Chapter 76
Tangan kanannya melesat maju ke muka yang bersemu kehijauan. "Drakkk!" Si Jerangkong Mayat menghentakkan kaki, membuat patahan kayu lantai panggung mencuat sebesar pergelangan tangan. Sinar mentari menyengat laksana api yang membakar; gemilang cahayanya menembus alam, bahkan dedaunan yang rindang pun tak sanggup menahan sepenuhnya. Ranting bergoyang dan daun berguguran ketika seekor burung haur terbang dari tenggerannya.
Akar melintang dan dedaunan berserakan menjadi irama khas tersendiri ketika seekor mencek melewatinya.
Dari langit melayanglah sehelai daun jati, jatuh perlahan terombang-ambing dipermainkan angin, bergoyang dan berlenggang-lenggok seperti gadis penari.
Warna daun itu kuning karena tua.
Jatuh perlahan di atas pangkuan seseorang yang sedang duduk bersemadi di atas batu cadas.
Kumis, jenggot, rambut, dan bulu-bulu di wajahnya tumbuh tanpa diurus. Wajahnya tenang tanpa emosi; saking tenangnya, bahkan sedikit pun tubuhnya tak bergeming.
Patung diam tak bergeming.
Rambutnya yang kusam pun sama keadaannya. Sekencang apa pun angin yang menerpanya, rambut itu tetap kaku.
Bajunya kusam dengan warna yang sudah luntur. Di sekitarnya, akar sudah merayap menjerat tubuhnya.
Di belakangnya terdapat sebuah pondok mungil yang asri.
Di serambi tampak tiga sosok orang tua duduk bersila sambil menghirup teh.
Terdengar Nyi Mekar Ningrum berkata, "Bocah ini benar-benar tahan banting. Semuda itu ia sanggup bertahan menyatu dengan alam. Lihatlah tubuhnya. Sama sekali tak terlihat kurus kering seperti orang yang bertapa."
"Itu dikarenakan akar yang melilit di tubuhnya. Dia merefleksikan dirinya dengan pohon itu; ia memperoleh sari makanan dari pohon itu. Asupan minuman juga diserap dari pohon itu. Selain itu, tubuhnya menjadi seperti pohon yang menyerap energi dari matahari. Ini merupakan kaidah ilmu yang sangat hebat. Meski terlihat sederhana, namun sangat tak bisa dibayangkan akibatnya!" Kyai Ancala menjelaskan seraya mengelus jenggot putihnya.
Ki Brangaspati tak berkata-kata, ia memejamkan matanya seperti orang yang sedang bersemadi.
"Apa yang dilakukannya?" tanya Nyi Mekar Ningrum pada Kyai Ancala yang menyulut cangklong hendak merokok.
"Dia sedang masuk ke dalam semadi orang!" jawabnya singkat.
Tembakau diisap dan perlahan diembuskan, menciptakan segulung asap beraroma cengkih.
Benar apa yang dikatakan Kyai Ancala, memang saat ini Ki Brangaspati sedang masuk ke dalam semadi Sagara Angkara.
Ketika ia mulai memasuki gerbang semadi, tubuhnya merasakan rasa dingin dan panas berseliweran. Kepalanya mengangguk-angguk, pertanda memahami sesuatu, dan ia melangkahkan kakinya.
Beragam cahaya beraneka warna memainkan sebuah putaran cahaya indah bak ribuan kunang-kunang yang memiliki beragam warna.
Ia teruskan langkah kakinya di alam yang aneh itu. Semakin jauh ia memasuki, dirinya dihadapkan dengan sebuah pemandangan yang membuatnya merasakan ketenangan luar biasa.
Sosok Sagara Angkara, berjubah serba putih, duduk di atas kolam ikan. Puluhan ikan tampak bermain-main di bawahnya; ia duduk di atas air dengan santainya, matanya terpejam dengan wajah berseri-seri.
Angin sepoi-sepoi bermain manja di salah satu indra, membelainya juga kadang membisikinya. Pohon-pohon menari dengan lemah gemulai. Sehelai daun jambu batu melayang terbang dan jatuh di ubun-ubun Sagara Angkara.
Ki Brangaspati duduk di salah satu batu berbentuk bundar.
"Assalamualaikum." Setelah itu, ia tak mengusik, hanya duduk diam memandang.
Seperminum teh kemudian, Sagara Angkara membuka matanya. Ia tersenyum lembut dan membuka mulut, "Waalaikumsalam. Maafkanlah keterlambatanku untuk menjawab salammu, Eyang Guru."
"Tak menjadi soal. Bagaimana kabarmu?"
"Masih selemah air, Eyang Guru." Ki Brangaspati tersenyum maklum dan paham arti dari ucapan Sagara Angkara itu.
"Ada apakah kiranya Eyang Guru mendatangi kediaman pikiranku yang masih berisi kejahatan?" sambung Sagara Angkara.
"Hanya ingin menyampaikan sepatah dua patah kata saja, kiranya engkau mau mendengarkan nasihat gurumu!"
"Silakan Eyang Guru bertutur!"
"Pernahkah engkau mendengar sebuah kata yang menyebutkan: 'Lebih baik makan sebutir nasi yang bersih daripada sebakul nasi yang dicampur dengan kotoran'?"
"Memangnya kenapa, Eyang Guru?"
"Dulu aku tak ingin menyuruhmu melakukan semadi ini karena takut dirimu tak akan sanggup menjalani. Perlu kau ketahui bahwa semadi ini adalah sebuah semadi yang memiliki tiga jalan. Oleh karenanya, aku hanya menyuruhmu untuk menaklukkan jalan itu satu saja!"
"Maksud Eyang, semadi satu purnama ini adalah hanya untuk menaklukkan sebuah jalan saja?"
"Benar, semadi ini selayaknya dilakukan selama tiga bulan berturut-turut. Jalan pertama disebut dengan nama Jalan Penyesalan, jalan kedua disebut Jalan Angkara, dan yang terakhir adalah Jalan Ketenangan. Mengenai jalan pertama dan ketiga tidak membuatku ragu. Hanya jalan keduatah yang membuatku takut."
"Apa yang kau takutkan, Eyang?"
"Jalan kedua adalah jalan puncak dari segala angkara murka. Segala kejadian, kemalangan, ketidakadilan, dan segala nafsu binatang akan merasuk ke dalam tubuhmu. Seandainya kau tak dapat menahan diri dan terlena di dalamnya, maka artinya kau sudah gagal. Bukan kegagalan yang kutakutkan, tapi dirimu yang akan berubah menjadi setan berbentuk manusia lah yang membuatku takut. Apalagi hawa setan yang merasuki tubuhmu tidak sepenuhnya hilang. Apalah jadinya jika semua itu bersatu."
"Jika memang kejadiannya seperti itu, lalu mengapa semadi itu harus dilakukan, Eyang?"
"Semadi ini merupakan bagian-bagian dari Sastrajendra Hayuningrat. Ajaran ini memiliki empat tahapan, yakni Sastra Hajendra Yuning Rat (ilmu ajaran tertinggi yang jelas tentang keselamatan alam semesta), Sastra Harjendra Wadiningrat (ilmu ajaran keselamatan alam semesta untuk meruwat raksasa), Sastra Hajendra Wadiningrat (ilmu ajaran tertinggi tentang keselamatan alam semesta rahasia dunia), dan yang terakhir Sastrayu (ilmu ajaran keselamatan)."
"Eyang, mengapa aku serasa sudah dan sedang melewati tahap pertama?"
"Benar, sesungguhnya Jalan Penyesalan ini adalah sebuah jalan yang membuat kita sadar siapakah kita, mengapa diciptakan, mengapa harus menjaga ini-itu, melakukan ini dan itu. Ini mendekatkan kita kepada alam semesta ini, akan timbul rasa cinta kita kepada alam ini. Untuk apa Tuhan menciptakan alam ini. Dengan timbulnya perasaan itu, maka rasa cinta kepada alam ini akan semakin tinggi. Oleh karenanya, jika ada yang merusak, kitalah yang harus mengembalikannya seperti semula."
"Ah, lalu jalan kedua akan berhubungan dengan tahapan Sastra Harjendra Wadiningrat (ilmu ajaran keselamatan alam semesta untuk meruwat raksasa)?"
"Benar, begitu pula dengan yang ketiga!"
"Dan yang keempat?"
"Kau akan menjalaninya sendiri di alam dunia ini."
Sagara Angkara diam, begitu pula Eyang Brangaspati. Ia ingat, jauh sebelumnya ketika ia masih dididik dulu, Eyangnya pernah menyuruhnya mutih (makan nasi tanpa lauk-pauk berupa apa pun), sirik (menjauhkan diri dari segala macam keduniawian), ngebleng (menghindari segala makanan atau minuman yang tak bergaram), lalu patigeni (tidak makan atau minum apa-apa sama sekali). Dan sekarang, ia melakukan samadi sambil mengurangi makan, minum, tidur, dan lain sebagainya. Pada samadi itulah pada galibnya ia pernah mendapatkan ilham atau wisik.
"Nak, ingatlah, ada enam tahapan atau tingkat yang harus dilakukan apabila ingin mencapai tataran hidup yang sempurna," Ki Brangaspati mengusik Sagara Angkara.
"Itu adalah yang pertama, Tapaning Jasad, yaitu mengendalikan atau menghentikan daya gerak tubuh atau kegiatan. Janganlah hendaknya merasa sakit hati atau menaruh balas dendam, apalagi terkena sebagai sasaran karena perbuatan orang lain atau akibat suatu peristiwa yang menyangkut pada dirimu. Sedapat-dapatnya hal tersebut diterima saja dengan kesungguhan hati.
Yang kedua, Tapaning Budi, yaitu mengelakkan atau mengingkari perbuatan yang terhina dan segala hal yang bersifat tidak jujur.
Yang ketiga, Tapaning Hawa Nafsu, yaitu mengendalikan atau melontarkan jauh-jauh hawa nafsu atau sifat angkara murka dari diri pribadi. Hendaknya selalu bersikap sabar dan suci, murah hati, berperasaan dalam, suka memberi maaf kepada siapa pun, juga taat kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memperhatikan perasaan secara sungguh-sungguh, dan berusaha sekuat tenaga ke arah ketenangan (heneng), yang berarti tidak dapat diombang-ambingkan oleh siapa atau apa pun juga, serta kewaspadaan (hening).
Yang keempat, Tapaning Sukma, yaitu memenangkan jiwanya. Hendaknya sikap kedermawanan diperluas. Pemberian sesuatu kepada siapa pun juga harus berdasarkan keikhlasan hati, seakan-akan sebagai persembahan sedemikian sehingga tidak mengakibatkan sesuatu kerugian yang berupa apa pun juga pada pihak yang mana pun juga. Pendek kata, tanpa menyinggung perasaan.
Yang kelima, Tapaning Cahya, yaitu hendaknya orang selalu awas dan waspada serta mempunyai daya meramalkan sesuatu secara tepat. Jangan sampai kabur atau mabuk karena keadaan cemerlang yang dapat mengakibatkan penglihatan yang serba samar dan saru. Lagi pula, kegiatannya hendaknya selalu ditujukan kepada kebahagiaan dan keselamatan umum.
Yang keenam, Tapaning Gesang, yaitu berusaha berjuang sekuat tenaga secara berhati-hati ke arah kesempurnaan hidup, serta taat kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu hanya sebagai kunci untuk dapat memahami isi Rasa Jati, di mana untuk mencapai sesuatu yang luhur diperlukan mutlak perbuatan yang sesuai. Rasajati melambangkan jiwa atau badan halus ataupun nafsu sifat tiap manusia, yaitu keinginan, kecenderungan, dorongan hati yang kuat ke arah yang baik maupun yang buruk atau jahat. Nafsu sifat itu ialah Lumamah (angkara murka), Amarah, dan Supiyah (nafsu birahi). Ketiga sifat tersebut melambangkan hal-hal yang menyebabkan tidak teraturnya atau kacau balaunya sesuatu masyarakat dalam berbagai bidang, antara lain kesengsaraan, malapetaka, kemiskinan, dan lain sebagainya."