Halo!

Iblis Dunia Persilatan - Chapter 79

Memuat...
Iblis Dunia Persilatan

Chapter 79

Di depannya terhampar pondok-pondok perguruan yang baru dibangun. Dialah Iblis Dunia Persilatan. Di tangannya tergenggam sebuah tongkat dengan kepala berbentuk rajawali yang sedang setengah hinggap. Sayapnya terbentang; tongkat itu terbuat dari emas. Yang lebih aneh lagi, di atas buntalan di pundaknya, keluar menonjol sebuah teratai berwarna putih.

Dia mengingat sebelum ia datang kemari. "Yang terpenting dalam adu tanding bukanlah kemenangan, tetapi keikutsertaan. Yang terpenting dari kehidupan bukanlah kemenangan, namun bagaimana bertanding dengan baik. Ingatlah, Nak, terkadang kegagalan dapat mengantarkanmu ke dalam kemenangan. Janganlah kau meletakkan jati dirimu pada pekerjaan. Jika pekerjaanmu hilang, maka jati dirimu akan tetap ada!" Ki Tabib menasihati Gardapati sebelum ia meninggalkan tempat.

"Apa maksudmu, Ki?" tanya Gardapati.

"Suatu saat nanti kau akan mengerti, anakku. Pergilah dan raih masa depanmu!" Ki Tabib mempersilakan.

Gardapati berbalik dan melangkah. Dilihatnya Ki Tabib dan Ni Tabib memandangnya dengan berkaca-kaca. Gardapati mengukuhkan batin dan dengan langkah lebar ia berjalan menyongsong hari. Ia berjalan dengan gagah berani seolah tak pernah terjadi apa-apa.

"Tesss!" Cairan bening menetes membasahi tanah yang berdebu. Rupanya, Gardapati tak sanggup menahan dirinya lagi. Bagaimanapun, sejak kecil ia kekurangan kasih sayang, dan kini ada dua orang yang menyayanginya dengan tulus seperti ayah dan ibunya. Perkumpulan dengan keduanya telah membangkitkan titik terang hati nuraninya sebagai manusia. Tak terasa ia sudah di bibir hutan. Dirinya menghela napas panjang dan mulai memasuki hutan itu.

Alisnya menjungkit. Dengan heran ia mengucek matanya. "Lastri!" gumamnya setengah tak percaya. Di depannya memang berdiri seorang gadis cantik berbalut kain khas gadis desa. Rambutnya dikepang dua, menampakkan lehernya yang jenjang. Dia memang Lastri.

"Sedang apa kau di sini sendirian?" tanya Gardapati.

"Menunggu Kakang!" jawabnya tegas.

"Menungguku?"

"Benar, sampai saat ini pun aku masih tak rela kehilangan Kakang. Di dalam rahimku ini tertanam benihmu!"

"Benihku? Mengapa kau seyakin itu, Nimas?"

"Karena ketika aku berhubungan dengan suamiku, aku meminum obat supaya ia tak bisa membenihiku, lain halnya dengan Kakang!"

Gardapati terkejut. Tak disangkanya gadis manis itu telah melakukan suatu hal yang sangat tak biasa. Ia maju mendekatinya dan merangkulnya ke dalam pelukan. Lastri menangis sesenggukan dan menyusup di dada Gardapati. Gardapati mengelus punggungnya lembut lalu mengecup keningnya.

"Ai, tak kusangka kau akan melakukan tindakan seperti ini. Aku titipkan anakku padamu. Jangan sedih, Sayang. Saat ini engkau memiliki seorang suami. Apa kau ingin membuat orang tuamu malu? Rawatlah ia seperti engkau merawatku. Bila aku masih hidup, suatu saat nanti aku pasti akan kemari," bisik Gardapati lembut.

"Baiklah, Kakang, tapi puaskan aku sebelum engkau pergi!" ucap Lastri manja.

Gardapati tertawa kecil dan membimbingnya menuju semak. Seperti biasa, ia menciumi Lastri dengan lembut dan beranjak liar, lalu beralih pada pelepasan cangkang. Karena biasa, pelepasan cangkang itu berlangsung dengan mudah. Tanpa hambatan, lancar begitu saja. Musik cinta bersatu dengan nyanyian alam. Untunglah hari masih pagi sehingga tak ada orang yang lewat di sana dan permainan nakal itu tak ketahuan.

Ketika mentari beranjak naik sepenggal hari, keduanya menyudahi permainan itu. Gardapati tersenyum sambil merapikan bajunya. Ia mencium mesra bibir Lastri dan mengucek-ucek rambutnya. "Selamat tinggal, Nimas."

"Teppp! Setttt!" Gardapati menjejak dan menghilang. Lastri memanggil-manggil namanya dengan pilu, namun Gardapati tak menghiraukan. Bersama angin yang bertiup kencang, ia meneruskan perjalanannya menuju Padepokan Teratai Putih. Ia berlari laksana angin, sama sekali tak menghiraukan keadaan sekeliling.

Dalam hari kedua, ia sampai di perguruan Padepokan Teratai Putih. Ia memandang danau yang terbentang di hadapannya dengan saksama. "Hemm, meski semua orang tahu bahwa Perguruan Teratai berada di sini, namun bagi orang yang pertama kalinya kemari pasti tak akan mengetahui bagaimana dan dengan cara apa untuk masuk dan keluar," Gardapati menggumam.

Lalu ia pergi ke arah selatan menyusuri danau. Ia mulai menuruni tebing yang curam. Gardapati melongok ke bawah dan bergumam, "Benar-benar tebing yang curam. Nimas Dewi bilang ada gua rahasia di sini, hanya ketua dan tetua lama saja yang mengetahui. Benar-benar merepotkan."

Gardapati meski menggerutu, ia tak kehilangan waspada. Dilihatnya air danau beriak; ia tahu bahwa itu adalah tanda bahwa ada murid Perguruan Teratai Putih yang keluar. Dengan kepandaian meringankan tubuhnya yang dahsyat, ia meletakkan telapak tangannya di bibir cadas. Tubuhnya meloncat, lalu tergantung berayun di udara. Ketika ia melongok, tampak kabut putih menutupi bagian bawahnya.

"Sial, tetua perguruan ini benar-benar merepotkan. Meski dibilang gua rahasia, dengan cara memasuki seperti ini saja bisa dikatakan bahwa tak ada seorang pun yang bisa memasukinya. Untuk apa dirahasiakan?" Gardapati melongok. Tampak Ketua Perguruan Teratai Putih dan beberapa anggota lainnya berjalan meninggalkan perguruan dengan senjata dan buntalan. Jelas mereka pergi untuk waktu yang lama.

"Hem, ternyata Ketua Perguruan Putih adalah tipe orang yang lambat, padahal pertarungan dimulai pada hari ini. Atau ia... Akh, ternyata kepandaian membagi tubuh dan membagi pikiran dapat dikuasainya dengan sempurna," batin Gardapati.

Membagi tubuh dan membagi pikiran adalah kepandaian rahasia dari Perguruan Teratai Putih. Dengan kepandaian ini, sang pengamal ilmu dapat membagi tubuhnya menjadi dua bagian yang sama persis; selain itu, watak dan pikirannya pun sama. Dengan ilmu ini, sang pengamal dapat berada di dua tempat sekaligus. Hanya saja, ilmu itu hanya bisa digunakan selama seminggu. Bila waktu sudah habis, salah satu dari kedua tubuh itu akan lenyap. Itu berakibat dengan berkurangnya tenaga dalam si pengamal.

Gardapati tak membuang waktu lagi. Pikirannya dipusatkan pada sebuah benda hidup. Bibirnya berkumat-kamit, asap mengepul tinggi. Tubuh Gardapati lenyap, yang ada hanya seekor cicak besar bermata hijau terang. Cicak itu merayapi dinding dengan cepat. Meski batu cadas itu berlumut, baginya itu seperti makanan sehari-hari. Ia berjalan dengan santainya.

Setelah berputaran di tempat itu, ditemukannya sebuah gua sebesar tubuh kerbau dewasa. Matanya mencorong tajam. Ia terus berjalan masuk ke dalamnya, menyusuri setiap lekuk-lekung gua yang semakin dalam semakin luas. Cicak itu mengepulkan asap tebal. Tak begitu lama, asap itu menipis, tampak Gardapati berjongkok memperhatikan gua di depannya.

Berkat kepandaiannya yang sangat tinggi, mudah saja ia berjalan di tempat yang gelap itu. Di hadapannya kini terdapat dua buah patung dari batu pualam, mengakibatkan ruangan itu bercahaya terang. Gardapati memantapkan langkah dengan kesiagaan penuh. Matanya melirik kiri dan kanan; ia terkejut di dinding tampak ada sebuah gambar peta. Gardapati memperhatikan setiap bagian peta itu. Ia tersenyum girang, rupanya peta itu adalah peta Perguruan Teratai Putih. Ia pelajari dengan saksama setiap bagian peta itu, setelah dirasa cukup, kembali ia memajukan langkah.

Akhirnya ia tiba di sebuah ruangan yang cukup terang. Dia terpana melihat jejeran kuburan di tempat itu. Di atas sebuah meja besar, tampak berbagai macam patung manusia berjajar duduk bersemedi.

"Makam Para Ketua Perguruan," baca Gardapati ketika melihat tulisan di atas meja itu. Di atas meja terdapat sebuah senjata aneh. Gardapati tak berani gegabah; ia merogoh kantong dan mengoleskan obat di kedua telapak tangannya. Perlahan ia mengambil senjata itu. Senjata itu sangatlah indah, berbentuk sebuah tongkat dengan kepala bunga teratai kuncup, gagangnya dibelit dengan akar dan daun teratai yang semuanya terbuat dari batu pualam. Sedang bagian bawahnya adalah sebuah bendulan berbentuk bola dengan beraneka warna.

"Tongkat Pusaka Perguruan: Teratai Kuncup Membelah Langit," baca Gardapati.

Ia melanjutkan langkahnya pada sebuah ruangan lainnya. Dia tersenyum ketika melihat sebuah tuas kuno berkarat. Ia memutar tuas itu. "Krieett... bummm!" terdengar debuman nyaring dari ruangan lain. Gardapati melangkah dengan cepat seolah ia tak takut dengan jebakan di dalamnya.

"Hemm, seandainya aku tak mengerti ilmu barisan dan jebakan, tak mustahil aku pun akan terjebak. Namun kini, seluruh jebakan sudah dimatikan, dengan tiga pegangan ini cukuplah bagiku menyantroni perguruan ini," pikirnya dalam hati.

Setelah berjalan begitu lama, akhirnya ia tiba di sebuah ruangan buntu. Gardapati mengulurkan tangan dan memutar dinding penghalangnya. Cahaya terang menerpa wajah tampannya. Gardapati menyingsingkan benda itu dan masuk ke dinding yang hanya sebesar tubuh kerbau tersebut. Dia terpana, rupanya yang menghalangi dinding itu adalah sebuah lukisan seorang wanita cantik setengah baya memegang pedang dan senjata yang saat ini ada di buntalan Gardapati.

Gardapati memandangi pedang di tangan wanita itu. Samar-samar ia melihat tulisan di pedang itu, "Pedang Uncur Kapas!"

"Hemmm!" Gardapati bergumam ketika ia mendengar suara langkah kaki. Ia menjejak dan menempel di langit-langit. Seorang gadis cantik berpakaian serba putih tampak membawa mangkuk makanan berjalan dengan anggun. Gardapati turun tanpa suara. "Srengg! Crasshhh!" Pedangnya dicabut dan dilingkarkan di leher gadis itu. Tanpa kata, ia menggorok gadis itu dengan kejam. Gadis itu ambruk dengan leher hampir putus tanpa sempat berteriak.

Gardapati meneruskan langkah. Ia menuju tempat di mana gadis itu akan masuk. Ia mengetuk pintu. "Masuk!" terdengar sebuah suara serak memerintah. Gardapati masuk dengan tenang.

Dukungan & Donasi

Bantu kami terus update dengan memberi dukungan melalui:

BCA 7891767327
Trakteer
Post a Comment