Chapter 70
Hendak ke manakah mereka? Kita ikuti saja perjalanannya. Jangan sampai kehilangan jejaknya sebab pasti akan tersesat di hutan yang terkenal dengan keseramannya. Hutan tempat para demit berpesta pora.
Lumpur hidup menggapai-gapai rindu. Binatang-binatang berbisa bermain dengan riang. Binatang buas menggeram-geram. Inilah Hutan Rawa Angker.
Ketiganya melesat bagai busur panah yang dilepaskan, lurus tanpa sedikit pun berbelok, cepat dan gagah. Tak seekor makhluk pun enggan mendekati mereka. Mereka hanya menatap dari kejauhan. Pohon cempedak, beringin, rambutan, kemenyan, gaharu, jati, ajan kelicung, dan sebagainya menjadi saksi bisu kepergian mereka.
Tiba-tiba, Gardapati menyuruh kedua kekasihnya berhenti. Katanya, "Kita sampai!"
Astadewi dan Dyah Krusina melongo. Bagaimanakah mereka disebut sampai? Sementara di hadapan mereka adalah semak belukar dengan ribuan ular hijau bergelayut. Gilakah?
"Kakang, masa tempat ini dijadikan markas kita?" tanya Astadewi dengan wajah lugunya. Begitu polos dan kekanak-kanakan.
Gardapati tertawa ringan melihat ekspresi wajah Astadewi. Tangannya terulur pada semak belukar di depannya. Begitu tangan terulur, ular-ular hijau itu menjauh ketakutan seakan tangan Gardapati adalah racun bagi mereka. Gardapati menyibak semak belukar itu dan mengedipkan mata kepada Astadewi dan Dyah Krusina. Astadewi dan Dyah Krusina menurut; mereka masuk ke dalam sana.
"Akh! Dukk... Waaa!"
Di pertengahan, Astadewi mendadak berhenti sehingga Dyah Krusina menabraknya. Akhirnya keduanya jatuh bertindihan. Gardapati tertawa dan menutup kembali semak belukarnya. Kini mereka di balik semak belukar. Astadewi tak mampu bangkit karena Dyah Krusina menindihnya. Dyah Krusina melengong menatap ke depan sehingga melupakan keadaannya.
"Ugghh!" Astadewi mengeluh.
"Ah, maaf," kata Dyah Krusina seraya bangkit. Keduanya menatap ke depan. Angin dingin kelam berderik. Kabut putih menghapus mentari. Tegak cahayanya menusuk citra, berkilau-kilau membentuk guratan panorama. Pahatan gunung memecah langit karya Sang Mahapencipta; tak ada satu pun makhluk yang dapat menciptakan seni seindah ini. Berselimut awan, beralas zamrud. Tinggi, tajam, curam, dan elok. Gagah berdiri menantang siapa pun yang berdiri di depannya.
Waktu serasa tidak beranjak. Sanubari berdetak kencang bak dentuman beduk di kala magrib. Sunyi sepi tak beriak. Kilatan air danau menjadi cermin ilusi. Di atas danau, menikung pohon yang melambai warna. Sebenarnya di manakah mereka berada? Hamparan padang rumput jelita bagai permadani dengan warna bunga-bunga yang menari dipermainkan angin. Di kejauhan sana, bergemuruh laksana prajurit perang berteriak, putih keperakan tertimpa matahari, menjuntai seperti kain tertiup angin. Gemericik air menimpa batu begitu serasi dalam nada nyanyian alam. Terbarkan pesona di atas cakrawala, tak berujung dipandang lamanya.
Beberapa pemuda bertelanjang dada dan memakai penutup bagian bawah dengan kain berwarna emas, berbalut dengan perak. Tubuh kekar dengan aneka warna. Wajah mereka berseri bagaikan dewa-dewa yang menyambut mereka.
"Selamat datang di markas kita, Nimas Dewi, Nimas Dyah. Inilah Taman Dewa yang Kakang katakan. Di tempat inilah segala peraturan busuk ditiadakan," Gardapati berseru lantang dan nyaring.
Astadewi dan Dyah Krusina tak berkata apa-apa. Mereka masih diselimuti kebimbangan, apakah ini nyata ataukah hanya ilusi semata? Bagaimanakah di balik semak belukar terdapat tempat semacam ini? Nyatakah? Ataukah mimpi? Dikatakan nyata serasa mimpi, jika dikatakan mimpi inilah nyata. Sungguh alam dunia ini berisi dengan hal-hal yang tak terduga. Sungguh kekuasaan-Nya tiada terbatas oleh masa dan zaman. Tak terjangkau dengan akal sehat dan logika. Dialah Allah, Sang Pencipta langit dan bumi. Tak peduli makhluk-Nya berbuat apa kepada-Nya, dengan kasih dan cinta-Nya, Ia selalu memberikan rezeki dan rahmat-Nya. Sungguh besar dan Mahapengasih juga Mahapemaaf.
"Rajadenta!" panggil Gardapati.
Orang yang dipanggil Rajadenta mendekat. Rambutnya dipotong cepak, tapi di sanalah letak ketampanannya. Dia tersenyum ramah dan membungkuk.
"Menemui Adhipramana (Penguasa Pertama)," katanya lembut penuh wibawa.
Adhipramana adalah nama panggilan Gardapati di markas itu. Markas yang mereka namakan dengan Istana Dewa Iblis.
"Bawa mereka ke balairung istana."
"Sesuai kehendakmu, Adhipramana."
"Maafkan kami, Anakku. Sesungguhnya sampai saat ini, yang masih hidup ketika sudah terkena Telapak Iblis Dunia Persilatan hanya engkau seorang. Jadi mengenai cakra mahkotamu yang tersumbat, kami tak mengetahui jalan pengobatannya," kata Pendekar Rajawali Berhati Emas.
"Akh!" Sagara Angkara menghela napas panjang, lalu berkata, "Tidak apa-apa, Ketua. Barangkali inilah cobaan yang harus saya jalani!"
"Ah, sekali lagi kami meminta maaf."
"Saya tahu, jangan bersedih, Ketua. Pengorbanan Ketua sudahlah setinggi langit. Jangan mengatakan bahwa Ketua tidak melakukan apa-apa," hibur Sagara Angkara. "Lalu hendak ke manakah engkau, sampai-sampai membawa buntalan pakaian?"
"Saya hendak menemui Eyang Begawan Sutrasno di Pasir Tai. Sudah rindu hati ini ingin bertemu dengannya."
"Baiklah jika itu menjadi pilihanmu. Semoga Allah memberikan usia yang panjang untukmu. Dan ingat, bila engkau masih sanggup menghela napas, kau harus datang di pertemuan yang memperebutkan gelar Pendekar Satria Jawadwipa," kata Pendekar Rajawali Berhati Emas putus asa, seakan Sagara Angkara tak ada kehidupan lagi.
"Semoga usiaku dapat kupertahankan sehingga kita bisa bersua kembali. Terima kasih, Ketua. Dari dulu engkau seperti ayah dalam kehidupanku. Saya memohon doa restu darimu," kata Sagara Angkara sambil berlutut di kaki Pendekar Rajawali Berhati Emas layaknya seorang anak kepada ayahnya.
Pendekar Rajawali Berhati Emas berkaca-kaca. "Anakku, pesan terakhirku adalah bila engkau bertemu dengan pamanmu, Pendekar Rajawali Berjubah Emas di pertapaannya, katakanlah agar ia lekas pulang."
"Baik, Ayah!"
Mendengar kata "Ayah", Pendekar Rajawali Berhati Emas bercucuran air mata bahagia dan kesedihan. Begitu matanya diusap, sosok Sagara Angkara telah lenyap dari hadapannya. Semilir angin tetaplah menjadi hiburan sang ketua. "Semoga kita bersua kembali, Anakku!" desisnya lirih.
Sagara Angkara melesatkan larinya, berterbangan di atas dedaunan. Tetesan cairan bening keluar dari kelopak matanya, bercucuran membasahi bumi. Ia berlari, berlari, berlari, dan berlari. Ketika emosi seseorang sedang naik, maka dirinya akan melupakan apa yang disebut dengan konsentrasi. Yang ia tahu hanyalah rasa yang harus dilepaskan. Ketenangan jiwanya runtuh, hati dan pikirannya serasa jauh dari Yang Mahakuasa. Sungguh hebat daya dari Telapak Iblis Dunia Persilatan itu.
Puncak bukit seperti kerikil yang bertebaran, dan Sagara Angkara adalah lebah yang terbang dengan kecepatan angin. Ajian Sapu Angin dan Saipi Anginnya dikerahkan bersamaan. Tak heran bila kecepatannya sudah menjadi bayangan. Waktu bergulir cepat, malam tak menjadi halangan, siang tak menjadi rintangan. Ia berlari seperti kesetanan. Setelah beberapa hari berlari, batas ketahanan tubuhnya melemah. Ia jatuh tak sadarkan diri di pucuk ilalang di bawah kaki bukit.
Matahari beranjak naik sepenggalan hari. Sawah menguning hendak meminta dipanen. Burung puyuh berlarian di sisi tubuh Sagara Angkara. Ilalang gemerisik bergoyang menari. Pohon ketela melengkung dipermainkan angin.
Sagara Angkara mulai siuman, jari-jarinya bergerak. Keluhannya terdengar lirih, ia berusaha bangkit duduk. Namun, tulangnya serasa sakit tak tertahankan. Tubuhnya kembali ambruk, dunia gelap segelap hati para iblis yang tertawa melihat keadaannya yang mengenaskan.
Ketika mata ini terbuka, yang pertama dilihat adalah sosok kakek yang paling dirindukannya. Matanya bercucuran karena bahagia. "Eyang!" desisnya.
"Gara, Anakku, istirahatkanlah dirimu!"
Sagara Angkara mengangguk lemah. Ia berpaling ke samping. Hatinya terperanjat, wajahnya tersentak kaget. Eyang Begawan Sutrasno yang melihat keterkejutan Sagara Angkara seakan mengerti dan paham.
Ia segera berkata, "Bersabarlah, Anakku. Sebuah telapak hitam di dadamu memberikan hawa yang buruk seperti iblis. Merasuki pikiran dan hati nuranimu. Maaf Eyang merantaimu, sebab semasa penyembuhannya pasti tubuhmu akan dirasuki sampai engkau benar-benar menjadi setan yang gentayangan. Tak ada jalan lain untuk mengeluarkannya, selain membiarkan tubuhmu dikuasai sepenuhnya. Baru engkau bisa Eyang sembuhkan. Setidaknya itu butuh waktu selama dua minggu sampai satu purnama."
"Terserah padamu, Eyang!" Sagara Angkara mengeluh, keringat dingin membasahi tengkuk dan dahinya. Tak pernah ia sangka dan ia duga bahwa jurus telapak yang dilawannya adalah jurus telapak yang sangat berbahaya.
"Ugghh!" Sagara Angkara menggeram, ia merasakan seluruh tubuhnya bergolak laksana air yang mendidih. Matanya terbeliak hingga yang terlihat hanya bagian putihnya saja. Giginya terasa linu. Sekujur tubuhnya tumbuh bulu.
Melihat itu, Eyang Begawan Sutrasno menghela napas panjang. Jarinya bergerak lurus. "Tuk!" Telak sekali dada berbulu Sagara Angkara tertotok.
"Creng!" Sagara Angkara pingsan tak sadarkan diri.
Eyang Begawan Sutrasno menunduk. Matanya berkaca-kaca. Di sampingnya daun-daun obat menumpuk. Diambilnya beberapa dan mulai diramu. Asap keputihan berbau obat terbang tertiup angin, meninggalkan guci di atas tungku. Jari lemah gemulai mengaduk mesra isi dalam guci itu. Mulut berkumandang membaca mantra.
Di luar Guha Landak, di pertengahan Pasir Tai dan Pasir Oban, seorang nenek berpakaian serba kuning berdiri di bawah pohon damar. Tubuhnya menyandar dengan helaan napas yang cukup panjang. Seorang kakek-kakek bertangan kurus kering memegang cangklong tembakau. Kelam, gelap malam tanpa bintang. Dewi malam tertutup sang kelabu. Gunung Guntur tetaplah menjadi sosok gagah berjubah badai. Kabut berpesta pora menjadi pakaian sehari-hari sang gunung itu.