Chapter 69
Jika ada perebutan gelar, berarti ada pertarungan; bila ada pertarungan, berarti ada darah yang akan tumpah. Bila ada darah yang tumpah, berarti di sana selalu ada celah kehancuran. Siapakah yang akan memanfaatkan kesempatan ini? Entahlah, kita lihat saja nanti. Tak ada ketentuan bagi yang mau ikut memperebutkan gelar ini; ketiga golongan berhak mengikuti ajang gengsi tersebut.
Inilah ajang adu jiwa yang dinantikan oleh segenap dunia persilatan. Dinantikan? Gilakah? Tidak, itu tidak gila jika dipikir secara logika di zaman modern. Namun, pada masa itu, harga diri dan gengsi adalah yang paling utama. Kehilangan nyawa adalah hal biasa, maka berlakulah hukum yang sangat terkenal untuk menjabarkan masa itu, yakni Hukum Rimba. Dia yang kuat dialah yang menang, dan dia yang lemah dialah yang tertindas.
Di zaman itu, yang masih berdampak sampai sekarang, manusia memikirkan tiga harta utama dan satu pandangan hidup sebagai kebahagiaan: harta benda dan segala jenis kekayaan, wanita, serta pangkat, kehormatan, dan kegagahan atau gengsi. Memang ada yang menganggap harta seperti sampah yang berserakan, tapi akhirnya ia harus kalah di kaki wanita. Memang ada yang menganggap pangkat adalah segalanya hingga melupakan kegagahan, namun akhirnya menjadi korban politik sesamanya.
Ada yang menganggap wanita adalah segalanya, tapi ketika hartanya habis, akhirnya ia disepelekan. Ada pula yang mengutamakan kegagahan dan gengsi, tapi ia mati di bawah orang yang memiliki harta dengan istilah, "Uang dapat membayar segalanya," atau "Hukum bisa dibeli." Ada pula yang menjadikan harta sebagai segalanya—wanita bisa dibeli, pangkat bisa dibeli, gengsi bisa dibeli—apakah ia sudah bahagia? Tidak. Sayang sekali, wanita yang dibeli sama sekali bukan mencintai orangnya, melainkan uangnya. Serba salah, manakah sebenarnya yang benar? Entahlah.
Pembahasan kedua adalah mengenai kehancuran Dhara Sesat Air Terjun Balumbang. Karena Dhara Sesat Air Terjun Balumbang berada di jalur yang menentang tiga golongan, maka tak heran bila tiga golongan yang lain berniat menghancurkannya. Inilah yang mereka sebut dengan Hukum Benang Hitam. Sebuah pasar ramai yang berseliweran bau makanan busuk, tanah menghitam karena kotor, dan hiruk-pikuk selalu terdengar meramaikan suasana.
"Hei, Jalu! Apakah kau dengar bahwa kaum persilatan akan mengadakan permainan bunuh-bunuhan?" tanya pedagang buah-buahan.
"Menurut kabar yang kudengar, sih, iya. Memangnya ada apa?" jawab pedagang sayuran.
"Ah, tidak. Rasanya cukup menguntungkan juga apabila kita berjualan di sepanjang jalan itu. Siapa tahu kita dapat meraup keuntungan."
"Ah, kalau itu sih, jauh-jauh hari sudah kurencanakan, bahkan tempatnya pun sudah kupesan."
"Benarkah itu?"
"Benar. Ngomong-ngomong, kau menjagokan siapa?"
"Haha, tentu saja aku menjagokan Si Dewa Dunia Persilatan, siapa lagi?"
"Dewa Dunia Persilatan? Haha, rupanya kau ketinggalan zaman. Apakah kau tak mendengar bahwa Padepokan Rajawali Emas setengahnya sudah rata dengan tanah?"
"Wah, apa...!" Si penjual sayur memekik kaget membuat semua orang berpaling padanya.
"Apakah Si Dewa Dunia Persilatan itu yang meratakan Padepokan Rajawali Emas?" Ucapan itu terdengar aneh dan baru bagi orang yang mendengarnya. Mereka segera mendekat dan membuat kerumunan.
"Hus, jangan sembarang omong! Justru Si Dewa Dunia Persilatan itulah yang menyelamatkan padepokan itu. Jika tidak ada dia, Maharaja Dewan Dunia Persilatan beserta murid padepokan itu dipastikan akan mati berkalang tanah."
"Apa? Memangnya siapa yang bisa membunuh Maharaja Dunia Persilatan?" tanya salah seorang yang berkerumun.
Si pedagang sayur tertawa bangga sebab rupanya ia menjadi perhatian orang. "Siapa lagi kalau bukan Si Iblis Dunia Persilatan. Bahkan selinting kabar, gelar Dewa Dunia Persilatan disematkan olehnya."
"Lalu, bagaimana ceritanya sehingga Padepokan Rajawali Emas menjadi berkalang tanah?"
"Tentu saja keduanya bertarung, dewa dan iblis. Dua-duanya pemegang gelar yang hebat, akibatnya satu benturan tenaga mereka menimbulkan kerusakan yang maha dahsyat..." Si pedagang buah itu menceritakan ihwal pertarungan antara Gardapati dan Sagara Angkara. Tentu saja, ia menambahkan bumbu agar terdengar sedap di mulut dan di telinga. Kabar memang selalu berasal dari satu orang yang tak bisa menjaga mulutnya; begitu bocor, siapakah yang tak suka dengan gosip? Pepatah mengatakan gajah di pelupuk mata tak kelihatan, sementara semut di seberang samudera terlihat jelas; mereka sibuk membicarakan orang lain tanpa melihat diri sendiri. Ah, entahlah.
"Kecipak, kecipak!" Suara dua pasang kaki mulus tanpa cela mempermainkan air kolam. Riak riuh ikan koki yang ada di sana serabutan melarikan diri. Angin berhembus lembut menyapa wajah keduanya, mengibarkan rambut mereka yang panjang. Rupanya mereka adalah Gardapati dan Astadewi. Tampak keduanya duduk di tepi kolam dengan diiringi musik alam.
"Aku harus berterima kasih atas kerja kerasmu, Nimas Dewi!" kata Gardapati haru. Tangannya merangkul pinggang ramping itu dengan lembut. Astadewi menyandarkan pundaknya di bahu Gardapati. Suasana begitu romantis dan tenang.
"Ah, seandainya Mbakyu Dyah tak memiliki Jamur Payung Emas itu, niscaya aku pun tak berdaya menyadarkanmu. Maaf, hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang, wahai pemuda pujaan hatiku!"
"Tak akan ada pengorbanan yang sia-sia. Meski aku hanya setengah sembuh, itu membuatku bahagia juga. Yang penting, usahamu telah menggelitik relung terdalamku, membuatku semakin mencintaimu walau nyawaku hampir habis. Memelukmu seperti inipun aku sudah merasa bahagia."
"Ahhh!" Astadewi mendesah lirih. Sungguh bahagia hatinya mendengar ucapan itu, meskipun kesedihan selalu menghantui jiwanya.
"Grep!" Mendadak dari belakang seseorang memeluk Gardapati. Anehnya, Gardapati dan Astadewi seakan tidak terusik dengan kehadiran orang itu. Bahkan Gardapati berkata, "Nimas Dyah, duduklah di sampingku," katanya lembut.
Orang yang di belakang Gardapati menuruti. Ia bangkit dan duduk di samping kiri Gardapati. Seperti kepada Astadewi, Gardapati melingkarkan tangannya di pinggang yang sama-sama ramping itu. Seperti Astadewi, Dyah Krusina menyandarkan kepalanya kepada Gardapati.
"Apa rencana Kakang selanjutnya?" tanya Dyah Krusina.
"Mencari Tabib Satu Obat!"
"Tabib Satu Obat? Bukankah ia merupakan salah satu tokoh tabib yang sudah menghilang sejak seratus tahun lalu? Bukankah jika ingin diobati olehnya, kita harus mengorbankan salah satu anggota tubuh kita?"
"Benar. Dari mana kau mengetahuinya, Nimas?"
"Ayahku pernah menceritakannya semasa aku kecil," kata Dyah Krusina dengan sedih.
"Jika sudah menghilang seratus tahun lalu, bagaimanakah caranya Kakang bisa menemukannya?" Astadewi menyela.
"Kalian lihat awan itu?" tanya Gardapati seraya menunjuk awan putih di atas langit.
"Ya!"
"Lalu?"
"Seperti itulah Tabib Satu Obat itu. Dia datang dari sebuah tempat lalu berkelana dalam dunia persilatan membuat onar, lalu menghilang seperti air hujan. Tapi pernahkah kalian berpikir bahwa air itu akan kembali ke langit menjadi gumpalan awan?"
"Maksud Kakang dia akan kembali ke dunia persilatan?"
"Tidak, kau salah menjabarkan, Sayang!" kata Gardapati sambil mencium pipi Astadewi. Dyah Krusina cemberut, Gardapati tertawa dan mencium pula pipinya. "Maksudku, intinya adalah dia pasti akan kembali ke tempat asalnya. Dengan kata lain, kampung halamannya."
"Bagaimana bila dia mati?"
"Haha, tak mungkin bila dia mati mengubur kepandaiannya. Pasti ia mengajarkannya pada murid ataupun keturunannya."
"Baiklah, Kakang menang! Ayo bergegas," kata Astadewi.
"Tidak, kalian tidak boleh bersamaku. Kalian harus ikut aku ke suatu tempat lain!"
"Tempat lain?"
"Ya, tempat lain," Gardapati tersenyum misterius. Dia bangkit dengan susah payah, tampak wajahnya tetap pucat tanpa emosi. Tangannya bergerak dan mencabut topengnya. Kini, wajah aslinya terpampang dengan jelas. Wajahnya begitu putih pucat seperti mayat, matanya bersinar mengerikan. Astadewi dan Dyah Krusina bangkit. Dengan canda tawa mereka mencoba menghibur diri, melangkahkan kaki menuju ruangannya.
Gemerisik dedaunan tetap terdengar, riuh air yang dipermainkan penghuninya tetap terdengar. Dari kejauhan sana, tampak seseorang berkerudung hijau dan berpenampilan serba hijau menatap kepergian ketiga orang itu dengan senyuman misterius. Kehadirannya tersamarkan dengan dedaunan. Siapakah sosok berkerudung hijau itu? Entahlah, biarkan waktu yang akan menjawab semuanya.
Cahaya pagi menembus pepohonan rindang. Semerbak mawar merah dan putih merekah indah. Kabut tebal masih menyelimuti bumi. Setetes embun membasahi daun ilalang. Kicauan manusia beraktivitas dan burung bersahutan terdengar indah di telinga. Angin berhembus halus menembus kulit. Awan seputih mawar putih, langit sebiru lautan haru; keindahan alam terasa sempurna membuat semua orang terpana dan terkesima. Sebersit tanya muncul, apakah keindahannya tak akan pernah sirna?
"Wussshh!" Angin pagi menerpa kain tiga sosok manusia berlainan jenis di jalanan yang penuh semak belukar berduri. Aneh, mereka berjalan dengan santainya, tapi jangan harap manusia biasa dapat mengejarnya. Mereka berjalan di atas semak tanpa kesulitan sama sekali. Jika diinjaknya ilalang, mustahil ilalang itu akan melenting. Itulah kehebatan ilmu peringan tubuh mereka.
Di tengah, sosok pemuda berwajah pucat laksana mayat berjalan dengan seringai yang menyedihkan. Pakaian serba kelabunya benar-benar serasi dengan air muka wajahnya. Di sampingnya, dua gadis cantik menggandeng tubuhnya. Yang pertama berbaju serba nila berjubah selendang, berkibar tertiup angin, gemulai menari di udara. Sedang yang satunya lagi berjubah merah muda. Keduanya cantik tiada cela; tak lain dan tak bukan mereka adalah Gardapati, Astadewi, dan Dyah Krusina.