Chapter 64
Beberapa bangunan terbakar hingga penghuninya berlarian keluar dan sibuk memadamkannya. Gardapati terpental hingga sepuluh kaki, sementara Sagara Angkara melayang ke udara.
"Heaaa!" Sagara Angkara berteriak nyaring, telapak tangan kirinya dihentakkan ke muka.
"Bwossh!" Jalur api panjang menerjang Gardapati.
Bukan hanya itu, kedua kakinya pun menyala. Begitu menjejak, ia secepat kilat menerjang menyusul jalur api yang ia lepaskan. Gardapati tidak menyangka kejutan lawannya. Kedua tangannya dirangkapkan di dada, lalu ditamparkan ke dua arah.
"Wussh! Bress!" Jalur api terbelah dua. Begitu terbelah, sesuatu yang bergerak cepat menerjangnya. Gardapati terkejut dan ingin menghindar, namun terlambat.
"Duk! Ugh!" Telak sekali, ulu hati Gardapati terhajar. Tubuhnya membungkuk terdorong pukulan super keras itu.
"Sial!" maki Gardapati.
Penderitaan Gardapati tak berakhir. Sagara Angkara yang masih dalam keadaan telungkup di udara mengangkat kaki kiri dan berputar cepat ke arah atas. "Duakk!" Rahang Gardapati terhajar hingga tubuhnya yang terpental jatuh berubah arah.
"Tep!" Sagara Angkara menginjak bumi. Namun, ia tidak berhenti; tubuhnya melesat menerjang ke muka.
"Wuk! Betss! Blegaarr!" Tempat Gardapati hendak jatuh hancur berantakan dihajar Sagara Angkara. Sementara itu, Gardapati melesat ke angkasa, cara terbangnya benar-benar laksana kapas tertiup angin. Raut wajahnya tetap tenang meski sudut bibirnya sudah berdarah.
Di udara, Gardapati menekuk kaki kiri berbarengan dengan penarikan kedua telapak tangan di depan dada, lalu dihentakkan ke muka laksana angin berhembus.
"Telapak Dewa Aliwawar!"
"Wusshhh! Blegaarr!" Sebentuk gulungan topan sebesar kubangan kerbau menggulung Sagara Angkara. Gulungan itu tercipta dari kedua telapak tangan Gardapati. Dengan memanfaatkan angin yang berhembus, tak sulit bagi Gardapati menciptakan angin sebesar apa pun hingga membuat tempat itu hancur berantakan.
Sagara Angkara terlempar empat puluh kaki, tapi ia bukanlah tokoh kacangan. Kaki kanannya menjejak diikuti kaki kiri. "Sraakk!" Tubuhnya terseret hingga menciptakan bekas kaki sepanjang empat kaki. Matanya bersinar tajam, wajahnya ditatap pada Gardapati yang melayang di udara.
Ia melihat Gardapati merendahkan tubuh hingga berjongkok, kedua tangannya disilang di depan tubuh hingga menutupi wajahnya.
"Heeaa! Topan Kutang Baja!" teriak Gardapati keras menggelegar.
"Wusshhs!" Angin bergumul, berkumpul jadi satu dalam tubuh luar membungkus Gardapati hingga tubuhnya tampak samar terhalang bayangan kelabu topan.
"Apa?" Sagara Angkara terkejut melihat perubahan jurus Gardapati.
Gardapati mengangkat kedua tangannya di atas kepala hingga menjadi satu, tubuhnya diputar searah jarum jam dengan kecepatan laksana topan yang menggulung. "Whirrr! Sraakk!" Tubuhnya melesat keras turun menerjang Sagara Angkara. Sagara Angkara melompat mundur. Masih di udara, tangan kirinya maju ke depan dengan telapak tangan membuka, tangan kanannya terkepal merah membara hingga mengepulkan asap.
"Tinju Bara Matahari!"
"Wusshh! Blepp!" Tinju Sagara Angkara seolah tak ada efeknya begitu menghadapi telapak tangan kiri Gardapati yang memiliki tameng angin menggulung. Bahkan baranya seketika menghilang. Meski hatinya terkejut, Sagara Angkara tak menyerah. Tangan kiri yang tadi ditarik berbarengan dengan kepalan kanan kembali dipukulkan.
"Buukk!" Kembali pukulan itu ditahan dengan telapak tangan kanan Gardapati dengan santai.
"Shhh! Api tak akan mengalahkan angin, apalagi Topan Kutang Baja. Anginnya selalu bertiup mengarah keluar," kata Gardapati mengejek.
"Whuusssss!" Tubuhnya seketika mengeluarkan badai angin hingga membuat Sagara Angkara menutupi wajahnya dengan tangan yang disilang. Hal itu membuatnya terdorong hingga dua puluh kaki.
"Sungguh angin yang dahsyat, jika seperti ini terus aku bisa mati," batinnya. Kakinya menjejak dan kembali mengerahkan ajian bola api besarnya. Dengan teriakan yang tak kalah menggelegar, ia menerjang terbang lima jengkal dari tanah, tangan kirinya membuka membentuk cakar, tangan kanannya terkepal merah membara mengepulkan asap.
"Heeaaaa!"
"Wussh!" Gardapati merangkapkan kedua tangan di depan mulut, lalu ditarik dan dibentangkan.
"Bwossshhh! Blaarrhh! Akh!" Sagara Angkara terjengkang dengan posisi kedua tangan terbentang ke atas dan kaki kiri terangkat.
"Bruaakk!" Tubuhnya menghantam dinding yang sudah hancur.
"Mana dirimu yang sebelumnya mengejekku?" tanya Gardapati sambil tertawa dingin. Tangan yang terbentang ditekuk pada masing-masing siku mengarah ke atas; jari manis, kelingking, dan ibu jari ditekuk.
"Kuharap kau masih hidup, Sagara," kata Gardapati sambil menyatukan empat jari yang membuka di depan dada hingga menjadi huruf X.
"Badai Kelabu!"
"Bwussshhhh! Sraaakk! Blegaarrrr!" Angin prahara yang membadai itu menghancurkan bangunan seluas dua puluh tombak persegi hingga hancur menjadi debu. Beberapa murid Perguruan Rajawali Emas ikut menjadi korban. Pohon-pohon tercabut hingga ke akar-akarnya. Inilah badai pertarungan yang paling dahsyat di abad ini.
"Hebat juga, tubuhmu masih bisa bertahan. Jika orang lain, mungkin tulangnya sudah menjadi abu. Aku kagum padamu, bangunlah, jangan berlagak tidur. Kau sama sekali tak pantas dan tak bisa bersandiwara."
"Awalnya aku masih ragu menggunakan ini, tapi apa boleh buat!" kata Sagara Angkara. Matanya merah menyala, rambut gondrongnya berkibar terbakar. "Huaaaaaaaaa!" Sagara Angkara berteriak menggelegar.
"Bwossshhh!" Api itu berkobar, membakar tubuh Sagara Angkara hingga bajunya menjadi abu. Anehnya, celananya tidak kenapa-napa meski terbakar api yang maha panas. "Whuss! Apa! Topan Kutang Bajaku mengarah padanya?" gumam Gardapati heran. "Mustahil!"
Perlu diketahui bahwa udara yang dipanaskan akan naik dengan cepat sehingga menyebabkan tekanan udara rendah. Menurut teori umum, angin akan bertiup ke arah udara yang bertekanan rendah. Oleh karenanya, jurus Topan Kutang Baja Gardapati dapat terlepas dari pemiliknya.
"Tapp!" Sagara Angkara menjejak hancuran dinding. Begitu dekat, kaki kiri Sagara Angkara masuk ke daerah lawan. Tubuhnya doyong ke arah kanan dengan tangan kiri menyilang dan tangan kanan terkepal membara.
"Apa?" Gardapati terkejut dengan kecepatan lawan.
"Syuuutt! Duaaakk!" Wajah tampan Gardapati terhajar pukulan panas itu hingga tubuhnya terlempar sepuluh kaki. Gardapati mengayunkan tubuh dan kembali berdiri, pandangan matanya menunduk ke bumi. Diam tak bergerak, perlahan sekujur tubuhnya gemetar.
Sagara Angkara tidak mau gegabah, ia diam di tempat dengan kuda-kuda penuh. Melihat lawan sudah berhenti gemetar dan tekanan hawa dari tubuhnya memudar, Sagara Angkara mengangkat kaki kanannya hendak menendang wajah lawan lagi. Jangan dikira tendangan ini tidak berarti apa-apa; baja pun bisa hancur karenanya. Decitan nyaring menjadi irama yang khas mengiringi tendangan itu.
"Sett!" Mata Gardapati terbuka, kaki kanannya diangkat, tangan kanan di dekat wajah, dan tangan kiri di dekat paha.
"Duakk! Blaarr!" Begitu kedua kaki itu bertubrukan, angin prahara keluar dari tumbukan itu hingga tanah yang dipijak mereka amblas sebesar dua kubangan kerbau. Kedua kaki turun ke bumi, keempat buah telapak tangan beradu. "Blegaarr! Blasssh!" Kembali bumi amblas.
Gardapati menggunakan pentalan tubuhnya untuk mundur, kedua tangannya direntangkan seperti hendak terbang. Kaki kiri maju ke depan satu langkah. Tangan kiri bergerak menyikut, sementara tangan kanan melindungi kepalan di depan dada. Selanjutnya, dengan posisi kedua kaki tetap terbuka lebar, tangan kiri lurus ke samping kiri dan tangan kanan didorong ke depan diiringi bayangan hawa telapak tangan berwarna hitam berbau busuk dan amis menyeruak.
"Telapak Iblis Dunia Persilatan!" pekik Gardapati nyaring.
Di lain saat, Sagara Angkara menurunkan kaki kiri ke belakang sambil melakukan gerakan tusukan dengan tangan kanan, sementara tangan lainnya menyilang di depan dada. Tangan kiri bergerak naik sambil menggenggam sebuah batangan bambu pendek. "Cklaaangg!" Batangan itu terbuka hingga menjadi sebuah gendewa. Tangan kanan turun ke arah samping dan diputar menarik tali gendewa ke dekat pelipis, pandangan mata tertuju ke depan.
"Jamparing Asih!"
"Wussshhh!" Dari gendewa itu tercipta sebuah anak panah dengan ujung berbentuk cakra, lalu dilepaskan membentur telapak tangan itu.
"Bleggarr! Duaarr!" Angin prahara kembali datang. Sagara Angkara terlempar empat puluh kaki ke udara dan menyemburkan darah segar. Sigap sekali Pendekar Rajawali Berhati Emas meloncat menangkap laju tubuhnya. Sementara itu, tubuh Gardapati terlempar keluar gerbang; keadaannya tak jauh beda dengan Sagara Angkara. Sebuah bayangan berwarna nila sigap menangkapnya dan menghilang di antara rimbunnya pohon.
Debu menipis, tampaklah bangunan-bangunan dari Padepokan Emas berserakan laksana tumpukan sampah yang terbuang. Wajah Pendekar Rajawali Berhati Emas tampak sedih. Di pangkuannya, Sagara Angkara terpingsan, sepertinya ia terkena hawa beracun dari pukulan telapak itu.
"Pluk!" Seseorang menepuk pundak Pendekar Rajawali Berhati Emas. Ia berpaling, dilihatnya Maharaja Dunia Persilatan tersenyum lembut kepadanya.
"Mari kita obati bersama, mudah-mudahan obat penawarnya bisa kita temukan," katanya.
Pendekar Rajawali Berhati Emas mengangguk kecil. Para dewan Dunia Persilatan menatap Ketua Rajawali Emas dengan sedih dan haru. Sungguh mereka merasa kasihan; jika yang mengalami hal ini adalah perguruan mereka, niscaya mereka juga akan mengalami hal serupa.
Para murid utama segera mengambil alih. Mereka sigap membereskan puing-puing beberapa bangunan yang hancur dan menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Debu mengepul tinggi bersama senja yang mulai merangkak menyelimuti bumi.