Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 72

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 72

Dari balik dinding, muncul sosok berkerudung hijau. Ia menatap punggung Gardapati yang semakin lama semakin kecil.

"Set!" Dua butir cairan bening jatuh dari balik kerudung, bersinar tertimpa sinar matahari.

"Tess.." Cairan itu jatuh menimpa bumi, menciptakan dua titik di antara debu.

"Ai, sungguh keras kepala. Seandainya ia bersiul tiga kali dan menuruti perintahku, tak nanti ia semenderita itu," gumamnya dengan nada suara yang setengah laki-laki dan setengah perempuan. Sungguh misterius sosok ini.

"Itukah orang yang kau maksudkan?" Mendadak muncul suara dari belakang.

Dusun Kalajati terletak di sisi sungai. Dusun kecil ini bermata pencaharian dari hasil hutan dan sungai. Di sisi sungai, tampak para gadis berpakaian selembar kain sedang memikul cucian di atas kepala. Mereka bercanda dalam tawa. Senyuman mereka benar-benar lugu, seolah tak pernah terjamah tangan-tangan kotor.

"Lastri, mengapa kau belum menikah juga? Padahal kau sudah berumur delapan belas tahun. Lihatlah tubuhmu yang molek dan wajah cantikmu itu, siapa pun lelaki yang melihatmu pasti ingin memiliki dan mendekapmu," goda seorang gadis yang memiliki tahi lalat di atas alis kanannya.

"Ah, Mbakyu ada-ada saja. Siapakah yang mau kepadaku, si gadis buruk rupa ini?" sahut Lastri. Ia memiliki kecantikan alami, bukan karena gincu atau pemerah bibir. Pipinya memerah malu. Bentuk tubuhnya yang terbungkus kain basah benar-benar membuat siapa pun ingin memandangnya. Rambut basahnya dibiarkan tergerai menutupi leher jenjangnya.

"Akkkhhh!" Gadis itu menjerit. Teman-temannya terkejut dan bertanya dengan riuh, "Ada apa? Kenapa berteriak?"

Gadis itu tidak menjawab, ia menunjuk sesosok pemuda berambut berantakan dan berpenampilan mesum. Telapak kakinya bersimbah darah, sepertinya ia habis melakukan perjalanan cukup jauh. Suasana menjadi kalut.

"Tolong! Ada mayat! Ada mayat!" Para gadis berteriak-teriak hingga penduduk kampung mendekat. Mereka melihat Lastri sedang memegang nadi pemuda itu.

"Akh!" Gadis itu kaget. Habis memeriksa nadi di tangan, ia memeriksa nadi di leher pemuda itu. Secara kebetulan, rambut gondrong yang menutupi wajah Gardapati bergeser hingga memperlihatkan wajahnya yang pucat namun tampan. Wajah Lastri memerah, sementara batinnya berkata, "Bukan main tampannya. Siapakah dia?"

"Ada apa, Lastri?" seorang lelaki berkumis melintang yang berpakaian petani berwarna hitam bertanya.

"Di-dia masih hidup," jawab Lastri tergagap.

"Ayo, lekas kita bawa ke Nini dan Aki Tabib."

"Ayo!" Serempak mereka menggotong tubuh Gardapati yang terlentang tak sadarkan diri. Jalanan yang begitu lengang mendadak dikagetkan dengan serombongan orang yang berlari memanggul sosok pemuda di atas tandu darurat dari bambu dan kain samping.

"Aki! Nini!" Ki Asmangga berteriak di luar gubuk bambu berukiran indah. Halaman rumah bambu itu tampak nyaman dengan tanaman obat yang menebarkan bau khas.

"Kriet!" Pintu terbuka.

"Ada apa, Asmangga? Mengapa kau berteriak-teriak?" tanya seorang kakek berambut sepundak yang memutih, jenggotnya sedagu, dan kumisnya panjang. Ia mengenakan baju cokelat muda berdesain sederhana.

"Kami menemukan seorang pemuda terluka parah. Maka kami membawanya kemari."

"Bawa masuk!"

"Baik, Ki!" Ki Asmangga memerintah penduduk desa membawanya masuk dan membaringkannya di pembaringan bambu.

"Kami pamit, Ki! Terima kasih."

"Hati-hatilah kalian, semoga Tuhan selalu meridai setiap langkah kalian."

"Terima kasih!" Ki Asmangga bersama penduduk desa lain keluar pondok diantar Ki Tabib.

Setelah menutup pintu, Ki Tabib mendekati Gardapati. Diusapnya kepala pemuda itu dengan saksama, lalu memeriksa nadinya. Terpancar wajah kaget dan kagum dari wajah tuanya. Ia bergumam, "Ai, ai. Pemuda ini benar-benar tabah dan kuat!"

Ia menotok beberapa urat Gardapati lalu pergi ke dapur. Di sana tampak seorang nenek berambut putih sedang memasukkan kayu bakar ke dalam hawu (tungku dari batu). Asap tebal berbau obat merebak ke hidung.

Ki Tabib mendekatinya dan berkata, "Ni, buatkan Satu Obat Meracuni Jagad!"

Mata Nini yang sedang meramu obat terbelalak heran, tak biasanya kakaknya itu mengatakan hal yang sangat janggal tersebut. "Maksud Aki?" tanyanya heran.

"Buatkan Satu Obat Meracuni Jagad, aku hendak menyiapkan tusuk darah mati."

"Siapa yang terluka?"

"Entahlah. Dari raut wajahnya ia memancarkan hawa sesat, namun entahlah, aku merasa sangat cocok dengannya."

"Bila dia memiliki hawa sesat, mengapa Aki berkeras hendak mengobatinya?"

"Ai, dia terluka berat, seratus delapan puluh titik cakranya hancur. Kematian dan kehidupannya berbanding tujuh puluh-tiga puluh. Lebih condong ke kematiannya. Seseorang yang memiliki ilmu pengobatan hebat sudah mengeluarkan racun dari tubuhnya, tapi ia tak memperbaiki titik cakranya. Entah karena alasan apa. Meski dalam darahnya mengandung jamur payung emas dan daun telapak naga, itu tak menyebar ke dalam titik cakranya. Aku berkeras hendak mengobatinya sebab di kepalanya terdapat tanda lahir."

"Ah, sehebat itukah kerusakan tubuhnya? Sudah berapa jam ia terluka? Tanda lahir apa?"

"Ia sepertinya terluka hampir dua minggu lebih." Ki Tabib menghela napas berat dan tidak menjawab tanda lahir apakah itu.

"Ah, masih hidup?" tanya Ni Tabib kaget.

"Ya, setidaknya sampai besok, ia masih sanggup bertahan."

"Mengapa tak menjawab pertanyaanku, Ki?"

"Yang mana?"

"Tanda lahir!"

"Tiga Titik Asmara Darah."

"Tiga Titik Asmara Darah? Apakah itu?"

"Dia terlahir sebagai golongan darah biru, dilahirkan dengan rasa dendam yang membara. Siapa pun gadis yang menatap wajahnya, ia akan menyerahkan apa pun untuknya, bahkan jiwa dan kesuciannya. Berambisi setinggi langit, juga..."

"Juga?"

"Orang inilah yang akan melanjutkan Kerajaan Karang Bolong!"

"Apa! Mustahil!"

"Kerajaan Karang Bolong memiliki peraturan bahwa siapa pun yang memiliki tanda ini, dia pasti akan menjadi menantu sang raja dan berlanjut menjadi raja."

"Ai, sepertinya kita harus berusaha menolongnya. Baiklah, aku akan meracik obatnya!" Ni Tabib berkata sambil menghela napas, lalu beranjak ke ruangan lain. Sementara itu, Ki Tabib beranjak ke kamarnya sendiri.

Seperminum kopi kemudian, Ki Tabib keluar kamarnya dan mendekati Gardapati. Perlahan ia membuka pakaian pemuda itu, menusukkan bambu-bambu kecil di tubuh Gardapati, lalu mengurut-urut tubuhnya.

"Tok! Tok!" Pintu diketuk.

"Masuk, pintu tak dikunci!" seru Ki Tabib.

Sebuah kepala cantik mungil menjulurkan kepalanya. Wajahnya memerah malu-malu kucing.

"Ah, kau sudah datang, Lastri. Masuk, mari bantu aku!"

Gadis yang dipanggil Lastri masuk dengan tingkah kekanak-kanakan. Rupanya ia adalah gadis yang menemukan Gardapati. "Apa yang harus aku bantu, Kek?" tanyanya sambil menundukkan muka, tangan mungilnya memilin-milin ujung baju brokatnya.

Ki Tabib sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia menghela napas panjang dan membatin, "Bocah ini sudah melihat wajah pemuda ini, ai.. ai.."

Sementara itu, mulutnya berkata, "Siapkan air cucian dan bersihkan darah di tubuhnya!"

"Baik, Ki!" Lastri berlari kecil ke dapur untuk mengambil peralatannya.

Ki Tabib menggelengkan kepala, jari jempol dan telunjuknya bermain lincah di titik-titik tertentu di kepala Gardapati. Lastri datang membawa guci di ketiaknya, lalu diletakkan di sisi pembaringan. Kain lapnya diperas dan hendak dibalurkan pada dada Gardapati. Namun, begitu melihat dada bidang Gardapati, perasaannya kalut. Tangannya berhenti bergerak.

Benar memang ia sudah sering memandikan pasien Ki Tabib, namun tak ada yang seperti Gardapati. Meski kekar, tubuh pemuda di kampungnya tak ada yang seindah Gardapati, apalagi ketika melihat wajah tampannya. Lastri semakin dag-dig-dug tak keruan. Bahkan dalaman paling rahasia dari penduduk kampung desa ini ia tahu, namun ini beda. Hawa dan pesonanya seakan membuat jantungnya berhenti.

"Lastri, kau mau memandikan pasien atau mau mandi sendiri?" Ki Tabib membuyarkan lamunannya.

Lastri kaget. Begitu sadar, rupanya ia mengusapkan kain pada wajahnya sendiri. Wajahnya melirik Ki Tabib yang tersenyum geli, membuatnya memerah malu.

"Dasar anak muda," gumam Ni Tabib dari belakang.

Lastri semakin malu. Tanpa berpikir lagi, ia segera membersihkan wajah Gardapati. Kekaguman Ki Tabib, Ni Tabib, dan Lastri tak tertahankan akan keelokan wajah Gardapati. Meski pucat seperti mayat, itu malah membuatnya semakin unik dan mempesona.

Lastri terus bekerja membersihkan leher, dada, perut, tangan, kaki, dan paha. Lalu ia berhenti.

"Mengapa berhenti? Bukankah bagimu sudah biasa memperhatikan senjata lelaki?" Ni Tabib berkomentar.

"A-i-u!" Lastri tergagap. Setelah memantapkan hati, ia membuka penutup terakhir Gardapati.

"Hiyyy!" Lastri melonjak kaget sampai kain yang dipegangnya jatuh. Ia menatap ke arah "rajawali" yang menutup sayap itu dengan mata terbelalak, wajahnya memerah malu.

"Bukan main, masih menutup sayap saja sudah sebesar itu, apalagi jika sudah menegakkan leher!" Ni Tabib berkomentar.

"Lekaslah bereskan, kami akan memulai mengobatinya!" Ki Tabib menitah.

Sambil menutup mata, Lastri kembali melakukan tugasnya. Karena menutup mata, proses pembersihan pun berjalan lambat. Tapi kedua tabib itu tak marah, mereka memaklumi tindakan Lastri, bagaimanapun ia masih perawan ting-ting.

Selesai menunaikan tugasnya, Lastri mundur ke belakang, membiarkan Ni Tabib dan Ki Tabib memulai pengobatan. "Satu Obat Meracuni Jagad" adalah sebuah ramuan obat pamungkas dari Tabib Satu Obat. Karena kepandaian itu, ia berkelana dalam dunia persilatan dan memperoleh nama hingga masuk ke dalam kategori tabib terbaik dalam seratus tahun terakhir. "Satu Obat Meracuni Jagad" adalah ramuan yang dicampuri dengan bisa; salah sedikit takaran saja bisa meracuni si pasien.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment