Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 65

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 65

Semilir angin kesedihan berhembus pilu, menerpa wajah para murid Perguruan Rajawali Emas yang tertunduk lesu. "Cobaan ini kembali datang," bisik mereka. "Ah, auh, emh," suara desahan dan dengusan napas menggema di sebuah rumah bunga di daerah kaki Gunung Merbabu.

Malam sunyi yang diiringi musik penuh berahi membuat bulu kuduk mereka berdiri. Suara canda, tawa, dan cekikikan bergema meramaikan suasana. Perkataan cabul tak perlu ditanya lagi. Di dalam, tampak para penari telanjang memulai aksinya dengan iringan musik yang mengundang berahi. Dentingan gelas para hartawan terdengar riuh rendah; di samping mereka, gadis-gadis cantik bergelayut manja menuangkan tuak ke dalam gelas. Inilah irama kehidupan iblis duniawi.

Namun, di tempat lain, suasana tampak begitu sunyi. Isak tangis justru terdengar. Di tengah pembaringan berbahan beludru dan bulu beruang, tampak seorang pemuda tampan berkulit putih pucat tergolek lemah. Matanya terpejam tenang seakan tak ada lagi beban dalam hidupnya. Dialah Gardapati.

Di samping kirinya, seorang gadis cantik berbaju nila berwajah lugu bercucuran air mata. Penuh kasih, ia mengusap wajah Gardapati dengan sejuta perasaan. Dialah Astadewi. Rupanya, bayangan nila yang menyambar tubuh Gardapati adalah Astadewi. Rumah bunga di kaki Gunung Merbabu inilah tujuannya. Untunglah ia sempat mampir ke Perguruan Rajawali Emas, jika tidak, entahlah apa yang akan terjadi pada Gardapati.

"Nimas Dewi, dia tidak apa-apa, kan?" tanya seorang gadis cantik lain yang berada di sisi kanan, sibuk memeras handuk kompresan.

"Seandainya ada Jamur Payung Emas, barangkali ia akan sadar sekarang, hanya saja jamur itu sangat langka. Ia terkena racun yang membuatnya lena dalam indahnya cinta kasih. Jika dibiarkan terus, ia bisa mati dalam keadaan tersenyum," kata Astadewi menggantung.

"Jamur Payung Emas?"

"Hem, itu merupakan jamur sebesar ibu jari berwarna putih berbintik keemasan. Jika malam, bintik itu terlihat jelas karena bercahaya."

"Rasanya dulu Ayah punya jamur itu!" gumam Dyah Krusina sambil menopang dagu, berusaha menelusuri masa lalu.

Astadewi diam saja. Perlahan, ia bersila dan meletakkan ibu jari tangan kanan dengan telunjuk tangan kiri, serta ibu jari tangan kiri dengan telunjuk tangan kanan. Matanya terpejam, napasnya mulai teratur. Suasana menjadi sunyi laksana kuburan. Dyah Krusina sama sekali tak tahu bahwa Astadewi sedang bersemadi. Ia terus menopang dagu sambil menatap wajah tampan Gardapati. Pikirannya melayang, mengenang masa lalu yang terkadang membuat orang lupa segalanya.

Seperminum teh kemudian, "Akh, ya, aku ingat!" Dyah Krusina berteriak kegirangan. Wajahnya dipalingkan ke arah Astadewi, namun mulutnya melongo melihat tangan Astadewi melekat pada punggung Gardapati dengan wajah tenang laksana air telaga. Kedua tangan itu ditarik, disimpan di dada secara silang, lalu ditarik hingga salah satu telapak tangan menyentuh punggung telapak tangan, dibalik, dan dilepaskan ke bawah.

"Fyuuh!" Astadewi mengembuskan napas, matanya terbuka, lalu menatap Dyah Krusina dengan kening berkerut.

"Ada apa, Mbakyu?" tanyanya.

"Aku ingat di mana jamur itu. Nimas, tolong jaga dia. Aku hendak menengok puing rumahku!"

"Baik, hati-hati," jawab Astadewi kalem. Dyah Krusina tersenyum melihat keteguhan Astadewi, padahal ia melihat mata yang semula bersinar lugu kini berubah menjadi sinar duka.

***

Rambut yang tergerai lurus laksana permadani sutra, kulit putih bersih mulus tanpa cela dibalut kemben putih dengan jubah merah muda. Dada yang sintal, pinggul yang ramping, dan pantat yang naik membentuk lekuk sempurna. Jari-jari panjang lentik, langkah gemulai bak kain tertiup angin. Senyum manis tersungging dari bibir tipis merah delima, dagu yang indah, alis mata lentik bagai bambu tertiup angin, serta mata yang bersinar jeli menatap keindahan dunia. Giginya putih bersih berderet di balik bibir tipis. Hidung bangir, pipi merah merona serasi dengan jubahnya. Sebilah pedang panjang yang indah berbalut intan permata menggantung di pinggangnya.

Itulah sosok gadis yang hendak memasuki sebuah kedai di Desa Cihampelas. Begitu ia masuk, berbagai pasang mata memandangnya dengan sejuta perasaan; kagum atau mungkin gairah. Terutama mata para lelaki bertampang urakan dengan cambang dan rambut tak terurus. Gadis itu tidak memedulikan keadaan sekeliling, ia langsung mengambil tempat duduk di meja pojok sendirian. Pedangnya diletakkan di samping meja.

Begitu ia duduk, terdengar lantunan syair dari seorang pelajar berbaju kuning kusam di belakangnya. "Sungguh indah tak dapat diukir dengan lukisan, tak dapat diungkapkan dengan kata. Sungguh gadis yang cantik jelita. Tak dinyana di dunia ini ada gadis secantik ini. Siapakah yang dapat memeluknya, siapakah yang dapat mendekapnya? Pasti dialah sang perkasa pilihan dewa."

"Wah, gila! Tiba-tiba saja kantukku sirna. Siapa sangka ada bidadari jelita sudi mampir di tempat ini?" seru seorang laki-laki berewokan. Ia beranjak dari tempatnya dan melangkah menuju wanita itu. "Sudikah kiranya aku menemanimu duduk, wahai bidadari dari langit?"

Gadis itu diam saja. Pandangannya tetap tertuju kepada pemilik warung. "Bawakan aku secangkir tuak nira dan bakakak ayam!" suaranya halus, merdu, namun bernada manja dan tegas—ciri khas seorang gadis bangsawan.

"Hahaha, kalian dengar, kawan? Gadis cantik ini memesan tuak. Bukan main. Ini baru betina sungguhan!" laki-laki berewok itu memuji sekaligus meledek. Jari-jarinya bergerak hendak menjamah pipi mulus itu.

Sebelum tangan itu menyentuh sasaran, gadis itu berkata dengan tenang, "Mengapa harus membelai? Jika hendak menemani, duduklah di depan sana dan jangan ganggu aku."

"Sungguh beda!" Laki-laki berewok itu tertawa sambil duduk di hadapan wanita itu.

Makanan pun tersaji. Gadis itu menuang tuak dan meminumnya di bawah tatapan sang pria. Tak tahan lagi menahan gairahnya, laki-laki itu hendak memeluk. Tiba-tiba tubuhnya meliuk dan terpental ke belakang karena tangan gadis itu bergerak menempelkan jari-jarinya ke dada laki-laki tersebut.

*Bruak!*

Tubuh laki-laki itu menghantam meja yang dikelilingi teman-temannya. Dengan bersusah payah ia mencoba berdiri. Dadanya sesak; ia merasa aneh dengan jurus gadis itu. "Huh! Bisa dipandang, tak bisa dijamah, ya? Jangan kira aku kapok. Ini membuat birahiku menggelegak, Cah Ayu! Aku suka sikapmu itu!" katanya sambil memasang kuda-kuda, lalu menerjang maju.

Gadis itu hanya tersenyum. Sambil tetap duduk, begitu lawan hendak menerkam, ia mengetuk gelas bambu ke punggung tangan laki-laki itu. Pria itu menjerit, tangannya lunglai dengan tulang yang patah. Karena tak tahan menahan sakit, laki-laki itu mengamuk dan menendangkan kakinya ke meja gadis itu.

*Duk! Krak! Argh!*

Aneh, yang patah bukan meja itu, melainkan kaki yang menendangnya. Laki-laki itu maju lagi dengan satu kaki, namun baru selangkah, tubuhnya ambruk pingsan. Gadis itu tetap tenang meminum tuaknya. Pelayan dan pemilik kedai menatap kagum. Teman-temannya terperangah, mereka pun bergerak membentuk pagar betis.

"Hm, empat laki-laki mengeroyok seorang gadis, sungguh pemandangan yang membuat hati miris," tukas seorang gadis lain yang baru masuk ke kedai itu. Di belakangnya tampak tiga gadis lain yang berbeda usia dan seorang laki-laki yang sudah cukup berumur.

"Jangan ikut campur bila tak ingin mati," kata salah seorang di antara para lelaki berperut buncit.

Sementara itu, laki-laki berambut pelontos membentak gadis yang duduk tenang itu, "Sebut namamu sebelum kau masuk liang lahat!"

"Mengancam? Itu cuma gertakan macan ompong!" ledek Gita Jayasri, gadis yang baru datang, sambil tersenyum kecut. Gita pun duduk di hadapan gadis yang sedang minum tuak tersebut. Dalam hatinya ia membatin, "Sungguh aneh gadis ini, sikapnya benar-benar membuat siapa pun menghela napas."

Detik selanjutnya, tak ada yang tahu siapa yang memulai terjang, namun mereka bergerak serentak. Bersamaan pula, tubuh mereka terpental ke belakang dan terjerembap. *Bruak!* Mereka menghantam piring-piring pengunjung lain. Tak satu pun berani melawan, karena mereka tahu Lima Seangkai Bandit bukanlah orang sembarangan.

"Kalian pergilah!" Harsanto, laki-laki yang bersama Gita Jayasri, memberikan peringatan. Rupanya dialah yang menghajar para bandit itu. Sementara itu, Meswari dan Jingga segera mengambil tempat duduk dan memesan makanan tanpa memedulikan keadaan sekeliling. Diberi peringatan, keempat laki-laki itu tak mau mengerti. Kali ini, golok mereka diandalkan untuk menghadapi kelompok itu. Dua orang maju serentak.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment