Chapter 78
Pendekar Rajawali Emas yang ada di singgasananya menghela napas sedih, air matanya bercucuran. "Ai, sepertinya ia tidak akan datang lagi untuk selamanya!" keluhnya.
Maharaja Dunia Persilatan yang mendengar itu juga menghela napas sedih, ia bergumam, "Sungguh disayangkan, padahal mungkin usiaku pun tak akan lebih dari usia pertemuan ini." Dewan Dunia Persilatan yang mendengarnya terkejut; secara bergiliran mereka menghibur Maharaja.
Ratusan jurus telah berlalu, tiba-tiba Si Serigala Lapar tertawa dingin, "Heee... heee... heere..." Diiringi suara bentakan keras, bukannya maju, sebaliknya ia malah mundur ke belakang. Dalam sekejap mata, sepasang tangannya telah berubah merah membara, hawa panas menjulang luar biasa, perlahan ia mendesak lebih ke depan.
Sekali lagi, suasana diliputi ketegangan; hampir-hampir suara detak jantung serta deru napas dapat terdengar sangat jelas. Saking tegangnya, beberapa orang hampir bersamaan bangkit berdiri, kemudian duduk lagi, tapi sebentar kemudian berdiri lagi. Beratus-ratus pasang mata bersama-sama dialihkan ke atas panggung dan melototi kedua orang yang siap bergebrak dengan tak berkedip. Si Serigala Lapar baru saja mengerahkan ilmu cengkeraman "Cakar Serigala Lapar"-nya.
Si Kuntilanak Pemenggal Leher segera meloncat lima depa ke tengah udara. Tangan kanannya yang memegang pedang lentur yang sudah menegang disapukan ke atas kepala Serigala Lapar. Cahaya pelangi berpijar menutupi panggung. Si Serigala Lapar mulai merasa hatinya bergidik; ia tahu saat ini dirinya telah berjumpa dengan musuh yang paling tangguh. Pada dasarnya, Si Serigala Lapar berwatak serakah, angkuh, dan ingin menang sendiri. Walaupun dalam hati sudah timbul perasaan jeri, ia tidak mau takluk begitu saja. Diam-diam, seluruh tenaga dalamnya disalurkan ke dalam sepasang jarinya, dengan gerakan tidak berubah menerima datangnya serangan lawan.
"Arrhhjjjjhhhhhhh? Bluk! Bluk!" Tiba-tiba suara jeritan ngeri bergema memenuhi angkasa diikuti dengan suara aneh. Kesepuluh jari Si Serigala Lapar jatuh ke bumi. Begitu cahaya sirna, tampak dua orang itu berdiri dengan gagah; posisi Si Kuntilanak Pemenggal Leher memunggungi Si Serigala Lapar. "Tesss!" Setitik darah menetes membasahi lantai panggung. "Jruuussssshhh!" Tubuh Si Serigala Beracun terbelah dua. Begitu jatuh, batok kepalanya yang sudah terbelah menggelinding; rupanya Si Kuntilanak Pemenggal Leher tak mau meninggalkan gelarnya. Meski ia membunuh dengan membelah tubuh, tetap ia memenggal lehernya. Hadirin gempar menyaksikan pembunuhan keji itu.
Belum sempat Maharaja mengumumkan siapa pemenangnya, terdengar bunyi-bunyian aneh. Semua mata memandang ke arah utara, mata mereka terbelalak heran. Tampak serombongan gadis cantik berpakaian sutra putih membawa baki berisi macam-macam bunga. Para gadis itu menebarkan bunga di sepanjang jalan. Yang aneh adalah bunga itu seakan tiada habisnya meski dihambur-hamburkan. Baki pembawanya terbuat dari permata putih transparan, bersinar indah tertimpa mentari.
Setelah para gadis, tampak serombongan pemuda membawa senjata pedang transparan berukiran yakut merah dan intan biru. Pakaian yang mereka kenakan adalah kain yang hanya menutupi bagian bawah tubuhnya, yang terbuat daripada benang perak. Di belakangnya, serombongan pemuda dan pemudi membawa berbagai alat musik. Mereka menabuhnya dengan riang gembira diikuti oleh para gadis penari. Penari ini penampilannya sangatlah seronok, pakaian mereka sangat tipis, bahkan lebih tepat dikatakan telanjang daripada berpakaian. Lekuk tubuh mereka begitu terawat dan sempurna.
Lalu terdapat dua buah tandu yang mengikutinya. Tandu itu berukuran kecil, tertutup kain merah satin yang mengkilap dengan hiasan rumbai-rumbai benang emas pada tepiannya. Tandu itu mempunyai empat tiang pemanggul, dua di depan dan dua di belakang. Kayu pemanggul itu berwarna hitam dengan ukiran gambar badan dan kepala naga. Atapnya berbentuk lengkung dan memiliki sebuah jendela yang ditutup dengan kain satin berwarna serupa. Kedua tandu itu dipikul oleh delapan orang pemuda bertubuh kekar dan besar. Tubuh mereka mengkilap sawo matang berkeringat licin. Wajah mereka sangat tampan, rambut mereka diikat rapi dengan kain emas, kontras dengan penutupnya yang berwarna perak.
Di belakang tandu, tampak tujuh kuda gagah berbulu putih ditunggangi dengan orang yang berpenampilan serupa namun berbeda rupa. Pakaian mereka terbuat dari kain sutra dan berjubah benang emas. Di sisi kanan berderet rapi ke sisi kiri: Iblis Kembar Bumi, lalu Ratih, Anudhari, Astadewi, Antari, Aryani, dan paling kiri Si Gila Dari Neraka Hitam. Di belakang mereka berderet rapi pemuda dan pemudi lainnya membawa senjata masing-masing. Semuanya tertata dengan begitu rapi.
Begitu sampai, mereka berderet rapi. Semua pasukan di depan membelah dua, membuat sebuah deretan rapi dengan dua tandu di depan tengah menghadap panggung. Pasukan di belakang membuat pagar betis, sementara pasukan kuda tetap di belakang tandu. Mereka turun serempak dan berdiri di samping tandu. Tandu diturunkan, Astadewi dan Ratih membuka pintu tandu. Dari dalam tandu pertama, keluarlah jari-jari putih mulus berhiaskan emas permata. Kemudian diikuti oleh seraut wajah cantik dengan rambut digelung, penuh dengan perhiasan mewah; wajahnya cantik laksana bidadari yang turun dari surga. Bajunya mewah berpotongan seperti putri keraton. Hiasan pada tubuhnya tampak menonjol; bajunya yang merah cabai dihiasi benang emas benar-benar serasi dengan tubuhnya yang langsing dan mungil, apalagi kulitnya yang benar-benar putih.
Sementara dari tandu kedua, yang keluar adalah seorang pemuda tampan, berkulit putih pucat, rambut gondrong diikat ekor kuda. Mata hijau menyala, tubuh kekar ditutupi dengan pakaian mewah dari kain sutra kelabu. Di lengannya tampak melingkar perhiasan berbentuk naga sakti dari perak. Dia menyapu hadirin dengan dingin, lalu duduk di sebuah kursi di samping gadis pertama. Kursi itu terbuat dari kulit beruang yang dihiasi dengan benang emas dengan permadani merah dari beludru. Semuanya serba glamor. Sigap, orang yang menyiapkan kursi dan permadani itu mengundurkan diri, berganti dengan dua gadis jelita membawa payung. Setelah dipayungi, muncul pula dua gadis cantik yang bertugas mengipasi. Semua orang terpana dengan kemewahan dan sikap pendatang itu; mereka sibuk berbisik ria.
Maharaja Dunia Persilatan yang gemetar melihat semua itu berjalan ke depan. "Apakah Kisanak juga hendak mengikuti memperebutkan gelar itu?"
"Huaha! Mengapa kau bertanya lagi? Bukankah sudah jelas, siapa pun yang naik ke mari hendak mengikuti perebutan gelar itu. Mengapa kau ketakutan bila aku mengikuti sayembara ini?"
"Iblis Dunia Persilatan, jangan terlalu angkuh kau!" Dewa Pedang Kelana marah dan menuding Iblis Dunia Persilatan. Begitu mendengar kata "Iblis Dunia Persilatan", semua orang mengkeret mundur karena kejut. Dewa Pedang Kelana mencabut pedang dan hendak maju.
"Adimas, mundurlah ke belakang!" Maharaja Dunia Persilatan mencegah.
"Tapi!"
"Mundur!" bentak Maharaja Dunia Persilatan tegas. Lalu, ia berpaling menatap rombongan itu. "Dari golongan manakah Andhika hendak masuk?"
"Golongan Kain!"
"Golongan Kain?"
"Benar, hanya kain yang mampu menyatukan hitam dan putih, juga orang yang tak memihak kepadanya."
"Bagaimana kau akan mengikat kami? Sementara kami adalah orang yang bebas merdeka," kata seorang lelaki berbaju biru membawa parang di seberang sana.
"Sumpah Darah!" Tenang sekali, Dyah Krusina menjawab. Suaranya yang merdu benar-benar mengikat setiap jiwa, membuat jantung berdetak jauh lebih kencang. Lelaki itu terdiam. Sumpah Darah adalah sumpah yang diucapkan dengan dibarengi dengan mengucurkan darah dari ibu jari pada kain. Ini adalah suatu ritual yang benar-benar mengikat. Orang dulu percaya dengan ikrar ini, siapa saja yang melanggar, akan mati mengenaskan.
Perlahan sekali, Iblis Dunia Persilatan maju ke depan. Dia hendak naik panggung; yang jadi masalah adalah di hadapannya bukanlah alat yang disediakan untuk menaiki panggung. Bila hendak naik panggung, lazimnya ia berjalan ke penjuru barat atau penjuru timur. Tapi, ia berjalan lurus. Meski tubuhnya dipenuhi dengan berbagai macam perhiasan, ia tak takut tenggelam sama sekali. Kakinya menginjak permukaan air dan berjalan di atasnya. Sungguh luar biasa, air pun enggan beriak karenanya. Jelaslah ilmu peringan tubuhnya sudah dapat dikatakan menjagoi kolong langit.
Dia berdiri di atas panggung tanpa lawan dan tanpa berani ada yang maju. Bahkan, orang yang berada di panggung pun serabutan melarikan diri. "Mulai hari ini aku mengumumkan bahwa akulah pemimpin dari dunia persilatan ini. Akulah Jagad Saksana (Pemimpin Dunia). Siapa pun yang berani menentangku akan mati!"
Semua orang terpana. Beberapa orang langsung berdiri dan mencabut pedang. "Lancang!" "Sesat!" "Bunuh!" "Keparat!" Mereka mencaci yang tak jelas; gumaman mereka laksana jutaan kapal pesawat yang melintas. Hakikatnya, mereka hanya menggaruk namun tak punya kuku.
"Mengapa kalian hanya beromong saja? Jika tak puas mengapa tak naik ke atas panggung saja? Kita buktikan siapa yang benar, siapa yang salah?" Astadewi naik pitam.
"Diam kau! Kau hanya seorang bawahan. Kau sama sekali tak berhak berkata di sini!" Dewa Pedang Kelana membentak.
"Bak gendang bak tari, kau gerundang tinggalah di kubangan!" bentak Astadewi lagi. Maksudnya adalah sifat dan perkataan seorang bawahan takkan jauh berbeda dengan sifat dan perkataan atasannya. "Kau janganlah ikut campur. Kau benar-benar terlalu angkuh kalau hendak geneng di tepian. Bawa labu kecil liang. Rasakan penuh ditumpahkan!"
"Haha... hihi..." Astadewi tertawa. Jelas saat ini ia sedang melakukan pejatian awak kepantangan orang.
Seorang pemuda tampan berdiri di atas gerbang Perguruan Rajawali Emas. Bajunya kelabu dengan caping lebar di atas kepalanya.