Chapter 63
Begitu menginjak bumi, tubuhnya melesat cepat menerjang dengan gendewa di sisi kiri. Gardapati terkejut dengan kecepatan lawan. "Sraaattttt," Sagara Angkara menyabetkan gendewanya.
Gardapati melompat menghindar ke udara. "Duaaaarr!" Tanah yang dihajar gendewa Sagara Angkara meledak seperti dihantam tenaga raksasa. Sagara Angkara memajukan kaki kirinya ke depan untuk menahan laju tubuhnya. Gendewanya tercekal di tangan kanan, sementara tangan kirinya mencekal anak panah dengan siku disandarkan pada paha kiri.
Dengan tenang ia berkata, "Mana kesombonganmu yang tadi? Kesombongan yang menelan sikap hati nuranimu itu. Kau merasa tidak percaya diri lagi karena posisi yang tak menguntungkanmu?" Sagara Angkara sampai saat ini belumlah menyadari bahwa sebenarnya orang yang dilawannya adalah sahabat sekaligus musuhnya, orang yang mengaku bernama Pelajar Berbaju Putih Berwajah Setan, Gardapati. Setahunya, orang yang dihadapinya adalah Iblis Dunia Persilatan yang dulu pernah dihadapinya, padahal kenyataannya adalah Arya yang menyamar.
Gardapati memandangi telapak tangannya, wajahnya menyeringai seram. Di tengah napas yang memburu, ia tersenyum, membuat Sagara Angkara merasa tidak enak. "Aku benci kalah!" pekiknya nyaring menggelegar. Tubuhnya meloncat dua tombak ke udara. Rambut gondrongnya berkibar laksana ular yang sedang mengamuk, wajahnya yang tampan berubah, dan kedua tangannya terkepal di samping pinggang. "Apa yang dia lakukan?" pikir Gardapati bersama para hadirin yang menonton di sisi arena.
Murid-murid Perguruan Rajawali Emas tampak sudah berkumpul di sisi arena dengan senjata siap digunakan. Di balik keramaian pasti ada keuntungan dan kerugian; mereka yang diuntungkan adalah para murid yang berhati khianat, di dalam kekacauan itu diam-diam mereka mengundurkan diri. Apa yang akan mereka lakukan, entahlah, hanya waktu yang mampu menjawab.
"Titisan Dewa Aliwawar!" pekik Maharaja Dunia Persilatan kaget melihat perubahan raut wajah, aura, hawa, dan sikap Gardapati.
"Titisan Dewa Aliwawar?" Pendekar Rajawali Berhati Emas di samping Maharaja Dunia Persilatan bergumam heran. Maharaja Dunia Persilatan paham arti gumaman itu dan segera menerangkan, "Titisan Dewa Aliwawar (topan) adalah ilmu yang memanggil kekuatan Dewa Topan untuk digunakan sekehendak hati pemiliknya. Bila ilmu itu dipanggil, si pemilik akan berubah sikap seperti dewa itu sendiri. Ilmu itu adalah ilmu purbakala saat tanah Jawa ini dikuasai para dewa dari khayangan dan belum terjamah manusia. Itu adalah salah satu dari sembilan puluh sembilan Dewa Berkehendak."
"Aku paham, aku mengerti mengapa tadi tiba-tiba ia mengganas dan menyerang Adi Dewa Pedang Kelana. Rupanya ia merapal ilmu Titisan Dewa Anala. Lalu ketika ia datang dan berkata bijak, itu adalah sifat aslinya. Entahlah, mungkin juga ia merapal ilmu Titisan Dewa Abimata (bijaksana)."
"Apakah masih ada ilmu lainnya?" tanya Pendekar Rajawali Berhati Emas.
"Semuanya ada sembilan puluh sembilan perubahan. Jadi, sifat aslinya mungkin ia tak akan menunjukkan seperti apa. Hakikatnya segala kejahatan dan kebaikan ada padanya. Bila ia ingin bersikap baik, ia akan mengubah diri dengan ilmu yang berbau kebaikan; bila berubah menjadi jahat, berarti ia memanggil ilmu yang berbau kejahatan. Mengerikan, mengerikan. Awalnya kusangka ini adalah ilmu dongeng dalam lingkungan kerajaan saja, tak kusangka hari ini akan muncul di dunia ini."
Sementara itu, di dalam arena, "Kasihan, hanya ada cara ini!" kata Gardapati sambil menatap tangan kirinya. Tangan kanannya menjuntai di sisi dekat pahanya. Tubuhnya melayang tegak di udara, benar-benar sikap seorang yang santai. Perkataannya menyejukkan siapa pun yang mendengar, tapi semua orang paham badai akan segera tiba.
"Pssshhhh!" Perlahan tapi pasti, tubuhnya turun menginjak bumi. Debu beterbangan menghindari pijakan kaki Gardapati, terhempas dipermainkan angin.
"Apa maksudmu?" kata Sagara Angkara heran, sementara batinnya bergumam, "Sungguh aneh, hawa jahat, amarah, dan kesombongannya menghilang. Tapi sikap tenangnya ini seperti hembusan angin yang mengabarkan badai."
Rambut Gardapati berkibar sehingga poninya menutupi wajah. Dengan tenang ia berkata, "Tidak ada artinya."
"Maksudmu kau mau menghentikan pertarungan?"
"Tidak juga." Poninya terbang dipermainkan angin sehingga kelopak matanya terbuka, memperlihatkan matanya yang bersinar tajam. Ia melanjutkan, "Awal dan akhir tidak bisa kutentukan sendiri. Sekarang aku ingin bertanya, apa maumu?"
"Mauku?" Sagara Angkara mengernyitkan kening, semakin merasa heran. Perasaannya benar-benar bergolak aneh, sikap lawan yang berubah-ubah tak bisa ditebaknya.
"Aku tak peduli menang ataupun kalah, tadi aku hanya ingin mengujimu saja. Kalau kau mau, kita bisa menghentikan pertarungan sia-sia ini sekarang juga," kata Gardapati.
Sagara Angkara menatap langit yang kelabu. Sebentar lagi akan hujan, semilir angin menyejukkan tekadnya. Rahangnya menguat, mata dipejamkan, dan mulut tersenyum manis. "Seorang pendekar yang telah mencabut senjatanya, sebelum masalah diselesaikan tak mungkin disimpan kembali. Aku sudah memperingatkanmu, tapi kau mengabaikannya. Tak akan ada pekerjaan yang sia-sia, sekecil apa pun pasti ada sebab dan akibatnya, termasuk pertarungan ini."
"Jadi itu maumu?" kata Gardapati sambil merapatkan jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Itu harga seorang pendekar, bukan kemauanku!" kata Sagara Angkara sambil memajukan gendewa dan memegang talinya.
Gardapati mengangkat tangan kanannya ke samping kanan sejajar dengan pundak dan berkata, "Baiklah. Setelah waktu bergulir, janganlah mengucapkan kata sesal, waktu tidak bisa diputar kembali."
"Terima kasih atas peringatanmu, tapi..." Sagara Angkara membentangkan panahnya. Ujung anak panahnya yang berbentuk cakra berkilat tertempa cahaya. Matanya berkilat ketika menyaksikan di atas telapak tangan Gardapati terbentuk sebuah angin berputar. Ia tahu itulah angin topan. Bulu kuduknya meremang. Inilah pertarungan seimbang yang dirindukannya.
"Jika ditembakkan dari sini, niscaya waktu untuk menghindar semakin besar, sebaiknya aku mempersempit jarak," batin Sagara Angkara. Pundak kanannya disorongkan ke depan lalu berlari ke muka. "Dap.. tap.. trapp!"
Gardapati tetap tenang di tempatnya. Tangan kanan yang memiliki segulung angin itu dikebaskan ke muka. "Whuuuussss!" Laksana topan memporak-porandakan bumi, angin itu menerjang Sagara Angkara. Sagara Angkara mundur setindak. "Duaaarr!" Tanah yang ia pijak tadi meledak. "Drttt.. dretttt!" Tanah yang berubah menjadi pasir itu merekah. "Sial, tanahnya!" Sagara Angkara mencelos; seandainya ia tak mundur, tak mustahil ia bisa mati. Sementara hatinya semakin heran dan kagum, bagaimanakah seorang manusia bisa memiliki pembawaan yang berubah-ubah seperti itu?
"Kau menyesal?" kata Gardapati sambil kembali mengirimkan topan kecil sebesar anak kambing di atas telapak tangannya ke muka. Sagara Angkara mencelos, sekenanya anak panahnya dilepaskan! "Duaaaarr! Sratt!"
"Ugh!" Sagara Angkara mengeluh ketika hancuran tanah yang merekah di depannya hancur berantakan dan melukai lengannya.
"Dengarlah, selama angin berhembus, maka di sanalah sumber kekuatanku. Aku pun dapat membunuhmu dengan ini," Gardapati menjentikkan ibu jarinya ke arah pohon-pohon puspa yang berjejer di dekat gerbang. "Duaarr!" Pohon-pohon itu tangkainya meledak, membuat ujung runcing di patahannya. Hebatnya lagi, pohon itu melayang dengan badan pohon seperti diikat oleh gumpalan angin yang berputar. "Syung!" Pohon-pohon itu berputar dan membentuk formasi segitiga. Begitu terbentuk, langsung melesat hendak menyate tubuh Sagara Angkara.
Sagara Angkara jengkel, seketika ia merapal aji Jamparing Asih-nya, membentuk busur panah hingga sepuluh batang sekaligus. Lalu dipasang dan ditembakkan. "Dak.. dak.. dak.. Duaarrrr!" Masih di udara, pohon-pohon itu meledak. Baru saja Sagara Angkara menarik napas lega, puluhan batu sebesar kerbau tampak melayang hendak menindihnya. "Syuutt.. Duaarr.. Argghhh!"
"Sial," maki Sagara Angkara, lalu bergumam, "Haruskah aku menggunakan ajian itu?" Mendadak ia mendengar lawan berkata, "Apakah kemampuanmu hanya itu? Padahal aku baru hendak mulai, hati-hatilah."
Ia memicingkan mata berusaha melihat posisi lawan dari debu yang menipis. Tak sadar seteguk air liur tertelan. Tampaklah Gardapati tidak lagi menapak bumi, melainkan melayang di udara dengan tanah, batu, kerikil, pohon, dan material lain terbang mengelilinginya. Tangan Gardapati terjuntai di kedua sisi paha dengan jari-jari membuka. Angin yang sepoi-sepoi berganti dengan badai yang mengamuk. Genting berterbangan. Para murid Padepokan Rajawali Emas yang berilmu rendah tampak ada yang terlempar dari tempatnya. Hanya beberapa saja yang masih kuat di tempatnya, termasuk para tokoh dunia persilatan yang sudah termasyhur akan kemampuannya.
"Kalau begitu, aku juga akan serius!" kata Sagara Angkara tajam. Gendewanya dikebaskan. Ajaib, gendewa itu berubah bentuk menjadi sebuah batangan bambu sejengkal, lalu disimpan di balik bajunya. Bola matanya berubah merah membara, rambutnya berubah memerah api. "Ctikk.. ctikk.. cesss!" Tanah yang dipijaknya berubah gosong. Nyala api membakar sekeliling tubuhnya, semua mata memandang takjub dan heran. Tak ada seorang pun yang mengetahui jurus apakah itu.
Kakinya menjejak tanah dan melompat ke udara melakukan sebuah salto. Begitu kepalanya di bawah menghadap bumi, kedua tangannya menggempur dengan kekuatan panas yang mahadahsyat. Gardapati yang tahu lawan sudah mengerahkan jurus terhebatnya, kuda-kudanya diperkuat. "Bett.. bett.. bet!" Gardapati menekuk tiga jarinya, yaitu ibu jari, kelingking, dan jari manis.
"Wusss! Wesss! Blegaarr! Ctik.. ctikk.. cesss!" Sungguh luar biasa akibatnya. Empat puluh tombak di mana benturan itu terjadi, rerumputan hangus terbakar, tanah dan batu menghitam seperti kena bakar. Para murid Rajawali Emas serabutan melarikan diri.