Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 75

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 75

Hanya mereka yang memiliki sayap yang bisa terbang.

Lima Ketua Perguruan bersama Dewan Dunia Persilatan duduk di kursi kehormatan. Dari raut wajah mereka, bisa ditebak bahwa mereka sangat cemas dengan kondisi dunia persilatan saat ini. Maharaja Dunia Persilatan duduk di kursinya dengan bersandar pada tongkat. Usianya sudah sangat tua. Lenyapnya Iblis Dunia Persilatan dan tujuh utusannya menimbulkan tanda tanya besar baginya. Wajahnya keruh, apalagi Perebutan Pendekar Satria Jawadwipa adalah ajang yang sangat besar, bukan sekadar permainan yang bisa dianggap remeh. Jika salah dalam kepemimpinan, akibatnya tak terbayangkan.

Melihat bola besar berwarna kuning sudah menggantung di udara, Maharaja Dunia Persilatan menjejakkan kakinya menuju arah panggung. "Tep, tep, tep!" Laksana kapas tertiup angin, Maharaja melewati jalan di atas danau menuju panggung. Suara tepuk tangan bersahut-sahutan hingga menjadi gemuruh yang meriah. Setelah suara riuh bergema memenuhi angkasa, Maharaja tiba di tengah panggung. Ia berdiam diri tanpa bicara. Suasana di atas maupun di sisi panggung mulai diliputi ketegangan; semua orang memusatkan perhatian pada Maharaja Dunia Persilatan yang berdiri dengan gagah.

Di tengah suasana yang menyesakkan napas, suatu senyuman dingin yang menyeramkan berkelebat di wajah seorang pemuda tampan berbaju emas bersulam perak. Dia mundur ke kerumunan; tak seorang pun memperhatikan keberadaannya karena semua orang memandang ke panggung. Maharaja Dunia Persilatan menyapukan pandangan ke seluruh penjuru.

"Para hadirin sekalian, para gagah dari dunia persilatan. Hari ini kita selaku para pendekar di tanah Jawa mengadakan ajang yang luar biasa besar dan bergengsi, yakni Perebutan Pendekar Satria Jawadwipa. Dari segenap penjuru tanah Jawa, kita berkumpul di satu tempat, yakni Danau Pangkalan. Dalam acara ini, akan diadakan pertarungan yang berbahaya. Sebenarnya aku tak menginginkan darah mengalir, tapi apalah dayaku menentang kalian para pendekar. Setelah menimbang beberapa persoalan, akhirnya aku mencetuskan bahwa permusuhan hanya ada ketika di atas panggung ini. Begitu turun, aku harap semuanya berjalan seperti biasanya. Tak boleh ada dendam. Pikirkanlah saksama sebelum menaiki panggung."

Maharaja Dunia Persilatan menghentikan ucapannya lalu melanjutkan, "Peraturan dalam adu tanding ini tetap sama dengan pertandingan sebelumnya. Siapa saja yang dapat berdiri di atas panggung ini tanpa kalah selama tiga kali berturut-turut, dipersilakan untuk duduk menunggu yang lain menyelesaikan pertarungannya. Yang menang melawan yang menang, dan begitu seterusnya. Ketika adu kepandaian ini dimenangkan oleh seseorang pada hari kelima tepat saat matahari berada di atas kepala, maka dialah pemenangnya. Jika di antara keduanya tak ada yang kalah, pertandingan dilanjutkan sampai ketahuan hasilnya. Bagi para pendekar yang menyerahkan senjata, bagian tubuh, ataupun sobekan pakaian sebagai tanda menyerah, tidak diperbolehkan untuk dibunuh. Jika dilanggar, maka ia akan berhadapan dengan kami sekalian. Ada yang keberatan?"

Maharaja menyapukan pandangan ke sekelilingnya, namun sama sekali tak ada yang menentang peraturan itu. Akhirnya, ia berkata lantang, "Pertandingan dibuka!"

"Gong! Crek, crak, dung, dung, dung!" Suara tabuhan musik bergema memecah kesunyian, pertanda pertandingan telah dibuka. Maharaja menjejakkan kaki dan berlari pesat menuju tempat duduknya. Sekonyong-konyong, seseorang berlari dengan kecepatan anak panah; bayangan putih melesat ke atas panggung. Meski kakinya menginjak permukaan air, namun air tak sedikit pun beriak. Ini adalah pameran tenaga dalam dan ilmu peringan tubuh yang dahsyat. Di jurusan lain, seseorang juga berlari ke tengah gelanggang.

Kedua orang itu berhadapan. Salah satu di antaranya adalah kakek tua berperawakan kecil kurus berpakaian putih berlumpur. Dialah yang dikenal dengan Jerangkong Mayat, sedangkan lawannya adalah seorang lelaki paruh baya berperawakan tinggi besar dengan bibir tebal. Sinar matanya tajam dan ganas; dialah yang bernama Si Raksasa Ganas.

Sekonyong-konyong Si Raksasa Ganas membentak keras. Sepasang tangannya direntangkan ke depan diiringi suara desiran tajam. Kesepuluh jari tangannya langsung mengancam wajah serta dada bagian depan Si Jerangkong Mayat. Melihat serangan sedahsyat itu, Si Jerangkong Mayat merasakan badannya tergetar hebat. Rupanya lawan langsung melancarkan serangan dengan ilmu sakti andalannya, 'Jari Baja'.

Si Jerangkong Mayat melangkahkan kaki kanan dengan posisi menekuk dan kaki yang lain lurus ke samping. Tangan kanan bergerak ke arah kanan melakukan cengkraman, berhenti di samping kanan kepala, diiringi tangan kiri melakukan tangkisan keras ke bawah. "Duk!" Begitu jari-jari Si Raksasa Ganas hendak mencengkram dada, Si Jerangkong Mayat menangkisnya pada pergelangan tangan. Ini adalah tindakan tepat, mengingat jari-jari tangan lawannya sudah direndam dalam racun. Asalkan terkena terbabat atau tergores sedikit saja, daya kerja racun akan menghebat.

"Hiat!" pekik Si Jerangkong Mayat yang menggerakkan tangan kanannya melakukan tusukan jari. Decitan nyaring dari gesekan antara angin dan jari terdengar. Jari Si Jerangkong Mayat yang kurus kering seperti tulang itu menusuk dengan sebat. Si Raksasa Ganas tidak berani gegabah; ia segera mengeluarkan jurus pertahanan. Tangan kirinya melakukan gerakan melingkar ke arah bawah kanan. "Plak! Sret..."

Meski serangan itu dapat tertangkis, karena keterbatasan waktu, tangkisannya tidak sempurna sehingga sebagian pakaian pada pundak Si Raksasa Ganas robek tersambar jari-jari tangan tadi. Dalam keadaan berbahaya, Si Raksasa Ganas masih sempat menyelamatkan jiwanya dengan mengeluarkan jurus andalannya, 'Tangan Baja Tameng Besi'.

"Kau masih beruntung dapat mempertahankan jiwa tuamu. Tapi aku ragu, apakah kau sanggup menahan seranganku ini?" puji sekaligus hinaan Si Jerangkong Mayat.

"Bukan hanya sanggup menahan, tapi juga memunahkan jiwamu!" geram Si Raksasa Ganas. Tubuhnya melesat dengan langkah kaki kanan diikuti geseran kaki lainnya, dengan tangan kanan melakukan totokan dua jari utama sementara tangan lainnya dikelebatkan pada sisi bahu atau tangan kanan yang sedang menyerang.

Si Jerangkong Mayat tidak berani menangkis serangan tersebut dengan jurus keras lawan keras. Dari decitan nyaringnya saja, ia dapat memprediksikan bahwa itu bukanlah jurus sembarangan. Jurus yang mengandalkan campuran tenaga dalam dan tenaga luar ini sungguh berbahaya, apalagi jari-jari Si Raksasa Ganas sangat beracun. Si Jerangkong Mayat menghindar dengan langkah kaki kanan ke bagian kiri sehingga terbentuk kuda-kuda setengah silang. Ini menyebabkan totokan Si Raksasa Ganas lewat di depan mukanya dalam jarak dua jari. Ia menarik tangan kanan menekuk serta tangan lainnya terbuka, lalu secepat kilat berbalik dengan serangkaian serangan dahsyat menggunakan kedua tangan. Si Raksasa Ganas kebingungan dengan jurus lawan; tak mau ambil risiko, ia melompat mundur.

Pertarungan ini sungguh luar biasa. Siapa pun tidak ingin menunjukkan kelemahannya di hadapan lawan, atau bila tidak, nama mereka akan tercemar, bahkan nyawa melayang percuma. Pertarungan sudah berlangsung puluhan jurus, namun tak terlihat siapa yang unggul. Si Raksasa Ganas mendengus dingin. Ia melayangkan tendangan keras yang tak bisa dihindari oleh Si Jerangkong Mayat.

"Bret!" Diiringi suara robekan pakaian, jubah Si Jerangkong Mayat robek sedikit. Para penonton bersorak-sorai.

"Sialan!" Si Jerangkong Mayat meloncat mundur satu tombak ke belakang. Tidak disangka olehnya bahwa bajunya dapat robek tersambar lawan. Ia menenangkan hati dan berdiri tenang memasang kuda-kuda. Si Raksasa Ganas yang merasa gembira karena dapat merobek pakaian lawannya melayangkan kaki kanan tanpa memikirkan akibatnya.

"Duk!" Tendangan itu dihalau oleh Si Jerangkong Mayat dengan menubrukkan kaki kirinya dalam posisi tertekuk. Akibat benturan tersebut, Si Raksasa Ganas kehilangan keseimbangan. Tak dinyana, tulang kurus kering Si Jerangkong Mayat sangat kuat seperti besi. Si Raksasa Ganas tak sanggup menahan serangannya. Belum sempat memantapkan posisi, Si Jerangkong Mayat menghentakkan kaki kirinya dengan tendangan yang ditujukan ke kepala lawan.

"Buk!" Si Raksasa Ganas sempoyongan. Darah menyembur dari mulutnya. Belum sempat mempersiapkan diri, Si Jerangkong Mayat memasukkan serangan sekaligus dengan dua kepalan yang dihantamkan ke dada. Bicara soal tenaga dalam, jangan ditanya. "Krekk! Argh!" Suara patahan tulang iga terdengar. Si Raksasa Ganas mengerang menahan sakit, darah membasahi bajunya, dan ia terjungkal roboh.

Si Jerangkong Mayat tak melanjutkan tindakannya. Ia berdiri pongah di arena. "Ayo bangkit, janganlah kau tidur melulu!" ejek Si Jerangkong Mayat. Perlahan sambil menahan sakit, Si Raksasa Ganas bangkit berdiri. Darah dari hidung mengucur membasahi bibir samping, turun ke dagu, dan setetes demi setetes jatuh ke bawah. "Tik!" Darah itu menetes membentuk lukisan abstrak. Kedua tangan Si Raksasa Ganas terkepal. "Huaaa!" Jeritan melengking menyayat terdengar darinya.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment