Chapter 67
Bersamaan dengan itu, seluruh ketegangan yang tampak di wajahnya diembuskan keluar dari tubuh sehingga tubuhnya kelihatan menjadi lebih santai dan tenang. Memang, tenaga murni dan tenaga dalam di dalam tubuhnya terasa lemah sekali. Tulang-belulangnya seperti copot dari persendian. Tetapi, dia tak memedulikan lukanya. Wajahnya malah kelihatan lebih tenang sebab penyebab terhambatnya tenaga dalam sudah diketahui.
Matanya terbuka dan ia berkata, "Tidurlah, Ketua. Istirahatkan sejenak tubuhmu, aku akan melakukan semadi, hendak membersihkan jaringan tubuhku ini."
Pendekar Rajawali Berhati Emas tersenyum bahagia, ia memejamkan matanya hendak bersemadi. Sekarang, Sagara Angkara merasa lebih tenang. Matanya kembali dipejamkan. Ia bayangkan cahaya berwarna merah menyala memasuki cakra dasar dalam tubuhnya, memenuhi seluruh anggota tubuh dan sekitarnya, lalu turun ke paha, memenuhi kedua paha, memasuki dan memenuhi lutut, turun ke kaki sampai ke jari-jari kaki, dan memenuhi seluruh kaki. Sambil turun, cahaya merah tersebut membawa seluruh energi negatif yang ada pada bagian tubuhnya dan membuangnya melalui telapak kaki. Kemudian, ia menarik lebih banyak cahaya merah sehingga seluruh jalur tadi menjadi terang dan mendorong seluruh energi negatif keluar melalui telapak kaki secara tuntas.
Setelah mengistirahatkan tubuhnya sekitar lima kerjapan mata, ia beralih ke cakra yang kedua, yaitu cakra seks. Ia bayangkan cahaya berwarna oranye masuk ke cakra yang terletak di alat kelamin. Cahaya itu lalu bergerak ke arah atas, ke paru-paru dan jantung. Ia bayangkan seluruh bagian tubuh yang dipenuhi oleh cahaya ini bersinar oleh cahaya oranye. Lalu, cahaya tersebut dikeluarkan dari cakra jantung dengan membawa seluruh energi dan perasaan negatif yang ada.
Seperti tadi, ia mengistirahatkan tubuhnya lima kerjapan mata lalu beralih ke cakra ketiga. Ia bayangkan cahaya berwarna kuning memasuki pusar, memenuhi seluruh organ-organ di perut dan rongga perut. Lalu, cahaya tersebut membuat seluruh organ dan sel menjadi lebih sehat. Setelah itu, cahaya kuning tersebut dibawa ke bagian atas tubuh ke cakra jantung dengan mengeluarkan seluruh energi dan emosi negatif dari bagian perut.
Setelah selesai dengan cakra ketiga, ia beralih ke cakra keempat. Ia gunakan warna hijau muda yang berfungsi untuk pengobatan. Ia bayangkan cahaya berwarna hijau muda yang akan menyembuhkan memasuki cakra jantung. Cahaya penyembuhan ini memenuhi seluruh rongga dada dan memasuki paru-paru serta jantung. Lalu, cahaya ini masuk terus-menerus memenuhi bahu, tangan, sampai ke jari-jari. Cahaya ini turun ke bawah memenuhi seluruh tubuh sampai ke jari-jari kaki dan ke atas tenggorokan memenuhi leher, lalu ke kepala memenuhi seluruh rongga kepala dan otak sambil mendorong seluruh energi negatif keluar dari seluruh pori-pori tubuh.
Lalu, berlanjut pada proses pembersihan sampai pada cakra kelima. Ia bayangkan cahaya berwarna biru laut memasuki dan memenuhi tenggorokan, turun ke dada, dan memenuhi dada serta jantung. Hal itu terus berlanjut hingga pada cakra keenam dan ketujuh. Memasuki cahaya ketujuh, ia mengalami kesulitan dalam membayangkan cahaya putih yang terang benderang turun ke dalam kepala melalui cakra mahkota. Semuanya terasa mandek dan sulit. Sungguh heran benaknya, berkali-kali ia mencoba namun gagal, bahkan kepalanya terasa sakit. Akhirnya ia tak mau memaksakan diri dan membuka mata.
"Aneh, mengapa cakra mahkotaku mandek? Apa ini karena pukulan telapak iblis dunia persilatan?" gumamnya heran.
"Akh," Sagara Angkara menghela napas panjang dan menatap tubuhnya yang dibalut dengan kain. Tampak di beberapa tempat rembesan darah. "Ternyata rasa sakit bila sudah melebihi batas menjadi sebuah kenikmatan tersendiri," gumamnya lagi sambil tersenyum geli. Ia malas berpikir lagi, matanya dipejamkan dan tak tahan ia malah tertidur lelap.
Malam menggeliat gelisah dilanda berahi, suara burung hantu terpekur menjadi musik pengiring desahan napas yang memburu. Semilir angin malam membantu mencairkan kepanasan enam orang insan yang sedang bergumul ria di sebuah hutan di samping Sungai Serayu. Bulan sabit bersinar kelam tertutup awan kelabu. Dedaunan dan suara air gemericik nyaring laksana surga dalam impian.
"Akkkhhh!" terdengar jerit kepuasan dari sepasang pemain berahi itu. Tak lama, yang lain pun ikut menyusul menjerit mencapai puncaknya.
"Kakang Arya, sudah, ah. Besok kita harus pergi menemui Nimas Dewi. Dari kabar merpati, Kakang Gardapati sedang terluka parah," terdengar salah seorang gadis yang posisinya berada dalam tindihan seorang pemuda tampan mencegah si pemuda memulai kembali aksinya.
"Aku tahu, Nimas Ratih, tapi izinkan malam ini menjadi milik kita berdua. Bersimpuh peluhku menunggu cintamu, aku tak kuasa berpaling dari sisimu, hanya kaulah yang kuinginkan saat ini," pemuda yang menindih Ratih alias Arya merayu.
"Hihi, dasar setan cilik kau. Eh, Kakang, lihatlah bulan sabit yang kelabu itu."
Arya menggulingkan tubuhnya ke samping dan menatap apa yang ditunjuk oleh Ratih. "Memang kenapa, Nimas?"
"Bagi kaum putih, itulah dunia persilatan saat ini. Mereka menganggap kita adalah awan kelabu itu. Maka kita harus disingkirkan, lucu sekali, ya?"
"Apanya yang lucu, Nimas?"
"Entahlah!"
"Kok entahlah?"
"Hihi, aku hanya berusaha memadamkan gairahmu, wรจ!" Ratih menjulurkan lidahnya.
Arya tertipu mentah-mentah, dipeluknya Ratih dengan gemas hingga Ratih menjerit manja. Wajah mereka saling memandang dengan sangat dekat, sedangkan ibu jari dan jari telunjuk Arya bergerak menyentuh dagu Ratih dan menengadahkan wajahnya. Dengan perlahan dan lembut, Arya berbisik, "Kita main lagi, ya?"
Dengan tatapan mesra, dipandanginya wajah gadis yang amat cantik dan ayu itu. Wajah Ratih bersemu merah dadu, dibalasnya tatapan pemuda itu dengan hati bergetar. Bibirnya bergetar-getar hendak berkata, "Ta... tapi umphh!" Hanya kalimat pendek itu yang dapat dikeluarkan dari mulut mungilnya karena di lain saat, bibir Arya telah menyumbat bibir yang merah segar itu. Kedua bibir mereka bertautan mesra sekali, meski sedikit menolak, akhirnya Ratih membuka juga mulutnya menerima sapuan liar lidah Arya. Sampai lama mereka berciuman, akhirnya Ratih mendorong dada Arya. Wajahnya tersenyum manis dengan napas terengah-engah, dia berkata, "Dasar Setan Bercinta, namamu lebih baik diganti saja jangan Arya!"
"Jangan Arya? Lalu apa?"
"Anjasmara (Pandai Bercinta)."
"Haha, baiklah. Mulai saat ini aku bukan lagi Si Pemetik Mawar Merah, tapi Anjasmara Si Mawar Merah."
"Hihihi, sama saja. Itu mah tidak ganti," umphh! Arya menciumnya dengan gemas, Ratih melingkarkan kedua tangannya di leher Arya, membiarkan pemuda itu melaksanakan apa yang disukainya.
Di lain saat, Arya kembali telah menindih tubuh gadis itu. Sementara kedua tangan tak henti-henti meremas, mengelus, memilin, mencium, bahkan mulut dan lidahnya pun bekerja menggigit, menjilat, dan menghisap seluruh tubuh molek itu, terutama sepasang bukitnya yang membusung kencang itu dengan tak bosan-bosannya sampai akhirnya...
"Aaaaakhhhh, ooohhhh!" terdengar suara memekik dan gerakan mengejang dari gadis itu saat Arya langsung bermain pada permainan inti. Ratih mulai mengerang dan merintih panjang-pendek mengikuti dengusan napas pemuda yang sedang bergumul dengannya dengan hebat sampai akhirnya keduanya mengejang hebat pada puncaknya.
Tidak tahu berapa lama adegan ini berlangsung berulang-ulang. Tidak tahu berapa kali adegan puncak ini terjadi, yang jelas, ketika langit mulai membiru remang-remang, baru mereka hentikan aksinya. Tergolek lemah mereka menahan lelah, pagi menggigit yang dingin terasa panas dalam tubuh mereka. Inilah akibat dari percintaan panas mereka. Sudah sedari tadi, dua pasang yang lain tertidur kelelahan, wajar usia mereka sudah mencapai usia yang beranjak uzur.
Perlahan mereka bangun dari tidurnya. Aneh, orang yang pertama bangun adalah seorang tua dengan kepala dua, yang satu perempuan dan yang satu laki-laki. Namun, senjata intim mereka tetap satu, yaitu burung elang yang bertengger menjaga telurnya. Pasangannya adalah gadis berusia muda, ternyata dia adalah Anudhari. Keduanya bangun dan pergi mandi di sungai yang mengalir di sisi mereka tidur.
Tak lama kemudian, seorang kakek berpenampilan urakan ikut terjaga. Dia tepuk dada seraya meremas kelapa milik pasangan bercintanya. "Nggghhh!" gadis itu melenguh dan membuka mata. Ternyata dia adalah Antari. Tanpa keduanya berkata apa-apa, seolah paham, mereka pergi ke sungai mengikuti kedua orang yang lain.
Pagi datang merayapi bumi, mengelus memberikan kehangatan. Membelai mesra dengan desau napas menggoyang dedaunan. Menyinari bumi dengan kerinduan akan cahaya penerang. Asap mengepul tipis dari pembakaran kecil, bau ikan terpanggang merayu hidung menggoda selera.
"Sreekk!" bunyi dedaunan tergeser karena benda berat dari atasnya terdengar.
"Emmgh, emmmhh!" dua insan yang saling tindih bangun dari tidurnya. Keduanya bertatapan dan berpaling melihat dua pasang yang lain yang sedang asyik membakar ikan dengan sedikit permainan nakal.
"Sudah bangun? Sepertinya kalian bermain dengan gairah yang tak habis, dasar anak muda," kata Iblis Kembar Bumi dengan suara aneh. Aneh karena suaranya perpaduan laki-laki dan perempuan.
Ratih memerah, sementara Arya cuma nyengir saja, dilihatnya dua pasang itu dengan sedikit senyuman tawar. Tak ada seorang pun di antara mereka yang memasang pakaian mereka. Antari duduk bersimpuh di rumput dengan paha membuka, kepalanya disandarkan pada paha Si Gila dari Neraka Hitam yang duduk di atas batu cadas, sementara tangannya memegang tangan Si Gila dari neraka yang sedang memainkan gunung kembarnya dengan ganas, terbukti dengan bekasnya yang merah. Tapi, Antari tak memedulikan rasa sakitnya, malah ia terlihat menikmatinya. Anudhari duduk di paha Iblis Kembar Bumi sambil melayani mulut Iblis Kembar Bumi yang menyerang leher dan mulutnya.