Chapter 80
Dilihatnya seorang wanita paruh baya sedang membelakangi, ia sedang merangkai bunga tanpa menoleh ke belakang.
"Arum, simpan saja mangkuk itu di meja," ucap wanita itu. Gardapati tak menjawab. Ia melangkahkan kakinya menuju meja dengan langkah yang diberatkan. Kemudian, ia berbelok dengan langkah yang diringankan seolah orang yang terbang.
Ketika mendekat, tampak wanita itu hendak berbalik karena merasakan sesuatu yang aneh, namun Gardapati keburu menotoknya. "Tuk!"
"Akh!" Wanita itu menjerit lirih. Matanya melotot ketika melihat seseorang yang tak dikenalnya berdiri dengan seringai aneh.
"Tak usah berkata. Tulislah bahwa kau menyuruh muridmu untuk menyerahkan Pedang Unsur Kapas kepadaku!"
Mata wanita itu melotot, ia marah dan gusar sebab lawan menghinanya sedemikian rupa. Apalagi Pedang Unsur Kapas adalah pedang pusaka perguruan yang berarti kehadirannya setara dengan sang ketua.
"Tuk!" Gardapati melepaskan totokan bisunya.
"Siapa kau, Anak Muda? Kau terlalu menghina kami. Lepaskan aku jika kau seorang jantan!"
"Haha, keras kepala. Apa kau tak ingin melihat sesuatu yang hebat?"
"Apa maksudmu?"
Gardapati mendekati pintu. Ia mengintip dan melihat seorang gadis cantik berpakaian lembayung berjalan lewat. Begitu lewat di hadapannya, Gardapati menjulurkan tangan.
"Grepp! Argh!" Gadis itu menjerit kaget, namun sebuah tangan kuat menutup mulutnya. Ia meronta-ronta. Gardapati tak peduli, ia membawa gadis itu dan menarik kain penutup tubuhnya.
"Breet! Brul!" Menyembulah dua buah dada indah yang putih mulus di hadapannya. Gadis itu tampak pucat ketakutan. Ia melirik seorang wanita yang sedang duduk tertotok, menatap Gardapati dengan sejuta amarah.
Gardapati menarik lagi kainnya. "Brett... brett... bret!"
"Argh, oh, jangan!" pekiknya takut. Saking ketakutannya, suaranya terdengar begitu lemah. Gadis itu kini telanjang bulat. Gardapati menyeringai dan berkata, "Cepat tuliskan surat itu, atau aku akan memperkosanya di hadapanmu. Dan bukan hanya gadis ini, tapi seluruh anggotamu. Aku akan menyebarkan pada dunia persilatan bahwa Teratai Putih adalah sarang pelacur terindah di dunia!"
Wajah wanita itu, alias Eyang Guru Silalatu, menyeringai sedih, gusar, dan marah bercampur jadi satu. "Bagaimana aku bisa menulis bila tubuhku kau totok seperti ini?"
"Jangan berusaha menipuku. Mengapa kau tidak menggunakan Pena Teratai Asa?"
"Ai!" Eyang Guru Silalatu menghela napas panjang. Akhirnya, dengan wajah putus asa, ia mulai membaca mantra. Pakaian gadis yang sudah dirobek Gardapati melayang ke meja. Dengan kepandaiannya, Eyang Guru Silalatu mulai menulis dengan pikirannya. Kain itu mengepulkan asap merah. Begitu menghilang, tampak sebuah barisan tulisan yang berbunyi: "Berikan Pedang Unsur Kapas kepada pemuda berbaju kelabu. Tertanda, Eyang Guru Silalatu."
Gardapati tersenyum misterius. Ia mendorong tubuh gadis yang saat ini dirangkulnya. "Ambillah gadis ini!"
Tubuh gadis itu melayang dan menubruk Eyang Guru Silalatu. "Jreb!"
"Kau... kau..." Eyang Guru Silalatu terbata-bata dengan darah menyembur dari mulutnya. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia tewas.
Gadis yang didorong Gardapati tertawa kecil. "Akhirnya kau mampus juga, Nenek Peot, hihi."
"Kau hebat, Bratawati. Sekarang, kau lanjutkan rencana kedua!"
"Baik, Kakang Garda!" Gadis itu menjambret kain yang sudah bertuliskan pesan itu. Dengan keadaan tubuh telanjang bulat, ia berlari keluar sambil berteriak.
"Hem, pengkhianatan memang menyakitkan!" gumam Gardapati. Ia tersenyum dan melangkahkan kakinya keluar. Di aula taman, tampak ratusan anggota Teratai Putih berdiri menenteng pedang. Mereka menatap kedatangan Gardapati dengan buas.
"Ayo, cepat serahkan pedang itu!" kata Gardapati lantang.
"Bagaimana aku bisa menyerahkan pedang itu sementara engkau telah membunuh Eyang Guru dan memperkosa saudari perguruan kami? Selain itu, kau juga telah membunuh satu anggota kami!"
"Haha, itu adalah kenaifan mereka. Seandainya si Nenek Peot itu menuruti permintaanku, tak mungkin bakal ada kejadian seperti ini."
"Kau!"
"Apa kau tak membaca surat terakhir dari Nenek Peot itu?"
Semua murid Perguruan Teratai Putih yang berusia muda, meski marah, tak berbuat apa-apa.
"Tapi, itu tak berlaku padaku!" Seorang nenek berwajah garang menyela. Pakaiannya hitam dengan pedang yang hitam pula.
"Eyang Putri Betari!" serempak murid Perguruan Teratai Putih memberi hormat.
"Hancurkan surat itu!" perintahnya. Gadis yang memegang surat itu hendak menghancurkan surat tersebut.
"Tunggu!" cegah Gardapati. "Nenek Peot, apa kau berani menentang perintah tongkat ini?" tunjuk Gardapati seraya mengangkat tinggi-tinggi tongkat yang ditemukannya di perkuburan para ketua.
Eyang Putri Betari tercengang. Tanpa mampu berbuat apa-apa, ia berlutut.
"Bagus, bagus. Lekas serahkan pedang itu!"
Eyang Putri Betari tak sanggup berbuat apa-apa. Ia hanya menunduk dengan sedih, air matanya bercucuran. Karena tak ada lagi yang mencegah, gadis berpakaian serba biru membawa pedang itu dan menyerahkannya pada Gardapati.
Ketika tangan Gardapati terulur, sebuah desingan nyaring terdengar. "Trang!"
Gardapati menangkis. Wajahnya gelap, lalu berkata, "Atas titah Tongkat Pusaka Perguruan, 'Teratai Kuncup Membelah Langit', aku memerintahkan agar tetua Eyang Putri Betari menitahkan kepada gadis yang barusan membokongku untuk maju seraya melepaskan penutup tubuhnya dan menari."
Eyang Putri Betari tercengang. Marahkah dia, sedihkah, ataupun apa, tak ada yang tahu.
"Dianti!" Eyang Putri Silalatu berkata sambil bergetar.
Yang dipanggil dengan nama Dianti pucat. Ia menyesal, namun tak sanggup berkata apa-apa. Matanya bercucuran, tubuhnya gemetar. Ia maju ke depan sambil melepaskan pakaiannya satu per satu. Ia melepaskannya dengan wajah pucat, malu, marah, dan takut yang menyatu. Ia mulai menari, meliukkan tubuhnya yang sempurna lekuk-lekuknya. Tubuh indahnya dipamerkan begitu saja di depan orang. Beberapa murid yang lain bersama Eyang Putri Betari melengos.
Gardapati menggulai. Tanpa sanggup melawan, gadis itu mendekat sambil meliukkan tubuh polosnya.
"Sungguh indah tarianmu, lonte murahan! Haha!" Gardapati tertawa. Pedang Unsur Kapas tercabut, kaki kirinya menjegal kaki kanan gadis itu hingga jatuh telentang. Tangannya berputar.
"Jrussh! Argh! Sreet! Bruk!"
Semua orang seketika berpaling. Betapa ngerinya mereka ketika gadis bernama Dianti telah mati dengan kemaluan tertusuk pedang hingga tembus ke ubun-ubun.
"Siapa lagi yang akan menghalangi?" kata Gardapati.
Ratusan murid Perguruan Teratai Putih terbelalak. Gardapati lenyap dari pandangan dengan membawa kabur pedang dan pusaka.
Eyang Putri Betari menangis tersedu-sedu. Ia mengangkat tangan kanannya di atas ubun-ubun. "Eyang Putri, jangan!" teriak salah satu murid Perguruan Teratai Putih.
Terlambat. "Crajk!" Batok kepala Eyang Putri Betari berhamburan, otak dan isinya berserakan. Pilu perasaan murid Perguruan Teratai Putih, namun di antara semuanya, malah ada yang tersenyum girang dengan kejadian itu.
Gardapati keluar dari Perguruan Teratai Putih dan pergi ke perguruan lainnya. Perguruan Pedang Bumi, Golok Harimau, dan Bintang Kemukus adalah sasarannya. Setelah semuanya beres, tak sedikit darah yang mengucur, tak sedikit pula yang menjadi arwah penasaran. Ini semua hanya karena sebuah ambisi.
Pada hari keenam, Gardapati telah tiba di Perguruan Rajawali Emas. Dengan gagah, ia berdiri di gerbang itu. Sekelebat bayangan emas menghadapnya. Ia membungkuk. Gardapati mengangkat tangan kanannya.
"Menemui Adhipramana," katanya menyapa.
"Bagaimana dengan keadaan di sini?"
"Aman terkendali, Adhipramana. Hanya maaf, kami sudah bertindak selangkah lebih jauh sebab kami takut keadaan akan tak sebaik sekarang!"
"Tidak mengapa. Mana barang itu?"
Lelaki itu berlutut dan menyerahkan sebuah peti panjang. "Kau kembalilah, aku juga hendak ke pertemuan itu. Aturlah sesuai keadaan!"
"Baik, Adhipramana!" Lelaki itu berkelebat meninggalkan Gardapati.
Tinggal Gardapati yang membuka peti itu dan naik ke atas gerbang melihat keadaan. Gardapati tersenyum. Dia menunggu, menunggu rencana dijalankan.
"Lihat! Dia mencuri pusaka perguruan, bunuh!" seseorang berteriak dari kejauhan.
Ratusan murid Perguruan Rajawali Emas maju bagaikan air bah yang menerjang apa saja.
"Rencana dijalankan," gumam Gardapati seraya mencabut Pedang Unsur Kapas dari balik punggungnya. Pedang Gardapati berkilat terkena sinar matahari.
"Hiaaa!" bentakan nyaring memulai pertarungan itu.
"Crassh! Ugh! Buk! Ugh!"
Ini adalah perang, perang antara seorang iblis dunia persilatan melawan para murid kelas atas dan bawah Perguruan Rajawali Emas.
Semakin lama bertarung, murid Perguruan Rajawali Emas menjadi gusar. Dengan suara bentakan murka yang nyaring, senjata mereka segera menyambar. Dengan cepat, mereka menyerang tempat-tempat di tubuh Gardapati secara serentak. Akan tetapi, mana bisa Gardapati diserang dengan gampang seperti itu? Tubuhnya sedikit mengegos melangkah ke samping.
"Lebih baik kalian pulang dan menyusu pada ibumu sana, huahaha!" Gardapati tertawa terbahak-bahak.
"Kau sudah mencuri pusaka perguruan kami, mengapa tak segera mengembalikannya dan mati secara baik-baik?" sahut salah seorang dari pengeroyok itu, membuat pertarungan semakin panas.
"Maling brengsek, mati kau!" kata pengeroyok lain sambil menebaskan pedangnya pada leher Gardapati.
"Kau saja yang mati!"
Dengan kepala menunduk, Gardapati lantas menerjang dengan cepat, menghindar sambil menyerang. "Dep! Argh! Crash!"
Orang yang barusan mencaci maki Gardapati telak terkena sikuan pada ulu hatinya, ia sempoyongan. Tanpa diduga, salah seorang pengeroyok menyabetkan pedangnya di belakang Gardapati. Gardapati membuka kuda-kudanya hingga membentuk huruf T terbalik, dan pedangnya konstan menyabet kawannya yang jatuh sempoyongan tadi.
"Buat barisan Topan Selaksa!" teriak seorang lelaki berusia tiga puluhan. Luar biasa, para murid Perguruan Rajawali Emas serabutan memisahkan diri.