Chapter 68
Tangan kiri Iblis Kembar Bumi memegang dada Anudhari dengan gemas, seakan ingin mencopotnya dari tempatnya. Sementara tangan kanannya sibuk membolak-balik ikan yang dipanggang di perapian.
Ratih beranjak dari duduknya tanpa menghiraukan pakaian yang bertumpuk di bawah pohon jambu monyet. Ia pergi ke sungai untuk mandi, disusul oleh Arya. Setelah makan, mereka segera mengenakan pakaian dan berangkat menuju Rumah Bunga di Kaki Gunung Merbabu.
Enam bayangan melesat bagaikan angin berembus, meninggalkan sejuta kenangan dan sejuta kenikmatan bertabur dosa di tempat itu. Tiga pasang laki-laki dan perempuan berdiri di depan Rumah Bunga di Kaki Gunung Merbabu. Dengan langkah lebar, Arya memimpin rombongan itu masuk.
"Ada yang bisa saya tawarkan, Tuan dan Nyonya?" sapa seorang gadis cantik di meja penerimaan tamu.
"Seteguk gairah minuman beserta gadis bidadari dari surga kenikmatan," jawab Arya.
"Mari ikut saya," kata gadis penerima tamu tersebut dengan membungkukkan tubuh.
Ketujuh orang itu pergi ke ruangan belakang, melewati kamar-kamar yang berisi insan yang sedang mereguk kenikmatan. Canda tawa pembangkit birahi terdengar ramai mengusik telinga. Setelah berkelak-kelok, akhirnya mereka sampai di sebuah pintu kamar dengan hiasan bunga mawar putih dan merah. Gadis penerima tamu itu pergi meninggalkan keenam orang tersebut.
Arya mengetuk pintu dua kali cepat dan dua kali lambat. "Kriet!" Pintu terbuka, muncul seraut wajah gadis cantik dengan wajah sembab berurai air mata. Begitu pintu terbuka, gadis itu menerjang Ratih dan memeluknya erat, ia menangis sesenggukan.
"Kita bicara di dalam," Arya mengusik keduanya.
Astadewi mengangguk dan menggandeng tangan Ratih. Arya menghela napas sedih begitu melihat Gardapati tergolek lemah di pembaringan. "Separah apakah lukanya?" tanya Arya, sementara Iblis Kembar Bumi dan Si Gila dari Neraka Hitam meraih nadi di tangan kanan dan kiri Gardapati.
Iblis Kembar Bumi tak berkata apa-apa. Ia mundur dan menyimpan tangan kirinya bersilang di depan perut, sementara tangan kanannya menopang dagu. Si Gila dari Neraka Hitam geleng-geleng kepala dan tertawa terbahak-bahak; suara tawanya begitu pilu. Meski tertawa, matanya berurai air mata. Sungguh aneh cara orang ini melampiaskan kesedihannya. Astadewi diam saja, menyusupkan kepalanya di pelukan Ratih, sementara Antari dan Anudhari diam mematung tak tahu harus berbuat apa.
"Akh!" Arya menghela napas panjang dan memilih bangku untuk duduk di sisi pembaringan. Ia menatap wajah Gardapati dengan menyimpan kedua siku di pembaringan dan menyanggakan dagunya.
Dikala hening mencekam, tiba-tiba terdengar dua kali ketukan cepat, dua kali ketukan lambat, dan satu ketukan pelan yang nyaris tak terdengar. Buru-buru Astadewi berlari dan membuka pintu. Tampak wajah yang tak asing berdiri dengan wajah penuh kecemasan. Begitu pintu terbuka, ia segera memeluk Astadewi; tawanya terdengar begitu renyah pertanda ia sedang berbahagia. Buru-buru ia merogoh ke balik bajunya dan mengeluarkan sebungkus kain berwarna putih. Begitu dibuka, wangi semerbak tercium menggoda hidung.
Wajah Astadewi berbinar gembira, seulas senyum muncul dari bibir mungilnya. Dengan sigap ia menutup kembali kain pembungkus itu dan mengambilnya langsung dari tangan sang gadis pendatang, Dyah Krusina.
"Antari, siapkan air. Anudhari, bawakan aku alat tumbuk. Mbakyu Ratih, ambil bungkusan merah di dekat rak buku. Kakang Arya, ambilkan gelas bambu."
"Kami?" Iblis Kembar Bumi menyela.
"Bersiaplah di samping pembaringan. Bila aku menyuruh untuk menyalurkan tenaga dalam, maka lakukanlah."
Dalam sekejap mata suasana berubah aneh, semuanya belingsatan mondar-mandir mempersiapkan segala sesuatu. Alat tumbuk siap, bungkusan siap. Astadewi membuka kain merah itu dan mengambil beberapa daun yang bentuknya aneh seperti daun singkong, sedikit berbulu, dan berwarna merah darah. Itu ditumbuk bersama asam jawa. Setelahnya, Astadewi memasukkan jamur payung emas dan ditumbuk menjadi satu. Air yang disiapkan sudah tersedia, ia menyingsingkan lengan jubahnya, lalu telapak tangannya dicelupkan.
"Lengeun aji panyembuh ti sadulur, sadulur nu berem siga getih, nu bodas siga tulang, nu hideung siga buuk, asih-asih ka cai nu herang genclang," Astadewi bergumam lirih membaca mantra. Setelah membaca mantra itu, air di dalam wajan yang tadinya bersih tanpa warna berubah mendadak menjadi merah semerah darah. Setelah air itu menjadi merah, ia menuangkannya ke gelas bambu.
"Cess!" Terdengar desisan nyaring ketika air itu dituangkan. Setelah itu, Astadewi membawa gelas bambu tersebut ke dekat wajah Gardapati. Tiba-tiba ia berbalik dan berkata, "Antari, Anudhari, buka bajunya dan mandikan dengan air tadi."
Lalu ia meraih wajah Gardapati dengan susah payah dibantu Si Gila dari Neraka. Astadewi menahan beban tubuh Gardapati. Sungguh dongkol hati Astadewi; jika dalam keadaan biasa, ia pasti akan mengomelinya, tetapi tidak untuk saat ini.
"Akh!" Antari meloncat kaget. Astadewi berpaling dan tersenyum geli, lalu kembali berusaha meminumkan cairan obat yang dibuatnya. Mengapa Astadewi tersenyum geli dan mengapa Antari meloncat kaget? Rupanya ketika kedua pelayan Astadewi membuka pakaian Gardapati—Antari bagian bawah, Anudhari bagian atas—dan ketika celana Gardapati dibuka, seekor rajawali perkasa membentangkan sayapnya, begitu gagah perkasa dan berwibawa. Tak heran bila Antari menjerit kaget; ia sungguh ngeri membayangkan jika burung itu masuk ke dalam sarangnya.
"Fuah! Selesai juga!" Astadewi menyeka keringatnya, dilihatnya Antari dan Anudhari juga sudah menyelesaikan tugasnya.
"Sekarang!" kata Astadewi kepada Iblis Kembar Bumi. Sungguh ia merasa malas jika harus menyuruh Si Gila dari Neraka Hitam yang justru malah membuatnya semakin dongkol.
Si Gila dari Neraka Hitam dan Iblis Kembar Bumi masing-masing meletakkan sebuah tangan di punggung Gardapati, sementara tangan lain ditempelkan di telapak tangan Gardapati. Segera saja, dua kubu tenaga dalam menyeruak masuk ke dalam tubuh Gardapati, mengalir hingga ujung jari, telinga, dan seluruh bagian tubuh lainnya, lalu kembali masuk ke cakra pusar. Wajah Gardapati berubah-ubah; kadang pucat pias seperti orang kedinginan, kadang pula merah seperti kepanasan. Asap tipis mengepul dari ubun-ubun ketiga orang itu.
Seperanak nasi kemudian, wajah Si Gila dari Neraka dan Iblis Kembar Bumi berubah pucat pias, tubuh mereka bergetar seakan tidak kuat lagi menahan tenaga. Sigap, Arya melompat dan menempelkan telapak tangannya ke punggung kedua orang itu. Sekejap saja, sebuah tenaga dalam yang kuat dan ganas masuk ke dalam tubuh dua orang yang sedang mengobati Gardapati itu.
Ratih, Antari, Anudhari, dan Dyah Krusina berdiri berjejer mematung menyaksikan usaha pengobatan itu. Astadewi menggesek-gesek bambu-bambu kecil di tangannya. Bambu itu panjangnya hanya sekitar sejengkal. Sekali sentak, bambu itu diputar sehingga berserakan di udara. Astadewi memundurkan kaki kiri hingga membentuk kuda-kuda menyamping, telapak tangannya mendorong bergantian mengirimkan bambu itu ke tubuh Gardapati.
"Jrep! Jrep! Jrep! Jrep!"
Bambu itu menempel di tubuh Gardapati. Anehnya, bambu itu menempel seolah tahu di mana titik yang tepat. Jalan darah dan nadi Gardapati tertempel bambu itu, darah kebiru-biruan memancar dari lubang kecil bambu tersebut. Darah itu cukup banyak keluar. Ketika darah berubah menjadi merah, cepat Astadewi menepuk tangannya; secara gaib bambu itu terpental kembali ke tangannya, lalu disimpan di wajan berisi air bersih.
"Cukup," kata Astadewi.
Arya menarik pulang kedua telapak tangannya, begitu pula dengan dua orang kakek itu. Ketiganya tanpa permisi langsung bersemedi. Dyah Krusina maju dan membaringkan kembali tubuh Gardapati lalu menyelimutinya.
"Bagaimana sekarang?" tanyanya.
"Sudah baikan, terlambat satu jam lagi, entahlah!" kata Astadewi sambil tersenyum manis. Harapannya semakin besar. Ia duduk selonjoran di lantai karena kelelahan.
Hening kembali datang, entah bila nanti. Baru saja berita kematian para tokoh persilatan sirna, kini muncul lagi sebuah berita yang membuat telinga pendengarnya gatal dan janggal: pemerkosaan terhadap para pemuda. Sungguh aneh; dari dahulu, di mana-mana yang diperkosa adalah para gadis, sekarang jejaka. Dunia sudah kacau.
Yang lebih anehnya lagi, abad ini, para orang awamlah yang merasa tentram secara menyeluruh. Siapapun kaum persilatan yang mengganggu orang awam diketahui mati secara mengerikan, tak peduli kaum putih maupun kaum hitam. Dibuat rusuh; bila sebelumnya kaum persilatan yang menindas rakyat jelata, maka kini rakyat jelata yang menindas kaum persilatan. Dunia semakin aneh, kaum hitam tak berani menindas karena takut mati, kaum putih waswas takut diperkosa. Semuanya sibuk dengan urusan masing-masing.
Kabar kericuhan ini rupanya sudah tersebar ke negeri seberang; mereka sudah memasang senjata siap menghadapi kemungkinan itu. Lalu, siapakah yang menjadi korban penyalahan kaum persilatan? Dhara Sesat Air Terjun Balumbang. Jika bukan mereka, siapakah lagi yang disalahkan? Kerajaan? Tidak. Hanya satu yang beranggapan, tahu-tahu menjadi seribu kabar yang menyebar.
Kaum hitam dan kaum putih sungguh merasa gusar dibuatnya. Bahkan terselip kabar akan ada pertemuan kaum persilatan tanah Jawa di Danau Pangkalan. Siapakah yang membuat rencana dan usul? Entahlah. Akibat kabar itu, Maharaja Dunia Persilatan, sebagai pemimpin dari dunia persilatan, mau tak mau harus mengoordinir kegiatan tersebut. Adapun pokok dari pertemuan itu adalah yang pertama, memperebutkan pengaruh gelar Pendekar Satria Jawadwipa, sebuah gelar yang berhak memutus dan mengangkat Maharaja Dunia Persilatan selanjutnya.