Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 74

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 74

Terkejutnya ia sampai terjungkal ke belakang. Gardapati heran begitu mendengar suara aneh, ia celingukan setengah sadar. Begitu melongok ke bawah sisi pembaringan, yang pertama dilihatnya adalah paha mulus tanpa cacat, putih bersih tanpa bulu.

Gardapati tertegun. Baru saja ia siuman, ia disuguhi pemandangan demikian. Tak urung temannya yang lain menggeliat bangkit.

"Akh! Ekhhh!" Lastri tergagap kaget, wajahnya memerah malu ketika melihat Gardapati sudah siuman dan melihat dirinya. Ia heran melihat raut wajah Gardapati. Dia ikuti pandangan Gardapati dan ia menjerit kaget, "AAAKKKKKKKKKhhhhhhhhhhhhhh!" Suasana tenang di luar rumah dikagetkan dengan teriakan itu. Ayam yang bertengger sampai membuang kotorannya secara reflek, ayam yang sedang bercumbu meloncat kaget.

"Silakan diminum, Kang!" Lastri menyodorkan gelas berisi air teh. Pagi yang dingin, bertemankan segelas teh hangat dan gadis cantik; sungguh inilah yang menjadi idaman setiap orang.

"Terima kasih!" Gardapati tersenyum penuh arti. Wajahnya tidak begitu pucat, matahari terbit memancarkan sinar menerpa sebagian wajahnya.

"Wussshhh!" Angin bertiup mengibarkan rambut gondrong Gardapati. Gardapati membenahi rambutnya ke belakang telinga dan meminum teh yang hangat. Kepulan asap putih beraroma teh memanjakan hidung keduanya. Lastri tertunduk malu, ia masih ingat kejadian kemarin sore, sungguh pertama kalinya paha mulusnya dilihat laki-laki. Apalagi oleh pemuda tampan seperti Gardapati.

"Boleh kupanggil Nimas?" tanya Gardapati.

"Nimas, akh panggilan yang manis!" jawab Lastri dalam hati. Sementara mulutnya bungkam saja tak menjawab.

"Akh, jangan-jangan kau mau dipanggil Yayi?" celetuk Gardapati menggoda. Lastri semakin bungkam, tak sepatah kata pun ia sanggup berbicara.

"Nimas, siapa namamu?"

"Las..." Lastri tergagap.

"Lasmini?" tebak Gardapati. Lastri menggeleng pertanda ia salah.

"Lasmarani?"

"Dia mbakyu-ku!" Lastri mulai bisa mengontrol diri dan tersenyum. Gardapati diam tak menjawab, ia menatap bunga teratai dalam kolam yang sedang mekar, bibirnya melantunkan sebuah syair, "Senyummu indah bersandingkan teratai putih, menggoda asa merayu jiwa. Dag-dig-dug jantung semakin bergema, pandanganmu tertunduk merayu manja, malu kucing bersemu dadu. Sungguh inginku merayu, mencumbu, dan menciummu. Bibir mungil manis madu, bersemu merah laksana darah, bergelora tak tahu arah, aku menyerah kalah. Kuakui aku memang mengagumi keelokanmu, wahai dewi dari kahyangan. Namun, kau seperti bayangan, sungguh ku tak kuasa tuk bersandingan."

Lastri menunduk malu, ia paham Gardapati sedang menyindir dirinya. "Dan apakah nama Kakang?" tanyanya mengalihkan perhatian.

"Orang mengatakan aku bernama Prajurit Berani Mati, tapi kenyataannya aku hanya ingin mati sambil bersimpuh di hadapanmu!" jawab Gardapati setengah berguyon.

"Gardapati! Nama Kakang benar-benar gagah, segagah orangnya," jawab Lastri mulai berani bercanda.

"Kau belum mengatakan siapa namamu!"

"Namaku sangat sederhana, Kakang. Lastri, lengkapnya Cahya Lastri."

"Cahaya Malam, nama yang indah. Seindah orangnya, pantas kau bisa menerangi hatiku yang gelap. Ternyata namamu Cahya Lastri."

"Akh, Kakang keterlaluan, sedari tadi selalu saja menggodaku. Ayo masuk, sudah saatnya engkau minum obat!"

"Ayo!"

Subuh masih belum menyingsing. Di atas batu cadas bertemankan angin dingin yang merasuk tubuh, Sagara Angkara sedang melakukan semadi Sastra Cetha, sebuah ilmu semadi dalam Sastra Jendra Hayuningrat. Posisinya tidur telentang, kaki lurus, telapak tangan masing-masing menempel ke paha, telapak kaki kanan menempel ke telapak kaki kiri (posisi saluku tunggal).

Dia menarik napas dari pusar, naik ke dada, tenggorokan, kemudian naikkan lagi ke ubun-ubun, dan ditahan seperminum teh lamanya, kemudian diturunkan lagi perlahan-lahan ke pusar sambil membuang napas. Pada saat dia menarik napas, batinnya berkata: "Huu." Dan pada saat melepas, batinnya berkata: "Yaa." Ia melakukan setiap tahapan sebanyak tiga kali tarikan/buang napas (Tripandurat), kemudian baru istirahat dan dilakukan lagi.

Pada saat bersatunya rah (darah) atau roh di ubun-ubun (susuhunan) itulah bisa disebut *manunggaling kawula gusti*, dalam arti jika napas naik kita jumeneng gusti dan pada saat turun kita kembali jadi kawulo. Namun, yang dimaksud di sini bukan berarti napasnya, tetapi adalah cipta dan rasanya. Dia melakukan semadi itu dengan sungguh-sungguh pasrah akan kehendak Yang Kuasa dan sungguh pasrah atas segala dosa dan hidupnya.

Olah napas yang dipergunakannya adalah napas halus, yaitu menjaga (bukan mengatur seperti yang lainnya) untuk bernapas dengan teratur antara keluar dan masuknya napas. Tidak ditahan ataupun sengaja dihabiskan. Betul-betul napas teratur seperti tidur. Pikiran dipusatkan kepada jalannya napas, terus merasakan keluar dan masuknya napas. Ini yang dikatakan olah rasa, yaitu mengolah dan merasakan rasa jati, berusaha merasakan rasa yang sejati. Setelah sekian lama, akhirnya terdengar suara dalam gumaman lirih.

"Bismillah... Ya Allah, Ya Hayyu, Ya Qoyyum, Ya Azhim, Ya Robbal Alamin. Subhana abaisil warisi ya robbi inni maghlubun fantashirni. Bismillah... Kun kata Allah, Fayakun kata Muhammad, Robbukum kata Jibroil. Ya Jibroil, Ya Mikail, Ya Isrofil, Ya Izroil. Yaiku Sang Ratu Kepyok, Sang Ratu Herang Putih. Kadulur bathin ka anak bathin kanu opat lima pancer. Ya Allah, aku mohon diantar ka dulur bathinku, ka anak bathinku yang hidup dalam satu hari satu malam. Wahai dulur bathinku, anak bathinku, bantulah aku... berkat la ilaha illallah muhammadur rasulullah aku tahu asalmu 204 sambungan Hu Allah."

Akibat gumaman itu, dalam semadinya, Sagara dihempaskan ke dalam empat cahaya yang bergantian. Di antara cahaya itu, ada satu cahaya yang sangat sering hadir; itulah sang guru yang menetapkan kebijakan dan arahan lanjutannya. Dia benar-benar pasrah, sama sekali tidak melawan kuasa cahaya itu. Ia biarkan dirinya diombang-ambing dan dihempaskan begitu saja.

Setelah itu, bertemulah ia dengan seseorang yang sangat mirip dirinya namun dengan wujud yang tak lengkap. Ia memberitahu "kunci diri pribadi" yang dengan kunci itulah dipakai untuk menjalankan tata cara dari sang guru untuk layang sukma, yaitu pemunculan diri di beberapa tempat secara bersamaan waktunya.

Orang yang muncul dalam semadi dan sangat mirip dengan Sagara Angkara itu biasa disebut dengan nama Sedulur Papat Lima Pancer. Pancer itu diibaratkan diri sendiri. Posisi pancer berada di tengah, diapit oleh dua saudara tua (kakang mbarep, kakang kawah) dan dua saudara muda (adi ari-ari dan adi wuragil).

Ngelmu sedulur papat lima pancer lahir dari konsep penyadaran akan awal mula manusia diciptakan dan tujuan akhir hidup manusia (sangkan paraning dumadi). Awal mula manusia diciptakan diawali dari saat-saat menjelang kelahiran. Sebelum sang bayi (bayi, dalam konteks ini adalah pancer) lahir dari rahim ibu, yang muncul pertama kali adalah rasa cemas si ibu. Rasa cemas itu dinamakan Kakang mbarep.

Kemudian pada saat menjelang bayi itu lahir, keluarlah cairan bening atau banyu kawah sebagai pelicin untuk melindungi si bayi agar proses kelahiran lancar dan kulit bayi yang lembut tidak lecet atau terluka. Banyu kawah itu disebut Kakang kawah. Setelah bayi lahir, akan disusul dengan keluarnya ari-ari dan darah. Ari-ari disebut Adi ari-ari dan darah disebut Adi wuragil.

Ngelmu sedulur papat lima pancer memberi tekanan bahwa manusia dilahirkan ke dunia ini tidak sendirian. Ada empat saudara yang mendampingi. Pancer adalah suksma sejati dan sedulur papat adalah raga sejati. Bersatunya suksma sejati dan raga sejati melahirkan sebuah kehidupan.

Hubungan antara pancer dan sedulur papat dalam kehidupan digambarkan dengan seorang sais mengendalikan sebuah kereta yang ditarik oleh empat ekor kuda, yang berwarna merah, hitam, kuning, dan putih. Sais kereta melambangkan kebebasan untuk memutuskan dan berbuat sesuatu. Kuda merah melambangkan energi dan semangat, kuda hitam melambangkan kebutuhan biologis, kuda kuning melambangkan kebutuhan rohani, dan kuda putih melambangkan keheningan dan kesucian.

Sebagai sais, tentunya tidak mudah mengendalikan empat kuda yang saling berbeda sifat dan kebutuhannya. Jika sang sais mampu mengendalikan dan bekerja sama dengan keempat ekor kudanya dengan baik dan seimbang, maka kereta akan berjalan lancar sampai ke tujuan akhir: Sang Sangkan Paraning Dumadi. Begitulah penjelasan singkat mengenai sedulur papat lima pancer itu.

Setelah diberi penjelasan oleh saudaranya, Sagara Angkara kembali dihempaskan pada keempat cahaya itu yang perlahan memudar dan menghilang. Rasa panas menyengat kulitnya, ternyata waktu tak terasa sudah memasuki rinten (siang hari). Sagara Angkara bangkit duduk dan melamun. Tangannya terkepal, "Seandainya aku mengikuti sarannya untuk menghentikan pertarungan, mungkin Eyang Begawan masih hidup." Dia menghela napas panjang. Pikirannya melayang pada saat pertarungan, lalu perjalanannya dan pengobatan dirinya. Air mata mengalir dari pelupuk matanya.

Satu purnama lebih telah berlalu. Danau Pangkalan dipenuhi dengan manusia dari berbagai golongan. Pedagang berderet rapi melingkar menjajakan makanannya. Yang hadir di sana memiliki beberapa maksud; yang pertama tentu saja ingin mengikuti perebutan gengsi, yang kedua adalah orang yang hanya ingin menonton keramaian, ada yang sekadar berjualan, mencari muka, dan nama dengan maksud serta alasan masing-masing.

Di tengah danau telah dibentuk sebuah panggung arena yang luar biasa. Panggung itu terbuat dari kayu jati yang disusun dan membentuk panggung apung. Untuk naik ke atas panggung, disediakan papan apung sebesar mangkuk berbentuk bulat yang diikat dengan tali akar, dijejerkan rapi dengan jarak masing-masing dua tombak. Jalan masuk itu ada empat jalur: selatan, barat, utara, dan timur. Siapa saja yang tak memiliki kemampuan yang mumpuni, jangan harap dapat naik ke atas panggung sana.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment