
"Kalau begitu, jawabannya sudah keluar. Mulai sekarang, kita lihat siapakah yang akan berdiri untuk kali terakhirnya di tanah ini!"
"Kau menantangku! Tidak ada alasan untuk menolak, sesabar-sabarnya manusia pasti ada batasnya!" Sagara Angkara mulai terpancing emosinya.
Cakar Gardapati kembali berkelebat mengirimkan bola besar dari telapak tangannya. Sungguh jurus dan ilmu yang hebat.
"Sett!" Sagara Angkara menarik anak panahnya ke belakang, ujungnya diarahkan ke bola besar Gardapati sambil merapal Aji Jamparing Asih atau "Ajian Manah nu Welas Asih" (ajian hati yang lembut penuh dengan cinta kasih).
"Duaaarrr!"
Bola api itu meledak satu tombak di depan Sagara Angkara, terpecah menjadi dua bagian. Satu menghajar pepohonan di samping bangunan penerimaan tamu Padepokan Rajawali Emas, dan satunya lagi menghantam tanah hingga membentuk sebuah lubang besar.
"Wuaaaaa!" Gardapati berteriak nyaring. Rambutnya berkibar tak keruan. Kuda-kudanya begitu kokoh hingga tanah yang dipijaknya melesak hingga sebatas mata kaki. Tangannya ditarik di samping pinggang; ketika sudah sejajar dengan dada, kedua tangannya dihentakkan ke muka dengan badan sedikit membungkuk.
"Patzz! Patzz! Patzz! Wusss!"
Sagara Angkara menjejakkan kaki dan meloncat empat kaki ke udara, punggungnya sedikit melenting, muka menghadap langit, gendewa terbentang memanah langit. Seketika kaki kiri diangkat berbareng anak panah dilesatkan, menabrak hawa sakti yang dilepaskan Gardapati.
"Blaarrrrsssshhhh!"
Di pertengahan jarak, ledakan terjadi laksana dentuman mesiu yang dibomkan pada gunung. Bumi bergetar, debu mengapung bergulung-gulung. Tanah yang awalnya berupa rumputan hijau berubah menjadi padang pasir. Saking seringnya dentuman dua buah tenaga sakti itu melebur, tanah sekitarnya menjadi bubuk.
"Tapp!" Sagara Angkara menginjak bumi.