Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 71

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 71

"Jder!" Sang Perobek Langit berkelebat menerangi malam, menggurat akar di angkasa. Kelebatan sinar itu dibarengi dengan salakan nyaring yang menggelegar. Burung malam menjerit kaget, lalu terbang berpindah dari pohon ke pohon lain. Beberapa lembar daun gugur terhempas ke bumi. Angin dingin yang menggigit tulang berembus, meniup dedaunan itu hingga terbang ke udara, lalu kembali jatuh ke bumi.

"Guk... guk... Auuuuu?" Lolongan serigala panjang melengking, berpadu dengan suara jangkrik, tonggeret, dan binatang hutan lainnya, menciptakan nyanyian alam yang lazim terdengar.

"Srek!" Suara dedaunan terinjak terdengar cukup nyaring. Seorang lelaki berjubah kelabu dengan wajah pucat laksana mayat berjalan sempoyongan. Sebuah tongkat dari pohon teureup menunjang berat tubuhnya. Dialah Gardapati dengan wajah aslinya. Hendak ke manakah ia?

Ke mana lagi jika bukan mencari Tabib Satu Obat. Gardapati menatap keindahan malam yang cukup menyeramkan itu. Dedaunan dan angin dingin membuatnya melamun, melamunkan kejadian sebelum ia pergi meninggalkan Istana Dewa Iblis. Desiran angin yang berirama memainkan tumbuhan yang menari-nari di atas bumi, begitu indah rasanya, bak indahnya taman di surga.

Penjamuan kecil itu tampak ramai dengan candaan berirama dan tawa yang renyah. Meja bundar dari jamrud putih dihiasi dengan yaqut berwarna biru; tempat mereka duduk adalah kain yang terbuat dari bulu beruang putih. Akar bunga hijau melilit meja, menimbulkan kesan glamor, sementara bunga-bungaan yang harum menghiasi ruangan dengan rupa-rupa warna. Indah dipandang, nikmat dirasakan. Gelas berlian transparan terhidang dengan cairan berwarna kuning. Bau arak terasa harum, piring-piring indah dan mewah menyangga makanan yang serba lezat. Ini bukan lagi tentang keindahan, tetapi juga kemewahan dan kelembutan. Musik merdu mengiringi suasana, perlahan bersatu dengan alam.

Jika perabotannya mewah, maka kurang lengkap rasanya bila tak diiringi dengan kehadiran pemiliknya yang jelita, gagah, dan tampan. Lembayung kuning kemerahan bersinar indah menyinari wajah ketiganya. Seorang gadis jelita berwajah polos tertawa berseri, memamerkan sederet gigi putihnya; pakaiannya indah berumbai-rumbai berwarna serba nila. Gadis cantik lainnya, yang memiliki wajah tak kalah jelita, menenggak arak simpanan dari negara tetangga. Sikapnya anggun, kalem, dan santai, khas seorang gadis bangsawan; ia memakai kemben berwarna putih yang serasi dengan jubah mewah berwarna merah muda. Semua itu tak lengkap tanpa kehadiran seorang pemuda tampan berwajah sepucat mayat, bajunya mewah dan indah serba kelabu. Dada bidangnya terbuka, memamerkan otot dan kekuatannya.

"Kakang Garda, tak sedikit pun mengira bahwa di balik kesederhanaan semak yang tak dipandang sebelah mata oleh orang, terdapat keindahan dan keelokan yang sedemikian rupa. Tak pernah kubayangkan bahwa ini adalah kenyataan. Semuanya serba mengambang laksana awan yang berarak, inilah mimpi kenyataan yang sebenarnya." Gelas berlian menampung tuak keras yang begitu terasa menyejukkan raga. Semilir angin yang membuat lena. Pemandangan yang membuat hati terpana," kata Dyah Krusina. Nada suaranya lembut, indah, merayu, dan bercampur syair. Wajahnya kemerahan menandakan bahwa ia sudah mulai mabuk.

"Kesederhanaan adalah wadah di mana kemewahan, kemelaratan, dan kebahagiaan tertampung. Sederhana bukan berarti miskin, sederhana bukan berarti mudah. Tapi sederhana adalah suatu keseimbangan di mana kemewahan dan kemelaratan berada. Dengan sederhana, orang tidak akan menyombongkan diri; dengan sederhana, orang tidak merana. Inilah dasar yang kugunakan untuk menciptakan perkumpulan dan markas ini."

"Sejak kapankah Kakang mulai mengumpulkan para pemuda ini?" tanya Astadewi heran.

"Haha, sejak kita berpisah saat kita turun ke dunia persilatan. Ini bukan hanya usahaku, tapi juga usaha Arya Eka Arakata, Sang Pelindung Pertama."

"Mengapa Kakang tak pernah mengatakannya kepada kami?" Astadewi cemberut.

"Bukan kejutan bila mulut terlanjur berkata. Inilah hari ulang tahunmu, Nimas!"

"Ah, hehe," Astadewi mendesah kaget, matanya berputar, lalu tertawa mengiakan. "Lalu, aku jadi apa?" Astadewi tersenyum aneh.

"Eka Garwa Padmi," jawab Gardapati.

"Lalu aku jadi Dwi Garwa Padmi?" Dyah Krusina menyela.

"Ya, tapi kau pun bergelar Pamasa (Ratu)." Mendengar jadi yang kedua, Dyah Krusina cemberut, tapi hatinya kembali tersenyum ketika mendapat gelar lain.

"Ah, Kakang sudah mengatur segalanya rupanya," ujar Astadewi lirih.

Gardapati tersenyum, lalu menatap Dyah Krusina. "Nimas Dyah!"

"Ada apa, Kakang?"

"Bawa anggota Dhara sesatmu ke sini. Tapi jangan serentak semuanya. Upayakan agar kepergian mereka tersamarkan dari mata para tokoh persilatan. Ulur waktu kepergian sampai mereka datang menyerbu ke markas kita di Air Terjun Balumbang."

"Apa! Kaum putih akan menghancurkan markas kita?" Dyah Krusina tersentak kaget.

"Bukan hanya kaum putih, tapi tiga golongan sekaligus."

"Dari mana Kakang tahu?"

"Haha, mata-mata kita tersebar di segenap penjuru tanah Jawadwipa ini. Dari kerajaan, partai-partai besar maupun kecil, kaum kelana, pedagang, petani, dan yang lainnya. Jadi, bisa dikatakan bahwa usaha penguasaan dunia persilatan sesuai keinginan kita tinggal menunggu waktu."

"Ah, lalu kapankah itu akan terjadi?"

"Setelah perkumpulan kaum persilatan, atau juga sebelumnya. Yang jelas, payung dan tameng sudah disediakan."

"Baiklah, mari kita bersulang. Biarkan arak ini menjadi penghargaan atas jerih payah kita selama ini."

"Mari!" "Ayo!" "Trang! Gluk... gluk!" Ketiganya minum sampai mabuk dan berlanjut pada pesta gairah. Setelah kelelahan, mereka tertidur dan berkelana di alam mimpi.

***

"Mengapa kau senyam-senyum sendiri?" Sosok serba hijau dan berkerudung mencegat dan mengusik lamunan Gardapati. Suaranya tak jelas; jika dikatakan laki-laki, nadanya lembut, halus, merdu, dan merayu; namun jika dikatakan perempuan, suara itu terdengar seperti laki-laki.

Gardapati terkejut. Sosok berkerudung hijau itu menegur dan mencegatnya. Ia membentak, "Siapa kau!"

Sosok berkerudung itu menjawab, "Siapa adanya aku tak penting, yang penting aku tak bermaksud buruk. Jadi, lepaskan kembali tenaga dalam yang sudah kau kerahkan itu."

"Bagaimanakah caranya agar aku percaya bahwa kau tak bermaksud buruk padaku? Wajahmu pun tertutup dengan kerudung."

"Haha, bukankah kau juga sering memakai topeng?"

Gardapati terkejut. Siapakah lawan yang berdiri di hadapannya? Dari kehadirannya yang seperti hantu, ia bisa menebak bahwa orang ini memiliki kemampuan tinggi. Keringat dingin mengucur di dahi dan tengkuknya. Bagaimanakah jika terjadi pertarungan sementara tenaga dalamnya belum pulih secara sempurna? Si Kerudung Hijau tahu apa yang dikhawatirkan oleh Gardapati, ia berkata menenangkan, "Aku tak akan mengambil keuntungan dari tubuhmu yang terluka setelah pertarungan dengan sahabat sekaligus musuhmu, Dewa Dunia Persilatan."

Gardapati semakin terkejut, tak disangkanya bahwa gerak-geriknya diawasi orang. "Lalu, apakah maksudmu menghadangku?" Gardapati mulai tenang.

"Aku hanya ingin memberi sepatah kata untukmu!"

"Kata? Kata apa?"

"Aku tak akan mengatakannya sebelum kau bersumpah akan memenuhi persyaratanku."

"Apa keuntungannya bagiku?"

"Haha, ini berhubungan dengan Tabib Satu Obat."

"Owh, kalau begitu silakan kau berucap." Gardapati tetap tenang. Wajah pucatnya tampak tanpa emosi, padahal tangannya mengepalkan tinju karena merasa informasi itu sangat dibutuhkannya.

"Tidak semudah itu. Setidaknya kau berlutut padaku untuk menyatakan bahwa kau akan menuruti persyaratanku!"

"Heh, persetan! Aku bisa mencarinya sendiri!" Gardapati sewot sebab lawan menyuruhnya berlutut.

"Kau menolak?"

"Ya, meski jiwaku melayang, tak sudi aku berlutut padamu!" Gardapati mendengus marah, napasnya tersengal. Si Kerudung Hijau bergoyang, sepertinya ia merasa jengkel dengan keteguhan Gardapati. Belum apa-apa ia mengatakan persyaratannya, lawan sudah menolak.

"Jika kau berubah pikiran, bersiulah tiga kali. Maka aku akan kembali datang." Suaranya lama-lama kabur seiring sosoknya yang mulai semu. Gardapati tertegun dengan kepandaian lawan. Lawan menghilang di bawah tatapan matanya tanpa tahu ke mana perginya; ini merupakan hal baru dalam kehidupannya. Ia celingukan ke sana kemari dan berteriak-teriak, namun nahas, sosok itu raib tanpa jejak. Setelah merasa putus asa, ia melanjutkan perjalanannya mendaki Gunung Guntur.

Fajar menyingsing, cahaya oranye membelah langit, awan berarak. Gardapati berdiri mematung di depan sebuah gubuk kosong. Hatinya pilu, tangan terkepal. Sekali sentak, tinjunya diluncurkan ke muka. "Duaarr!" Pondok kosong itu hancur berantakan.

"Wuaaa!" Ia mengamuk dengan kalap. Tinjunya berkelebat ke sana kemari, tapi tenaga sekarang dengan dulu sungguh jauh berbeda. Jika dulu cukup satu pukulan, maka sekarang ratusan pukulan. Tanah dan keadaan di sekitar sana hancur berantakan. Dengan kepala tertunduk, ia melangkahkan kakinya menuruni gunung itu.

**

Pakaian kumal, dekil, dan berdebu tak terurus. Itulah milik seorang lelaki yang tergeletak di sisi jalanan. Wajahnya pucat laksana mayat, berdebu, dan berbulu liar. Janggut, brewok, dan kumis menutupi wajahnya; rambut yang berbau kerbau menutupi wajah hingga tak kelihatan seperti apa bentuk aslinya. Tubuhnya yang dulu kekar kini berubah kering laksana pembungkus tulang. Pakaian abunya sudah luntur menjadi cokelat tanah.

Ialah Gardapati. Sudah seminggu ia menjelajahi tanah Jawa bagian barat, namun sosok yang dicarinya tak ketemu juga. Ia bangkit perlahan di tengah sorotan matahari yang menyengat. Panasnya matahari seperti tak terasa. Ia berjalan bangkit dengan sempoyongan. Orang desa menjauhinya sebab tak tahan dengan baunya, semuanya memandang dengan iba. Mulutnya terus menggumamkan kata, "Tabib Satu Obat." Ia berjalan menjauh meninggalkan desa. Punggungnya terasa semakin lama semakin kecil.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment