Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 77

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 77

"Sedangkan sifat terakhir yaitu Mutmainah (nafsu yang baik, dalam arti kata berbaik hati, berbaik bahasa, jujur, dan lain sebagainya) selalu menghalangi tindakan yang tidak senonoh." Sagara Angkara manggut-manggut pertanda paham.

Tangannya disedekapkan di dada dan membungkuk.

"Anakku, aku perintahkan kau untuk melewati semua jalan itu!"

"Apa!" Sagara Angkara terkejut.

"Bukankah Eyang ragu bahwa aku dapat melewati semua ini?"

"Itu dulu, bukan sekarang. Sekarang aku yakin kau adalah harapan kami!"

"Sengaja aku kemari karena hendak memberitahu kehendak kami. Bukankah selama ini dalam semadimu kau bertanya-tanya mengenai hal ini? Sekarang sudah lega, lanjutkanlah semadimu!"

"Baik, Eyang!" Sagara Angkara bangkit dari tempat duduknya dan melakukan sungkem.

Ki Brangaspati mengusap kepalanya dan mulai meninggalkan alam semadinya itu. Pandangannya kini mulai nyata.

"Akh!" Dia mengembuskan napas panjang. Asap tembakau mengalun menari melayang-layang. Gemerisik dedaunan dan tonggeret masih terdengar jelas. Suasana tempat itu benar-benar ramai dengan lalu lintas alam.

Pertarungan di atas panggung masih tetap panas, sepanas air yang sedang dibakar di atas tungku. Wajah keruh Maharaja semakin tampak. Pendekar Rajawali Berhati Emas gelisah tak keruan, sedari tadi ia celingukan. Namun, orang yang dicari tak kunjung datang. Bunyi teriakan pertarungan bergema sahut-sahutan; *trang, treng, trong* logam beradu memercikkan cahaya berkilauan. Lelatu api memercik menerbitkan cahaya kuning kemerahan.

Di atas panggung tampak dua orang yang sedang bertarung; seorang perempuan paruh baya dengan senjata pedang lentur dan seorang lelaki berusia tiga puluhan dengan senjata tangan kosong. Meski tangan kosong, cakarnya lebih tajam daripada silet, apalagi dengan racunnya yang keji.

*Sett...*

Dia melancarkan sebuah cengkeraman pada bahu si perempuan yang biasa dipanggil Si Kuntilanak Pemenggal Leher. Si Kuntilanak Pemenggal Leher tentu saja tidak membiarkan bahunya dicengkeram oleh lawan. Tubuhnya segera berputar, tangan kirinya menangkis, sedangkan tangan kanan dengan kecepatan yang mengagumkan berbalik menusukkan pedang lentur yang berubah menjadi kaku. Gerakannya sangat aneh dan tidak terduga.

Lelaki berusia tiga puluhan yang dikenal dengan nama Serigala Lapar meraung marah. Biasanya serangan itu dapat menghancurkan persendian lawan tanpa meleset, kini dihindarkan dengan mudahnya. Malah dia tidak sempat melihat bagaimana lawannya itu melakukannya. Hatinya tergetar. Namun, ia tak bisa selamanya berpikir, tubuhnya mencelat menghindar ke udara.

Si Kuntilanak Pemenggal Leher sama sekali tak menjadi geram meski serangan balasannya tidak mengenai sasaran, mulutnya menyeringai mengejek. "Sungguh tidak diduga. Serigala Lapar yang terkenal dengan cengkeraman yang tidak pernah meleset hanyalah melakukan serangan anak kecil melemparkan kotoran," ejek Si Kuntilanak Pemenggal Leher.

"Grrr!" Si Serigala Lapar menggeram di udara. Tanpa menunggu lagi, dia langsung menyerang dengan ganas menggunakan kedua tangannya, satu ke pelipis dan satu ke dada Si Kuntilanak Pemenggal Leher.

Si Kuntilanak Pemenggal Leher meloncat mundur beberapa langkah, membuat Si Serigala Lapar menarik serangannya. Sekarang dia bersiap dengan kuda-kuda yang kuat. Dia tidak berani memandang rendah lawannya. Tangan Si Kuntilanak Pemenggal Leher tetap menggenggam pedang lentur dan berkata, "Sebaiknya engkau mundur saja sebelum pedangku memenggal lehermu!" Itulah kata favorit Si Kuntilanak Pemenggal Leher sebelum membunuh lawannya.

"Meski jiwaku berkalang tanah dan tercabik musnah, tak sudi ku menuruti permintaanmu, jalang!"

"Itukah ucapan terakhirmu?" tanya Si Kuntilanak Pemenggal Leher.

"Brengsek!" bentak Serigala Lapar marah.

Bayangan tubuh berputar, lolongan serigala marah terdengar mengarah ke bagian tubuh mematikan Si Kuntilanak Pemenggal Leher. Hawa pembunuhan mulai merasuki jiwanya. Tangan kiri membentuk cakar serigala, tubuhnya melesat ke udara. Dia menyerang dari atas. Serangannya begitu ganas dan luar biasa, bau amis disertai bunyi kesiuran angin terdengar memilukan.

*Sreett... Kriiettt!*

Si Kuntilanak Pemenggal Leher melihat lawan telah membuka serangan. Dia tertawa lantang. Tangan kirinya menghantam ke depan. Dia menyerang dari atas dan bawah. Pedang lenturnya dikibaskan sehingga menimbulkan bayangan ular menerjang. Kecepatannya melebihi anak panah yang dilepaskan. Cahaya beterbangan di udara.

*Trang... Blarr!*

Luar biasa akibat bentrokan itu. Cakar Serigala Lapar begitu kuat seperti besi sehingga pedang lentur Si Kuntilanak Pemenggal Leher tak mampu melukainya. Namun, bukan berarti ia unggul; tubuhnya mencelat hingga dua tombak.

Si Kuntilanak Pemenggal Leher marah sekali melihat kenyataan bahwa jurus andalannya yang dinamakan "Ular Sakti Memenggal Leher" dapat ditahan lawan. Di antara kedua bola matanya terlihat samar cahaya yang tajam dan menggidikkan hati. Tangannya tetap menggenggam pedang lentur senjata andalannya. Sekali tangannya terulur, pedang itu berubah menjadi kaku seperti pelat baja. Kakinya digeser sedikit, pedangnya diangkat ke atas dada. Dengan jurus "Pelangi Dikala Senja", dia membuka serangan lagi. Terlihat sinar perak dan merah memercik laksana pelangi, disusul dengan suara *bret!* yang nyaring. Bagian kerah baju Si Serigala Lapar tersobek, jubahnya jatuh di tengah arena.

Si Serigala Lapar terpaku diam; dia hanya merasa ada sekumpulan tenaga keras yang menerpa dirinya. Tanpa sempat berbuat banyak, jubahnya terlepas dari leher. Untunglah jaraknya cukup jauh sehingga bukan kepalanya yang jatuh.

"Bersyukur pada Yang Maha Kuasa, kepalamu tak jatuh pada saat itu juga!" kata Si Kuntilanak Pemenggal Leher dingin.

Selama ini sifat Si Serigala Lapar sangatlah keji. Meski dia dihina dan direndahkan oleh Si Kuntilanak Pemenggal Leher, namun selama tubuhnya belum berkalang tanah, tak sudi dia menyerah. "Ilmu silatmu itu sangat hebat. Selama ini kau terkenal dengan gaya pedang seperti ular, belum pernah aku mendengar kau memiliki jurus meniru pelangi. Dari manakah jurus itu kau pelajari?" tanyanya dengan wajah tersenyum mengejek.

"Peduli apa dengan jurusku, yang kau pedulikan adalah jiwamu yang sebentar lagi akan menjumpai raja akhirat, hihi," sahut Si Kuntilanak Pemenggal Leher.

Si Kuntilanak Pemenggal Leher meletakkan pedangnya di antara tangan yang terangkup di depan dada, kakinya segera mundur dua setengah langkah. Tubuhnya menekuk, kedua tangannya yang memegang pedang mengambil sikap menyembah di dada.

Si Serigala Lapar merentangkan kelima jarinya. Mulutnya mengeluarkan suara lolongan keras. Suaranya begitu keras hingga mengguncang gendang telinga para hadirin yang menonton pertarungan itu; beberapa orang malah menutup telinganya dengan tanah atau dengan tangannya sendiri. Kedua tangannya belum terulur, namun kesepuluh jari tangannya telah mengancam dada Si Kuntilanak Pemenggal Leher. Jurus ini sangat keji, apalagi dengan bau amis yang memabukkan hidung.

Si Kuntilanak Pemenggal Leher hanya berdiri dengan tenang. Kuda-kuda kakinya sudah terlihat matang. Begitu serangan lawan sampai di hadapan muka, kaki kirinya bergeser satu langkah, tubuh berputar setengah lingkaran, kedua telapak tangan dikembangkan memisah, membuat pedang lentur itu berputar di udara.

Serangan Si Serigala Lapar kali ini sangat hebat. Itu adalah salah satu jurus andalannya. Entah berapa banyak lawan yang telah dikalahkan dengan jurus yang satu ini. Sepasang cakarnya berputaran; biar bagaimana pun lawan mencoba berkelit, tetap tidak akan terlepas dari serangannya.

Melihat jurus yang keji itu, Si Kuntilanak Pemenggal Leher sama sekali tidak menghindar. Dia membiarkan telapak tangannya membentur cakar harimau itu.

*Dukk!*

Si Serigala Lapar sama sekali tidak menduga akan berakhir demikian. Sekarang dia malah yang takut dan bergeser dua tindak ke belakang. Itu adalah langkah yang sangat tepat, sebab tangan kiri Si Kuntilanak Pemenggal Leher berbalik ke belakang memegang gagang pedang dan disabetkan melintang.

Si Serigala Lapar terkejut sekali, namun bagaimanapun dia tetap seorang yang sudah banyak pengalaman di dunia persilatan. Dengan cepat dia bisa menenangkan hatinya. Mereka kembali bergebrak, tanpa ketahuan siapa yang akan memenangkan pertarungan. Di dalam waktu yang amat singkat, dua ratus jurus sudah lewat. Kedua orang itu telah bergebrak mencapai puncak ketegangan.

Tiba-tiba Si Serigala Lapar membentak keras, tiga jurus terakhir dari ilmu 'Cakar Serigala Lapar'-nya dilancarkan. Seketika empat penjuru dipenuhi dengan golakan angin tajam.

*Braaaak!*

Diiringi bentrokan keras, gulungan hawa murni yang sangat kuat itu mendesak Si Kuntilanak Pemenggal Leher mundur tiga langkah dengan sempoyongan. Menggunakan kesempatan terdorong mundur ke belakang itulah Si Kuntilanak Pemenggal Leher tidak mau menyia-nyiakan waktu. Jurus "Pelangi Senja"-nya kembali digelar di hadapan umum. Sebuah lengan kanan yang berwarna merah membara dengan memancarkan cahaya tajam serta menyiarkan hawa panas yang susah ditahan meluncur datang menyerang Si Kuntilanak Pemenggal Leher.

"Hemm? Hiii... hiii... hiii..." Si Kuntilanak Pemenggal Leher tertawa cabul. Sepasang matanya dengan buas melototi Si Serigala Lapar. Pedangnya dihentakkan ke depan, menusuk mata. Inilah sebuah jurus yang sangat hebat; meski seluruh tubuh kebal, namun mata adalah sebuah titik kelemahan yang bagaimanapun caranya harus tetap dilindungi.

Si Serigala Lapar meloncat mundur, kuda-kudanya terpasang dengan kuat. Air beriak pertanda bahwa dari atas panggung sana terdapat tekanan yang dahsyat. Dia melesat maju dan melancarkan serangan. Dalam sekejap mata, ia sudah melancarkan tujuh belas buah cengkeraman, memaksa Si Kuntilanak Pemenggal Leher terdesak mundur tiga langkah ke belakang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment