Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 66

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 66

Golok mereka berkelebat mencari sasaran. Namun, dengan gesit dan cepat, Harsanto mengirimkan pukulan ke punggung lawan. Mereka terjerembap menabrak meja tempat gadis aneh, Gita Jayasri, dan rombongannya duduk.

"Duk!" Darah merembes dari kening mereka. "Sungguh hebat. Tak kusangka meja ini sudah disalurkan tenaga dalam sehingga tidak hancur meski ditumbuk sekeras itu," batin Meswari.

Gita Jayasri melengak; ia mengenal jurus ini. Ya, ia mengenalnya. Ia menatap gadis yang tampak asik duduk minum tuak itu. Sementara itu, yang lain menyusul menyerang. Kali ini Harsanto tak mau lagi memberi ampun. Tenaga dikerahkan pada kepalan tangan kanannya.

"Ugh... Ugh!" Dua orang itu pingsan.

Harsanto melengak heran, tetapi Gita Jayasri menuding gadis itu dengan tatapan aneh. "Dari mana kau mempelajari jurus itu?"

Gadis itu meletakkan gelas bambunya dan berkata, "Aku bukanlah orang yang suka mencuri ilmu. Inilah ajaran guruku. Ada apa?"

"Hah, siapa gurumu?"

"Haruskah aku memberitahumu? Mengenal pun tidak, bersua pun baru kali pertama. Lalu bagaimanakah caranya aku mempercayaimu?"

"Akh!" Gita Jayasri menutup mukanya. "Namaku Gita Jayasri, murid pertama Eyang Gede dari Gunung Gede. Siapakah kau sebenarnya? Mengapa kau menguasai jurus-jurus beliau?" jawabnya lalu menghela napas panjang.

Gadis itu termangu mendengar penuturan Gita Jayasri. Ia menghela napas panjang. "Sebenarnya aku merasa bahagia mendapat saudara seperguruan, tapi sayang, kita dalam tujuan yang berseberangan."

Gita Jayasri paham maksud perkataan itu. Secara langsung gadis itu mengatakan bahwa ia juga murid dari Eyang Gede, hanya saja pertanyaannya adalah mengapa tujuan mereka berseberangan? Tak tahan, ia bertanya, "Apa maksudmu, Nimas? Dan mengapa gadis secantik dirimu meminum tuak seperti kesetanan seperti itu?"

"Nimas" adalah sebutan untuk adik perempuan yang dikasihi. Secara langsung dan gamblang Gita Jayasri mengakui bahwa gadis di hadapannya adalah adik seperguruannya.

"Hah, tidak apa-apa. Aku adalah seorang gadis yang malang. Ingin membalas dendam namun tiada sanggup. Ada orang yang kucintai seperti ayahku sendiri meninggalkan aku dari dunia ini."

"Dendam, dendam apakah?"

"Mbakyu, apakah kau merasa kesedihan bila orang tuamu dibunuh orang di depan mata kepala sendiri? Sementara ia mati hanya karena tuduhan dugaan semata?"

"Tentu. Jangankan di depan mata, bahkan mengetahui kematiannya dari jauh pun, bila itu dibunuh, kesedihan dan dendam tak bisa kita elakkan."

"Engkau berkata seolah kau pernah merasakan kesedihan itu, Mbakyu?"

"Benar, aku pun sedang berusaha menuntaskan dendam kematian orang tuaku. Ngomong-ngomong, siapakah musuh besarmu itu?"

"Maharaja Dunia Persilatan!"

"Apa!" Bukan hanya Gita Jayasri yang terperanjat, Jingga, Harsanto, dan Meswari juga dibuat kaget karenanya.

"Si... siapa sebenarnya kau itu?" tanya Gita Jayasri.

"Putri tunggal Drajasengkala, bangsawan berhati emas, Dyah Krusina!" Kalem saja ia menjawab dan meminum tuaknya.

Memang benar, itulah wajah asli dari Dyah Krusina. Seperti yang diketahui bahwa orang yang disangka oleh seluruh umat persilatan sebagai Drajasengkala pada kenyataannya adalah Dyah Krusina yang menyamar. Satu tahun lalu wajah aslinya kembali sebab masa ilmu yang digunakan Gardapati telah habis dan diperpanjang satu tahun kemudian.

Dia berkelana di dunia persilatan menjagal setiap orang yang ikut dalam pembantaian orang tuanya. Setelah satu tahun dia tidak kembali mengubah tubuhnya, dia lebih memilih untuk menjadi nyonya di rumah bunga di kaki Gunung Merbabu sambil memantau wakilnya, Aryani, sang duplikat ketua Dhara Sesat Air Terjun Balumbang.

"Bukankah Bangsawan Berhati Emas telah dibangkitkan oleh Iblis Dunia Persilatan?" tanya Harsanto.

"Memang benar, tapi apakah kebahagiaan masa lalu akan kembali? Dia dibangkitkan dalam amarah dendam penasaran, sama sekali tak memiliki sifat kelembutan yang diajarkan semasa sebelum kejadian pembantaian itu terjadi. Sungguh tragis, hanya karena berteman dengan Iblis Bermata Hijau, keluarga kami dibantai begitu saja," kata Dyah Krusina sedih setengah berbohong.

Gita Jayasri dan yang lain paham; hanya orang yang tak tahu masalahlah yang menjadi korban. Mereka sudah merasakan itu dan cukup simpati dengan keadaan gadis itu. Maka dari itu, mereka membiarkan gadis itu menuntaskan segenap kesedihannya dalam tuak yang ditenggaknya. Barangkali itulah hiburan yang dapat dilakukan untuk melupakan masalahnya.

"Bagaimanakah keadaan Eyang Guru?" tanya Gita Jayasri mengalihkan perhatian.

Setitik air mata jatuh membasahi pipi menjawab pertanyaan Gita Jayasri. Gita Jayasri diam-diam merasa gelisah yang sangat. Sungguh ia ingin memegang kerah baju gadis itu dan memaksanya mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi masakah ia melakukan hal itu?

"Beliau telah mangkat dua tahun yang lalu!"

Perkataan itu laksana guntur di siang bolong bagi Gita Jayasri. Ia diam melongo untuk beberapa waktu yang begitu lama. Tak sepatah kata pun keluar dari bibir mungilnya, matanya dikerjap-kerjapkan berusaha meyakinkan bahwa itu hanya mimpi belaka. Sayang seribu sayang, itu adalah kenyataan. Air mata jatuh membasahi pipi, tubuh lemas gontai serasa tak bertulang, pikiran kusut bagai benang yang ditarik dan disimpan tanpa digulung kembali. Semuanya kelam, hitam, tapi ia berusaha tegar setegar batu karang. Akhirnya, meledaklah tangis yang menjadi tanda tanya bagi pengunjung yang lain.

Lima orang yang tadi membuat keributan sudah menghilang entah ke mana.

"Sudahlah, bertemu kalian hanya membuat hati resah dan lara. Sebaiknya aku pergi melanjutkan langkahku menyongsong tujuan. Sampai jumpa, sampai bertemu bila kita memang berjodoh kembali!" kata Dyah Krusina sambil berkelebat lenyap.

Gita Jayasri sadar, sesadar-sadarnya. Ia berteriak memanggil adik seperguruannya, suaranya begitu lemah dan serak. Hening, sepi, tak ada jawaban. Pingsanlah ia.

Siapakah yang tidak merasa sedih dan bahagia bila melihat kampung halamannya setelah sekian lama? Awan berarak kelabu menangis lara meneteskan air mata kesedihan dan membasahi bumi. Angin dingin bergemerisik meniup dedaunan memainkan melodi kesedihan. Burung-burung enggan bernyanyi. Jalanan lengang tanpa kehidupan. Puing sisa pembakaran masih mengampar tanpa seorang pun yang sudi membersihkannya.

Dua buah kuburan dengan nisan dua bilah papan bersanding di sisi puing. Tanah masih berwarna kemerahan bekas darah yang tumpah, pepohonan kering kerontang tanpa dedaunan seakan menjadi tua karena kesedihannya. Di hadapan makam itu tampak seorang gadis jelita berjubah merah muda berkibar dan dipermainkan rintik hujan berdiri mantap dan tegar. Di tangannya, bunga mawar putih dan merah dipegang dengan kencang seolah takut terjatuh. Wajahnya diliputi mendung dendam dan kesedihan yang tiada tara. Seulas senyum pahit keluar dari bibir mungilnya, wajahnya basah dengan air mata langit dan air mata dirinya, bercampur menjadi satu.

"Ayah, Ibu, tenanglah kalian di alam baka sana. Ananda pasti akan membalaskan rasa penasaran kalian," gumamnya.

Dibukanya salah satu kayu yang menutupi lantai, mudah saja ia menyingkirkannya. Gadis itu mengetuk-ngetuk lantai. Seulas senyum muncul di bibir mungilnya, ia celingukan ke sana kemari. Setelah yakin tak ada orang, ia membuka lantai itu dengan cara memutar tuasnya, lalu masuk ke dalam.

Di dalam, rupanya terdapat sebuah ruangan tiga tombak persegi. Ia beranjak pada sebuah peti kecil di sudut ruangan dan membukanya. "Akh, syukurlah, jamur ini masih ada!" gumamnya. Jamur itu diambil dan disimpan di balik bajunya. Sementara petinya ia bawa dan memasukkan sebuah permata dari cincin. Dia pandangi lukisan ayah dan ibunya, setelah memberi hormat, ia berkelebat lenyap dari sana.

"Kau sudah siuman, anakku?" Maharaja Dunia Persilatan bertanya pada seorang pemuda tampan di atas pembaringan. Pemuda itu tidak lain adalah Sagara Angkara.

Ketika siuman dan membuka mata, ia merasa dingin sekali dan sekelilingnya pun gelap gulita. Angin terasa berdesir silir dan tubuhnya pun terasa sakit.

"Hai, aku belum mati?" serunya.

"Tentu saja kau belum mati, Anakku. Belum saatnya engkau mati meninggalkan keangkara-murkaan di dunia persilatan saat ini!" Terkejut Sagara Angkara mendengar suara itu. Cepat dia berpaling ke samping lalu menggeliat duduk. Namun, sebuah tangan lembut menahannya sehingga kembali berbaring.

Meski tak duduk, Sagara Angkara masih dapat berpaling. Dilihatnya di samping kiri Pendekar Rajawali Berhati Emas duduk menatap dirinya. Dilihat dari kantung matanya yang membengkak, jelas bahwa ia kurang istirahat. Haru bukan kepalang perasaan Sagara Angkara. Dia teringat ketika dirinya terbang karena benturan tenaga dalam yang dikeluarkannya, samar-samar ia merasakan dirinya dipangku orang.

"Ketua, engkaukah yang menolong aku?"

"Bukan. Allah Tuhan kitalah yang menyelamatkanmu melalui perantara diriku dan Maharaja Dunia Persilatan!"

"Akh, berapa lamakah aku pingsan?"

"Hanya sekitar tiga harian. Aku merasa kagum dengan daya tahan tubuhmu. Jika orang normal, hampir tidak ada yang sanggup menerima luka dalam dan luka luar yang segini parahnya."

"Ketua terlalu memuji. Berkat ridho Allah Yang Maha Kuasa, semangat dan motivasi ketua sekalianlah yang mampu menjadikan aku seperti ini. Tanpa semua orang yang menyokongku, mungkin aku sudah tiada di Kedai Seteguk Gairah di Telaga Menjer."

Pendekar Rajawali Berhati Emas tersenyum bangga dengan kerendahan hati Sagara Angkara, diusapnya kepala Sagara Angkara dengan penuh kasih sayang. Memanglah sampai saat ini ia belum menikah, maka tak heran bila dia menyayangi Sagara Angkara sedemikian rupa.

"Aturlah pernapasanmu, barangkali masih ada yang tersumbat."

Sagara Angkara menurut. Sambil berbaring ia mencoba melakukan pernapasan. Ia menarik napas melalui hidung secara perlahan dan dalam hingga memenuhi paru-paru, lalu mengembuskan napas melalui mulut seakan-akan meniupkannya melalui sebuah sedotan.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment