Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 73

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 73

Bisa itu terbuat dari air liur ular sendok, racun katak hijau bermata merah, daun pulus, serta beberapa bisa hewan dan tumbuhan lainnya. Obat itu dibagi menjadi dua; satu dibalurkan ke atas tubuh dan sisanya diminumkan. Usaha pengobatan itu tak terasa berlangsung selama empat kentongan.

Lambat laun, khasiat obat beracun itu mulai bekerja. Tenaga dalam dalam darah Gardapati juga sudah berjalan normal karena titik chakranya telah diperbaiki oleh Ki Tabib, meski belum sembuh sepenuhnya. Ki Tabib dan Ni Tabib mengurut tubuh Gardapati sembari mengerahkan tenaga dalam.

Secara refleks, hawa murni Gardapati menggerakkan tenaga dalam olah kanuragan dan tenaga murninya untuk menyambut hawa terobosan yang disalurkan sepasang tabib hebat itu ke dalam badannya, terus berputar-putar ke seluruh pelosok tubuhnya.

Perlahan ia siuman. Baru saja ia sadar dan kembali ke kesadarannya, lantas merasa bahwa dirinya telah tertolong dari saat-saat kritis. Ada seseorang yang telah menolong mengobati luka-luka parahnya. Meski mata masih tak kuasa dibuka, namun mulutnya sudah dapat sedikit bergerak serta berkata tergagap dan terputus-putus, "Terima... kasih... telah... menolongku. Selama hidup ini, pasti takkan kulupakan."

Bicara sampai di situ, tenaganya sudah habis. Ia menghamburkan darah dari mulutnya.

Cepat-cepat Ki Tabib membujuk lirih di telinga Gardapati, "Jangan banyak bicara lagi. Lebih penting lagi, kau merilekskan tubuhmu seiring tenaga dalam kami. Jangan mengerahkan tenaga dalam yang malah menyulitkan kami; terimalah keadaan ini dengan ikhlas."

Gardapati mau menurut. Pelan-pelan ia mulai mengendurkan sepenuhnya urat-urat saraf yang tadi menegang. Hawa hangat mengalir ke seluruh tubuhnya. Lambat laun, Ki Tabib dan Ni Tabib semakin banyak mengeluarkan tenaga; air muka mereka sampai pucat pias, dan keringat sebesar biji jagung membasahi jidat.

Mengetahui bahwa sampai taraf terakhir ini luka-luka pasiennya sudah merasa lebih baik, keduanya menarik tangan dan bersila, menenangkan darah yang bergolak dalam dada. Waktu berselang cukup lama.

Dari dapur, Lastri membawa tiga gelas bambu. Harum daun teh tercium wangi, memanjakan hidung. Ki dan Ni Tabib sadarkan diri dari semadinya, menatap Lastri yang berdiri menenteng baki.

"Kau memang anak yang baik!" kata Ki Tabib sambil mengambil dua gelas air teh, satu untuknya dan satu untuk Ni Tabib.

Air masih hangat kuku, mengepulkan asap putih yang menebarkan bau harum. Seteguk demi seteguk air itu berpindah ke mulut keduanya.

"Ah," ungkap mereka begitu selesai minum.

Gelas diberikan kembali kepada Lastri, lalu mereka turun dari pembaringan. Ni Tabib masuk ke dapur, sedang Ki Tabib keluar rumah. Lastri mengambil bangku dari kayu dan duduk di sisi Gardapati. Ia bersedekap, melamun memperhatikan wajah Gardapati yang tidak lagi sepucat sewaktu mereka bertemu.

"Ai, pemuda ini tampan bukan main," gumamnya tanpa sadar.

Wajahnya memerah manja. Dag-dig-dug, degup jantung keduanya berpadu dalam irama kesunyian.

"Ukh!" Gardapati siuman. Lastri terkejut.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment