Chapter 81
Gardapati tercengang, namun ketika barisan sudah terbentuk, ia tak lagi terkejut. Pedangnya dilintangkan di muka, menghadap ke bawah. Serempak, murid Perguruan Rajawali Emas memutar pedang mereka ke atas dengan membawa sambaran angin yang dahsyat hingga menerbitkan suara ngaungan yang bergema.
Seratus dua puluh batang pedang berputar kian kemari hingga menciptakan angin yang keras; sinar pedang yang berpantulan tersusun seperti satu jaringan sinar perak. Keseratus dua puluh murid Perguruan Rajawali Emas itu lantas merubung maju dari delapan penjuru; sinar pedang mereka menyambar rapat.
"Terimalah barisan ini sebagai penghormatan terakhirmu!" terdengar pemimpin barisan membentak.
Tangan Gardapati diulur, lalu ditarik, dan mendadak didorong lagi ke samping. Hawa panas dan angin harum menderu-deru keluar dari telapak tangannya. Inilah pukulan dahsyat yang dinamakan Telapak Dewa Surga.
Karena serangan dahsyat ini, sepuluh orang yang menjaga barisan ujung selatan memutar pedang mereka secara serempak, lalu telapak kiri diulur menyambut pukulan Gardapati.
"Blaaarr!"
"Argh!"
"Hoek!"
Telapak Dewa Surga merupakan jurus pecahan dari jurus Telapak Dewa Dunia Persilatan. Maka, tenaga dorongannya benar-benar luar biasa keras. Hal yang paling berbahaya dari jurus ini justru terletak pada aroma harumnya. Ketika kesepuluh orang itu mengerahkan segenap tenaga, mereka mencelos mendapati bahwa separuh bagian tenaga mereka lenyap. Seketika mereka terbanting jatuh, muntah darah, dan mati dengan seulas senyuman.
Nampak betapa lihainya Gardapati. Sekali turun tangan, sepuluh murid pilihan roboh. Pemimpin barisan sangat terkejut dan segera bersuit panjang. Seakan paham arti suitan itu, para murid Rajawali Emas segera mengisi tempat yang kosong.
Selesai menghantam sepuluh orang itu, Gardapati mendadak meloncat ke samping berbarengan dengan kaki yang melayang. Sekali tendang, ia membuat satu murid Perguruan Rajawali Emas terpental, sementara tangan kiri yang memegang pedang Unsur Kapas menangkis tujuh pedang yang menyerang dari sebelah kanan. Terdengarlah suara nyaring beradunya senjata.
"Trang! Sreet!"
Begitu suara benturan serempak berhenti, tanpa ampun ketujuh pedang musuh sudah terputus semua, sebaliknya pedang yang dipegang Gardapati masih baik-baik saja tanpa gumpil sedikit pun. Sebenarnya, tanpa pedang Unsur Kapas pun Gardapati dapat memapas putus pedang mereka, maka dapat dibayangkan betapa hebatnya jika menggunakan pedang mustika itu. Saking kaget oleh ketangkasan dan kehebatan Gardapati, muka ketujuh orang tadi menjadi pucat dengan mulut menganga.
Belum mereka menutup mulut, terdengar bunyi aneh, "Crass!" Bunyi itu sangat panjang dan serempak. Kepala mereka lepas dari kedudukannya sebelum sempat menutup mulut. Sungguh dahsyat, cepat, ganas, keji, dan mengerikan jurus serangan Gardapati ini.
Nampak barisan kawannya bobol, lekas-lekas empat barisan dari samping merubung maju. Diam-diam Gardapati tersenyum sadis; ia teringat sebuah jurus dahsyat yang dulu ia latih bersama Astradewi sebelum kematian gurunya.
"Sreet!" Ia mencabut lagi pedang dari balik punggungnya. Itulah pedang beronce kelabu yang dulu ia gunakan. Kedua pedangnya disilangkan di muka membentuk huruf X.
Barisan Topan Selaksa yang merupakan andalan Perguruan Rajawali Emas masih digunakan. Dengan saling berpegangan tangan, mereka berputar-putar dahsyat mengurung Gardapati. Gardapati berdiri tenang. Aji jurus Pedang Neraka Iblis dan aji jurus Pedang Surga Dewa dibacanya serentak.
"Hiaaat!" ia berteriak mengguntur. Desingan nyaring suara benda tajam menggores udara terdengar menggiriskan, seakan benda logam yang digoreskan pada kaca. Tampak kedua pedangnya yang bersinar perak dan oranye kemerahan saling bergesekan di udara, terus melingkar ke belakang menerbitkan sinar berbentuk huruf O yang menyeruak laksana ombak menerjang karang.
"Craaasss!"
Empat buah barisan yang mengepungnya, yang terdiri dari empat puluh orang, segera berhamburan bermandi darah; tak seorang pun dari mereka yang selamat. Rata-rata jeroan dalam perut mereka terburai, dan ada pula yang terputus menjadi dua. Dalam pada itu, para murid Perguruan Rajawali Emas sudah bertambah waspada melihat bagaimana musuh membantai saudara-saudara mereka. Cara mereka menyerang pun lebih hati-hati, namun kepungan mereka semakin kencang.
Tetapi, apalah kekuatan mereka dibandingkan dengan Gardapati?
Gardapati memandang awan yang berarak, lalu menatap bayangannya sendiri. "Hemm, sudah pertengahan hari rupanya. Sebaiknya aku segera pergi ke pertemuan itu."
Ia melompat ke udara dan berbalik. Kepala di bawah, kaki di atas, kedua tangannya direntangkan seperti hendak terbang. Tangan kiri bergerak menyikut, sementara tangan kanan melindungi kepala di depan dada. Selanjutnya, tangan kiri lurus ke samping kiri dan tangan kanan didorong ke bawah, diiringi bayangan hawa telapak tangan berwarna hitam berbau busuk dan amis.
"Awas, Telapak Iblis Dunia Persilatan!" pekik pemimpin barisan kaget sambil mundur ke belakang.
"Hiaaa!" Gardapati berteriak lantang.
"Blegaarr!"
Hawa berbau busuk dan amis menyebar ke mana-mana, debu mengepul laksana jamur. Perlahan lenyap tertiup angin, beberapa murid Perguruan Rajawali Emas tewas terkena serangan itu, namun ada pula yang selamat. Begitu debu lenyap, tampak tanah di sekitarnya berubah mati; tanaman dan hewan hidup enggan ada di sana. Tanah itu ambrul membentuk jejak telapak tangan sedalam lutut orang dewasa.
Gardapati lenyap entah ke mana. Hati mereka bukan main terharunya, sebab mereka melihat di antara debu dan tanah kering, tak sedikit mayat bergelimpangan bermandi darah korban serangan ganas Gardapati.